
Yang benar saja, Raisa dan Bryan melanjutkan gulat mereka lagi, kali ini diawali dengan olokan serta ejekan.
"Dasar wanita Dajjal," sahut Bryan.
"Kamu iblis," timpal Raisa.
Tak ingin kalah Bryan menyebut Raisa dengan sebutan kuntilanak.
"Genderuwo," balas Raisa.
"Suster ngesot," balas Bryan lagi.
"Kolor ijo," balas Raisa.
Mereka berdua malah asik menyebutkan nama-nama hantu yang fenomenal di Indonesia hingga tanpa terasa mereka malah ketiduran karena kelelahan.
Keesokan harinya, Raisa membuka matanya, dia melihat Bryan yang juga membuka matanya.
"Astaga semalam aku tidur dengan iblis ini," kata Raisa.
"Pagi-pagi nggak usah ngajak ribut," sahut Bryan.
"Siapa yang ngajakin ribut, aku hanya ingin melanjutkan pertengkaran kita yang semalam," timpal Raisa.
"Sama saja dodol," ucap Bryan.
Lagi-lagi Raisa dan Bryan gulat lagi dan lagi-lagi juga para papa salah paham lagi.
"Astaga mereka pagi-pagi sudah lanjut lagi, apa nggak capek semalaman gulat," kata Papa Raisa.
"Anak muda jaman sekarang kan memang begitu, suka nggak pernah puas kalau soal begituan seperti nggak pernah makan," sahut papa Bryan.
Raisa yang lelah memutuskan untuk pergi ke kamar mandi namun naas dirinya malah terbentur besi ranjang yang membuat anunya terasa sakit.
"Auuwwwww," pekik Raisa.
Raisa nampak kesakitan, dengan memegangi anunya dia berjalan ke kamar mandi.
"Sa, kamu ok kan?" teriak Bryan.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk siap, Raisa yang masih kesakitan karena insiden tadi meminta Bryan untuk membantunya turun.
Papa Raisa dan Papa Bryan yang melihatnya lagi dan lagi harus salah paham, dia mengira Raisa kesakitan karena gulat mereka.
"Astaga Bryan, kamu apakan saja istri kamu, kenapa sampai nggak bisa jalan seperti itu," kata Papa Bryan.
"Pasti hasil gulat tadi pagi kan?" tanya papa Raisa kemudian.
"Papa kok tau," jawab Raisa.
Raisa mengira kalau gulat yang dimaksud papanya adalah pertengkarannya dengan Bryan tadi pagi.
"Kamu berteriak seperti itu jelas papa dengar, besok lagi kalau gulat di silent dong sayang atau pake mode pesawat biar nggak didengar orang," sahut Papa Raisa dengan terkekeh.
Raisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal merasa ambigu dengan ucapan sang papa.
"Mana mungkin bisa di silent pa nggak seru dong gulatnya," sahut Raisa.
Papa Bryan dan Papa Raisa saling pandang kemudian menggelengkan kepala, mereka tidak percaya kalau mantu dan anak mereka sangat ganas.
"Astaga sayang, kamu wao sekali, tapi emang sih tanpa berteriak pergulatan kurang greget, kurang bisa mengapresiasi apa yang kita rasakan, sip sip lanjutkan sayang," pungkas papa Bryan.
Raisa semakin bingung, apa sih maksud dari papa dan mertuanya?
Bryan yang paham akan maksud papa dan mertuanya hanya tertawa, dia sungguh geli akan kebodohan Raisa. Jelas-jelas maksud papanya adalah gulat nikmat di ranjang masih saja gagal paham.
"Iya pa besok Bryan akan membeli peredam agar teriakan nikmat Raisa tidak keluar dan didengar oleh setiap orang," kata Bryan.
Seusai sarapan Raisa dan Bryan pamit untuk berangkat kuliah, awalnya para papa melarang namun karena mereka bersikeras akhirnya para papa bisa apa.
"Kamu yakin kuliah dengan keadaan kamu yang seperti ini." Para papa nampak khawatir.
"Nanti sembuh kok pa," sahut Raisa.
Raisa dan Bryan berangkat bersama, Setibanya di gerbang kampus Raisa meminta Bryan untuk berhenti.
"Kamu yakin Sa turun sini?" tanya Bryan.
"Ya iyalah, aku ga mau ya seluruh penghuni kampus tau kalau kita ada hubungan," jawab Raisa lalu turun.
Dengan menahan sakit Raisa berjalan menuju kampus, saat akan ke loker miliknya dia melihat Devan lagi berduaan dengan seseorang.
"Devan," teriak Raisa.
Devan menoleh lalu menatap Raisa dengan tatapannya.
"Oh ya, kenalin pacar aku." Devan mengenalkan kekasihnya pada Raisa.
Raisa yang kesal mengabaikan tangan kekasih Devan lalu dia mengambil buku di dalam loker miliknya.
"Kamu keterlaluan Raisa," maki Devan.
Devan mendekati Raisa yang mengambil buku di loker.
"Ada apa lagi? sana sana." Tangan Raisa sedikit mendorong tubuh Devan.
"Keterlaluan kamu Raisa," kata Devan.
"Kamu yang keterlaluan Devan, kamu selama ini hanya memanfaatkan aku saja," sahut Raisa
Devan tertawa, sambil menatap Raisa dari atas ke bawah.
"Lihatlah diri kamu yang tinggi semampai alias semeter tak sampai, kulit kamu yang gelap, wajah kamu yang pas Pasan, anggap saja itu adalah bayaran kamu ke aku yang selama ini mau mendampingi kamu," ungkap Devan dengan sedikit berbisik supaya kekasih barunya tidak mendengar ucapannya.
Sontak tangan Raisa mengepal, dia sungguh tak mengira Devan mengejeknya sedemikian rupa, apa selama bersama dirinya tidak ada cinta yang tumbuh? hingga kini dia dibuang bak sampah.
"Hey kamu dengar, pria seperti ini hanya memanfaatkan wanita, kamu adalah korban selanjutnya," teriak Raisa.
Devan mencengkeram lengan Raisa dan mengancamnya.
"Jangan merusak hubungan aku, atau tau sendiri akibatnya," ancam Devan.
Mata Raisa berkaca bukan karena Devan meninggalkannya namun karena terlambat menyadari betapa bodohnya dia.
Raisa duduk di bangku dan menangis, sakit yang dia rasakan membuatnya enggan mengikuti kelas, dia memilih taman belakang untuk tempat menyendiri siapa tau mendapatkan wangsit disana.
Saat dirinya asik merenungi kebodohannya tiba-tiba sebuah tangan menyodorkan tisu.
"Nih tisu,"
Raisa menoleh lalu mengambil tisu yang diberikan Bryan.
"Makasih Bryan," kata Raisa.
"Kenapa menangis?" tanya Bryan.
Sebelum Raisa menjawab Bryan sudah bisa menebak kalau pasti Devan penyebabnya.
"Pasti karena kutu kupret itu kan?" tanya Devan lagi.
Raisa mengangguk tanpa menatap Bryan.
"Bryan bolehkah aku memeluk kamu? aku tau tidak seharunya aku meminta pelukan musuh atau suami jadi-jadian aku tapi saat ini aku butuh pelukan seseorang," tanya Raisa.
Bryan nampak kikuk, dia takut kalau ada yang melihat.
Raisa yang tau kalau Bryan tidak ingin memeluknya beranjak dari tempat duduknya.
"Segitu jeleknya aku kah, hingga kamu tidak mau meminjamkan bahu kamu Bryan?" tanya Raisa lagi lalu dirinya pergi meninggalkan Bryan yang serba bingung di tempatnya.
Raisa memutuskan untuk pulang daripada di kampus dia juga tidak bisa fokus belajar.
Sesampainya di rumah Raisa menangis meringkuk di tempat tidur, dia menyesal telah mencintai lelaki seperti Devan.
"Kenapa setiap lelaki mengejek body aku, apa aku sangat jelek sehingga mereka suka menghina aku," kata Raisa.
Body shaming memang hal lumrah yang dilakuan oleh seseorang namun kalau orang yang dicintai yang melakukan body shaming tentu sakit rasanya.
Bagi Raisa body shaming yang diucapkan oleh Devan jauh lebih sakit daripada yang diucapkan oleh Bryan.
Di sisi lain Bryan yang menyesal karena tidak mau meminjamkan pelukannya pada Raisa memutuskan untuk menghubunginya, dan setelah tau Raisa di rumah dia segera pulang untuk melihat keadaan Raisa.
"Sa kamu baik-baik saja kan?" tanya Bryan.
"Kamu tuh aneh sudah tau aku menangis kenapa masih bertanya?" jawab Raisa dengan pernah penekanan.
Bryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu naik ke atas tempat tidur Raisa.
"Maafkan aku Sa yang mungkin telat meminjamkan pelukan aku, apa kamu masih berminat?" tanya Bryan.
Raisa mengangguk tanpa menatap Bryan lalu Bryan memeluk Raisa dari belakang.
Dalam pelukan Bryan Raisa sangat tenang dan ini malah membuat Raisa menangis dengan diiringi isakan.
Melihat Raisa yang terisak membuat Bryan iba, tangannya tergerak untuk mengelus rambut Raisa.
"Ada aku Sa," kata Bryan.