Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Mengabaikan.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Niko dengan perasaan gelisah mengendarai mobil ke rumahnya. Ia tak mendapat kabar sama sekali dari Wulan. Pesan yang dikirimnya tadi pun tidak dapat balasan sama sekali dari sang istri.


Dengan langkah cepat Niko memasuki rumah begitu mobilnya terparkir. Karena sudah larut pintu rumah terkunci. Niko menekan bel berkali-kali, tapi tidak ada yang keluar.


"Ke mana mereka, apa Wulan sengaja menyuruh mereka untuk tidak membukakanku pintu?"


Berkali-kali Niko menekan bel akhirnya Inem muncul dengan mata merah karena kantuk.


Clek!


"Lama sekali," keluh Niko.


"Maaf, Tuan, saya ketiduran."


"Mana istriku?"


"Nyonya sudah tidur. Oh iya, Tuan ...."


Inem teringat kejadian yang dialami Wulan beberapa jam sebelumnya. Namun, mengingat larangan Wulan untuk tidak memberitahu Niko membuatnya terdiam.


Niko berbalik. "Kenapa?"


"Hmm, sepertinya Nyonya tidak enak badan. Wajah nyonya sangat pucat."


Niko panik. Tanpa menunggu kelanjutan Inem ia langsung berlari menuju kamarnya dan Wulan.


Inem lega, itu artinya ia tidak melanggar perintah Wulan. Meskipun tidak membocorkan sepenuhnya keadaan nyonya rumah, setidaknya ia sudah memberitahu kondisi Wulan kepada Niko.


Di dalam kamar Niko masuk secara diam-diam. Melihat sang istri terlelap membuat Niko sangat hati-hati untuk melangkah. Ia mendekat, menatap lekat-lekat kemudian mengusap pipi sang istri.


"Kamu pasti marah," katanya dalam hati, "maafkan aku, Sayang, aku tidak bermaksud menyakitimu. Entah kenapa aku senang sekali membuatmu begini."


Wulan membuang napas panjang.


Niko terkejut, sakit hati sekaligus terkejut melihat botol minyak angin di tangan Wulan.


"Kamu pasti sangat terbeban akhir-akhir ini. Pasti karena aku kamu jadi begini," kata Niko pelan, "Aku benar-benar keterlaluan. Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku."


Wulan menggeliat. Perlahan matanya terbuka, merasakan ada beban di samping tubuhnya.


"Sayang, kamu sudah pulang? Jam berapa sekarang?"


Niko tersenyum kemudian mengusap bibir istrinya. "Maaf sudah membangunkanmu."


"Kamu sudah makan?"


Niko hanya mengangguk. Untung saja Handoko memberinya makan, kalau tidak pasti ia sudah kelaparan.


"Kamu kenapa ... kamu sakit, Sayang?"


Wulan mengedip pelan. "Mungkin terlalu capek. Pekerjaan di kantor cukup melelahkan akhir-akhir ini."


Niko tahu Wulan berbohong. "Pasti karena aku, ya?"


Wulan menggeleng. Ia tidak ingin berdebat atau menyinggung soal kesibukan suaminya akhir-akhir ini.


Sebelum terlelap ia sudah mengambil keputusan untuk tidak mempermasalahkan aktivitas Niko yang menurutnya sangat tidak masuk akal beberapa hari ini. Walaupun Gloriana cukup mencurigakan bagi Wulan, ia tidak mau keegoisannya menghancurkan semuanya.


Toh, kalau benar Niko selingkuh dengan Gloriana, cepat atau lambat pasti akan terbongkar.


Selama suaminya masih memberikan perhatian dan kasih sayang yang tulus, Wulan tidak keberatan dan tidak mau mempermasalahkan soal Niko yang lebih memprioritaskan Gloriana daripada dirinya.


Wulan tidak mau hanya karena perkara kecil rumah tangganya dan Niko akan hancur. Selama ia masih bisa sabar, selama itu juga ia bisa memberikan pengertian kepada Niko.


"Kamu ingin sesuatu?" bisik Niko seraya menatap Wulan. Ia berbaring di samping istrinya dengan wajah saling bertatap, "Katakan, kamu ingin apa malam ini?"


"Aku tidak ingin apa-apa, aku hanya ingin dirimu saja. Aku ingin kamu temani aku di sini sampai pagi."


Niko melepaskan jas, sepatu kemudian memeluk Wulan. "Jangankan sampai besok, selamanya pun aku bersedia menemanimu jika kamu mau."


Wulan senang mendengarnya. Sikap Niko padanya benar-benar menunjukkan rasa cinta yang begitu tulus. Wulan pun akhirnya percaya kalau suaminya benar-benar setia. Kalau benar Niko selingkuh, mana mungkin dia akan mengatakan hal seperti itu.


Kalau pun demikian, pasti sekarang pria itu tidak memeluknya, lebih memilih tidur sendiri atau mengabaikannya.


***


Keesokan hari Wulan dilanda rasa mual. Ia terbangun, menatap Niko yang masih terlelap. Ia tidak ingin Niko mengetahui hal itu. Jadi, begitu cepat ia turun dari ranjang kemudian masuk ke kamar mandi.


Niko terbangun, terkejut melihat istrinya berlari ke kamar mandi. Penasaran apa yang dilakukan Wulan, ia mendekati pintu dan mendengar apa yang terjadi.


Sayangnya Wulan membunyikan keran air terlalu kuat, sehingga Niko sulit mendengar apa yang dilakukan Wulan meski telinganya sudah menempel di pintu kamar mandi.


Clek!


"Sayang, ka-kamu sudah bangun?"


Niko memperhatikan wajah Wulan. "Kenapa mengunci pintunya?"


"Tidak kenapa-kenapa. Kan aku buang air. Sudah sewajarnya bukan aku mengunci pintunya?"


"Ada yang tidak beres denganmu. Hari ini kita ke dokter, ya?"


Wulan tersenyum, mendekat kemudian memeluk Niko. "Aku tidak apa-apa, aku hanya kelelahan."


"Wajahmu pucat, Sayang. Nanti sore kita ke dokter. Aku akan menyuruh Darius membuat janji."


Niko melepaskan diri kemudian mengambil ponselnya.


Wulan tersenyum lebar. Secara umum sudah seharunya Niko bersikap demikian. Namun, entah kenapa saat ini ia sangat bahagia mendapatkan perhatian lebih dari Niko.


Apa karena akhir-akhir ini Niko sering mengabaikannya. Jadi begitu mendapatkan perhatian, Wulan serasa seperti berbunga-bunga.


"Darius, buatkan janji dengan dokter David, sore aku dan Wulan akan ke sana."


"Baik, Pak."


Wulan melingkarkan kedua tangannya di perut Niko. "Aku tidak apa-apa, Sayang. Mungkin kemarin karena aku terlalu banyak mengkonsumsi sambal buatan papa. Kamu tahu kan enaknya sambal buatan papa seperti apa?"


Niko mengendus. "Jangan terlalu banyak makan sambal, Sayang. Itu tidak baik buat kamu."


Wulan tipe wanita yang suka mengkonsumsi makanan pedas. Berbeda dengan Niko, ia sering mules melihat Wulan kalau makan sambal.


"Tapi aku suka."


"Iya, tapi jangan banyak-banyak."


Drtt... Drtt...


Getaran ponsel mengejutkan mereka. Karena benda itu masih berada di tangan Niko, spontan ia langsung menatap layar saat nama Gloriana terpampang di sana.


Wulan yang melihat pun langsung membuat moodnya hilang. "Klienmu ... angkat saja."


Wulan berbalik, meninggalkan Niko menuju kamar mandi.


Niko merasa bersalah. Ia sendiri yang meminta Gloriana menghubunginya di waktu yang sama. Ia ingin membuat Wulan semakin cemburu. Itu sebabnya ia menyuruh Gloriana menghubunginya di waktu bangun tidur.


Karena Wulan sudah mengurung diri di kamar mandi, Niko menolak panggilan Gloriana kemudian tersenyum lebar. Ia senang melihat kecemburuan istrinya.


"Semakin cemburu kamu semakin menggairahkan."


Niko melepaskan semua pakaian kemudian mendekati kamar mandi. Ia mengetuk pintu, memohon agar Wulan membukanya.


Tok! Tok!


"Sayang, buka pintunya."


"Aku mandi."


"Aku juga mau mandi. Kita mandi bersama, ya?"


"Tidak! Aku ingin mandi sendiri."


"Ayolah, Sayang. Cepat buka pintunya, aku ingin kamu menggosok punggungku."


Seketika egois dalam diri Wulan menghilang. Ia berpikir soal perselingkuhan yang sering terjadi pada rumah-rumah tangga yang lain.


"Kalau aku marah dan tidak melayaninya, itu berarti aku memberikan dia kesempatan bersama wanita lain. Tidak, itu tidak boleh terjadi."


"Sayang, buka."


Dengan ekspresi pura-pura Wulan membuka pintu.


Clek!


Ia tercengang melihat Niko yang ternyata sudah tanpa busana.


Niko tersenyum lebar dan langsung menyerang Wulan.


"Semalam aku ingin sekali memasukimu. Seandainya kamu tidak enak badan, pasti sudah kurasuki kamu dari belakang berkali-kali."


"Oh, Sayang ...."


Bersambung___