Married With A Stranger

Married With A Stranger
Rayyan Kyle Bryan


Rayyan Kyle Pramana, itulah nama yang diberikan Bryan untuk anaknya, Rayyan merupakan gabungan dari nama Raisa dan Bryan sedangkan Pramana diambil dari nama belakang Papa Bryan.


"Nama yang bagus Bryan," puji Papa Raisa


"Terima kasih Pa." Bryan berterima kasih pada papanya.


**********


Luka operasi sesar membuat Raisa sangat kesakitan, bahkan untuk ke kamar mandi Raisa harus membungkuk karena tidak kuat dengan rasa sakitnya.


"Sakit mas." Raisa merintih kesakitan


"Sabar sayang lama-lama sembuh kok sakitnya," Bryan menghibur istrinya.


Dengan pelan dan lembut Bryan membantu Raisa pergi ke kamar mandi, dia juga membantu Raisa membersihkan areanya sehabis buang air kecil.


"Mas jangan mas, apa kamu nggak jijik banyak darahnya," Raisa merasa tidak enak kepada Bryan.


Bryan mengabaikan perkataan istrinya, dia dapat merasakan bagaimana sakitnya sehabis melahirkan anaknya, menurut Bryan kalau hanya darah saja dia nggak akan jijik.


"Sayang nggak ada yang menjijikan darimu kamu begini juga karena telah melahirkan anakku jadi apapun itu tak akan membuat aku jijik," sambil mengelus rambut istrinya


Raisa nampak terharu, seperhatian itu pada dirinya.


"Terima kasih Mas kamu telah menjadikan aku wanita yang paling beruntung di dunia ini," Raisa beruntung mendapatkan suami seperti Bryan.


***********


"Tolong disusui ya ibu Raisa," suster mendekatkan baby Rayyan dekat Raisa.


"Tapi asinya, masih belum keluar sus," sahut Raisa.


"Tidak apa-apa terus saja dirangsang karena dengan begitu asinya akan terangsang dan keluar." suster menjelaskan pada Raisa.


Raisa paham lalu dia membuka kancing bajunya dengan bantuan Bryan dia mengeluarkan satu bagian dadanya." Brain juga mendekatkan bayinya agar Raisa dengan mudah menyusui bayinya.


Raisa numpak geli saat bayinya mencoba menghisap pucuk buah dadanya, bayi ini tidak menyerah saat asinya tidak keluar, dia terus menghisap dengan kuat sehingga membuat Raisa semakin kegelian.


"Anak ini seperti Papanya isapannya sungguh kuat," gumam Raisa


Suster yang berada di dekat Raisa nampak tersenyum dengan ucapan Raisa dan ini membuat Bryan sedikit malu.


Jangan tertawa sus maklum pengantin baru wajar dong," kata Bryan yang sontak membuat suster melanjutkan tertawanya di dalam hati.


"Udah nggak usah ditahan tertawa saja," Bryan membuat suster kesal, tadi dilarang tertawa sekarang disuruh tertawa apa sih maunya.


ASI Raisa yang tak kunjung membuat baby Rayyan marah dia menangis dengan kencang, Raisa meminta suster untuk membuatkan susu formula dulu.


"Ya sudah Ibu Bapak saya keluar dulu, bayi anda sudah sangat lapar," kata suster lalu keluar.


Bryan menatap Raisa dengan tatapan licik, dia ingin menawarkan diri untuk menghisap pucuk dada Raisa agar asinya keluar.


"Sayang aku bantu yang merangsang asinya supaya cepat keluar kalau nggak keluar-keluar kasihan kan anak kita." Bryan mencoba membujuk Raisa.


"Apaan sih Mas nanti kan keluar sendiri nggak usah pakai dirangsang kamu lah, malu aku." Bryan ingin membantu merangsang asinya.


"Nggak apa-apa sayang biar cepat keluar, agar baby Rayyan segera minuman bergizinya." Bryan terus saja membujuk Raisa sehingga mau nggak mau rasa pun menyetujui ide Bryan.


Dengan semangat 45 Bryan segera menghisap pucuk buah dada Raisa.


Saat bersamaan masuk lah Dimitri, Yuke, Raffi dan juga Gilang.


"Astaga," teriak Raffi.


Raisa yang malu segera mendorong Bryn lalu merapikan kembali kancing bajunya.


"Kalian ini apa-apaan ingat ini Rumah Sakit woi," lagi lagi Raffi kesal dengan tingkah Bryan.


Dimitri Yuke dan gilang hanya bisa menggelengkan kepala, mereka juga heran dengan Bryan dan Raisa dan bisa-bisanya naik-naik ke puncak gunung padahal baru saja melahirkan secara sesar.


"Kalian salah paham." Bryan mencari pembenaran.


"Salah paham gimana udah jelas-jelas kamu lagi naik-naik ke puncak gunung," sahut Dimitri.


"Udah ngaku saja," timpal Gilang.


"Raisa jangan bodoh jangan turuti kemauan naf-su suami kamu," Yuke turut menambahkan.


Bryan mengusap rambutnya dengan kasar, meskipun yang awalnya memang ingin bermain di pucuk gunung istrinya namun dia tetap beralasan kalau tujuannya bukan itu.


"Aku tuh kasihan sama anak aku yang sudah ingin sekali makan ASI ibunya tapi berhubung asinya belum keluar dia akhirnya minum susu formula, oleh sebab itu aku membantu merangsang ASI supaya cepat keluar." Bryan lagi-lagi mengeluarkan alasannya.


Teman-temannya hanya tertawa mendengar alasan bryan alasan klasik untuk menutupi alasan yang sebenarnya.


"Sudahlah ngaku saja, nggak usah alasan lagipula bukan masalah buat kami," lagi-lagi ucapan rafi benar adanya.


Setelah dirawat di rumah sakit kini waktunya Raisa untuk pulang, dia berbeda dengan dahulu saat Bryan melarangnya untuk tidak menggunakan jasa Art Raisa nampak marah namun kini dia malah tidak ingin menggunakan jasa baby sister untuk merawat anaknya


"Kamu yakin Sayang bisa merawat anak kita sendiri?" tanya Bryan.


"Bisa Mas, Aku ingin merawat anak kita sendiri," jawab Raisa


"Ya sudah kalau begitu kita gunakan jasa art ya supaya bisa membantu kamu beres-beres rumah." Bryan menyarankan untuk menggunakan jasa art.


Raisa mengangguk memang dia perlu art untuk membantunya dalam mengurusi rumah karena mungkin dia tidak bisa lagi bisa beres-beres rumah saat mengurus baby Rayan.


Raisa benar-benar sendiri sekarang karena para papa tidak ada di sampingnya, Papa Raisa tinggal di rumahnya dengan mama Yuke dan juga Diandra sedangkan pokok Bryan pergi ke luar negeri untuk urusan bisnisnya namun Meskipun begitu Para Papa masih sering menghubungi melalui panggilan video call.


Waktu berlalu kini telah berusia satu bulan, Baby Rayyan telah menjadi bayi yang sangat lucu dan menggemaskan dan ini membuat Raisa semakin menyayangi anaknya begitu pula dengan Bryan.


Dari sinilah masalah rumah tangga Bryan dan Raisa muncul kembali karena terlalu asyiknya mengurus baby rayyan Raisa sedikit melupakan suaminya, iya lupa kalau Bryan juga memerlukan perhatiannya, dia juga lupa kalau Bryan juga membutuhkan dirinya.


Malam ini Raisa lagi-lagi tidur di kamar bayinya, dia memilih mengalah tidur bersama bayinya karena tidak ingin mengganggu Bryan tidur namun tanpa dia sadari Bryan setiap malam selalu kesepian karena tidak ada Raisa disampingnya.


"Sayang kamu kenapa sih sekarang nggak perhatian lagi sama aku." Bryan mencoba mengungkapkan risalah hatinya yang selama ini dia pendam.


"Mas kamu ngerti dong aku kan fokus mengurus baby Rayyan jadi tolonglah jangan banyak mengeluh dulu," pinta Raisa.


"Tapi sampai kapan aku harus mengalah?" tanya Bryan.


Raisa nampak kesal dengan ucapan Bryan, dia pikir Brian tidak mau mengalah dengan anaknya.


"Kamu tuh aneh mas sama anak sendiri nggak mau Raisa malah memarahi Brian lalu pergi meninggalkan Bryan begitu saja.