Married With A Stranger

Married With A Stranger
Sembuh


Raisa tersenyum saat Bryan mengelus rambutnya, meski dia tertidur dia dapat merasakan elusan lembut dari suaminya.


Para papa yang melihat Bryan siuman segera memanggil dokter.


"Kuasa Tuhan sungguh besar," kata Dokter yang membuat para papa nampak bahagia.


Akhirnya setelah beberapa hari berbaring lemah tak berdaya kini Bryan telah membuka matanya.


Para papa yang bahagia ingin membangunkan Raisa namun Bryan melarangnya, Raisa selama ini telah menjaganya jadi Bryan tidak ingin mengganggu istirahat sang istri.


"Bagaimana, keadaan kamu Bryan mana yang sakit?" tanya papa Bryan.


"Kepala Bryan pa, sekujur tubuh Bryan juga sakit," jawab Bryan.


Papa Bryan nampak sedih dia hanya berharap semoga anaknya benar-benar sembuh dan bisa aktivitas seperti sedia kala.


Bryan terus mengelus rambut Raisa, dia sangat merindukan sang istri, bahkan dalam sakit pun dia masih memikirkan Raisa.


Obrolan obrolan Raisa lah yang membawanya cepat kembali, setiap malam dia selalu mendengar Raisa menangis dan ini membawanya cepat kembali.


"Maafkan aku sayang karena telah membuat kamu menderita," kata Bryan.


"Maafkan Papa juga nak yang membuat Mama kamu harus meninggalkanmu demi mengurusi papa." Bryan mengenang anaknya yang jauh di sana.


Bryan kini berharap semoga dokter segera memperbolehkan dirinya pulang, karena dia juga sangat rindu pada anaknya baby Rayyan.


Waktu terus berlalu Raisa yang sudah cukup tidur pun membuka matanya, dia nampak kaget karena melihat Bryan tengah menatapnya dengan tersenyum manis.


"Mas kamu sudah siuman?" tanya Raisa.


"Sudah dari tadi sayang," jawab Bryan.


Raisa nampak kesal pada Bryan maupun pada para papa karena tidak membangunkannya saat Bryan siuman.


"Kenapa Raisa tidak dibangunkan sih," Raisa tampak marah.


Bryan membujuknya dia bilang kalau tidurnya sangat nyenyak jadi tidak ingin mengganggu.


"Kamu tidur sangat nyenyak sayang," kata Bryan


Meskipun Bryan telah memberikan alasannya namun Raisa tetap kesal.


"Aku kan kangen Mas kenapa sih kalian tega sama aku." Raisa memajukan bibirnya.


Meskipun kesal Raisa juga tidak ingin berlama-lama cemberut dia sungguh kangen dengan sang suami.


Raisa memeluk Bryan dengan erat dia meminta Bryan untuk tidak meninggalkannya lagi apalagi sampai kecelakaan seperti ini.


Setelah dirawat beberapa hari, akhirnya Bryan sudah diperbolehkan pulang, sebuah jet pribadi didatangkan dari ibukota menuju kota S.


Di ibukota rencananya Bryan akan melakukan operasi lagi, operasi kakinya yang mengalami patah tulang.


Sebulan telah berlalu kini Bryan benar-benar pulih, kakinya juga sudah sembuh, itu juga berkat Raisa yang terus merawatnya dengan baik.


Melihat istrinya yang sungguh-sungguh merawatnya membuat Bryan semakin cinta pada sang istri.


"Terima kasih sayang kamu telah merawat ku," ucapan terima kasih banyak membuat Raisa menangis, merawat suami adalah kewajiban seorang istri.


*********


Di kantor Dimitri Rafi terus saja bertengkar dengan Amanda dia sungguh kesal dengan Amanda yang menurutnya tidak bisa apa-apa.


"ini nggak bisa itu nggak bisa, bisa kamu apa sih," gerutu Rafi.


Amanda nampak sakit dengan ucapan Rafi, memang keahlian Amanda bukan di kantor melainkan di kebun.


"Aku memang tidak ahli mengerjakan pekerjaan seperti ini, karena memang keahlianku adalah bercocok tanam dan berkebun," mata Amanda berkaca, selama ini Rafi terus saja membullynya


Amanda sebenarnya sangat lelah, perlahan rasa cintanya untuk Dimitri lenyap sudah, karena sikap Dimitri yang sangat dingin padanya ditambah sikap Rafi yang terus membullynya.


"Aku lelah sumpah aku lelah, tapi aku tak enak dengan mama Dimitri." ucapan Amanda membuat Rafi menatapnya dengan tatapan tak biasa.


"Aku lelah Pak Rafi." Amanda menangis, dia sangat merindukan orang tuanya, dia ingin pulang dan melupakan Dimitri untuk selamanya.


Raffli mendekati Amanda yang tengah menangis dia menyodorkan sapu tangannya untuk Amanda.


melihat Amanda menangis benar-benar membuatnya tak berkutik, dia sungguh bingung harus berkata apa.


"Hapuslah air matamu, aku benci melihat wanita yang menangis," Rafi duduk di depan Amanda.


"Aku juga benci menangis tapi keadaan yang membuat aku menangis, ditekan Mama Dimitri dan dibully kamu benar-benar membuat hidupku seperti di neraka," ungkap Amanda.


Rafi nampak bingung apa maksud Amanda ditekan Mama Dimitri? bukankah Amanda memang berniat untuk merusak hubungan Dimitri dan Yuke? Rafi terus bertanya-tanya namun dia juga tidak ingin bertanya pada Amanda.


Tanpa Rafi bertanya Amanda bercerita padanya, dulu dia memang sangat mencintai Dimitri, menginginkan Dimitri untuk menjadi pasangannya namun Dimitri tidak memiliki perasaan apapun terhadap Amanda.


Dimitri selama ini hanya menganggap Amanda teman biasa, memang wanita lebih mudah baper daripada pria, didekati Dimitri dia sudah menganggap Dimitri mencintainya padahal Dimitri hanya mencari teman ngobrol saat di Barcelona.


Terkadang Dimitri memang mengunjungi orang tuanya, melihat hamparan luas kebun anggur milik orang tua Amanda membuat Dimitri minta Amanda untuk menemaninya berkeliling kebun.


Dari situlah cikal bakal Cinta Amanda tumbuh, dia sangat mencintai Dimitri.


orang tuanya yang melihat gelagat anaknya pun meminta orang tua Dimitri untuk menjodohkan


mereka.


Namun siapa sangka Dimitri tidak memiliki perasaan apapun terhadap Amanda, menolak perjodohan dengan Amanda dengan alasan dia tidak ingin terikat sebuah pernikahan.


Dimitri ingin bebas layaknya anak muda pada umumnya, kalau dia menginginkan wanita dia akan membeli wanita untuk memuaskannya.


Ya begitulah Dimitri lebih suka bermain wanita daripada terikat sebuah hubungan, hingga dia terjebak dengan Yuke, dimaana dia tersiksa tanpa adanya Yuke di sisinya.


Tangis Amanda semakin pecah saat dia menceritakan kisahnya pada Rafi


Rasa cinta yang mendalam pada Dimitri harus pupus sudah karena Dimitri tidak mencintainya


"Tenanglah Amanda ada aku disini." . Rafi mencoba menghibur Amanda dengan berbagai lelucon, meskipun dia membenci Amanda namun melihat Amanda menangis membuat Raffi tak tega.


Obrolan mereka berlanjut sampai ke makan siang, Rafi mengajak Amanda untuk makan siang bersama, awalnya Amanda menolak namun Raffi memaksanya dia bilang kalau ini adalah sebuah perintah.


Rafi meniru gaya Dimitri saat memerintahnya.


"Baiklah," Amanda menuruti kemauan Rafi.


Rafi mengajak Amanda untuk makan di restoran langganannya, dia meminta Amanda untuk memesan apapun makanan yang dia ingin makan.


"Ternyata kamu baik juga Pak Rafi," Amanda memuji Rafi.


Raffi nampak besar kepala saat Amanda memujinya, baru kali ini ada wanita yang memujinya.


"Masak sih," goda Amanda.


Rafi dan Amanda nampak tertawa, mereka berdua terus bercanda sampai lupa waktu.


"Astaga sudah waktunya masuk kantor kata Rafi saat melihat jam tangannya.


"Dimitri pasti marah," sahut Amanda.


"Biarlah dia marah," tukas Rafi


Raffi dan Amanda melanjutkan obrolan mereka di mobil, sungguh siapa disangka Rafi malah ingin terus mengobrol dengan Amanda hingga dia meminta nomor ponsel Amanda.


"Amanda minta nomor ponsel kamu,"