Married With A Stranger

Married With A Stranger
Galau


"Aku membuangnya," kata Raisa.


Sontak tangan Bryan mengepal, rahangnya sudah mengeras andai bisa dilihat kedua telinganya pasti akan mengeluarkan asap, dirinya sangat marah pada Raisa.


"Apa!" seru Bryan.


Raisa tersentak kaget lalu dia mundur selangkah untuk menghindari tatapan Bryan.


"Sangat kotor aku tidak bisa mencucinya apalagi bau ikan yang sangat menyengat," kata Raisa mencari pembelaan.


Bryan mengikuti Raisa dengan selangkah dengan tatapan mautnya, Raisa yang takut mundur lagi dan Bryan juga maju lagi.


"Sudahlah Bryan lagi pula yang aku buang hanya enam piring, empat gelas dan beberapa garpu serta sendok, mangkok, teflon, panci, pisau dan beberapa peralatan dapur lainnya jadi nggak usah lebay," ucap Raisa.


Bryan semakin memanas, Raisa hampir membuang semua peralatan dapur dan dia bilang nggak usah lebay?


"Kamu punya otak nggak? lihat sekarang di dapur ada apa? semua peralatannya kamu buang," sahut Bryan.


"Kenapa nggak sekalian kompor, kulkas dan peralatan lainnya," sambungnya.


"Memangnya boleh ya," tukas Raisa dengan terkekeh.


Bryan yang super kesal mengusap rambutnya dengan kasar, ingin sekali mencabik-cabik wanita yang ada di depannya.


"Boleh biar kita gembel sekalian karena pasti rumah ini pun kamu jual jika sedang kepepet," sahut Bryan.


Bryan memukul dinding dengan tangannya untuk melampiaskan kekesalannya pada Raisa lalu dirinya pergi.


Raisa yang melihatnya merasa bersalah kemudian berjalan keluar, dia pergi ke dapur dan betapa terkejutnya saat melihat dua bungkus makanan yang tergeletak di meja makan.


Dengan rasa sesal dia pergi ke tempat sampah depan untuk mengambil kembali peralatan dapur yang dibuangnya namun perkakas dapur yang dia buang sudah tidak ada.


"Yah sudah hilang," kata Raisa.


Raisa masuk kembali ke dalam, dia mengambil ponselnya lalu pergi keluar. Dia yang merasa bersalah pada Bryan pulang ke rumahnya untuk mengambil peralatan dapur.


Sesampainya di rumah, Raisa pergi ke dapur dan mengambil peralatan yang diperlukan.


"Non untuk apa mengambil ini semua?" tanya art.


"Untuk keperluan dapur Raisa bik," jawab Raisa.


"Papa masih di kantor?" tanya Raisa kemudian.


"Iya," jawab art.


Setelah selesai Raisa segera kembali dia berpesan kalau tidak mengadukan hal ini pada papanya.


Tak hanya peralatan dapur yang digondolnya, makanan yang ada di sana juga disikat habis.


"Bibi masak lagi ya," kata Raisa.


Art mengangguk pelan karena Raisa mengambil semua makanan yang ada di maja makan.


Setibanya di rumahnya Raisa menata peralatan di dapur, dia juga memindahkan makanan yang dibeli oleh Bryan dan juga menata makanan yang dibawanya tadi.


"Semoga Bryan nggak marah lagi sama aku," ucap Raisa lalu berjalan ke kamar Bryan.


Di kamarnya Bryan sedang tidur, dia yang kesal pada Raisa memilih tidur daripada tambah stres memikirkan istri bohongan yang selalu membuat dirinya naik darah.


Raisa berjalan mendekati Bryan, dia menatap wajah lelah Bryan lalu membangunkannya.


"Bryan, bangun," kata Raisa.


Bryan perlahan membuka matanya, dia menatap Raisa dengan mata yang masih mengantuk.


"Ayo makan," ajak Raisa.


"Nggak lapar," kata Bryan.


"Ayo makan dulu," sahut Raisa dengan menarik tangan Bryan yang masih mengumpulkan nyawanya.


"Iya iya," kata Bryan lalu beranjak dari tempat tidurnya, dia dan Raisa berjalan menuju ruang makan, di atas meja Raisa sudah tersedia makanan.


Bryan nampak heran, tiba-tiba peralatan dapurnya sudah lengkap panci, teflon juga ada.


"Kamu beli?" tanya Bryan.


"Nggak, aku mengambil dari rumah papa," jawab Raisa.


"Maafkan aku," sambungnya.


"Kamu nggak sedang kerasukan kan?" tanya Bryan dengan terkekeh.


"Dah deh jangan mulai, ini mumpung aku baik nanti kalo udah habis jam nya balik lagi ke Raisa yang sebelumnya," sahut Raisa.


Bryan tertawa melihat Raisa memajukan bibirnya, baru kali ini selama menikah melihat Raisa bersikap seperti ini.


************


"Devan tunggu," teriak Raisa mengejar Devan di lorong kampus.


Bukannya berhenti Devan malah berjalan dengan cepat, untung Raisa mampu menggapai tangan Devan.


"Kamu kenapa sih Devan?" tanya Raisa.


"Aku lelah Raisa, udahlah jangan ngejar-ngejar aku," jawab Devan.


Mata Raisa berkaca, apa selama Devan tidak mengejarnya sehingga dia bilang seperti itu.


"Apa maksud kamu Devan?" tanya Raisa.


"Kita akhiri saja hubungan tanpa status ini, aku punya gebetan lain yang lebih dari kamu," jawab Devan.


Raisa mundur selangkah, pria yang selama ini dia idam-idamkan, pria yang selama ini sangat dia cintai memiliki gebetan lain.


"Bukankah kamu bilang nggak akan ninggalin aku," ucap Raisa.


Devan tertawa lalu mencubit pipi Raisa.


"Kita logis saja baby, saat kamu sudah tidak menarik dan bermanfaat untuk aku ya wus wus wus," ungkap Devan sambil mengibaskan tangannya.


"Keterlaluan kamu Devan, aku pikir kamu tulus sama aku namun nyatanya! pantas papa aku nggak pernah suka sama kamu." Raisa berteriak dengan tatapan mautnya.


Devan menghela nafas, sembari menatap tajam Raisa balik.


"Lihat dirimu, wanita dengan fisik seperti ini mana ada yang mau bahkan orang paling jelek di kampus ini mikir-mikir untuk suka sama kamu apalagi aku." Hati Raisa terasa perih mendengar pengakuan Devan.


"Bye Raisa, aku harap kamu tidak pernah menggangguku lagi," sambungnya lalu pergi meninggalkan Raisa dengan rasa sakitnya.


Raisa duduk sambil menangis, pria yang dia sukai selama dua tahun ini sungguh tega menyakiti hatinya tanpa simpati di hati sedikitpun.


Dengan rasa sakit yang di deritanya Raisa memutuskan untuk pulang, saat di depan kampus Raisa melihat Bryan dan Yuke duduk berdua di sebuah bangku.


Raisa berlari keluar kampus tentu ini menyita perhatian Bryan.


"Kenapa dia berlari keluar? bukankah jam kuliah belum selesai?" Bryan bertanya-tanya dalam hati.


"Kamu kenapa sih Bry?" tanya Yuke


Bryan hanya diam saja hingga Yuke menepuk paha Bryan.


"Eh iya Yuke," sahut Bryan.


Sepulang dari kampus Bryan langsung pulang ke rumah, tak lupa dia membeli makanan untuk dirinya dan Raisa.


"Raisa," panggil Bryan.


Tak ada jawaban Bryan langsung masuk saja, di dalam kamar nampak Raisa meringkuk sambil menangis.


"Kamu kenapa?" tanya Bryan.


Meski bisa dibilang Raisa adalah musuh namun saat Raisa menangis seperti ini Bryan juga tidak tega.


Raisa menggeleng sembari menghapus air matanya yang terus jatuh.


"Kamu kenapa?" tanya Bryan lalu duduk di tempat tidur Raisa.


"Kenapa Tuhan nggak adil sekali sama aku." Raisa melemparkan pertanyaan balik pada Bryan yang mana Bryan sendiri tidak tau jawabannya.


Bryan tersenyum, dia tau kalau tengah terjadi apa-apa sama Raisa.


"Aku tidak tau jawabannya Raisa, tapi yang aku tau kalau Tuhan itu sayang sama umatnya, terkadang yang terlihat tidak baik untuk kita ternyata itulah yang baik untuk kita," jawab Bryan.


"So apa masalah kamu?" tanya Bryan.


"Devan ninggalin aku," jawab Raisa dengan menangis.


"Syukur deh kutu kupret itu ninggalin kamu," sahut Bryan yang membuat Raisa menatapnya tajam.