
Setelah puas, Dimitri meminta Yuke untuk memakai pakaiannya kembali. Kini entah apa yang Yuke rasakan, dia merasa kalau takdir telah mempermainkannya, niatnya menggapai Bryan namun kini dia malah menjadi budak se-ks Dimitri.
"Sudah, jangan menangis." Dimitri melemparkan beberapa lembar uang warna merah pada Yuke.
Hati Yuke semakin sakit, apa Dimitri pikir dirinya adalah seorang mawar hitam? hingga seenaknya Dimitri menggagahinya kemudian dibayar?
"Saya tidak memerlukan uang anda pak." Yuke mengembalikan uang yang diberikan oleh Dimitri.
Tanpa berkata apa-apa Yuke langsung pergi begitu saja. Semenjak kejadian itu Yuke lebih cenderung diam, di kantor dia hanya mengobrol seperlunya saja bahkan sama Raisa maupun para papa dia hanya tersenyum tanpa berucap apa-apa.
Raisa yang curiga mengejar Yuke, dia ingin tau apa penyebab Yuke bersikap aneh beberapa hari ini.
"Kamu kenapa?" sesaat setelah Raisa masuk ke dalam ruangan Yuke.
"Tidak kenapa-kenapa Raisa," jawab Yuke.
Raisa tersenyum sambil memegang tangan Yuke, dia tau kalau Yuke tidak baik-baik saja.
"Nggak usah berbohong, aku tau kamu tidak baik-baik saja." Raisa menatap Yuke.
Dengan mata berkaca, Yuke menatap Raisa, tangisnya semakin pecah saat Raisa berjalan mendekat kemudian memeluk Yuke.
"Kamu bisa cerita padaku." Entah mengapa semenjak hamil Raisa lebih keibuan, sungguh berbeda dengan Raisa yang sebelumnya, apa karena bawaan bayinya atau pengaruh lainnya.
"Aku ini wanita jahat Sa, aku ingin memiliki Bryan namun kamu malah baik padaku." Yuke mengungkapkan semua.
Raisa melepas pelukannya, dia menatap Yuke dengan tatapan bingung, kesal tapi tak tega melihat Yuke menangis.
"Aku menyesal Sa, aku janji nggak menggoda Bryan lagi." Terucap janji dari mulut Yuke.
Tatapan Raisa masih sama, meski ragu namun dirinya tetap mencoba mempercayai Yuke.
"Aku percaya sama Bryan, dia nggak mungkin mengkhianati aku, aku juga percaya padamu yang telah menyesali semuanya." Dengan senyuman yang mengembang Raisa menggenggam tangan Yuke.
Semenjak saat itu Yuke bekerja layaknya sekertaris pada umumnya, dia tidak lagi ingin menggoda Bryan tentu hal ini membuat Dimitri marah karena Yuke telah mengingkari kesepakatan mereka.
Malam ini dengan amarah yang menggebu, Dimitri pergi ke rumah Yuke, dia ingin protes pada Yuke karena telah mengingkari janjinya.
"Apa maksud kamu Yuke?" Dimitri mencengkeram lengan Yuke dengan keras.
Yuke meronta untuk dilepaskan namun Dimitri semakin kuat mencengkram lengan Yuke.
"Saya ingin membatalkan perjanjian kita pak," jawab Yuke.
Dimitri semakin marah, dia melempar tubuh Yuke ke sofa.
"Aku sudah membayar kamu, jadi jangan coba-coba mengingkari janji kamu." Dengan tatapan tajam, Dimitri mengancam Yuke.
"Saya akan mengembalikannya pak," sahut Yuke.
Dimitri tertawa keras, bukan uang yang dia butuhkan saat ini, dia hanya ingin kehancuran Bryan.
Dimitri yang merasa dipermainkan oleh Yuke menarik tubuh Yuke keluar rumah, Yuke yang tidak ingin ada keributan ikut meski dia sangat takut.
Mobil Dimitri melaju sangat kencang sebuah pegunungan, ternyata malam ini Dimitri mengajak Yuke pergi ke villanya.
Untuk kesekian kalinya, Dimitri memaksa Yuke untuk melayaninya. Dimitri seakan tidak pernah puas dengan tubuh Yuke sehingga semalaman dia terus saja menggagahi Yuke tanpa henti.
Yuke hanya bisa menangis tanpa bisa melawan, tak hanya memaksakan kehendaknya pada Yuke.
Waktu berlalu dengan cepat, pagi telah datang dengan cerah. Dimitri yang bangun terlebih dahulu nampak menatap Yuke yang masih tidur pulas di sampingnya.
Tangannya tergerak untuk menyibak anak rambut yang menutupi wajah Yuke, Dimitri tersenyum tanpa sadar tangganya mengelus pipi Yuke, apa tandanya ini? apa lagi-lagi ramuan Mbah Marjan telah membuat Dimitri jatuh hati pada Yuke? entahlah yang jelas dia ingin selalu menggagahi Yuke.
"Pak."
Dimitri nampak gugup, lalu dia meminta Yuke untuk segera bersiap kembali namun sebelum pulang dia mengancam Yuke untuk segera menyelesaikan tugasnya.
"Aku nggak mau tau Yuke kamu harus segera menggoda Bryan atau kamu rasakan akibatnya." Ancaman Dimitri membuat Yuke takut namun dia tidak mungkin menggoda Bryan mengingat kebaikan Raisa.
Raisa telah percaya padanya jadi dia tidak ingin merusak kepercayaan Raisa terhadapnya.
"Baiklah pak." Pura-pura menyanggupi adalah pilihan yang tepat untuk saat ini daripada Dimitri marah dan memaksanya lagi.
Yuke sungguh bingung harus bagaimana hingga Raisa datang menanyakan apa yang terjadi padanya.
Awalnya Yuke enggan menceritakan masalahnya pada Raisa namun lagi-lagi Raisa memaksa Yuke dan meyakinkannya untuk berbagi masalahnya.
"Masalah itu harus dihadapi Yuke, bila perlu dibagi karena dua otak itu lebih baik daripada satu otak. Mungkin kamu tidak tau jalan keluar masalah kamu tapi siapa tau aku bisa membantu kalau pun nggak minimal beban kamu berkurang." Genggaman tangan Raisa membuat Yuke yakin pada Raisa dan akhirnya dia menceritakan semua masalahnya.
"Raisa tapi tolong jangan bicara pada Bryan." Yuke memohon pada Raisa.
"Kalau kamu begini terus, setiap hari kamu akan menjadi budak ranjang si Dedemit itu," kata Raisa.
Yuke membenarkan ucapan Raisa tapi bagiamana lagi.
"Aku bingung Raisa, aku takut dia akan menyakiti anak dan mama aku," ungkap Yuke.
Raisa nampak berpikir hingga akhirnya dia menemukan solusi untuk masalah Yuke.
"Sebaiknya kamu pergi jauh Yuke." Saran Raisa membuat Yuke bingung dia merasa ambigu akan ucapan Raisa.
"Menghilang maksud aku." Raisa memperjelas ucapannya.
Yuke paham kini apa yang dimaksud Raisa, tapi kalau dia menghilang bagaimana dengan anaknya?
********
Tiga hari berlalu, Bryan nampak kesal karena Yuke tidak masuk kerja tanpa ijin padahal banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan tak hanya itu jadwal kerjanya berantakan karena tidak ada yang menjadwalkan.
Dengan kesal tingkat dewa Bryan menghubungi Yuke namun lagi-lagi ponselnya tidak aktif.
"Brengsek," umpat Bryan.
Para papa dan Raisa yang melihat hanya diam, mereka tau kalau Bryan dengan marah.
Dilihat Bryan sudah nampak tenang Raisa pergi ke ruangan Yuke, dia mengerjakan pekerjaan Yuke yang belum selesai.
Awalnya Raisa belum paham namun dia terus mempelajarinya hingga akhirnya jadi paham.
Tak hanya Bryan, Dimitri juga nampak marah pada Yuke karena dia tidak bisa dihubungi, rumahnya juga kosong dan menurut tetangganya Yuke telah pergi tiga hari yang lalu.
"Brengsek Yuke dia cari masalah denganku." Dimitri sangat kesal karena merasa kalau Yuke lari darinya.
Dimitri memerintahkan anak buahnya untuk mencari Yuke, dia tidak peduli Yuke harus ditemukan.
Dua puluh empat jam mencari Yuke namun anak buah Dimitri tidak bisa menemukan Yuke, tentu hal ini membuat Dimitri sangat marah.
Prank
Dimitri membanting botol minumannya saat anak buahnya melaporkan kalau belum bisa menemukan Yuke.
"Bodoh, mencari satu wanita saja tidak becus!"