Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Mereka Jahat.


Jefry mengambil ponsel dan melihat pesan, serta nomor yang tidak dikenal itu. Ia menyalin nomor itu kemudian mengirimnya ke seseorang.


"Jangan khawatir, papa akan mencaritahu siapa dia. Papa akan memberinya pelajaran."


Ulan semakin gelisah. "Apa mungkin orang ini anaknya Robby, Pa? Kalau benar, kenapa dia mengirim pesan itu padaku, bukan aku yang melakukannya?"


"Itu tidak mungkin. Mereka tidak akan pernah tahu kalau papa yang melakukannya. Abaikan saja, mungkin dia sengaja menerormu agar kau gelisah. Ingat, kau harus banyak istirahat, besok hari bersejarahmu. Mama dan papa akan ke rumah duka."


"Rumah duka om Robby maksud, Papa?"


Jefry menjawab dengan mengangguk.


Ulan mengerti. "Baiklah, aku masuk dulu. Hati-hati di jalan, Pa."


"Terima kasih, Nak."


Begitu Ulan berlalu Jefry meraih ponsel dari saku celana kemudian menghubungi seseorang.


"Lacak nomor yang kukirim tadi. Caritahu siapa dan di mana keberadaannya."


"Siap, Bos."


***


Seperti yang sudah dijanjikan tadi, malam ini Angelina menemui keluarga Lamber bersama Jefry. Ulan tidak bisa hadir karena besok adalah hari pernikahannya.


Jefry memang sengaja tidak mengajaknya, agar tidak menimbulkan kecurigaan. Seandainya bukan Angelina yang meminta, Jefry tidak akan mau menemaninya ke rumah itu.


Karena terlanjur berbohong kepada Angelina bahwa ia sudah menemui keluarga Lamber sebelumnya, Jefry menunggu di mobil dengan alasan ingin menghubungi seseorang.


Angelina percaya saja dan membiarkan suaminya menunggu di mobil bersama sang supir. Sejak mengetahui kejahatan Ulan dan Jefry tempo hari, Angelina lebih banyak mengalah untuk mencaritahu gerak-gerik suaminya.


Ia diam bukan berarti mengalah. Walaupun sakit hati Jefry melakukan hal itu kepada putrinya, Angelina tetap sabar dan berharap sesuatu akan terjadi. Angelina yakin Tuhan pasti sengaja melakukan ini karena ada sesuatu yang baik di kemudian hari.


Di sisi lain Deril sedang duduk di pojok halaman depan rumah sambil bersandar di tiang tenda. Kejadian tadi siang masih berlanjut dan Deril tidak mau memaafkan Viona. Ia memilih menyendiri dan membiarkan para undangan datang untuk menghibur mama dan adiknya.


Sebagai anak yang sempat berseteruh dengan Robby sebelum dia meninggal, Deril merasa bersalah sekaligus marah, ia tak menyangka sang ayah rela melakukan kesalahan hanya demi uang.


Berbeda dengan Deril, Viona sengaja menjauhi pria itu untuk sementara waktu. Kehilangan orang terdekat pasti tidak mudah bagi Deril.


Sebagai wanita yang paling mengerti Deril, Viona tidak mau menambah beban pikirannya. Masalah tadi siang membuat pria itu tidak mau bicara, bahkan mendekatinya.


Viona tidak mempermasalahkan, ia akan menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan siapa Niko sebenarnya. Namun, kedatangan Angelina dan Jefry membuatnya panik dan langsung mencari Deril.


Begitu menemukan pria itu, Viona tak peduli meski Deril memberikan tatapan marah. Viona mendekat dan langsung merangkul tangannya.


"Jangan marah lagi, aku tidak nyaman dengan suasana seperti ini."


Deril tak menjawab, tapi membiarkan Viona memeluk tangannya.


"Ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan. Percayalah, ucapanku tadi bukan maksud membelanya. Kamu pasti akan minta maaf padaku setelah mendengar penjelasanku."


Deril hanya diam tanpa kata.


Viona langsung teringat akan tujuannya menemui Deril. "Aku tahu kamu masih marah, tapi ada sesuatu yang harus kamu tahu. Coba lihat wanita yang duduk di samping mamamu, yang sedang mengusap punggung mamamu."


Deril menoleh dan melihat.


Viona senang pria itu mau mendengarnya. "Dia itu mamanya Wulan. Namanya tante Angelina."


Deril terkejut kemudian menatap Viona.


Ini kesempatan Viona untuk menjelaskan yang sebenarnya. "Pria yang bernama Niko itu, dia adalah pacarnya Wulan, wanita yang berfoto bersamamu di Taman laut Bunaken."


Deril terkekut."


Viona melanjutkan. "Wulan adalah anak tirinya om Jefry, sedangkan Niko anak kandungnya om Handoko."


Deril terkejut. Tiba-tiba ia teringat soal tujuan Robby menyuruhnya datang ke Jakarta. Ia juga ingat pesan Robby sebelum Amanda masuk dan berkata seseorang ingin bertemu dengannya.


"Kamu ingat Ulan kan, teman yang kuceritakan tempo hari?"


"Ya."


"Aku membantu dia untuk memisahkan Niko dari Wulan. Aku tidak tahu pasti apa tujuan mereka, yang jelas om Jefry tidak setuju Niko menikahi Wulan."


"Berarti sebelum itu kamu mengebal Wulan?"


"Sebelum meninggal papa juga sudah menceritakan padaku soal itu. Kata papa dia disuruh Jefry untuk mengatur jadwal penerbangan Wulan. Alhasil, jadwalnya tidak sesuai dan dia membuat papaku masuk rumah sakit."


"Mereka jahat, Deril. Ulan dan papanya sama-sama Jahat. Aku yakin meninggalnya papamu bukan karena om Handoko, melainkan karena om Jefry. Coba lihat, buktinya yang datang hanya tante Angelina. Seandainya kamu sebagai pelakunya, apa kamu mau menunjukkan diri di hadapan istri dan anak-anak orang itu?"


"Bisa saja. Karena aku ingin mengalihkan anggapan mereka, aku akan datang seolah-olah bukan aku yang melakukannya."


"Sayang, coba kamu pikir ... Kenapa mereka meracuni papamu? Mereka tidak mau apa yang dilakukan om Jefry kepada Wulan akan dibongkar oleh papamu. Jelas papamu akan membuat pernikahan Niko dan Ulan gagal, kalau beliau masih hidup."


Deril marah. "Aku benar-benar tidak percaya papaku sebodoh itu. Bisa-bisanya demi uang papaku mau melakukannya. Sekarang ... mau balas dendam pun percuma."


"Setidaknya kamu bisa melakukan apa yang papamu inginkan."


Drtt... Drtt...


Ponsel Deril bergetar, tapi pria itu tidak menyadarinya.


"Papaku memang ingin aku membalasnya, tapi sudahlah ... itu tidak akan bisa mengembalikan papa."


Drtt... Drtt...


Viona terkejut. "Ponselmu bergetar."


Saat itulah Deril merasakan dan langsung meresponnya. "Halo?"


"Halo juga. Apa benar ini dengan Pak Deril Lamber?"


"Iya, saya sendiri. Maaf, ini dengan siapa?"


"Maaf mengganggu waktu Anda. Kami dari kepolisian yang menangani kasus ayah Anda."


"Oh, iya. Ada apa ya, Pak?"


"Jika Anda punya kesempatan, besok kami mengundang Anda untuk datang ke kantor, ada beberapa hal yang harus kami tanyakan."


"Oh, tentu. Besok pagi saya akan ke sana."


"Kami sangat mengharapkan kehadiran Anda Pak Deril, karena ini ada sangkut-pautnya dengan kematian ayah Anda."


"Kalian tenang saja, saya pasti akan datang."


Setelah memutuskan panggilan Deril menatap Viona.


"Polisi ingin aku ke sana, kata mereka ada beberapa hal yang harus mereka tanyakan soal kematian papa."


"Mungkin mereka ingin kamu bersaksi."


"Entalah, yang jelas besok aku tidak mau bertemu om Handoko sebelum aku tahu pasti bukan dia yang melakukannya. Aku merasa bersalah telah menuduhnya yang tidak-tidak."


"Kan ada bukti nanti. Pokoknya, begitu dia divonis tidak bersalah, kamu harus meminta maaf padanya."


"Itu pasti."


"Tuan Deril?"


Suara seorang lelaki mengejutkan mereka. Viona dan Deril sama-sama menoleh ke arah pelayan tua yang berdiri di dekat mereka.


"Ada apa?"


"Seseorang ingin bertemu Anda, Tuan. Beliau ada di dalam bersama nyonya."


Viona dan Deril saling bertatap bingung.


"Siapa?" tanya Deril.


"Saya tidak tahu, Tuan. Nyonya besar yang menyuruhku untuk mencari Anda."


Viona memberikan kode dengan mengangguk kepala, seolah-olah menyuruh Deril untuk segera beranjak.


Deril menurut dan mengajak Viona, tapi wanita itu menolaknya.


"Aku di sini saja, aku tidak ingin tante Angelina melihatku di sini."


"Baiklah, aku akan segera kembali."


Bersambung____