Married With A Stranger

Married With A Stranger
Ghibah


Dimitri dan Raffi telah tiba di perusahan Bryan, mereka langsung saja naik ke atas untuk pergi ke ruangan Bryan.


"Siang guys," Raffi menyapa Bryan dan bilang.


"Siang bestie," balas Gilang.


Sapa menyapa model begini hanya dilakukan oleh Bryan dkk, kini mereka telah menjadi bestie.


Mereka berempat mengobrol asik di ruangan Bryan sampai lupa kalau mereka belum makan siang.


"Tunggu sebenarnya ada apa kalian meminta kami datang kemari?" tanya Dimitri.


"Perusahaan kami mendapatkan dua tender besar, rencananya satu tender akan kami berikan pada perusahaan kalian," jawab Bryan.


Dimitri menatap Bryan dengan tatapan nanar, lagi-lagi Brian telah membantu perusahaannya seandainya tidak ada Brian entah bagaimana nasib perusahaannya saat ini.


Perusahaan Dimitri yang sebelumnya baik-baik saja telah mengalami defisit karena Dimitri dan Raffi yang tidak fokus mengerjakan pekerjaan di kantor Dimitri yang waktu itu ditinggal Yuke tidak mengurusi perusahaan sama sekali sehingga harga saham di dunia saham anjlok, Raffi yang saat itu mengurusi perusahaan sendiri harus direpotkan dengan ngidam Dimitri sehingga defisit perusahaan semakin larut dan itu mengancam perusahaan Dimitri.


Untung Bryan membantu Dimitri dengan memberikan bantuan dana yang besar sehingga kini perusahaan Dimitri sudah kembali normal seperti semula.


Tak hanya bantuan uang, Bryan juga kerap kali memberikan tender pada perusahaan Dimitri sehingga kini perusahaan Dimitri menjadi salah satu perusahaan terkenal yang mana banyak Para investor berbondong-bondong untuk menanamkan modalnya di perusahaan Dimitri.


"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi Bryan kamu sangat banyak membantu perusahaan ku." Dimitri sangat berterima kasih pada Bryan.


"Kita kan saudara Dimitri jadi wajib tolong-menolong lagi pula kalau terjadi apa-apa dengan perusahaan kamu tentu membuat Papa bersedih karena bagaimanapun juga kamu adalah menantunya," jelas Bryan.


Dimitri sangat terharu dengan kebaikan Bryan dia tak menyangka orang yang dia musuhi selama ini memiliki hati mulia.


"Sudah sudah jangan bersedih lebih baik kita makan siang aku sudah lapar." Sungguh Rafi menyebalkan sekali, cerita lagi haru-harunya dia malah memikirkan makan siang.


Bryan tertawa mendengar ucapan Rafi, sungguh dari kemarin dia menggelengkan kepala baru tau asisten Dimitri yang terkenal serius memiliki karakter kocak seperti ini.


"Kamu mungut asisten ini dimana sih Dimitri?" tanya Bryan yang membuat Rafi kesal.


"kolong jembatan," sahut Gilang.


"Udah deh jangan gitu lebih baik kita makan dulu," Raffi tak bersikeras ingin makan siang.


"Ya sudah ayo," ajak Dimitri.


Mereka semua pergi ke restoran yang tak jauh dari kantor bryan, saat di restoran mereka melihat Raisa dan juga Yuke yang juga berada di restoran yang sama.


"Guys bukankah itu para istri kalian?" tanya Rafi.


Dimitri dan Bryan menoleh emang benar itu adalah para istri mereka, Raisa dan Yuke.


Ngapain mereka makan di sini? kenapa nggak menghubungi kita? Brian yang Dimitri bertanya-tanya dalam hati


"Kita samperin yuk," ajak Dimitri


"Ayo," sahut Bryan


Brayan dan Dimitri beranjak, mereka ingin mendekati para istri mereka namun saat sudah dekat mereka mendengarkan istri mereka sedang menghibah mereka.


Bryan dan Dimitri saling tatap bisa-bisanya para istri menghibah para suami yang tengah mencari nafkah untuk mereka.


"Iya parah tiap malam aku harus membuka kaki lebar-lebar untuk melayani Dimitri," kata Yuke.


"Sama aku juga begitu entah pinggulnya terbuat dari apa nggak capek main kuda-kudaan tiap malam," Raisa menambahkan.


Raisa dan Yuke telah menghibah para suami, mereka sungguh senang kapan lagi menghibah para suami.


Tak ingin mengganggu kesenangan para istri Bryan dan Dimitri kembali lagi ke mejanya.


"Kenapa kalian kembali lagi?" tanya Gilang


Bryan dan Dimitri yang kesal tidak menjawab pertanyaan Gilang


Mereka langsung saja memakan makanan yang sudah tersaji di meja bahkan minuman Raffi pun ditenggak oleh Dimitri.


"Minuman aku," protes Raffi


"Pesan lagi," sahut Dimitri.


"Kalian kenapa sih cemberut aja seperti cewek yang lagi datang bulan," Raffi kesal dengan Dimitri dan Bryan.


"Tuh para istri bisa-bisanya menggibah para suami yang tengah mati-matian mencari nafkah untuk mereka," ungkap Bryan


Raffi dan Gilang tertawa mendengar ucapan Brian Apa memang benar Raisa dan Yuke menggibah mereka.


"Memangnya apa yang mereka hibahkan?" tanya Gilang.


"Mereka bilang kalau kita menggempur mereka setiap malam mereka juga bilang kalau mereka heran, sebenarnya terbuat dari apa pinggul kita karena setiap malam selalu minta jatah," ungkap Dimitri.


Raffi dan Gilang tertawa mendengar ucapan Dimitri Apa memang benar setiap malam mereka selalu menggagahi para istri mereka?


"Apa kalian main setiap malam?" tanya Raffi


"Ya iyalah mana tahan kita kalau nggak main," jawab Dimitri


Raffi dan bilang menggelengkan kepala sungguh parah bos mereka.


"Pantas di ghibah la kalian kejam sekali," sahut Raffi.


"Kejam gimana maksud kamu?" tanya Dimitri dengan menatap Raffi.


"Istri hamil masih aja dijagain tiap malam emangnya kalian gak kasihan dengan anak kalian yang ada di dalam kandungan." Ucapan Raffi memang benar adanya bukannya tidak kasihan tapi memang mereka tidak tahan kalau tidak menggagahi para istri mereka.


"Astaga," sahut Raffi dan Gilang bersamaan


"Sudah deh kalian nggak usah gitu besok kalau kalian sudah menikah kalian pun akan sama." Brian kesal pada Gilang dan Raffi padahal belum tentu mereka bisa tahan tidak menggagai istri mereka nanti.


Bryan mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Raisa dia bertanya Raisa sekarang ada dimana.


Dari kejauhan Raisa nampak melihat ponselnya namun dia tidak membalas pesan yang Brian kirim tentu hal ini membuat Brian sedikit kesal pada sang istri.


Tak hanya Brian Dimitri pun sama dia mengirim pesan pada Yuke dan seperti yang dilakukan Raisa Yuke juga melihat ponselnya tapi tidak membalas pesan yang dikirim oleh Dimitri.


"Apa sih mau Mereka kenapa tidak membalas pesan dari kita," Dimitri nampak kesal pada Yuke istrinya yang tidak membalas pesannya padahal tahu kalau dirinya tengah mengirim pesan.


"Entahlah Dimitri aku juga heran apa memang seperti itu kelakuan para istri saat kita mengirim pesan atau menghubungi mereka pura-pura tidak melihat kalau ada pesan," tukas Bryan.


"Sepertinya seperti itu Bryan, ya sudahlah kita tenang saja nanti setelah kita pulang kita hukum para istri kita." Ide Dimitri sungguh cemerlang.


Raffi dan Gilang saling pandang mendengar pembicaraan Bryan dan Dimitri. mereka heran pada Dimitri yang mengatakan ingin menghukum para istri memangnya para istri ingin dihukum apa? bukankah mereka tengah hamil?


"Kalian sungguh parah para istri hamil tapi kalian malah ingin menghukum mereka,"


kata Raffi


"Hukuman mereka itu enak bukan hukuman seperti di sekolah maupun di kampus," sahut Dimitri