Married With A Stranger

Married With A Stranger
Meninggal


Dimitri yang mendengar Yuke jatuh dan dilarikan ke rumah sakit segera meminta Rafi untuk mengantarnya ke rumah sakit.


Entah mengapa ada rasa kesal tersendiri pada Yuke, karena telah tidak mendengar ucapannya.


"Sabar pak, tidak akan ada apa-apa dengan istri anda." Rafi mencoba menenangkan Dimitri.


"Semoga saja," sahut Dimitri.


Bak pembalap kelas dunia, Rafi membawa mobilnya dengan lincah, dia mendahului mobil yang berasa di depannya dengan lihai hingga tidak memerlukan waktu yang lama untuk tiba di rumah sakit.


Dimitri bergegas turun dan meninggalkan Rafi yang masih berada di dalam mobil.


Dimitri berlari menuju ruang UGD, saat tiba di depan ruang UGD, tim Dokter akan melakukan operasi pada Yuke.


melihat itu tentu Dimitri sangat panik, dia mencegah perawat yang membawa Yuke.


"Mau dibawa ke mana istri saya?" Dimitri bertanya dengan tatapan yang panik dan bingung, dia berharap tidak terjadi hal serius yang terjadi pada Yuke maupun calon bayinya.


suster menyingkirkan tubuh Dimitri berharap Dimitri tidak menghambat pekerjaan mereka, karena Yuke harus segera ditangani.


"Mohon maaf Pak kami terburu-buru karena pasien harus segera kami tangani." suster membawa Yuka menjauh dari Dimitri.


Para pelayan di sana menjelaskan pada Dimitri kalau Yuke mengalami keguguran, benturan keras membuat bayi yang ada di dalam perut Yuke tidak bisa diselamatkan.


Mendengar hal itu Dimitri sangat shock, dia tak menduga kalau bayinya akan pergi padahal tadi pagi sebelum berangkat ke kantor dia sempat mengelus calon bayinya tangan Dimitri ditendang oleh calon bayinya dari dalam perut.


"Kenapa kamu tinggalkan papa nak," kata Dimitri dengan mata yang mulai membasah, dirinya sangat terpukul mendengar kematian calon bayinya.


Selama ini dialah yang merasakan susahnya orang hamil, selalu mual dan muntah, sungguh hidupnya sangat tersiksa namun kini bayinya malah meninggalkannya sebelum mereka sempat bertemu.


Raffi yang mendengarnya pun juga ikut sedih, Dulu dia seperti suami Dimitri yang selalu ada saat Dimitri mengidam.


"OMG, kenapa secepat ini engkau mengambilnya, bahkan aku belum sempat menabok mukanya." Gumam Rafi yang mendapatkan tatapan maut dari Dimitri.


Dengan langkah lemas Dimitri dan Rafi pergi menuju ruang operasi, saat ini yang bisa dilakukan hanya berdoa semoga operasinya lancar.


Tak berselang lama dokter keluar, disusul suster yang membawa jasad bayi Dimitri.


Bayi yang baru sekepal tangan itu membiru, dan ini membuat tangis Dimitri pecah, dia menumpahkan kesedihannya di bahu Rafi.


"Anak aku telah meninggal Raf," katanya.


Melihat Dimitri yang menangis Rafi turut menangis, dia dapat merasakan kesedihan atasannya.


Anak yang dinanti-nantikan akan segera lahir pun kini kembali ke sang pencipta.


dengan air mata yang terjatuh Dimitri mengambil bayi bayi kecilnya dari tangan suster, dia mencium bayinya.


"Secepat ini kamu tinggalkan papa nak," bisik Dimitri dengan terisak.


Tapi bagaimana lagi semua sudah takdir dari Yang maha kuasa, Dimitri pun berjalan dengan membawa jasad bayinya, dia ingin mengurus penguburan bayinya, suster sempat meminta jasad bayinya untuk dimandikan di rumah sakit namun Dimitri melarangnya dia bersikeras untuk membawa bayinya pulang ke rumah dan dikuburkan.


Rafi mengejar Dimitri tentu dia tidak akan membiarkan atasannya mengubur sendiri jasad bayinya, tetap harus dilakukan prosesi sesuai keyakinan yang mereka anut.


Dimitri seakan tidak memperhatikan Yuke, dia hanya fokus dengan jasad bayinya.


"Jangan tanya padaku, Ini semua karena ulahnya kalau saja dia tidak berulah anakku pasti masih hidup." Jawaban Dimitri membuat Rafi kaget, apa Dimitri membenci istrinya? entahlah yang jelas Dimitri sekarang merasa sangat marah pada Yuke.


Mendengar anaknya yang dirawat di rumah sakit, Mama juga segera pergi ke rumah sakit ditemani oleh Papa Raisa, Mama juga nampak sedih karena anak Yuke telah meninggal, padahal mama juga telah menantikan kelahirannya.


"Mana Dimitri?" tanya Mama.


Yuke menggelengkan kepala dia tidak bertemu sama sekali dengan Dimitri, cuma tadi suster hanya bilang kalau Dimitri membawa jasad bayinya.


"Mungkin Mas Dimitri menguburkan jasad anak kami ma," jawab Yuke.


"Tidak menjenguk kamu sama sekali?" ucapan Papa membuat Yuke terdiam, dia merasa aneh kenapa Dimitri tidak menengoknya sama sekali?


"Tidak pa," jawab Yuke.


Air mata Yuke mulai terjatuh, dia takut kalau Dimitri marah dan membencinya karena dia telah membuat calon bayinya meninggal.


"Apa jangan-jangan masih Dimitri marah sama Yuke ma?" Yuke melemparkan pertanyaan pada mama dan Papanya.


Mama dan papa saling pandang, semua ini sudah takdir kenapa harus marah?


Mama mencoba menenangkan Yuke dengan memeluknya dia dapat merasakan kesedihan ditinggal bayi yang dinanti nantikan kehadirannya.


"Mana mungkin Dimitri marah padamu, semua ini sudah takdir tidak ada yang bisa menghindar dari kematian termasuk bayi yang ada dalam kandungan kamu." jelas Mama yang membuat Yuke sedikit tenang.


Di sisi lain prosesi penguburan jenazah bayi Dimitri dan Yuke telah selesai, Dimitri meminta pemuka agama untuk menguburkan jenazah anaknya di sekitar rumahnya saja, karena dengan begitu saat dia ingin mengunjungi makam anaknya tidak perlu jauh-jauh.


Dimitri menangis di makam bayinya, dia sangat menyesalkan apa yang terjadi dengan bayinya.


"Sudahlah Pak Dimitri semua sudah takdir dari yang maha kuasa, mungkin nanti anda mendapatkan ganti yang lebih banyak." Rafi ikut jongkok dan menghibur atasannya, tentu dia tidak ingin Dimitri larut dalam kesedihan dan menyalahkan Yuke atas semua yang terjadi.


Memang semua karena Yuke tidak hati-hati namun kembali lagi jika sudah takdirnya begitu maka akan diatur seperti itu kita manusia tidak akan bisa merubah.


"Tapi aku masih kesal pada Yuke yang tidak mengindahkan ucapanku," Dimitri bersikeras kalau Yuke adalah penyebab semuanya.


"Anda pernah tersiksa saat Nona Yuke meninggalkan anda, jangan sampai anda tersiksa kedua kalinya," pesan Raffi lalu pergi meninggalkan Dimitri.


Tiga hari telah berlalu, Dimitri sama sekali tidak datang ke rumah sakit untuk menjenguk istrinya, dia juga tidak mengangkat panggilan telepon mertuanya maupun teman-temannya, dia benar-benar menyendiri di ruang kerjanya.


Dimitri hanya mau mengangkat telepon jika itu urusan pekerjaan, di luar itu dia enggan untuk menerimanya.


Yuke pulang dengan perasaan sedih karena Dimitri sama sekali tidak memperdulikannya.


Sesampainya di rumah juga langsung mencari Dimitri di ruang kerjanya, dia bertanya kenapa Dimitri tidak datang ke rumah sakit.


"Jangan tanya padaku tanyakan pada dirimu kenapa aku bersikap seperti ini," Ucapan Dimitri benar-benar membuat juga sakit hati, dia tahu dia salah namun tak seharusnya Dimitri ngejudge Yuke seperti ini.


Tak hanya Dimitri Yuke lebih sedih karena kehilangan anak yang dia kandung, namun Dimitri tak paham akan hal itu.


"Semua sudah takdir Mas aku pun tidak ingin dia meninggal," kata Yuke dengan menangis.


"Seharusnya tidak seperti ini sikapmu, seharusnya kita berdua saling menguatkan karena kita sama-sama ditinggal," sambung Yuke.