
Raisa sangat senang saat Bryan membuka matanya, namun beberapa detik kemudian dia kembali memejamkan matanya.
"Mas kok tidur lagi," Raisa menggoyang tubuh suaminya.
Raisa yang bingung memencet tombol meminta dokter untuk segera ke ruang rawat inap Brayan.
"Suami saya tadi membuka matanya." Raisa langsung melaporkan keadaan dokter saat dokter baru saja membuka pintu.
Dokter berjalan cepat menuju bed Bryan, beliau segera mengecek keadaan Bryan.
"Keadaan pasien masih sama semoga besok pagi keadaannya lebih stabil lagi," kata dokter.
Tentu Raisa heran, keadaannya masih sama kenapa tadi Brian membuka matanya
"Lantas tadi kenapa suami saya membuka matanya dok?" tanya Raisa dengan heran.
Dokter sendiri juga tidak tahu kenapa Bryan membuka matanya mungkin reflek atau apa.
Karena sudah tidak ada yang diperiksa Dokter pamit untuk keluar dia meminta Raisa untuk selalu memantau keadaan Bryan, kalau ada apa-apa dia disuruh segera menghubunginya.
Raisa mengangguk, tanpa disuruh pun dia akan menjaga Bryan dan melaporkan jika terjadi apa-apa dengan suaminya.
Beberapa waktu kemudian para papa datang dengan beberapa barang bawaan dia tangan, mereka membeli makanan alat-alat mandi serta pakaian untuk Raisa.
Raisa yang tak tega melihat para papa pun meminta mereka untuk segera kembali atau menginap di hotel karena menginap di rumah sakit pasti kurang nyaman untuk mereka.
"Papa ingin tetap di sini Raisa menunggui Bryan," papa bersikeras untuk menunggui anaknya.
"Sudah ada Raisa pa, biar Raisa yang menunggui Mas Brayan, Papa lebih baik check in di hotel biar lebih nyaman kalau istirahat." Raisa hanya tidak ingin papanya dan papa mertuanya kelelahan mengingat usia mereka yang sudah senja.
Papa Bryan terus menolak tapi Raisa terus saja memaksa.
"Besok pagi Papa bisa ke sini lagi nanti kalau Papa kecapean Raisa takut papa akan sakit jadi bertambah dong beban pikiran Raisa." Raisa mencoba membujuk papanya hingga mereka berdua memutuskan untuk check in di hotel.
"Nanti juga kan ada Mas Gilang dan Mas Rafi yang akan nungguin Raisa," sambung Raisa kemudian.
Setelah para papa keluar masuklah Gilang dan juga Rafi, mereka membawakan banyak makanan untuk Raisa.
"Bagaimana keadaan Brian Raisa? tanya Gilang.
"Tadi sempat membuka matanya mas tapi tidur lagi," jawab Raisa.
Gilang dan Raffi melihat keadaan Bryan, mereka berdua nampak sedih melihat teman dan partner kerja mereka lemah tak berdaya seperti ini.
"Bangunlah pak Bryan apa kamu tidak merindukan aku," ucap Raffi yang membuat Gilang dan Raisa menantangnya kesal.
"Enak saja yang dirindukan itu aku bukan kamu." Raisa nampak sewot pada Rafi.
"Yah sewot," tukas Rafi yang membuat Raisa semakin kesal.
"Astaga Dimitri memungut kamu di mana sih Raf?" Raisa menggelengkan kepalanya.
"Raf Raf, tadi pagi di pesawat panggil Mas Mas sekarang panggil Raf." Raisa yang kesal menginjak kaki Rafi sehingga membuat Rafi kesakitan.
**********
"Mas kenapa kok belum siuman sih Mas," Raisa bicara di sisi Bryan.
"Aku kangen Mas." Lagi-lagi Raisa menangis di sisi Bryan.
Bryan hanya diam tanpa merespon apapun yang Raisa katakan hal ini membuat Raisa semakin sedih dia takut kalau Bryan tidak akan bangun lagi.
Sampai kapan mas kamu tidak mau bangun," Raisa sedikit marah pada Bryan karena tak kunjung bangun.
Pagi datang begitu cepat Raisa masih terlelap di sisi suaminya, para papa yang sudah datang ke rumah sakit pun meminta Gilang dan Rafi untuk diam supaya tidak membangunkan Raisa.
Gilang yang harus menyelesaikan urusannya pun pamit pada para papa, sedangkan Raffi pamit untuk kembali karena dia harus bekerja lagi.
"Hati-hati ya, terima kasih sudah menemani Raisa di sini," kata para papa.
"Sama-sama Om nggak usah sungkan Raisa itu seperti adik kami sendiri," kata Raffi yang lagi-lagi membuat Gilang menggelengkan kepala.
"Kamu tuh pede sekali sih Rafi," bisik Gilang.
"Jadi orang itu harus pede lagipula yang aku ucapkan bener kan seperti adik kita," sahut Rafi.
Gilang yang malas debat mengangguk dan mengiyakan ucapan Rafi.
Waktu berlalu dengan cepat tiba-tiba tangan Bryan bergerak mengelus rambut Raisa tentu hal ini membuat para papa yang melihatnya segera memanggil dokter.
"Dok saya lihat tangan anak saya mengelus rambut istrinya," Papa Bryan memberikan laporannya.
Dokter segera berlari dan mengecek keadaannya dan benar saja semua nampak normal mulai tekanan darah denyut jantung dan lain-lainnya.
"Ini sungguh keajaiban Pak," kata dokter.
Dalam kasus seperti Brian ini biasanya pasien mengalami koma beberapa hari bahkan ada yang sampai berbulan-bulan namun Brian dua hari setelah operasi seluruh organ tubuhnya mulai normal.
Apakah kehadiran Raisa yang membuat Bryan menjadi normal? entahlah yang pasti saat dia mengalami kecelakaan yang dia panggil adalah Raisa dan juga baby Rayyan.
Mungkin inilah salah satu dari kekuatan cinta, ikatan hati yang kuat membuat Brian ingin cepat pulih supaya tidak membuat istrinya bersedih.
obrolan dokter dan para papa membuat Raisa terbangun, dia nampak heran kenapa sudah ada dokter di ruang rawat suaminya.
"Ada apa Dok?" tanya Raisa sambil menguap.
"Keadaan suami anda sudah stabil, tadi kami melihat Ryan mengelus rambut kamu," papa Bryan mewakili dokter menjawab Pertanyaan Raisa.
Raisa nampak senang mendengar suaminya telah membaik, dia segera menatap Bryan yang masih memejamkan matanya.
"Lalu kapan dok suami saya akan siuman? tanya Raisa.
"Kita lihat saja perkembangan selanjutnya," jawab dokter lalu pamit undur diri.
Dengan hati yang gembira Raisa duduk lagi di sisi suaminya, dia menciumi wajah Bryan dan menggenggam erat tangan suaminya.
Aku berharap kamu cepat pulih Mas supaya kita cepat pulang karena aku sudah rindu dengan baby Rayyan," bisik Raisa.
Raisa janji pada dirinya sendiri, akan menjadi istri yang lebih baik lagi untuk Bryan, dia juga akan menggunakan jasa baby sitter supaya bisa fokus mengurus keduanya.
"Apapun yang kamu katakan aku akan mengikutinya mas," kata Raisa.
Para papa tersenyum mendengar ucapan anaknya, semoga ini menjadi pelajaran berharga untuk keduanya.
Dalam rumah tangga kita memang tidak boleh egois dan mengesampingkan pasangan kita, apa-apa harus dibicarakan berdua.
Raisa merawat Bryan dengan telaten, sesekali dia melakukan panggilan telpon dengan Yuke untuk menanyakan kabar Baby Rayyan.
"Lihatlah anak kita mas," kata Raisa.
Hingga hari kelima, Bryan mulai membuka matanya, dia menatap Raisa yang tertidur disampinnya.
"Sayang," panggil Bryan dengan tangan yang mengelus rambut istrinya.