Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Mereka Harus Menderita.


Tak mau menunda lagi, Niko dan Wulan sama-sama sibuk untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Walaupun menginginkan pernikahan yang sederhana, Wulan dan Niko harus mempersiapkan segala sesuatu tanpa melibatkan orang tua.


Para orang tua tak kalah sibuk dengan aktivitas mereka. Kematian Jefry membuat Angelina mengurus BK Residence sendirian, sedangkan Handoko menggantikan posisi Niko untuk sementara sampai pria itu selesai dengan urusannya.


Saat ini Handoko berada di dalam ruangan yang biasa di tempati Niko. Sambil menatap layar laptop ia berbicara dengan seseorang melalui telepon.


Tok! Tok!


Bunyi ketukan pintu tak membuat Handoko berpaling.


Sosok di balik pintu pun muncul. Darius menatap sang atasan yang masih sibuk berbicara.


Handoko mengakhiri panggilan kemudian menatap Darius. "Aku butuh orang untuk membantumu di kantor."


"Itu tidak perlu, Tuan. Saya bisa menanganinya sendirian."


"Sebentar lagi Niko akan menikah, tugasmu pasti akan bertambah. Kamu akan sering keluar daripada menetap di kantor."


Darius tidak membantah.


"Pasang iklan lewat website. Kamu sudah tahu kan kualifikasinya apa?"


"Iya. Baik, Tuan."


Di sisi lain kondisi Viona semakin membaik. Walaupun wajahnya masih diperban dan belum tahu kondisinya seperti apa, Viona senang Deril meluangkan waktu untuk datang dan menjaganya di rumah sakit.


"Di mana Wulan, kenapa dia tidak datang?" tanya Viona.


Berapa hari di rumah sakit Viona tidak tahu siapa yang menolongnya. Begitu Deril datang dan menceritakan hal tersebut, ia ingin sekali bertemu Wulan dan Fanny untuk berterima kasih. Sayangnya hal itu harus ditunda karena Wulan terlalu sibuk.


"Beberapa hari ini dia sibuk mengurus pernikahannya dengan Niko. Bersabarlah, jika sudah selesai dia pasti akan menemuimu."


"Menikah," Viona senang, "Mereka akan menjadi pasangan yang serasi."


Deril yang tadinya duduk di samping Viona kini bangkit, mencium dahi wanita itu.


"Menurutmu, kita pasangan yang serasi atau tidak?"


Ekspresi Viona menjadi sedih. "Kamu mau menikah dengan wanita cacat muka sepertiku?"


Air keras yang dipakai Ulan untuk mencelakai Viona berjenis asam klorida. Cairan tersebut bersifat korosif. Bila bersentuhan dengan kulit atau organ internal, kerusakan bisa berdampak ireversibel pada kasus yang berat.


"Bagaimanapun hasilnya, kamu akan tetap menjadi Vionaku. Aku tidak peduli betapa buruk wajahmu nanti, aku akan tetap menerima dan mencintaimu sepenuh hati."


"Benarkah?"


Deril begitu tulus. "Aku bersumpah."


"Waktu istirahat sebentar lagi habis. Kamu harus kembali ke kantor sebelum anak buahmu."


"Kamu tenang saja. Ngomong-ngomong, kamu tidak ingin tahu soal Ulan?"


Mendengar nama itu membuat Viona malas. Ia membuang muka, menatap dinding.


"Karena dia aku jadi begini. Kalau sampai kau meninggalkanku karena wajahku, aku akan menemui dan membalasnya."


Deril tersenyum dan semakin mengeratkan genggaman tangannya. "Itu tidak akan terjadi, kamu akan tetap menjadi Vionaku selamanya."


Viona menatap Deril. "Aku akan ingat kata-katamu sampai mati."


Deril mengangguk sambil tersenyum.


"Apa yang ingin kamu sampaikan tentang si gila itu?"


"Dia divonis hukuman lima tahun."


"Lima tahun ... Itu tidak sepadan dengan apa yang dia lakukan kepada kami. Harusnya Wulan dan tante Angelina melaporkan perbuatannya tempo hari, biar dia lebih lama lagi di dalam penjara."


"Sesama manusia kita harus belajar dari mereka, bisa memaafkan. Sekalipun kesalahan Ulan dan papanya begitu fatal, tante Angelina dan Wulan tidak menghukumnya. Benar kata tante Angelina, membalas tidak akan mengembalikan keadaan. Dan lihatlah sekarang, Tuhan itu memang adil."


Viona menunduk sesaat. "Sebenarnya aku bersyukur bisa bertemu dengannya. Karena dia aku bisa bertemu dan mengenal keluargamu. Walaupun caranya salah, berkat dia aku bisa belajar mana yang benar-benar teman dan mana yang bukan. Aku berharap lima tahun itu bisa membuatnya berubah."


***


Memakan waktu satu minggu akhirnya semua yang diurus Wulan dan Niko selesai. Dokumen dan segala yang diperlukan sudah disiapkan oleh mereka.


Karena tidak ada lagi yang perlu diurus, Niko kembali ke kantor. Sementara Handoko pulang ke rumah untuk istirahat.


Tok! Tok!


"Masuk."


Deril muncul di balik pintu. "Pak, ini dokumen para calon karyawan yang lolos kualifikasi."


"Calon karyawan?" Niko terkejut di tempat duduk.


"Tuan Handoko meminta saya untuk mencari asisten baru."


"Ah, itu harus, ke depannya tugasmu akan lebih banyak."


Deril memberikan beberapa berkas itu kepada Niko.


Niko menolak. "Kamu saja yang pilih, kamu lebih tahu mana yang tidak dan pantas menjadi asistenmu."


"Baik, Pak. Besok saya akan menyuruh mereka untuk wawancara."


Niko setuju.


***


Dengan celana jins ketat dan kaos oblong, Imenk yang bertubuh montok dan putih itu selalu terlihat menarik. Rambut panjang kecokelatan dan lurus membuat Imenk terlihat seksi walaupun tubuhnya tidak terlalu tinggi.


Semenjak Ulan dihukum Imenk tak pernah absen mengunjunginya. Sebagai teman ia sudah berjanji akan selalu menemui Ulan untuk menghiburnya.


Saat ini Imenk baru saja tiba di kantor polisi. Sesuai jadwal, Imenk menemui Ulan di tempat biasa uang ia sering temui.


"Aku bawakan makanan kesukaanmu. Makanlah."


"Terima kasih kamu repot-repot ke sini. Sejak aku di sini, hanya kamu satu-satunya orang yang selalu datang menghiburku."


"Bukankah aku sudah berjanji padamu."


Ulan sedih. "Mama dan kak Wulan tak pernah datang. Apa mungkin mereka masih marah padaku?"


"Ulan, kamu tidak usah berharap lagi pada mereka. Mana mungkin mereka akan memaafkanmu setelah apa yang papamu lakukan?"


Ulan terdiam.


"Seandainya kamu anak kandungnya, sejahat apa pun dirimu, dia pasti memaafkanmu. Sadar lah, kamu itu bukan anak kandungnya. Apalagi kamu sudah merebut kekasih anak kandungnya. Apa kamu masih berharap mereka akan menerimamu lagi?"


Ulan menyadari hal itu tidak akan mungkin terjadi. Di posisinya, ia pun tidak akan memaafkan siapa pun yang mencelakai anak kandungnya.


Namun, kasih sayang yang pernah Angelina berikan padanya membuat Ulan yakin kalau wanita itu pasti akan mengampuninya. Terlebih harta kekayaan yang dinikmati Angelina sekarang adalah milik papanya. Tidak mungkin Angelina membiarkan Ulan, sedangkan perusahan dan rumah yang mereka tempati milik Jefry Tanujaya.


"Aku rasa ini sepadan dengan apa yang aku lakukan. Aku tidak keberatan mereka tidak datang menemuiku. Aku menganggap itu hukuman atas apa yang sudah kuperbuat kepada mereka."


"Sudahlah, jangan berharap banyak. Aku punya kabar baik padamu."


"Kabar apa?"


"Kemarin BK Group mencari karyawan untuk Asisten Manager. Aku mengajukan permohonan di sana. Aku berharap mereka akan menerimaku, agar aku bisa membalas mereka."


Ulan terkejut. "Kamu ingin bekerja di perusahan Niko?"


"Tentu," Imenk tersenyum licik, "Aku tidak akan membuat Niko dan Wulan bersama. Seperti yang mereka lakulan terhadapmu dan Niko."


Ulan tidak setuju. "Itu tidak perlu, Imenk. Aku tidak menginginkan Niko lagi, yang aku butuh hanya ibu seperti Angelina dan kakak perempuan seperti Wulan. Aku tidak mau menimbulkan masalah lagi."


"Kenapa kamu bodoh sekali, Ulan? Mereka sudah membuatmu menderita. Tujuanku tidak buruk, aku hanya ingin membuat mereka menderita, sama seperti yang mereka lakukan padamu. Mereka harus menderita, Ulan."


Bersambung____