
Cinta, banyak orang yang bahagia karena cinta ada juga yang merana karena cinta.
seperti apa yang dirasakan Dimitri maupun Yuke, siapa sangka dari pemaksaan yang dia lakukan ke Yuke membuat hati Dimitri mulai didekati oleh rasa cinta.
Tidur tak nyenyak, makan tak kenyang, mandi tak basah itulah yang dirasakan oleh Dimitri, pikirannya terus ke Yuke.
"Saya sungguh heran, kenapa Yuke tidak bisa ditemukan apa jangan-jangan di belakang dia ada yang melindunginya pak." Rafi mengemukakan uneg-unegnya.
Dimitri menatap Rafi dengan tatapan tak biasa, dia terperangah dengan ucapan asistennya yang memang betul, sangat tidak mungkin kalau Yuke tidak bisa ditemukan mengingat banyaknya anak buah Dimitri.
"Menurut kamu siapa?" tanya Dimitri.
"Bryan, bukankah Yuke bekerja disana," jawab Rafi.
Dimitri segera mengajak Rafi untuk menemui Bryan dia ingin Bryan memberitahu dimana Yuke berada.
Di ruangan Bryan, Gilang melaporkan kalau ada Dimitri datang untuk menemuinya.
"Dimitri datang? ada urusan apa dia kemari bukankah tendernya dimenangkan perusahaan kita?" Seumur-umur memang baru kali ini Dimitri menginjakan kaki di kantor Bryan.
"Saya tidak tau pak, asistennya cuma bilang kalau ingin bertemu dengan anda," jawab Gilang.
"Suruh mereka masuk." Bryan meminta Gilang untuk membawa Dimitri dan asistennya masuk.
Meski mereka adalah rival namun Bryan tetap bersikap baik pada Dimitri.
"Silahkan duduk Dimitri." Bryan mempersilahkan Dimitri dan Rafi untuk duduk.
Rafi mengutarakan maksud dan tujuan mereka datang, mereka ingin bertanya dimana Yuke berada.
"Mana aku tahu dimana Yuke berada, dia saja pergi begitu saja tanpa bilang padaku," jawab Bryan.
"Jadi dia juga resign dari sini?" tanya Dimitri.
"Iya, tanpa ada kata dia pergi begitu saja meninggalkan setumpuk pekerjaan," jawab Bryan.
Dimitri nampak bingung, kalau bukan Bryan lalu siapa yang menyembunyikan Yuke?
Karena tidak mendapatkan apa yang mereka cari, mereka pun pamit mengundurkan diri.
Dunia Dimitri seakan runtuh, harapannya untuk menemukan Yuke sangat tipis, dia sungguh tidak tau apa yang terjadi dengan dirinya, kenapa cinta seperti jelangkung, tiba-tiba datang tanpa diminta padahal biasanya berhubungan dengan wanita lain juga biasa.
Di sisi lain, Raisa terus merindukan Bryan, ingin menghubungi tapi gengsi nggak menghubungi tapi rindu.
"OMG, kenapa seperti ini." Raisa sangat bingung tidak tau apa yang harus dilakukan.
Papanya yang melihat Raisa nampak menggelengkan kepala, kenapa anaknya menyiksa diri seperti ini.
"Sudah pulang saja." Papa Raisa menggoda anaknya.
"Mana boleh seperti itu pa, malu lah Raisa kalau pulang tanpa dijemput," tukas Raisa.
"Ya sudah nikmati saja kegundahanmu," sahut Papa lalu pergi meninggalkan anaknya.
Hari terus berlalu, Bryan dan Raisa sudah tidak sanggup lagi berjauhan, kerinduan yang mendalam membuat keduanya tidak bisa menahan gejolak rindu di dalam dada.
"Aku harus menjemputnya, entah nanti Raisa mau ikut pulang atau tidak yang penting aku menjemputnya." Bryan sangat yakin kalau ingin menjemput istrinya.
Raisa juga begitu, dia juga ingin pulang, dia tidak peduli kalau Bryan nanti mengoloknya yang penting dia pulang dan bertemu sang suami.
Keduanya berpapasan di jalan, Bryan pergi ke rumah Raisa sedangkan Raisa pulang ke rumah Bryan.
Sesampainya di rumah Raisa, Bryan segera masuk dan mencari sang istri, dia hanya ingin memeluk istrinya untuk meminta maaf.
Namun betapa kecewanya dia saat berada di kamar istrinya dia tidak menemukan sesosok wanita yang dicintainya, dia hanya menemukan foto-fotonya yang tergeletak di tempat tidur.
"Kenapa kita saling menyiksa diri sayang bila kita tidak bisa hidup berjauhan." Bryan mengelus foto Raisa yang ada di nakas.
Dengan segera Bryan keluar kamar Raisa, dia bertanya pada art dimana Raisa.
"Nona Raisa tadi katanya mau pulang Den," jawab Art.
Tanpa berkata apa-apa Bryan langsung pulang untuk menyusul istrinya.
Di rumah Bryan, Raisa juga begitu. Dia langsung saja masuk ke kamar mereka namun Bryan tidak ada di dalam, sempat kecewa hingga kedua bola mata Raisa menemukan album foto pernikahan mereka tergeletak di atas tempat tidur.
Matanya berkaca, dia sadar kini kenapa harus menyiksa diri sendiri jika tidak bisa berjauhan.
"Aku merindukan kamu mas," kata Raisa dengan mata yang membasah.
"Aku juga sayang," sahut Bryan dengan nafas terengah-engah.
Seperti di film India mereka saling menatap dengan mata yang membasah, perlahan keduanya berjalan saling mendekat lalu berpelukan.
"Maafkan aku sayang, please jangan tinggalkan aku lagi." Bryan semakin erat memeluk Raisa.
"Maafkan aku juga mas, maafkan keegoisan aku."
Puas berpelukan, mereka berdua saling ciuman dan setelahnya apalagi kalau hubungan di atas ranjang, setiap problematika dalam rumah tangga pasti penyelesainnya adalah gulat ranjang.
Seperti orang kelaparan, Bryan dan Raisa bermain dengan panas, jeritan Raisa menggema begitu pula suara gaib Bryan.
Keringat mengucur deras, padahal suhu udara di kamar sangat rendah.
Aneka gaya mereka lakukan hingga perut Raisa terasa ngilu setelah berhubungan.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Bryan.
"Perut aku ngilu banget mas," jawab Raisa dengan memegangi perutnya.
Bryan nampak panik, dia segera mengambil pakaian Raisa dan memakaikannya dan keluar kamar.
"Raisa kenapa Bryan?" tanya papa Bryan.
"Sakit pa, Bryan harus membawanya ke rumah sakit," jawab Bryan.
Karena sangat panik Bryan hanya memakai kolor saja, dia tidak sadar kalau dia tidak memakai baju.
Papa yang khawatir segera menyusul Bryan menggunakan mobilnya beliau juga menghubungi Papa Raisa.
Setibanya di rumah sakit, Bryan langsung menggendong Raisa menuju UGD.
"Dok, tolong istri saya perutnya tiba-tiba sakit." Bryan meminta Dokter jaga di UGD untuk memeriksa Raisa.
Bukannya memeriksa Raisa, sang dokter malah mengamati tubuh Bryan yang seperti roti sobek, kaum hawa mana yang tahan dengan pria yang bertubuh bagus.
"Dok, halo! saya paham kalau ketampanan saya nggak ada obat tapi bisa nggak tolong dulu istri saya setelah itu baru memandangi saya." Bryan protes pada Dokter yang malah menatapnya.
"Maaf mas, mas," kata Dokter sambil tertawa.
Baru kali ini ada yang datang ke rumah sakit hanya memakai kolor saja, sungguh obat gratis untuk para pasien.
"Istri saya kenapa Dok?" tanya Bryan setelah dokter selesai memeriksa Raisa.
"Dokter obgyn masih bertugas, saya akan membawa istri anda ke ruangannya supaya lebih jelas apa yang terjadi namun sebelumnya apa bisa anda memakai baju terlebih dahulu supaya tidak para dokter wanita dan perawat tidak gagal fokus melihat anda." Bryan melihat dirinya dan benar saja saking paniknya hingga lupa memakai baju.
"Astaga, kenapa bisa lupa," katanya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.