Married With A Stranger

Married With A Stranger
Tidak Mirip


Waktu telah berlalu, anak Raisa dan Bryan tumbuh menjadi bayi yang lucu dan juga tampan, semakin besar wajahnya sangat mirip dengan Raisa dan ini membuat Bryan sedikit kesal.


"Kenapa sih wajahnya nggak mirip aku," protes Bryan saat dia menggendong anaknya.


Raisa hanya tertawa, mana dia tahu kalau baby Rayyan semakin besar semakin mirip dengan wajahnya.


"Mana aku tahu sih mas kamu nih aneh deh," sahut Raisa.


Tak terima karena baby Rayyan wajahnya lebih mirip sang istri, Bryan meminta Raisa untuk hamil kembali, dia ingin Raisa melepas alat kontrasepsi yang dipakainya padahal rencananya Raisa ingin menunda kehamilan yang kedua sampai baby Rayyan masuk SD.


"Mas kamu tuh suka seenaknya sendiri, mana boleh seperti itu biarlah Baby Rayyan besar dulu baru punya adik." Raisa protes dengan keinginan sang suami.


"Ayolah sayang lihatlah wajahnya sangat mirip denganmu, aku pun ingin memiliki anak yang wajahnya mirip denganku." Bryan terus memaksa Raisa agar mau memiliki anak lagi.


Raisa nampak berpikir, kalau dia memiliki anak dengan jarak yang terlalu dekat dia kasihan pada baby Rayyan, karena secara otomatis kasih sayang mereka pun akan terbagi.


"Sudahlah mas jangan seperti itu, nanti saat dia tumbuh besar lagi pasti wajahnya mirip dengan kamu," bujuk Raisa.


"Lagi pula aku juga operasi sesar, jadi minimal 2 tahun aku baru boleh hamil lagi," sambungnya.


Brian nampak terdiam, dia lupa kalau Raisa dulu melakukan operasi sesar saat melahirkan baby Rayyan.


"Ya sudah Sayang hamilnya nanti-nanti aja, semoga semakin besar wajahnya semakin mirip dengan aku." Bryan tersenyum sambil mencubit pipi baby Rayyan.


Melihat Bryan bercanda dengan baby Rayyan membuat Raisa sangat bahagia, tiada hal yang kurang dalam hidupnya semua telah dia miliki.


Di sisi lain, Dimitri dan Yuke berusaha keras untuk memiliki momongan kembali, mereka melakukan hubungan badan tiga kali sehari seperti jadwal makan, menurut mereka dengan seringnya berhubungan maka akan cepat hamil namun itu persepsi yang salah besar karena harus ada jeda supaya kecebong kuat dan sehat.


"Mas kita sudah terus berusaha tapi kenapa kecebong kamu tidak bisa menghasilkan baby," protes Yuke yang membuat Dimitri juga sangat heran.


"Iya aneh dulu kita berhubungan begitu saja sudah jadi kini kok susah sekali ya," sahut Yuke.


Karena tidak menemukan jalan keluar mereka akhirnya memutuskan untuk konsultasi ke dokter kandungan, mereka ingin melakukan program hamil agar mereka cepat mendapatkan momongan.


Keesokannya Dimitri dan Yuke pergi ke rumah sakit untuk berkonsultasi, saat mereka menceritakan kegiatan ranjang mereka dokter pun tertawa, bukan seperti itu caranya untuk mendapatkan momongan dengan cepat.


"Kalian ini seperti makan saja 3 kali sehari," kata dokter dengan menahan tawa.


Dimitri menggaruk kepalanya yang tak gatal, yang dia tahu semakin sering berhubungan badan maka semakin sering kecebongnya bisa membuahi sel telur.


"Memang benar tapi semua ada aturannya Pak, harus ada jeda, tidak boleh setiap hari supaya kualitas cebong bisa sempurna, kalau anda melakukan hubungan badan setiap hari otomatis kualitas kecebong anda tidak begitu baik sehingga kurang bisa membuahi sel telur," jelas dokter.


Dokter juga menjelaskan kalau ada masa subur dan itu biasanya terjadi setelah menstruasi.


Seusai berkonsultasi dan melakukan pemeriksaan, Yuke dan Dimitri pamit.


"Tuh kan Mas dengerin, kita nggak boleh setiap hari apalagi tiga kali sehari," Yuke nampak tersenyum geli melihat ekspresi Dimitri yang dilarang berhubungan badan setiap hari.


"Seminggu lagi itu lama lo sayang, kenapa sih dokter itu melarang-larang." Dimitri terus menggerutu dia tidak terima kalau dokter melarangnya berhubungan seminggu kemudian.


Yuka hanya bisa menggelengkan kepala, sungguh suaminya seperti anak kecil yang dilarang makan permen.


Sebenarnya Rafi sudah membahas masalah ini di kantor tapi dia harus membicarakan hal ini lagi di rumah.


"Kapan kalian akan berangkat?" tanya Dimitri.


"Lusa kami akan berangkat, karena rencananya bulan depan kami akan melangsungkan pernikahan," jawab Rafi.


Dimitri dan Yuke nampak saling tatap, tak disangka Rafi sungguh gerak cepat, dia sat set dalam menyiapkan segala sesuatunya.


"Ya sudah pergilah hati-hati dan kantongi Restu orang tua Amanda," pesan Dimitri.


"Restu sebenarnya sudah saya kantongi Pak, kami sering melakukan video call dengan orang tua Amanda di Barcelona, cuma saya ingin melamar Amanda secara resmi di Barcelona," sahut Rafi.


Dimitri tersenyum mendengar ucapan rafi, meski dia akan direpotkan dengan urusan kantor selama ditinggal rafi namun Dimitri sangat bahagia karena Rafi telah menemukan pasangan hidupnya sehingga Rafi tidak akan jadi asisten jomblo abadi.


Rencananya mobil yang Dimitri ambil dari Rafi akan Dimitri kembalikan saat pernikahan nanti sebagai hadiah pernikahan darinya untuk Rafi dan Amanda tak hanya itu dia juga ingin memberikan rumah yang baru dibelinya kepada mereka, rumah mewah yang terletak di komplek elit ibukota.


Meskipun Rafi sangat menjengkelkan tapi sebenarnya Dimitri sangat menyayangi Rafi baginya tidak ada orang yang lain yang bisa diandalkan selain Rafi.


*********


Setelah dari Barcelona Raffi mengajak teman-temannya untuk nongkrong di sebuah klub malam, dia yang membawa wine teristimewa dari Barcelona ingin mencicipi kan pada teman-temannya.


Karena lama tidak nongkrong mereka pun memutuskan untuk menghabiskan malam bersama meninggalkan para istri.


"Kamu curang sekali Raf Kenapa tidak menungguku," Gilang nampak sedih karena hanya dirinya yang belum menemukan pasangan.


"Maafkan aku Gilang aku sudah kebelet jadi tidak bisa menunggumu," sahut Rafi dengan tertawa.


Lagi-lagi mereka saling bully namun kali ini yang dibully bukan lagi Rafi melainkan Gilang, mereka mengatakan kalau Gilang sangat cemen sehingga tidak dapat menemukan sandaran hatinya.


"Gilang lirik lah wanita-wanita itu siapa tahu ada yang kasihan dengan kamu" ejek Bryan.


"Brengsek, aku nggak butuh dikasihani para wanita aku yakin setelah ini aku akan menemukan jodoh terbaik diantara jodoh-jodoh kalian," sahut Gilang dengan kesal.


Semua tertawa mendengar ucapan Gilang, tentu saja bagi mereka jodoh merekalah jodoh yang terbaik untuk mereka.


Rencananya sebelum Raffi menikah mereka ingin mengadakan pesta lajang di vila Dimitri yang letaknya tak jauh dari ibukota, pesta perpisahan sebelum menikah.


"Kita bawa jodoh kita nggak?" tanya Bryan sambil melirik Gilang.


"Bawa dong masa enggak," jawab Dimitri.


Hal ini tentu membuat Rafi sangat senang karena dengan begitu dia bisa melakukan DP pada Amanda, icip-icip tipis sebelum menikah.


"Enak kalian pada bawa jodoh lah aku bawa apaan," sahut Gilang dengan melemas.


Teman-temannya sungguh tega karena membawa jodoh mereka masing-masing padahal mereka tahu kalau dirinya masih belum menemukan jodoh yang pas.