Married With A Stranger

Married With A Stranger
Ngidam


Anak buah Dimitri bekerja keras untuk menemukan Yuke karena kalau sampai Yuke tidak ditemukan mereka semua akan dipecat oleh Dimitri.


Mereka mulai melakukan pencarian kemana-mana hingga ada yang menyebar foto Yuke dan akan memberikan imbalan jika ada yang melaporkan keberadaannya.


Layaknya orang hamil tubuh Dimitri sangat lemah, dia terus saja muntah tanpa mau makan apa-apa.


Kalau begini terus bagaimana dengan nasib perusahaan? bisa-bisa bangkrut.


Inilah yang disebut senjata makan tuan, niat awal ingin menghancurkan Bryan namun dirinya sendiri yang akan hancur, tak hanya itu justru kini dirinya yang klepek-klepek pada Yuke.


"Anda ingin makan apa pak?" tanya Rafi saat masuk ke dalam ruangan Dimitri.


Aku hanya ingin Yuke Rafi." jawaban Dimitri membuat Rafi putus asa kemana lagi harus mencari Yuke.


Rafi berkali-kali membujuk Dimitri agar mau makan hingga akhirnya Dimitri meminta rujak manis.


"Astaga dia benar-benar hamil." Rafi menggelengkan kepala, heran dengan permintaan Dimitri.


Tak ingin Dimitri menunggu, Rafi segera pergi untuk membeli rujak manis. Seumur-umur inilah kali pertama Rafi beli rujak.


Lama muter-muter akhirnya ketemu juga dengan tukang rujak, tanpa bertanya harganya Rafi langsung saja menyodorkan selembar uang warna merah dan betapa kagetnya ternyata seratus ribu dapat beberapa bungkus rujak manis.


"Wah murah banget." Batin Raffi yang heran dengan harga rujak di pinggir jalan.


Tak ingin Dimitri menunggu, Raffi segera kembali ke kantor. Setibanya di kantor, Rafi memberikan rujak yang diminta oleh Dimitri.


"Ini pak rujaknya." Rafi menyodorkan rujak pada Dimitri.


Mata Dimitri berbinar saat melihat rujak di depannya dan dengan lahap dia memakan rujak diatas meja.


Dia bungkus langsung tandas, kini bersiap untuk memakan rujak ke tiga.


Rafi hanya menggelengkan kepala melihat Dimitri memakan rujak bak orang yang tidak makan satu abad.


"Astaga dia lapar apa rakus." Rafi bermonolog dalam hati.


Dimitri memakan empat bungkus rujak dan sisanya dia ingin Rafi yang menghabiskannya.


Bola mata Rafi langsung membola karena kaget. Dengan buah saja dia tidak suka, bagiamana bisa Dimitri memintanya untuk menghabiskan semua rujak yang tersisa?


"OMG, matilah aku." Rafi mewek dalam hati.


Di sisi lain Yuke nampak baik-baik saja, dia tidak merasakan pusing maupun mual keadaannya sangat baik berbeda dengan Dimitri yang mual terus menerus bahkan dia tidak sadar kalau dirinya tengah hamil.


Dia memanen semua sayurannya dan membawanya ke pasar, karena sayuran Yuke segar-segar dalam sekejap habis diborong orang.


"Wah kalau begini terus bisa-bisa uang aku banyak." Dengan senyuman yang mengembang Yuke kembali ke vila papa Raisa.


Dia mengumpulkan uang dari jual sayur ke celengan, rencananya uang itu untuk biaya pendidikan Diandra anak Yuke.


"Besok kamu jual lagi sayurannya?" tanya Ibu Yuke.


"Iya Bu, lumayan jadi uang, di konsumsi sendiri juga sangat lebih," jawab Yuke dengan tersenyum.


"Iya untuk sedikit-sedikit kita harus mengumpulkan uang untuk kehidupan kita nanti karena nggak selamanya kita menumpang disini." Ucapan ibu Yuke benar adanya, nggak mungkin selamanya dia merepotkan Raisa dan papanya.


Karena tidak terus bisa jualan sayur, ibu Yuke mencoba membuat kue yang setiap hari bisa dijual di pasar oleh Yuke. Kue-kue buatan ibu Yuke sangat enak sehingga hari pertama jualan kue langsung diborong pembeli.


Ya begitulah setiap harinya, Yuke menjual apa yang bisa dijual, kalau pas lagi panen, Yuke membawa sayuran namun jika belum panen dia menjual aneka kue buatan ibunya.


Di pasar setiap minggu ada istilah bayar vitamin yang mana ini bukan dibuat oleh perangkat desa melainkan pungutan liar preman.


Karena Yuke masih baru, dia diminta membayar tiga kali lipat hingga terjadilah debat.


"Nggak, kalau saya membayar tiga kali lipat uang saya bisa habis." Yuke enggan membayar tiga kali lipat.


Brak


Salah satu preman menggebrak meja, diantara semua dialah yang tidak bisa sabar.


Sedari awal Yuke nampak tidak asing dengan wajah preman ini, dia terus mengamatinya begitu pula preman tersebut hingga Yuke tau jika itu adalah mantan suaminya dulu, Ardi.


"Mas Ardi?" Yuke memanggil mantan suaminya


"Yuke?" Mantan suaminya juga memanggilnya.


Melihat pekerjannya yang menjadi preman membuat Yuke menggelengkan kepala, Ardi mantan suaminya ternyata tidak berubah sama sekali.


"Pekerjaan kamu jadi preman seperti ini mas." Bola mata Yuke menatap Ardi dari atas ke bawah.


Tak ingin melihat mantan suaminya lebih lama lagi, Yuke memberi apa yang mereka mau meski uangnya habis untuk para preman.


Saat Yuke pulang, Mantan suaminya mengikuti Yuke dari belakang, dia ingin tau dimana Yuke tinggal, saat tau kalau Yuke tinggal di villa besar membuat Ardi ingin mendekati Yuke lagi.


"Aku harus bisa mendekatinya, kalau Yuke adalah pemilik rumah ini aku akan pura-pura menyesal dan mengajaknya menikah lagi tapi kalau Yuke adalah Art di villa besar ini aku akan memintanya untuk membawa aku masuk karena aku akan mengambil benda yang ada di dalam." Niat jelek sudah bersarang di otak Ardi.


Keesokannya seperti kemarin Yuke pergi ke pasar lagi, dia menjual kue buatan ibunya lagi karena sayurnya belum siap panen kembali.


"Yuke," panggil Ardi.


Yuke sungguh malas sekali, dia pergi ke villa untuk menghadiri Dimitri namun kini malah bertemu Ardi.


"Kamu mau apa?" tanya Yuke dengan ketus.


"Aku ingin bicara dengan kamu Yuke," jawab Ardi.


"Bicara apa?" tanya Yuke balik.


"Ijinkan aku menemui anak kita, aku rindu padanya," jawab Ardi.


Awalnya Yuke enggan mengajak Ardi pulang, namun desakan Ardi membuatnya menyerah. Dia hanya takut kalau Ardi gelap mata dan menyakitinya mengingat Ardi adalah preman.


Setelah jualan Yuke mengajak Ardi pulang ke villa papa Raisa karena Ardi ingin melihat anak mereka.


"Sudah usia berapa anak aku?" tanya Ardi.


"Cih, jangan bertanya usia mas, bukannya dulu kamu tidak peduli padanya." Yuke sebenarnya muak namun bagaimana lagi.


"Tentu aku peduli, Yuke please aku telah menyesal." Akting dimulai, sungguh akting Ardi sangat bagus namun Yuke tidak percaya.


********


Perusahaan Dimitri mengalami devisit besar-besaran, karena Dimitri maupun Rafi disibukan dengan ngidam Dimitri yang membuat keduanya tak bisa fokus bekerja.


"Bagaimana ini pak, kalau perusahaan terus begini kita akan bangkrut pak." Rafi memberikan laporannya pada Dimitri.


Dimitri nampak bingung, ingin fokus ke pekerjaannya namun tubuhnya sangat lemah karena sering muntah.


"Yuke aku membutuhkan kamu," gumam Dimitri.


Rafi yang tidak ingin perusahaan Dimitri bangkrut mengabaikan ngidam Dimitri, dia fokus kembali dengan pekerjannya meski panggilan Dimitri selalu menggangu.