Married With A Stranger

Married With A Stranger
Malam Pertama yang Telat


"Kamu kenapa Sa?" tanya Lala dan Rea.


"Nggak kenapa-napa kok bestie, cuma kelilipan aja mataku," jawab Raisa berbohong.


Rea dan Lala tentu tidak percaya namun mereka juga tidak banyak bertanya takut kalau ketua geng marah.


"Oh ya tau nggak hari ini kak Bryan ulang tahun Lo, tuh dirayakan sama kak Yuke kayaknya mereka cocok deh, satu tampan satunya cantik," kata Rea.


Ucapan Rea membuat Lala melemas, dia sangat ngefans banget sama Bryan.


"Aku lo masih berharap Kak Bryan jadi cowok aku," sahut Lala.


"Ngimpi, kita ini mahasiswa jelata mana mungkin Kak Bryan menoleh kita," sahut Rea.


"Ga papa lah, tapi nanti aku antar beli kado ya buat Kak Bryan, please," pinta Lala.


Raisa nampak tidak senang para sahabatnya keganjenan memberi kado pada Bryan suaminya.


"Gak usah pada keganjenan deh, udah ngapain beli kado segala," ucap Raisa.


Rea dan Lala menatap Raisa dengan tatapan tak biasa, mereka merasa kalau Raisa sewot.


"Kamu ngapain sewot Sa," protes Rea.


"Ish siapa yang sewot aku hanya ga mau saja kalian buang-buang uang untuk belikan kado si burik," sahut Raisa.


Lala dan Rea hanya bisa menggelengkan kepala, mereka mengajak Raisa untuk melihat Bryan berpesta namun Raisa menolak.


"Kalian pergi sendiri saja, aku mau disini," kata Raisa.


Rea dan Lala memutuskan untuk pergi ke taman, mereka ingin menghabiskan hari bahagia Bryan.


Entah mengapa Raisa merasa sakit hati, dia sungguh tidak rela Bryan merayakan ultah dengan teman-temannya apalagi Yuke.


"Dah lah." Dengan hati yang tak karu-karuan Raisa pergi ke toilet, pikirannya yang tak karuan membuatnya tak sadar kalau dia berpapasan dengan Bryan.


"Raisa," sapa Bryan.


Raisa menoleh, dia yang masih menyimpan amarah menjawab sapaan Bryan dengan ketus.


"Apa! ngapain ngikutin aku, bukankah lagi ciuman ma Yuke itu," sahut Raisa.


Bryan tersenyum lalu menatap Raisa.


"Kamu cemburu?" tanya Bryan.


"Iyalah e nggak, untuk apa aku cemburu," sahut Raisa.


Bryan mendekat lalu dia mengecup pipi Raisa sekilas.


"Suami ulang tahun seharusnya istri yang mengucapkan selamat terlebih dahulu bukannya wanita lain," bisik Bryan.


Raisa yang shock memegangi bekas kecupan Bryan.


"Bryan kamu mencium aku?" tanya Raisa.


"Mau lebih?" tanya Bryan.


"Tapi di rumah jangan disini," sambung Bryan dengan terkekeh.


Bryan meninggalkan Raisa yang menatapnya dengan bengong.


"Aku nggak lagi mimpi kan?" gumam Raisa lalu mencubit tangannya sendiri.


"Sakit," pekiknya.


Sepulang dari kuliah Raisa nampak gugup saat melihat mobil Bryan sudah terparkir rapi di halaman.


"Aku kok gugup gini ya," gumam Raisa.


Saat masuk rumah Raisa melihat banyak sekali kado di sofa.


"Astaga banyak sekali penggemarnya," ucap Raisa lalu melihat kado satu persatu.


Raisa nampak kesal saat menemukan kado dari Yuke, tanpa ijin Bryan Raisa membukanya.


"Bagus juga kadonya," kata Raisa.


Saat bersamaan keluarlah Bryan, dia melihat Raisa telah membuka kadonya.


"Hey Raisa, kenapa kamu sudah membukanya?" tanya Bryan.


"Penasaran aja sama isinya," jawab Raisa.


Bryan mengambil jam tangan dari tangan Raisa, dia juga melihat dari siapa.


"Ternyata pemberian Yuke," ucap Bryan.


Bryan memasukkan jam tangan pemberian Yuke ke dalam kotaknya kembali, dia nampak tersenyum sembari menatap Raisa.


"Kelihatannya kamu tidak suka ya aku dapat hadiah, apa mau aku berikan hadiah?" tanya Bryan.


"Siapa yang iri, ngapain juga aku iri," sahut Raisa dengan ketus.


Bryan hanya tersenyum.


"Ya sudah aku pergi dulu ya, ada acara sama teman-teman di cafe hotel Asmara, mungkin pulang agak malam," pamin Bryan.


"Bryan aku takut sendiri di rumah," sahut Raisa.


"Gitu ya, ya sudah aku usahakan pulang awal," timpal Bryan.


Selepas kepergian Bryan, Raisa melamun di taman samping rumah, dia duduk di kursi ayun sembari memikirkan Bryan seperti adegan yang ada di film-film.


"Aku kenapa kepikiran Bryan terus," gumam Raisa.


Sebenarnya tak hanya Raisa, Bryan juga merasakan hal yang sama namun Bryan lebih bisa mengontrol dan berpura-pura tidak merasakan apa-apa.


Di kafe hotel, Bryan nampak terdiam dia memilih menyendiri sembari melihat foto-foto Raisa di sosmed.


"Kamu lucu juga," ucap Bryan saat melihat foto lucu Raisa.


Gilang dan Yuke memanggil Gilang untuk diajak minum, awalnya Bryan menolak namun Yuke trus memaksa.


"Pesta ini kan pesta kamu Bryan, masa iya kamu menyendiri di sini," protes Yuke.


Bryan akhirnya bergabung dengan teman-temannya, dia meminum minuman pemberian dari Yuke.


Ekspresi Bryan berubah, tubuhnya merasa tidak nyaman.


Sebenarnya Yuke dan temannya memang memasukan sesuatu dalam minuman Bryan, mereka lakukan untuk membantu Yuke supaya mendapatkan Bryan mengingat Bryan yang terus menolak cinta Yuke.


"Kamu kenapa Bryan," tanya Yuke pura-pura tidak tau.


"Entah tubuhku merasa tidak nyaman," kata Bryan.


"Apa perlu aku booking kamar hotel untuk kamu?" tanya Yuke lagi.


Belum sempat Bryan menjawab Yuke mendapatkan panggilan dari seseorang sehingga Yuke menjauh dari Bryan.


Bryan merasa kalau tubuhnya memanas, dadanya bergejolak seperti saat dia melihat stripper di club' malam Amerika.


"Sh*it lalu bagaimana ini?" batin Bryan.


Tak kuat menahan gejolak dalam dadanya, Bryan memutuskan untuk pulang dengan memesan taksi online karena tidak mungkin menyetir dalam keadaan seperti ini.


"Gilang kamu bawa mobil aku, aku mau


pulang," kata Bryan


"Kamu kenapa?" tanya Gilang.


"Entahlah aku tidak baik-baik saja Gilang," jawab Bryan lalu memberikan kunci mobilnya pada Gilang.


"Aku antar ya." Gilang menawarkan diri.


"Nggak perlu," sahut Bryan lalu pergi.


Bukan tanpa alasan Bryan tidak mau diantar oleh Gilang dia takut kalau Gilang tau jika Raisa adalah istrinya.


Sepanjang perjalanan pulang rasa panas di tubuh Bryan semakin menjadi, dirinya hampir saja tidak kuat menahan gejolak yang terus membara membakar dada Bryan.


"Aku kenapa sih," gumam Bryan.


Setibanya di rumah Bryan langsung masuk ke dalam rumah, melihat Raisa yang duduk di sofa dengan hot pan membuat Bryan semakin memanas.


"Raisa," panggil Bryan.


Raisa menoleh, entah mengapa melihat Bryan yang pulang lebih cepat membuatnya sangat senang.


"Bryan kamu sudah pulang?" Raisa melontarkan pertanyaan retoris pada Bryan.


"Sudah," jawab Bryan lalu mendekat ke arah Raisa.


Bryan dan Raisa saling pandang, mata keduanya mengisyaratkan kalau ada benih-benih cinta.


"Raisa tolong aku," bisik Bryan dengan suara beratnya.


"Apa?" tanya Raisa.


"Padamkan api yang ada di dalam tubuhku," jawab Bryan.


Raisa merasa ambigu dengan jawaban Bryan, perasaan Bryan tidak lagi terbakar kenapa minta dipadamkan? mana apinya.


"Bagaiamana cara memadamkan apinya? la apinya sama tidak kelihatan," tanya Raisa.


"Please Raisa," pinta Bryan memohon.


"Dengan apa Bryan dan bagaiamana?" tanya Raisa lagi.


"Dengan tubuh kamu," jawab Bryan.