Married With A Stranger

Married With A Stranger
Masalah


Itulah setiap hari Bryan harus memendam kesepiannya seorang diri, dia tidak protes karena takut Raisa marah.


Hingga hubungan mereka berdua benar-benar renggang, Raisa terlalu asik mengurus anaknya sedangkan Brayan yang diabaikan pun juga memilih diam daripada terjadi debat dan pertengkaran.


Saat seperti inilah rawan orang ketiga masuk, Yuke yang mengetahui keadaan mereka tampak menasehati Raisa, jangan sampai kesepian Bryan mengundang para pelakor untuk mendekat.


"Suami kamu itu lelaki perfect sekali saja kamu mengabaikannya banyak para pelakor di luar yang siap mendekati suami kamu," Yuke menasehati Raisa agar bisa membagi waktunya antara Baby Rayan dan juga Bryan.


Seorang suami tetap membutuhkan perhatian seorang istri, karena ketika seorang istri lalai rawan masuk orang ketiga yang siap merusak rumah tangga.


"Aku tahu Yuke tapi aku sungguh lelah mengurusi baby Rayyan sendirian dan terkadang saat Bryan pulang aku sudah tertidur," ungkap Raisa


Yuke nampak tersenyum memang mengurusi anak sendirian tidaklah mudah dia juga merasakan semua itu saat diagram waktu kecil dulu tapi bagaimanapun juga tugas seorang istri tidak hanya mengurusi anaknya tapi juga harus mengurusi Bryan suaminya.


"lebih baik carilah baby sister untuk bisa membantu kamu mengurusi baby Rayyan Raisa, sebelum ada masalah dalam rumah tangga kalian," saran juga


Raisa nampak terdiam mendengar ucapan Yuke, bahkan hati kecilnya sangat membenarkan ucapan Yuke.


"Ya sudah Yuke aku akan mencoba bicara dengan Brayan dan akan meminta maaf akan sikapku selama ini," kata Raisa.


Yuke nampak tersenyum, Iya lega karena Raisa kini tidak egois lagi.


"Ya sudah aku pulang dulu, kalau lama-lama di sini mama mertuaku akan marah," kata Yuke.


"Tunggu dulu ceritakan bagaimana mertua kamu sekarang," tanya Raisa


Yuke duduk kembali dengan ekskresi sedih dia menatap rasa Raisa.


"Aku lelah menghadapi mertua aku Raisa, dia belum bisa menerima aku menjadi menantunya setiap hari ada saja yang membuat dia marah.


Aku menyapu salah Aku memasak salah aku bersih-bersih rumah sama semua yang kulakukan selalu salah di matanya.


aku mencoba kuat mencoba menuruti semua yang dia ucapkan tapi dia tidak pernah mau memandang aku sedikit saja padahal aku tengah mengandung cucunya saat ini," keluarkan semua untuk unek uneknya


Raisa nampak sedih mendengar curhatan Yuke, bisa dibilang hidupnya jauh lebih menyenangkan daripada Yuke, dia memiliki Papa mertua yang amat sangat menyayanginya.


"Yang sabar juga semua pasti akan indah pada waktunya," kata Raisa dengan mengelus pundak Yuke.


"Terima kasih Raisa Ya sudah aku pulang dulu," Yuke lalu pamit pulang.


"Di kantor Bryan nampak sedih memikirkan sikap Raisa yang semakin hari semakin cuek dengannya, dia merindukan istrinya yang seperti itu, semenjak kelahiran baby Rayan, istrinya tidak pernah manja seperti dulu lagi, tidak pernah meminta sesuatu kepadanya maupun bercanda lagi," tentu hal ini menyebabkan dia sangat frustasi.


"Kenapa sih sayang kamu telah berubah sekarang," Bryan bermonolog dengan dirinya sendiri.


Gilang tak tega melihat atasannya bersedih belakangan ini, Bryan lebih banyak diam. Gilang tahu kalau Bryan ada masalah di rumah tapi dia juga tidak berani bertanya karena takut Bryan marah padanya, hari ini dia memutuskan untuk mengajak Bryan pergi ke klub untuk minum supaya masalahnya pergi sejenak.


"ayo kita minum Pak," ajak Gilang


"Dimana?" tanya Bryan.


"Club biasa kita kan udah lama nggak ke sana semenjak kita lulus kuliah dulu," kata Gilang.


"Ayo, Aku ingin menenangkan diri sejenak." Brian setuju untuk ikut Gilang ke club.


Raisa mencoba menghubungi ponsel Bryan namun tidak ada jawaban dari Bryan dan ini membuat Raisa semakin khawatir.


"Kamu ke mana sih Mas." Raisa terus memanggil Brian.


Di sisi lain Bryan nampak happy minum-minum dengan Gilang hingga tanpa mereka sadari banyak wanita yang mendekati mereka.


Untung saja mereka tidak sampai tidur bersama karena kalau sampai itu terjadi hancurlah rumah tangganya.


Tepat pukul 01.00 dini hari Bryan baru sampai rumah dengan diantar gilang, gilang tidak terlalu mabuk masih mampu mengantar Gilang pulang.


"Mas kamu mabuk," Raisa nampak kaget selama menikah baru pagi ini Bryan mabuk.


"kenapa memangnya kalau aku mabuk," Bryan melempar pertanyaan kepada Raisa tentu hal ini membuat rasa sedikit kesal


"Ya nggak boleh minum minuman keras tidak baik untuk kesehatan kita," sahut Raisa dengan ketus.


"Kamu ini cerewet sekali sudah sana tidur temani anak kamu nggak usah ngurusi aku," dasarnya Raisa yang sudah kesal pada Brian kini semakin kesal mendengar ucapan suaminya, tanpa mempedulikan Bryan Raisa pergi ke kamar anaknya.


"Dasar wanita egois," dia lalu tertidur begitu saja


Di kamar anaknya Raisa nampak menangis, dia yang ingin memperbaiki hubungannya dengan Bryan malah seperti ini.


Keesokan harinya Brian membuka matanya dia memijat kepalanya yang pusing karena pengaruh alkohol yang dia minum semalam.


"Kenapa aku bisa di rumah," gumam Bryan dengan bingung.


Dia melihat sekelilingnya tak ada Raisa yang mengucapkan selamat pagi untuknya.


"Dia sudah melupakanku saat ini," Bryan bergumam lalu pergi ke kamar mandi.


Setelah mandi dia mengambil pakaiannya sendiri menyiapkan keperluan kerjanya sendiri dan sarapan pagi pun sendiri.


Raisa yang masih kesal karena ucapan brain semalam sengaja tidak keluar kamar


Setibanya di kantor Gilang sudah menyodorkan masalah serius di kantor cabang yang berada di luar kota, kantor cabang di sana mengalami defisit yang luar biasa.


"Bagaimana bisa terjadi perasaan laporan bulan lalu mengatakan kalau cabang kita yang di sana sedang baik-baik saja," Brian nampak heran dengan masalah yang tiba-tiba datang di kantor cabang.


"Entahlah Pak saya juga heran Tapi menurut laporan ada beberapa petinggi perusahaan yang melakukan korupsi besar-besaran di sana," lapor Gilang.


Brak


Brian menggebrak meja dia tak terima karena ada bawaannya yang melakukan korupsi di kantor nya .


"Ya sudah ayo kita ke sana kita selesaikan masalah di sana," kata Brian.


Bryan meminta Gilang untuk segera memesan tiket pesawat, dirinya dan Gilang akan pergi ke luar kota selama 3 hari, selama itu pula dia menitipkan kantor kepada manajer dan beberapa petinggi perusahaan lainnya.


Bryan mencoba untuk menghubungi Raisa namun oleh Raisa panggilannya selalu ditolak dan ini membuat saya frustasi hingga dia memutuskan tidak pamit pada Raisa.


Tak ingin membuat Raisa khawatir dia menitipkan pesan kepada Papa mertuanya agar memberitahu Raisa kalau dia pergi ke luar kota selama 3 hari.