
Papa Raisa yang datang terlebih dahulu nampak kaget pasalnya Bryan tidak memakai baju.
"Bryan kamu kenapa nggak memakai baju?" tanya Papa Raisa.
Bryan tertawa malu, sungguh dirinya tidak sadar kalau tadi belum memakai baju karena Raisa kesakitan.
"Lupa pa habis anu terus kesini." Jawaban Bryan membuat semua tertawa, sungguh anak mudan jaman now sangat waw sekali.
Papa Raisa memberikan kunci mobilnya dan menyuruh Bryan untuk memakai pakaian yang ada di dalam mobil.
Tanpa tanya pakaian apa Bryan langsung keluar untuk mengambil baju di mobil mertuanya.
"Astaga aku nanti dikira pak ustad yang ingin ceramah." Dengan menggerutu Bryan memakai baju Koko mertuanya dan juga sarung.
Setelah selesai Bryan segera menuju ruang dokter kandungan.
"Bagiamana keadaan istri saya Dok?" tanya Bryan saat masuk ke dalam ruangan dokter kandungan.
"Kenapa datangnya telat?" Tanya Dokter balik.
"Maaf Dok, habis kotbah di masjid," jawab Bryan dengan asal.
Para papa dan Raisa hanya bisa menggelengkan kepala akan ucapan Bryan.
"Oh, jadi gini pak, tolong perhatikan saat anda melakukan penetrasi, jangan terlalu dalam kasian bayi anda, lalu kalau istri hamil seperti ini jangan sekali-kali berhubungan dengan banyak macam gaya cukup satu saja dan gaya yang direkomendasikan adalah pria di atas." Dokter menjelaskan panjang kali lebar.
"Iya Dok, kami berdua rindu tingkat dewa sehingga lupa kalau lagi hamil." Dokter kini yang menggelengkan kepala.
Karena peristiwa hari ini, dokter melarang Bryan dan Raisa melakukan hubungan badan minimal dua minggu.
"OMG bisa mati aku kalau tidak berhubungan selama itu." Bryan nampak tidak terima dengan keputusan dokter.
"Nggak pernah ada kasus orang meninggal karena nggak berhubungan pak," sahut dokter.
Seusai mengambil obat mereka semua memutuskan untuk pulang karena Raisa harus istirahat.
"Sayang, padahal aku mau nambah kok udah merajuk dedeknya." Bryan nampak frustasi karena belum puas bergulat namun kini harus puasa kembali.
"Sabar lah mas, demi...." Raisa menggantungkan ucapannya.
"Demi apa? demikian?" Raisa tertawa mendengar ucapan Bryan.
*********
Pagi datang dengan cepat, Raisa yang rindu menyiapkan keperluan Bryan pagi ini semangat sekali.
Dia mengambil setelah jas sang suami, menyiapkan dasi, jam tangan kaos kaki tak lupa sepatu.
"Sudah siap semua, tinggal membangunkan mas Bryan." Bola mata Raisa tertuju ke Bryan.
Dengan lembut Raisa membangunkan suaminya, dia tidak ingin Bryan telat datang ke kantor.
Kesal tak kunjung bangun, Raisa memaksakan tangannya ke dalam baju Bryan, dia mulai mengelus dada Bryan tentu hal ini membuat Bryan bangun.
"Sayang cara banguninnya kok gitu." Bryan protes pada Raisa yang karena kini tak hanya dirinya yang bangun tapi bagian bawahnya juga bangun.
Saat Bryan mandi Raisa pergi ke bawah untuk menyiapkan sarapan, dia hanya menyiapkan roti selai kacang dan susu untuk Bryan tak lupa buah untuk menambah gizi sarapan pagi sang suami.
"Mas maaf ya sarapannya hanya roti." Raisa nampak tidak enak.
Bryan berjalan mendekati sang istri kemudian memeluknya dari belakang.
"Jangan bilang begitu sayang, meksipun roti namun aku udah sangat bersyukur karena kamu mau menyiapkan sarapan untuk suami kamu ini," bisik Bryan.
Raisa merasa terharu dengan ucapan Bryan, dia sangat bersyukur sekali memiliki suami seperti Bryan.
Tak ingin telat Bryan meminta Raisa untuk duduk dan makan bersama, dia kini yang gantian melayani Raisa.
Bryan segera mengambil minum untuk sang istri dan memintanya untuk makan dengan pelan.
"Pelan-pelan dong sayang." Bryan memijat punggung Raisa.
"Lanjutan cerita kamu mas." Pinta Raisa.
Bryan mengatakan kalau Dimitri datang ke kantornya.
"Untuk apa?" tanya Raisa.
"Mencari Yuke," jawab Bryan.
Raisa mengepalkan tangannya, untuk apa Dimitri mencari Yuke? untuk dijadikan budak ranjang lagi atau menuntut Yuke untuk menggoda Bryan?
Selepas kepergian Bryan, Raisa menghubungi Yuke, dia memberi tahu Yuka kalau Dimitri mencarinya ke kantor Bryan.
Entah apa yang Yuke rasakan di sisi lain dia sangat senang karena Dimitri mencarinya namun di sisi lain dia sedih karena belum tau alasan Dimitri mencarinya.
"Apa alasan anda mencari saya pak?" Yuke bergumam dengan dirinya sendiri.
Yuke yang tidak ingin larut dalam rasa sedih serta rindunya mencoba mencari kesibukan dengan bercocok tanam di sekitar villa papa Raisa, dia menanam banyak sayur dan juga buah, rencannya hasil dari cocok tanam yang dia lakukan akan dijual di pasar yang tidak jauh dari villa.
Setiap hari Yuke telaten menyiram dan memupuk tanamannya sehingga tanaman Yuke tumbuh subur.
"Nanti kalau sudah panen Yuke akan menjualnya ke pasar Bu." Ibu Yuke turut membantu Yuke menanam sayur.
Hari demi hari telah terlewati, tak terasa sudah satu bulan telah berlalu, Dimitri masih saja mencari Yuke hingga ke pelosok Nusantara namun Yuke tidak bisa dia temukan.
"Kenapa mencari satu orang saja kalian tidak becus." Dimitri berteriak marah pada anak buahnya.
Begitulah setiap harinya, Dimitri selalu memarahi mereka, Rafi sangat bingung dan heran siapa dibalik ini semua.
"Cari lagi." Dimitri terus saja berteriak dan terus memaksa anak buahnya untuk mencari Yuke.
Setelah berteriak, Dimitri malah merasa kalau badannya tidak baik-baik saja, dia merasa perutnya bergejolak hebat hingga mua tak mau dia memuntahkan semua isi dalam perutnya.
Rafi yang khawatir akan keadaan atasannya segera menghubungi dokter pribadi Dimitri, dia meminta Dokter pribadi Dimitri untuk datang ke kantor.
"Apa anda baik-baik saja pak?" tanya Rafi.
"Mata kamu soek Raf, tau aku seperti ini kenapa masih bertanya?" umpat Dimitri.
Tak berselang lama, Dokter pribadi Dimitri datang dia segera memeriksa keadaan Dimitri.
"Apa kelurahan anda pak?" tanya sang dokter.
"Muntah dan pusing Dok," jawab Dimitri.
Dokter nampak mengerutkan alisnya, seharusnya ini terjadi pada pasangan yang telah menikah tapi kenapa malah terjadi pada Pasien pribadinya?
"Apa anda sudah menikah?" tanya Dokter.
Sontak pertanyaan dokter membuat Dimitri dan Rafi menatapnya dengan tatapan bingung.
"Aku masih perjaka." jawaban bohong Dimitri membuat Rafi ingin ngakak bagiamana bisa Dimitri mengklaim dirinya perjaka padahal jelas-jelas setiap di bar selalu membawa pulang wanita cantik.
Dokter semakin bingung, biasanya kejadian yang seperti ini terjadi pada pasangan yang lelakinya memiliki rasa cinta berlebih
"Anda tidak sakit Pak, gejala yang anda alami ini gejalanya orang hamil." Penjelasan Dokter lagi-lagi membuat Dimitri dan Rafi heran.
Apa ini ada kaitannya dengan Yuke? apa Yuke hamil? beragam pertanyaan muncul di benak Rafi.
Seusai memberikan resep pada Rafi, Dokter pamit untuk undur diri.
"Rafi, secepatnya kalian harus menemukan Yuke,"