
Justru dari situlah cinta tumbuh, dari pria yang paling menyebalkan di dunia menjadi pria yang paling dicintai di dunia, ya seperti kisah yang berawal dari benci.
"Dengar Amanda jangan terlalu membenci seseorang, karena bisa jadi orang yang kamu benci saat ini adalah orang yang kamu cintai nantinya," kata Yuke.
Amanda menatap Raffi dengan tatapan yang sulit diartikan, mana mungkin dia akan mencintai pria seperti Raffi.
"Ih ogah," sahut Amanda.
Tak hanya Amanda Raffi juga menatap Amanda dengan tatapan yang sulit diartikan.
bagi Raffi Amanda bukan tipenya, jadi mana mungkin Amanda nanti menjadi wanita yang dicintainya.
"Sudah sudah kalian ini lebih baik kalian sekarang berbaikan daripada nanti kalian saling jatuh cinta dan malu pada kami." Dimitri menggoda Rafi dan Amanda.
Dimitri dan Yuke saling tatap mereka tertawa melihat sikap Amanda dan Raffi, mereka berani taruhan kalau nanti Raffi dan Amanda pasti akan saling jatuh cinta.
"Kami berani taruhan kalau nanti kalian pasti akan saling jatuh cinta." Dimitri sangat yakin.
"Ogah mana mungkin aku bisa jatuh cinta pada wanita seperti ini," sahut Rafi
"Aku juga sama mana mungkin aku bisa jatuh cinta dengan lelaki yang menyebalkan sepertimu," sambung Amanda.
"Berani taruhan?" tantang Dimitri.
Raffi yang tertantang tentu mau taruhan dengan Dimitri, dia mempertaruhkan mobil sport barunya yang baru dia beli beberapa waktu yang lalu, begitu pula dengan Dimitri yang mempertaruhkan mobil sport terbarunya yang baru saja dia beli setelah menikah.
"Oke deal." Rafi menjabat tangan Dimitri
"Jangan nangis ya kalau nanti mobilmu jatuh ke tangan aku," Dimitri menggoda Rafi.
Rafi tertawa karena godaan Dimitri.
"Siapa juga yang akan kalah yang ada anda yang harus merelakan mobil kesayangan anda untuk saya." Tak hanya Dimitri Rafi juga yakin kalau dirinya tidak akan jatuh cinta pada Amanda.
Dimitri hanya tertawa biarlah waktu yang akan membuktikan semuanya siapa yang benar dan siapa yang salah yang jelas Dimitri yakin seyakin-yakinnya kalau Raffi pasti akan jatuh cinta pada Amanda.
"
Setelah makan mereka berempat memutuskan untuk pulang mengingat besok pagi mereka harus pergi ke kantor.
"Hari-hari telah berlalu, Amanda dan Raffi masih sama mereka masih saling bertengkar dan saling mengejek namun tanpa mereka sadari dari situlah cikal bakal cinta mereka tumbuh.
Usia kandungan Raisa sudah menginjak sembilan bulan, sudah waktunya dia untuk melahirkan. Bryan meminta Raisa untuk melahirkan secara sesar namun Raisa menolaknya ia ingin melahirkan secara normal karena menurutnya seorang wanita itu tidak akan menjadi wanita yang sempurna kalau belum merasakan melahirkan secara normal.
"Tapi dokter menyarankan untuk operasi sayang," Bryan yang tidak ingin terjadi apa-apa pada Raisa mencoba membujuknya agar mau operasi
"Tapi masih bisa kok melahirkan secara normal," sahut Raisa.
"Baiklah tapi jika tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal kamu harus segera dioperasi," kata Brian.
"Baiklah Mas,"
Raisa sudah mulai merasakan kencang-kencang di punggungnya Tak hanya itu perutnya juga sering kontraksi.
Brian sangat mengkhawatirkan keadaan Raisa dia tidak ingin sang istri merasakan sakit menjelang hari persalinannya.
"Setiap orang akan melahirkan pasti akan mengalami pembukaan dari 1 sampai 10," Mama yuke menjelaskan pada Bryan.
"Apa sangat sakit ma?" tanya Brayan
"Banget Brian, Mama dulu saja hampir menyerah saat akan melahirkan Yuke," jawab Mama Yuke.
Bryan nampak khawatir dengan keadaan Raisa dia tidak ingin istrinya merasakan sakit oleh karenanya dia berusaha membujuk sang istri untuk mau melahirkan secara sesar.
"Papa kok seperti Mas Brayan sih, Raisa ini ingin melahirkan secara normal," Raisa tetap bersikeras pada keputusannya
Mama juga menenangkan papah Raisa maupun Bryan, emang melahirkan secara normal itu lebih lebih baik daripada secara sesar.
"Kita hargai saja keputusan Raisa jangan memaksanya daripada dia semakin stress," Mama Yuke memberikan saran pada papa Raisa dan juga Bryan.
Datanglah hari di mana Raisa yang sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya, hingga akhirnya dia dilarikan ke rumah sakit dari pagi dia sudah mengeluarkan lendir lendir yang bercampur darah yang artinya dia sudah mengalami pembukaan.
"Mas ini sakit banget lho Mas," Raisa merintih kesakitan.
"Tenang Sayang kata dokter kita harus menunggu beberapa jam lagi untuk pembukaan 10,"
"Tidak bisakah dipercepat Mas aku sudah nggak kuat," Raisa nampak semakin kesakitan
Bryan menemui dokter kandungan yang mengurusi Raisa apakah bisa proses persalinan dipercepat karena istrinya sudah tidak kuat menahan rasa sakit.
"Mohon maaf Pak Bryan kalau melahirkan secara normal itu harus menunggu sampai pembukaan 10, sedangkan ibu Raisa baru pembukaan 5 kita harus menunggu kurang lebih 5 jam supaya bisa pembukaan 10
"Astagfirullah lama sekali dia di sana sudah sangat kesakitan." Brayan nampak risau.
"Saya tahu dan paham pak tapi bagaimana lagi Ibu Raisa tidak akan bisa melahirkan sebelum pembukaan 10." jelas dokter.
"Bagaimana kalau operasi dok?" tanya Bryan kemudian.
"Operasi bisa saja tapi kami harus menyiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu, seharusnya kalau operasi bisa lebih dahulu sebelum merasakan sakit-sakit seperti ini," Bryan nampak fruatasi.
"Kalau seperti ini kasihan Ibu raisanya sudah merasakan sakit menjelang persalinan dia juga harus merasakan sakit setelah operasi pasca persalinan," jelas Dokter.
Bryan nampak bingung apa yang harus dilakukannya melihat istrinya merintih kesakitan dia sangat tidak sanggup.
"Dengan rasa yang tak karu-karuan Bryan kembali ke tempat di mana Raisa menunggu persalinan, dirinya mencoba menghibur sang istri itulah satu-satunya cara agar istrinya melupakan rasa sakit yang dideritanya saat ini
"Bagaimana Mas Apa masih lama," tanya Raisa
"Sebentar lagi kok Sayang dokternya sedang menyiapkan segala sesuatunya," jawab Bryan.
"Kamu nggak bohong kan Mas."
"Enggak kok sayang bentar lagi dokternya datang kamu sabar ya," Brian mencoba menghibur.
Menurut artikel yang dia baca saat istri mengalami sakit pra persalinan biasanya sang suami diminta untuk mengelus punggung sang istri karena dengan begitu bisa mengurangi rasa sakit yang diderita sang istri.
Bryan mempraktekkan apa yang dia baca pada Raisa dia mengelus Raisa dengan lembut berharap rasa sakit sang istri berkurang.
"Enakan Mas lagi dong," Bryan terus mengelus punggung Raisa.
Mengelus punggung sang istri terus menerus tentu membuat tangan Bryan lelah apalagi kalau menunggu sampai 5 jam
"Sabar ya Sayang tangan aku lelah jadi aku sudahi mengelusnya ya," Bryan menghentikan pijatannya.
Sakit yang dirasakan Raisa semakin besar dia tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya.
"Sakit Mas," rintih Raisa.
"Sabar Sayang sebentar lagi sudah waktunya melahirkan kok," Bryan mencoba menyemangati sang istri.
"Ini semua gara-gara kamu Mas kalau kamu tidak menggagahi aku setiap malam mungkin aku nggak akan hamil," kata Raisa
Kesakitan yang berlebihan membuat Raisa berbicara ngawur, dia malah menyalakan Bryan atas kehamilan yang dia alami saat ini.