Married With A Stranger

Married With A Stranger
Segera Menikah


"Tenang ada papa disini." Dimitri mencoba menenangkan Diandra yang sedari tadi menangis.


"Cie cie yang sudah mengklaim papa." Untuk kesekian kalinya Rafi meledek Dimitri.


Dimitri yang kesal menatap Rafi dengan tatapan mautnya tak hanya itu dia juga membekukan gaji Rafi bulan ini.


"Maaf lah pak, nggak ngeledek lagi sumpah." Rafi memohon pada Dimitri untuk mau memaafkannya.


Diandra sangat ketakutan, dia terus memeluk Dimitri dengan kuat.


Kini mereka telah tiba di villa, Yuke nampak senang karena mereka telah membawa Diandra dengan selamat.


"Terima kasih pak, maaf merepotkan," kata Yuke.


"Apaan cuma terima kasih, cium juga dong," sahut Rafi.


Cup


Yuke mencium pipi Dimitri, dan ini membuat ibu Yuke segera mengambil Diandra dari gendongan Dimitri.


"Malu dilihat anaknya," kata Ibu Yuke.


*******


Bau bunga asmara semerbak dimana-mana, tak hanya Yuke dan Dimitri namun kelihatannya papa Raisa juga lagi jatuh hati pada mama Yuke.


"Pa." Raisa yang memanggil papanya yang tengah melamun menatap mama Yuke yang tengah menggendong Diandra.


"Apa sih Raisa, kamu kok ganggu kesenangan papa." Tanpa sadar papa Raisa memarahi Raisa yang mengganggunya.


Raisa nampak kesal pada papanya yang genit.


"Astaga papa, ingat umur napa," protes Raisa.


"Kasian mama diatas kalau papa melirik perempuan lain lagian sebentar lagi mau jadi kakek jadi jangan genit." Raisa nampak tidak senang karena papanya melihat mama Yuke.


Papa Raisa nampak terdiam dengan ucapan Raisa, memang benar kalau dirinya melirik wanita lain kasian mama Raisa.


Setelah urusan mereka selsai, semua memutuskan untuk kembali ke kota, tak lupa ibu Yuke berterima kasih pada Papa Raisa karena membiarkannya tinggal di villanya selama ini.


Papa Raisa tersenyum, ternyata bukan hanya papa Raisa yang dilanda asmara namun mama Yuke juga menunjukkan getar-getar yang sama.


"Sesama manusia harus saling tolong menolong." Papa Raisa senyum-senyum sendiri.


"Iya pak, memang harusnya seperti itu." Mama Yuke juga sama.


Yuke yang melihat gelagat mamanya dilanda kasmaran nampak tersenyum, akhirnya ibunya bisa membuka hati untuk pria lain di usia senjanya.


"Mama seperti ABG yang dilanda asmara," Goda Yuke.


Setelah selesai beres-beres mereka bersiap kembali ke kota.


Untung saat pulang, Bryan belum pulang sehingga Raisa bebas dari interogasi Bryan.


"Untung belum pulang." Raisa sangat bersyukur.


Raisa masih memikirkan papanya yang tengah jatuh hati pada mama Yuke, dia tidak bisa membiarkan hal ini terjadi mengingat umur mereka yang sudah senja.


"Pa janji ya pada Raisa kalau papa tidak akan memiliki wanita lain," Raisa meminta papanya untuk tidak genit.


Papa Raisa tersenyum lalu berjanji tidak akan menikah lagi.


"Baiklah sayang." papa Raisa mengangkat jari kelingkingnya dan mereka melakukan janji kelingking.


Berbeda dengan Raisa, Yuke malah setuju kalau mamanya jatuh hati sama papa Raisa karena dengan begitu mamanya ada yang menjaga, Yuke setuju karena kelihatanya papa Raisa juga menunjukan gelagat yang sama.


"Mama jatuh hati sama papa Raisa?" tanya Yuke sambil tersenyum.


Mama Yuke senyum sendiri, dia kini bak anak ABG yang dilanda asmara hingga bayangan papa Raisa selalu muncul di otaknya.


Mama Yuke sadar diri, dirinya paham kalau tidak mungkin bersanding dengan papa Raisa, menurut beliau, mereka itu bagai pungguk dan bulan, yang mana Mama Yuke pungguknya sedangkan papa Raisa bulannya.


"Tapi papa Raisa juga sama, jadi mama harus semangat." Yuke menyemangati mamanya yang putus asa sebelum berjuang.


"Apa kamu yakin Yuke?" tanya Mama.


"Apa mama tidak lihat kalau papa Raisa menunjukan hal yang sama," jawan Yuke.


Di sisi lain, Dimitri kini tidak seperti sebelumnya, hari ini terlihat sangat segar dan murah senyum.


Cinta, memang begitulah cinta, terkadang membuat bahagia terkadang membuat orang sengsara.


"Sungguh Yuke bisa merubahnya dari monster berubah jadi kucing," batin Rafi dengan tersenyum.


Rencananya Dimitri akan secepatnya menikah dengan Yuke sebelum kandungan Yuke membesar.


Dia meminta Rafi untuk menyiapkan segala sesuatunya termasuk mendaftarkan mereka ke kantor agama.


"Pak, tumben anda nggak ngidam?" Lagi-lagi Rafi menggoda Dimitri.


Dimitri yang digoda malah berpura-pura ngidam ingin buah mangga muda yang langsung diambil dari pohon.


"Astaga ini sih namanya ngerjain pak." Rafi nampak melemas.


Dimitri hanya tertawa lagian beberapa hari ini Rafi sangat menjengkelkan.


**********


Papa Bryan nampak heran dengan papa Raisa yang nampak murung padahal sebelumnya papa Raisa sangat periang.


"Ada apa dengan kamu bestie?" tanya Papa Bryan.


"Tidak apa-apa bestie," jawab papa Raisa dengan pura-pura tersenyum.


Papa Bryan cukup tau sahabatnya jelas ada apa-apa kalau tidak ada apa-apa mana mungkin begini?


"Jujurlah padaku Anton." Papa Bryan meminta Papa Raisa untuk jujur padanya karena siapa tau bisa membantu.


Akhirnya papa Raisa menceritakan semuanya pada papa Bryan dia bilang kalau jadinya tengah jatuh hati pada mama Yuke namun Raisa melarangnya untuk tidak menuruti perasaannya, karena sudah berumur.


Papa Bryan nampak manggut-manggut akan cerita papa Raisa.


Sebenarnya beliau menyayangkan sikap Raisa yang tidak mengerti keadaan papanya, hidup sendiri sangat tersiksa apalagi saat musim penghujan, hanya gulingnya teman tiap malam.


Para papa melajang itu karena memikirkan perasaan anaknya mereka rela tidak menikah lagi supaya bisa fokus merawat anak mereka.


Papa sungguh berbeda dengan papa sebelumnya, beliau lebih banyak duduk sambil melamun, tentu hal ini membuat Raisa maupun Bryan nampak sedih.


"Papa kenapa sih sayang?" tanya Bryan, dia sangat khawatir dengan papa Mertuanya yang berubah menjadi seorang yang pendiam.


Raisa sebenarnya enggan untuk bercerita namun Bryan terus memaksanya.


"Sebenarnya papa jatuh hati pada Mama Yuke mas tapi Raisa larang karena udah tau dan kasian mama," jawab Raisa dengan raut wajah yang yang sulit diartikan.


Sebenarnya Raisa paham apa yang dirasakan papanya namun dia melayani keegoisannya daripada perasaan papanya.


Bryan mendekati Raisa yang duduk di telah ranjang, dia merangkul sang istri.


"Sayang kita nggak boleh egois, biarlah papa jatuh hati pada siapa pun yang penting orangnya jelas," kata Bryan.


"Iya mas tapi kan papa sudah tua?" Raisa tetap bersikeras.


Bryan menghela nafas lalu mengelus pundak sang istri, dia tidak ingin menggunakan kekerasan karena bumil rawan marah.


"Berapa tahun papa Melajang? bisa kamu bayangkan bagaimana saat beliau menginginkan hal itu? kita saja yang seminggu nggak gituan ketemu seperti orang kelaparan apalagi papa?" Dengan lembut dia memberikan pengertian pada istrinya.


Raisa nampak terdiam, ucapkan Bryan mampu membuat dirinya sadar kalau apa yang dilakukannya membuat papanya kecewa dan bersedih.