Married With A Stranger

Married With A Stranger
Yuke Lagi


Ya begitulah hari-hari Raisa yang selalu dikawal oleh para papa yang sangat menyayanginya, di dunia ini jarang sekali ada papa seperti papa Bryan dan Raisa yang sangat peduli dengan kehamilan anak maupun menantunya.


Kehidupan Raisa dan Bryan bisa dibilang sangat lucky mengingat apa yang mereka inginkan dengan mudah mereka dapat bisa dibilang kehidupan mereka hampir perfect.


Namun dibalik itu semua siapa bilang tidak ada musuh mengintai, Yuke teman semasa kuliah Bryan masih menyimpan dendam pada Raisa, obsesi untuk memiliki Bryan masih membara hingga kini.


Yuke bekerja di sebuah perusahaan yang dipimpin oleh seorang CEO muda yang bernama Dimitri, usia Dimitri hampir sama dengan Bryan.


Dimitri Grup adalah rival dari perusahaan Bryan, Dimitri yang selalu kalah tender membuatnya menyimpan dendam pada Bryan maupun Gilang.


"Aku ingin kamu menyusup masuk ke dalam perusahaan Bryan, bukankah kamu dulu adalah teman Bryan?" Dimitri ingin menyerang Bryan dari dalam.


Dimitri tidak mudah menyerang Bryan karena memang perusahaan Bryan memiliki bekingan orang hebat sehingga untuk menyerang Bryan dia harus menyerang kelemahannya yaitu rumah tangannya, menurut Dimitri dengan rusaknya rumah tangga Bryan maka rusaklah Bryan.


Dimitri mengirim Yuke kesana untuk menggoda Bryan dan dengan begitu akan ada masalah dengan rumah tangganya.


"Bagaimana saya bisa masuk pak?" tanya Yuke.


Dimitri melempar koran tepat di depan Yuke, disana tertulis kalau Bryan Grup memerlukan seorang sekertaris.


Sebuah senyuman tersungging di pipi Yuke, dia sangat senang jika bisa dekat dengan Bryan dengan begitu dia bisa balas dendam pada Raisa.


"Gilang akhir-akhir ini diperintahkan untuk mengurusi Raisa Grup sehingga Gilang kewalahan mengurusi perusahaannya sendiri." Dimitri menatap Yuke dengan tatapan senang.


Kini mereka berdua nampak tersenyum bahagia, Dimitri sudah tidak sabar untuk melihat kehancuran Bryan sedangkan Yuke tidak sabar untuk melihat Raisa merasakan apa yang dia rasakan dulu.


********


Di rumah Bryan ada saja drama, pagi ini Raisa ngidam ingin ikut Bryan ke kantor, seharian dia ingin bersama Bryan tanpa ingin pisah sedikitpun.


"Astaga, yang lagi ngidam kan istri Bryan kenapa para papa ingin ikut juga?" Bryan mengusap rambutnya kasar, sungguh Frustasi dengan para papa yang semakin kesini semakin mengesalkan.


"Bryan kami ingin memastikan Raisa dalam keadaan baik baik saja, lagipula itu juga kan perusahaan papa, kamu nggak ada hak melarang papa untuk ikut kesana." Kedua papa saling pandang dan saling mengangkat ibu jari mereka.


Raisa mengelus punggung Bryan, berharap suaminya tanah dengan cobaan orang tua mereka.


"Sabar mas," bisik Raisa.


"Mang sulit musuh orang tua, pokoknya selalu ingin menang." Gerutu Bryan.


Mereka semua berangkat ke kantor, para staf saling memberi hormat pada Papa Bryan ada juga dari mereka yang mengajak papa Bryan dan Papa Raisa mengobrol.


"Temu kangen pa pegawai." Bryan meminta papanya untuk mengobrol dengan pegawai sehingga dia bisa berduaan dengan sang istri.


Bryan dan Raisa masuk ke dalam ruangan dengan hati yang senang akhirnya mereka bisa lepas dari para papa.


"Finally, lepas juga dari para papa. Heran aku kemana ngekor mulu." Bryan menjatuhkan tubuhnya di sofa lalu diikuti Raisa.


"Sabar mas, lagipula hanya kita yang mereka punya." Raisa mencoba menenangkan sang suami.


Tak berselang lama, Gilang masuk dengan membawa berkas para pelamar yang ingin mengajukan lamarannya menjadi sekertaris Bryan.


"Kamu cari sekertaris mas." Raisa nampak kaget pasalnya Bryan tidak pernah bilang kalau dia membutuhkan Sekertaris.


"Pelamarnya cewek semua kah Kak?" Raisa kini gantian bertanya pada Gilang.


"Iya Sa, pelamarnya semua cewek," jawab Gilang.


Raisa melihat semua berkas pelamar, matanya tertuju pada satu berkas yang namanya tidak asing.


"Ini Yuke teman kamu mas." Tangan Raisa memberikan berkas Yuke pada Bryan.


"Mau apa dia melamar pekerjaan disini?" Kedua pria di dekatnya mengangkat bahu mereka masing-masing karena tidak memiliki jawaban untuk Raisa.


"Besok aku ikut interview mereka," kata Raisa.


Tak ingin membuat Bumil bad mood, Bryan pun mengiyakan keinginan Raisa.


Dirinya dan Gilang saling tatap mereka berdua, bisa rusak tatanan kantor jika istri dan para papa ikut campur.


"Sabar Bryan," batin Bryan menyemangati dirinya sendiri.


Keeoskannya benar saja, Raisa turut hadir dalam menginterview calon sekertaris Bryan.


Semua telah diinterview tinggal Yuke yang terakhir.


"Kamu pernah bekerja di Dimitri Grup?" tanya Raisa.


Yuke nampak kesal pasalnya dari dulu Raisa lengket terus seperti perangko pada suaminya.


"Iya, Raisa. Eh Bu," jawab Yuke.


Yuke menceritakan kisah hidupnya yang kurang beruntung pada Raisa, dia berharap kalau Raisa bersimpati padanya dan menerima dirinya sebagai sekertaris Bryan.


"OMG, jadi kamu sekarang Janda kak?" tanya Raisa.


"Iya, lebih tepatnya aku single parent," jawab Yuke.


Benar saja, Raisa merasa iba akan nasib Yuke sehingga dia meminta Gilang untuk menerima Yuke.


"Keputusan kamu tepat sekali Raisa, jadi aku bisa membantu kamu untuk mengurus Bryan," batin Yuke dengan tersenyum menang.


Selepas interview Yuke menemui Dimitri, dia melaporkan kalau dirinya sudah diterima di Bryan Grup.


"Bagus Yuke." Dimitri sangat bahagia.


Ya beginilah dunia bisnis, terkadang diperlukan kecurangan untuk menggapai sesuatu.


Di sisi lain, Bryan sangat was was karena Raisa justru menerima Yuke untuk menjadi sekertarisnya.


"Kenapa kamu malah memilih Yuke sayang?" Dia sungguh heran dengan keputusan Raisa.


"Nggak papa mas, kasian Yuke dirumahnya ada anak dan ibu yang harus dia rawat," ungkap Raisa.


Memang Yuke tidak bernasib baik mungkin dia menuai apa yang dia tanam karena dulu selalu jahat dengan Raisa.


Setelah lulus kuliah, Yuke dikencani seorang yang brengsek hingga dia memutuskan untuk menikah, selepas menikah suaminya tidak mau bekerja sehingga membuat papa Yuke murka dan mengusir suami Yuke


Sama seperti Yuke yang licik pada Raisa dan juga Bryan, suami Yuke juga licik, dia menggadaikan surat rumah keluarga Yuke hingga rumahnya diambil alih.


Papa Yuke terkena serangan jantung setelah mendengar rumahnya telah diambil alih dan beberapa hari kemudian papa Yuke meninggal dunia.


Untuk memenuhi semua kebutuhan hidup Yuke bekerja di perusahaan Dimitri setelah melahirkan.


Lagi-lagi Yuke membawa minuman yang sudah dimantrai mbah Marjan, dia berharap Bryan menuruti apa yang dia katakan.


"Kamu tidak akan lepas lagi Bryan." Yuke memasukkan air yang sudah dimantrai ke dalam gelas yang berisi air di meja Bryan.


Beberapa saat kembali, betapa terkejutnya Yuke melihat banyak doang di dalam ruangan Bryan.


"Astaga, bagaimana aku menggoda Bryan jika Raisa dan para orang tua ada disini." Keliatannya rencana Yuke akan mengalami kendala karena ada para papa yang selalu ngekor anak mereka.