Married With A Stranger

Married With A Stranger
Malah Bercanda


Dimitri sungguh gercep, dia paham betul cara kerja aparat dan bagaimana menghadapi bajingan seperti Ardi. Yang paling membuat Dimitri muak adalah sikap Ardi yang tega menculik anaknya sendiri demi kepentingannya.


Manusia biadab yang tak berhati, seorang singa yang tak berakal saja tidak akan mungkin tega menyakiti anaknya sendiri apalagi manusia yang memilih akal.


"Sayang kamu tenang ya, secepatnya aku kembali dan membawa pulang anak kamu eh anak kita." Entah berapa kali Yuke harus terharu akan ucapan Dimitri.


"Cie cie anak kita, so sweet banget sih anda pak." Rafi malah menggoda Dimitri dan Yuke.


Dimitri melemparkan tatapan tajamnya pada Rafi bisa-bisanya saat seperti ini malah meledek dirinya.


Tak ingin membuat Diandra menunggu lama, Dimitri dan Rafi segera berangkat dia langsung memakai mobil yang terparkir di halaman villa papa Raisa.


Rafi segera menghubungi Ardi untuk bertemu, Ardi yang berada di rumahnya meminta Dimitri dan Rafi langsung kesana.


Di sisi lain papa Raisa menghubungi kenalannya yang merupakan penguasa desa sebelah.


Setelah sampai di rumah Ardi, Dimitri dan Rafi turun dari mobil, dia melihat sekelilingnya nampak banyak preman di sekitar rumah Ardi.


"Astaga kita masih kandang singa pak," kata Rafi.


"Kamu takut?" tanya Dimitri.


"Sedikit pak, saya belum menikah jadi agak sedih kalau terjadi apa-apa dengan saya," jawab Rafi yang membuat Dimitri menggelengkan kepala.


Tak ingin menunggu lama Dimitri segera keluar namun tak lupa dia membawa senjata api untuk berjaga-jaga.


"Ada basoka pak?" tanya Rafi.


Sungguh Asistennya kini berubah menjadi mahluk yang mengesalkan, sejak kapan Rafi jadi seperti ini?


Dimitri menunjuk salah satu preman.


"Adanya Basuki," jawabnya.


Kedua mahluk ini malah bercanda, padahal mereka Iki dikepung oleh para preman yang siap menghajar mereka.


Ardi keluar dengan senyum yang merekah, dia berpikir kalau Dimitri dan Rafi tidak akan macam-macam mengingat mereka hanya berdua yang tanpa Ardi tau kalau pasukan dari kampung sebelah otw begitu pula anak buah Dimitri yang juga dalam perjalanan.


"Hay Demit, mana uangnya," teriak Ardi.


"Demit gundulmu, ketua demit." Rafi berteriak balik.


Dimitri yang kesal dengan Rafi menginjak kaki Rafi dengan kuat sehingga Rafi meringis kesakitan.


"Sakit pak." Rafi merintih kesakitan.


"Apa maksud kamu ketua demit, penguasanya." Rafi tertawa tak disangka Dimitri ikutan bercanda.


Dimitri dan Rafi masuk ke dalam rumah Ardi, disana dia melihat Diandra menangis ingin pulang.


Melihat Diandra yang menangis membuat Dimitri mengepalkan tangannya, dia sungguh kesal melihat Ardi yang sangat kejam pada anak kandungnya sendiri.


"Kamu ini ayah macan apa, kenapa begitu tega dengan anak sendiri." Mata Dimitri tak lepas dari Diandra.


"Sudahlah jangan banyak ngomong mana uangnya lalu bawa dia pulang, kalian pikir telingaku nggak sakit mendengarnya terus menangis." Sungguh hati Ardi terbuat dari tepung, bagaimana bisa seorang ayah bersikap seperti itu pada anaknya sendiri.


Rafi yang kesal ingin sekali menghajar Ardi namun dicegah oleh Dimitri.


"Sontoloyo, woy itu anak kamu!" maki Rafi.


Dimitri mengkode Rafi untuk diam, mereka ada di kandung lawan jadi harus hati-hati atau pulang hanya nama.


Rafi mengangguk paham, yang bisa mereka lakukan hanyalah mengulur waktu sampai bantuan datang.


"Uangnya masih dalam perjalanan karena kami tidak membawa uang tunai." Jelas Dimitri.


"Kalau uangnya dalam perjalanan kenapa kalian kesini dulu, kenapa nggak nunggu uangnya sekalian?" Pertanyaan Ardi membuat Rafi lagi-lagi naik pitam, manusia seperti ini kenapa nggak dimusnahkan saja.


Ardi, Dimitri maupun Rafi mengobrol asik entah apa yang diobrolkan.


"Nggak ada kopi?" tanya Rafi.


Rafi dan Dimitri saling tatap istimewa sekali si Ardi.


"Lama-lama pengen aku slebew ni orang," bisik Rafi.


"Bentar lagi," balas Dimitri.


Melihat Rafi dan Dimitri saling berbisik sehingga membuat Ardi kesal.


"Kita ini bertiga tega nian kalian berbisik sendiri." Kekesalan Ardi telah dipucuk karena sedari tadi melihat Rafi dan Dimitri berbisik sendiri.


Rafi mencibirkan bibir malas sekali berbisik dengan manusia laknut seperti Ardi.


"Lebih baik buatkan susu." Rafi memerintah Ardi untuk membuatkan susu.


"Uangnya dulu bestie." Rafi dan Dimitri lagi-lagi saling pandang, ini bagaimana maksudnya bukan kah mereka tamu lalu kenapa dimintai uang?


"Kami harus bayar?" tanya Rafi.


Ardi tertawa, merasa geli pada Rafi yang malah bertanya.


"Tidak ada yang gratis bestie, bahkan udara saja kita beli apalagi susu." pertanyaan Ardi membuat Rafi bingung, bukankah udara itu gratis? lantas kenapa Ardi bilang harus beli?


"Udara disediakan oleh alam secara gratis," sahut Rafi.


"Tapi yang di rumah sakit nggak." Jawaban Ardi membuat Dimitri tertawa.


Dilihat dari cara Ardi bicara terlihat kalau dia merupakan orang yang cerdas lantas kenapa Ardi memilih jadi preman?


Rafi merogoh sakunya dan kebetulan menemukan uang warna biru, baik Rafi maupun Dimitri sama-sama tidak membawa dompet.


Tiba-tiba diluar terdengar suara orang berteriak, mereka adalah penguasa kampung sebelah, memang sudah lama penguasa kampung sebelah mengincar para preman yang sangat meresahkan warga, mereka melakukan praktek pungutan liar dan kerap meminta uang pada warga.


"Keluar kalian!" teriak penguasa kampung sebelah.


Ardi dan para preman lainnya segera keluar, mereka sungguh kaget melihat penguasa yang tiba-tiba datang ke kandang mereka.


Penguasa kampung sebelah hampir sama seperti preman namun mereka tidak meresahkan masyarakat, malah mereka sering membantu masyarakat.


"Lepaskan anak kecil itu Ardi." pimpinan penguasa itu meminta Ardi untuk melepaskan anak Yuke.


"Dia anakku kenapa harus aku lepaskan," protes Ardi.


Adu mulut terjadi dan tak berselang lama anak buah Dimitri datang dengan senjata lengkap.


Para preman dibuat tak berkutik dan mereka pun memutuskan untuk menyerah.


"Ampun ampun baiklah kami menyerah!" teriak Ardi.


Rafi tertawa keras, melihat ekspresi Ardi yang ketakutan.


"Hey Ardi jangan ngompol kamu," ejek Rafi.


Preman jaman now, beraninya sama masyarakat lemah, kalau lawannya sebanding atau lebih kuat mereka sudah ketakutan.


Dimitri berlari ke dalam untuk mengambil Diandra, sungguh bejad Ardi yang membiarkan anaknya ketakutan.


"Tenang ada papa disini." Dimitri mencoba menenangkan Diandra.


"Cie cie yang sudah mengklaim papa." untuk kesekian kalinya Rafi meledek Dimitri.


Dimitri yang kesal menatap Rafi dengan tatapan mautnya tak hanya itu dia juga membekukan gaji Rafi bulan ini.


"Maaf lah pak, nggak ngeledek lagi sumpah." Rafi memohon pada Dimitri untuk mau memaafkannya.


Kini mereka telah tiba di rumah, Yuke nampak senang karena mereka telah membawa Diandra dengan selamat.


"Terima kasih pak, maaf merepotkan," kata Yuke.


"Apaan cuma terima kasih, cium juga dong," sahut Rafi.