
"Dimana pesawatnya Mas?" tanya Raisa saat dia bertemu Rafi di bandara.
Mendengar Raisa memanggilnya mas membuat Rafi menatap Raisa dengan tatapan yang sulit diartikan dia ingin tertawa tapi nggak enak ingin diam tapi nggak kuat nahan, hingga Raffi memalingkan pandangannya lalu tertawa.
"Kamu kenapa mas?" tanya Raisa yang bingung kenapa Rafi memalingkan wajahnya dan tertawa.
"Nggak papa," jawab Rafi lalu segera menghentikan tawanya.
"Mas, Mas sejak kapan aku jadi masnya," batin Rafi.
Kini Rafi kembali dalam model serius dia mengajak Raisa untuk segera menuju lapangan karena pesawat akan segera berangkat.
"Aku pesan kelas ekonomi." Raisa nampak kaget karena Raisa hanya memesan kelas ekonomi, seumur-umur inilah kali pertama Raisa duduk di kelas ekonomi.
"Kenapa nggak pesan bisnis kelas, kenapa kok malah pesan yang ekonomi," Raisa nampak protes.
"Bisnis class sudah dibooking, yang ada tinggal kelas ekonomi," sahut Rafi.
Mau nggak mau mereka memesan kelas ekonomi daripada menunggu 5 jam lagi, lagi pula hanya memerlukan waktu sekitar 1 jam jadi untuk tiba di kota S, tentu tidak masalah jika duduk di kelas ekonomi.
"Mas aku yang duduk di dekat jendela." Raisa meminta Raffi untuk bertukar tempat dengannya.
Sepanjang perjalanan Raisa terus menangis dan ini membuat Rafi bingung harus bagaimana.
"Sudah dong Nona Raisa jangan menangis terus malu dilihati orang." Rafi melihat orang-orang yang sibuk melihat Raisa.
Raisa tidak memperdulikan ucapan Rafi dia terus saja menangis memikirkan Bryan yang kini kritis di rumah sakit.
Ibu-ibu samping Rafi pun sampai menengok Raisa dia nampak heran karena Raisa dari tadi selalu menangis.
"Istrinya kenapa mas?" tanya ibu-ibu samping Rafi yang sudah tidak bisa menahan kekepoannya.
Raffi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kelihatannya ibu-ibu yang berada di sampingnya salah paham.
"Mohon maaf Bu dia bukan istri saya," kata Rafi sambil tersenyum pada si ibu-ibu.
Ibu-ibu tersebut tertawa dia sangat malu karena sudah salah paham pada Rafi.
"Maaf Mas saya nggak tahu." Ibu tersebut meminta maaf kepada Rafi.
"Dia itu adik saya bu," bisik Rafi.
"Oh adiknya, kenapa mas adiknya kok dari tadi saya lihat menangis terus?" tanya ibu tersebut yang penasaran kenapa Raisa sedari tadi menangis.
"Minta lolypop Bu," jawab Rafi berbohong.
Selama 1 jam dalam pesawat terbang kini mereka pun sudah mendarat di bandara international di kota S.
Rafi segera menghubungi anak buahnya yang diperintahkan untuk menjemputnya di bandara, sekelas orang penting seperti Rafi dan Dimitri tentu memiliki anak buah yang tersebar di seluruh kota.
Tak memerlukan waktu lama bagi Rafi dan Raisa untuk tiba di rumah sakit Raisa turun duluan dan meninggalkan Rafi yang masih di mobil.
Raisa berlari ke resepsionis untuk bertanya ruangan ICU, dan setelah mendapatkan informasi Raisa segera berlari kembali.
Setibanya di depan ruangan ICU, dia melihat para papa dan Gilang bersedih, hati Raisa semakin hancur dia takut kalau terjadi apa-apa dengan Bryan.
"Pa," panggil Raisa.
Papanya dan papa Bryan pun menoleh, dan Raisa pun segera memeluk para papanya.
"Bagaimana keadaan suami Raisa Pa?" tanya Raisa
Para papa hanya diam mereka tidak menjawab pertanyaan Raisa hanya tangan mereka yang menunjuk pintu kaca yang memperlihatkan keadaan Brian saat ini.
Raisa berjalan menuju pintu nampak Bryan berbaring dengan alat alat medis yang menempel di tubuhnya.
Tangis Raisa semakin pecah saat melihat suaminya yang berbaring tak berdaya di ruang ICU.
Dia yang tidak kuat lagi pun menerobos masuk ruang ICU padahal sebelumnya dokter sudah mewanti-wanti para papa untuk tidak ada yang boleh masuk ke dalam ruang ICU.
Raisa segera memeluk Bryan yang tak berdaya dia menangis di atas dada sang suaminya.
"Mas bangun lah Mas aku ada di sini." Raisa mencoba membuat Bryan bangun.
"Maafkan aku yang sangat egois dan tidak memperhatikanmu aku janji aku tidak akan seperti itu lagi." Raisa terus bicara dia terus meminta maaf kepada suaminya.
Raisa terus saja ngomong, dia juga bercerita tentang anak mereka pada Bryan.
"Apa kamu tega meninggalkan aku Mas kalau kamu pergi siapa nanti yang menggagahi aku setiap malam, siapa nanti yang bermanja-manja padaku, siapa nanti yang minta dimandikan aku, apa kamu rela ada pria lain yang menggantikan posisimu." Raisa terus bicara hingga tiba-tiba tangan Bryan bergerak.
Satu persatu tangannya tergerak, Raisa yang dapat merasakan gerakan Bryan berteriak hingga para papa, Gilang dan Rafi turut masuk.
"Tangan mas Brayan bergerak," Raisa melaporkan pergerakan Bryan pada Papanya.
Papa segera memanggil dokter, dia berharap ini adalah pertanda baik untuk Bryan.
Tak selang berapa lama dokter datang dengan berapa perawat, sang dokter meminta para papa Raisa dan Gilang maupun Rafi untuk keluar.
Dokter nampak heran dengan keadaan Bryan, sungguh keajaiban padahal Bryan mengalami kritis lukanya juga cukup serius tapi bisa secepat ini bisa menggerakkan tangannya.
"Sungguh ajaib padahal tadi tubuhnya tidak merespon apapun dan kini semuanya membaik." Dokter nampak heran.
"Benar semua nampak normal sekarang padahal tadi sungguh mengkhawatirkan," sahut perawat.
Dokter keluar dengan wajah gembira dia tidak menyangka kalau Bryan secepat ini pulih.
"Kabar baik untuk kalian pasien keadaannya berangsur membaik ini sungguh keajaiban," kata Dokter.
Raisa nampak bersyukur hingga dia sujud syukur di lantai, ini dia berharap Bryan cepat pulih dan pulang bersamanya.
"Terima kasih dok." Raisa langsung saja memeluk sama dokter.
Dokter nampak bingung, namun dia juga tidak bisa menolak dan menerima pelukan dari Raisa.
"Ini kalau Pak Bryan tahu pasti dia kritis lagi," seloroh Raffi yang membuat Raisa segera melepas pelukannya.
Gilang menatap Rafi dengan tatapan kesal, bisa-bisanya saat seperti ini dia malah bercanda.
Melihat tatapan Gilang, Rafi terkekeh menaikkan jari tengah dan jari telunjuknya.
Karena keadaannya semakin membaik Bryan dipindahkan ke ruang perawatan, Gilang yang ada urusan mohon pamit undur diri, Raffi juga ikut daripada dia bingung di rumah sakit mau ngapain.
Para papa juga ingin keluar sebentar mereka ingin membeli beberapa barang untuk Raisa.
Saat semua orang sudah pergi Raisa duduk di sisi lain dia memegang tangan Bryan yang penuh luka-luka.
"Mas apa masih sakit?" Lagi-lagi Raisa mengajak bicara suaminya.
tit tit tit, hanya suara alat detak jantung yang terdengar.
"Aku sangat merindukan kamu mas cepatlah sadar anak kita sudah menunggu di rumah." Raisa terus saja ngomong pada Bryan meski tak ada sahutan dari sang suami.
"Aku minta maaf Mas karena setiap egois." Raisa terus ngomong.
Raisa menangis sesenggukan di samping Bryan hatinya sangat perih melihat sang suami berbaring tak berdaya dengan alat medis yang menempel di tubuhnya.
"Andaikan waktu bisa aku putar mas aku nggak akan egois, aku sadar kamu juga memerlukan aku," kata raisa.
Raisa mencium kening Bryan,.air matanya pun menetes dan mengalir di wajah Bryan.
Tiba-tiba Brian membuka matanya.