
Bias mentari pagi memenuhi kamar Niko dan Wulan. Sang istri yang masih terlelap dengan tubuh telanjang di balik selimut kini menggeliat ketika rasa dingin menyerang pahanya.
"Sayang ...," desah Wulan. Tubuh yang tadi menyamping kini menghadap langit-langit kamar dengan kaki sedikit terbuka.
Niko tersenyum, berhenti sejenak sambil menatap Wulan. Ia sangat bahagia membuat sang istri semakin bergairah.
Wulan membuka mata perlahan. "Kenapa?"
Tak menjawab, Niko kembali menunduk dan menyerang tubuh Wulan.
Wulan menggeliat. Ia mendesah, meremas seprai ketika rasa dingin dan geli menyentuh bagian lembut dan lembab di bawah tubuhnya.
Drtt... Drtt...
Getaran ponsel tak mengintimidasi Niko. Ia terus menyerang, membuat Wulan berteriak nikmat.
Drtt... Drtt...
Wulan tersadar. "Sayang, apa itu ponselku?"
Bukannya menjawab, Niko semakin mempercepat gerakan lidahnya, membuat Wulan semakin menggeliat dan mendesah.
"Aku keluar, Sayang ... Aku keluar."
Niko tak berhenti sampai akhirnya getaran ponsel kembali bergetar. Niko bangkit kemudian mengambil benda itu.
"Mama."
Wulan terkejut dengan posisi yang sama. Penelpon yang disebutkan suaminya tak membuat tubuh terlentang dan kaki terbukanya berubah.
"Ini masih pagi. Kenapa mama menelponku, ya?"
"Mungkin ada yang penting."
Niko memberikan ponsel itu kemudian kembali ke posisinya.
"Halo, Ma?"
"Sayang, maaf mengganggumu pagi-pagi. Mama pasti mengganggu kalian."
"Tidak, Ma. Ada apa?"
Wulan terkejut melihat Niko. Ia mengira pria akan pergi dan membiarkan dirinya sendiri. Nyata suami yang nakal itu menarik tubuhnya ke pinggir kasur kemudian menyatuhkan tubuh mereka.
"Oh ...," ******* Wulan hampir terlepas ketika bagian keras dan besar Niko memasuki tubuhnya, "Mama ... tidak mengganggu," Wulan menggigit bibir bawah dengan mata terpejam saat rasa nikmat menyerangnya.
Niko semakin ganas. Ia tak peduli dan semakin mempercepat gerakannya.
"Ulan sudah bebas. Mama sendiri kaget waktu dia datang tadi."
Wulan terkejut. "Ulan sudah bebas?"
Tepat di saat itu Niko mencapai puncak. Mendengar nama Ulan membuat gairah dalam dirinya menurun. Dengan tubuh berkeringat dan lemas Niko ambruk di samping Wulan.
"Apa rencana Mama?"
"Mama ingin tahu apa maunya. Jika dia macam-macam, Mama terpaksa mengusirnya."
"Mama bisa datang ke sini, kita bicara di sini saja."
"Mama akan menghubungimu lagi. Setelah urusan selesai, mama akan menemui kalian."
Begitu panggilan terputus Wulan menghadapi suaminya. "Kamu nakal sekali, Sayang. Aku pikir tadi itu sudah berakhir. Bagaimana, apa sudah enak?"
Niko bangkit, mengecup pucuk dada Wulan kemudian mencium dahi dan bibirnya. "Ada masalah apa?"
Wulan tahu suaminya masih ingin berfantasi. Namun, ia harus menyelesaikan topik yang sudah dimulai untuk menuntaskan rasa penasaran suaminya.
"Ulan sudah bebas. Tadi pagi dia ke rumah."
Niko bangkit, mengambil segelas air kemudian memberikan kepada istrinya.
"Pasti ada yang membebaskannya. Aku akan menyuruh Darius untuk mengeceknya."
Drtt... Drtt...
Ponsel Niko bergetar tepat di sampingnya.
Wulan duduk bersandar dengan setengah tubuh tertutup selimut kemudian menenggak air yang diberikan Niko.
"Papa," kata Niko kemudian duduk di samping Wulan. Sambil merangkul istrinya ia menyapa Handoko, "Halo, Pa?"
"Maaf mengganggumu. Ada sesuatu yang penting."
"Pasti Ulan," tebak Niko.
"Memang, tapi ini bukan soal Ulan."
Niko terdiam sesaat lalu mengalihkan. "Mama baru saja menelpon Wulan. Ulan sudah bebas."
"Kalau kamu punya waktu papa ingin bicara."
Niko paham. "Ya."
Panggilan terputus.
Wulan bertanya, "Kenapa?"
"Soal Ulan."
Niko berbohong soal itu. Walaupun Handoko belum mengatakan yang sebenarnya, ia yakin hal itu ada sangkutpautnya dengan istrinya. Untung saja Handoko tidak berbicara banyak. Jadi, ia tak perlu takut ketika Wulan mendengar percakapan itu.
"Kira-kira siapa ya yang membebaskan Ulan?" tanya Wulan.
Niko memeluknya. "Kita akan tahu nanti. Ayo, kita tuntaskan yang tadi di kamar mandi."
***
Dengan tubuh segar dan wangi Ulan keluar dari kamarnya. Karena sudah lapar ia mencari pelayan untuk menyiapkan makanan.
"Bibi! Bibi!"
Pelayan rumah muncul. "Iya, Non?"
"Bi, mama mana?"
"Nyonya sedang keluar, Non."
"Ke mana?"
"Bibi kurang tahu, Non."
Ulan berjalan. "Siapkan makan siang, aku lapar."
"Baik, Non."
Di sisi lain.
Angelina menepi, mematikan mesin mobil, mendekati super market untuk membeli air.
"Ini saja, Bu?"
"Iya."
Angelina menunggu transaksi. Ketika ia berbalik dan hendak keluar, sosok tidak asing telah menunggunya di dekat mobil.
"Rudi ... Sedang apa kamu di sini, Rud?"
"Saya ada keperluan di sana. Kebetulan saya melihat mobil Anda, Nyonya Angelina. Bagaimana kabar Anda?"
"Jangan formal begitu. Kamu dan Jefry berteman. Kita juga seharusnya begitu."
Rudy tersenyum.
"Kabarku baik. Ya, mungkin kamu mengira aku sedih setelah kehilangan Jefry. Nyatanya, aku lebih bahagia setelah kehilangannya."
Rudy berdeham. "Bukankah Anda sangat mencintainya?"
Angelina berdecak.
Rudy tersenyum. "Sebenarnya ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada Anda. Sudah lama sekali saya ingin menyampaikan hal ini. Tapi ... Jika Anda tidak keberatan, saya ingin berbicara empat mata denga Anda, Nyonya Angelina."
Angelina tidak keberatan. "Boleh."
"Bagaimana kalau kita biara di kedai dekat sana?" Rudy menunjukkan tempat di dekat super market.
"Tidak masalah. Ayo."
Di sisi lain.
"Mama lama sekali," ucap Wulan yang sudah gelisah, "Sudah satu jam mama menelponku, katanya sudah di jalan."
"Sabar sedikit, mungkin jalan sedang macet."
Drtt... Drtt...
Panggilan masuk mengejutkan mereka. Niko menatap layar, melihat siapa yang memanggil.
Wulan penasaran. "Siapa, Sayang?"
"Mama."
"Ya ampun. Coba tanya, di mana mama sekarang."
Saat ini Niko dan Wulan sedang duduk di ruang tamu. Sudah hampir tiga jam sejak Angelina mengganggu mereka di ranjang, bahkan sudah selesai makan siang mereka menunggu wanita itu tak kunjung datang.
"Halo, Ma?"
"Bisa kalian datang ke rumah papa? Mama ada di sini bersama papa."
Niko terkejut, tapi setuju. "Iya, Ma."
"Maaf sudah merepotkan kalian."
"Tidak apa-apa. Aku dan Wulan akan segera ke sana."
"Hati-hati, Nak."
"Iya, Ma."
Niko memutuskan panggilan kemudian menatap istrinya. "Kita ke rumah papa, mama sudah menunggu di sana."
"Ya, sudah. Ayo."
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ulan yang sejak tadi menunggu Angelina pun merasa bosan.
Drtt... Drtt...
Getaran ponsel mengejutkan Ulan. Saat ini ia sedang duduk di ruang nonton untuk menunggu Angelina.
"Halo, Imenk?"
"Lan, bagaimana ... Apa kamu sudah mengatakannya?"
"Belum. Tadi pagi aku ingin mengatakannya. Tapi, aku rasa itu terlalu cepat. Giliran aku ingin mengatakan rahasia itu, mama sedang keluar entah ke mana. Dari siang perginya entah ke mana."
"Biarkan saja dulu mereka bersama. Anggap saja ini hari terakhir mereka bersama."
Ulan terkekeh tepat sang pelayan muncul.
"Non, nyonya sudah pulang."
Ulan senang. "Menk, dia sudah kembali. Nanti sambung lagi, ya."
"Ingat, langsung katakan saja pada intinya. Lebih cepat mereka berpisah akan lebih baik."
"Iya. Aku akan menghubungimu nanti. Bye."
Setelah memutuskan panggilan Ulan begitu cepat menghampiri Angelina.
Angelina yang baru saja masuk terkejut melihatnya. "Kamu belum tidur?"
"Belum, aku menunggu Mama."
"Untuk apa?" Angelina berjalan meninggalkan Ulan.
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan soal Niko dan om Handoko kepada Mama."
Angelina berhenti dan berbalik. "Kenapa mereka?"
"Sebenarnya ini bukan waktu yang tepat. Tapi, menurutku lebih cepat Mama tahu akan lebih baik."
"Ada apa dengan mereka?"
"Mama tahu siapa yang membunuh papanya kak Wulan?"
Angelina terkejut. "Membunuh?"
"Iya, Ma. Suami mama yang dulu meninggal karena mobilnya meledak, kan?"
"Dari mana kamu tahu?"
"Itu tidak penting. Yang penting sekarang Mama harus tahu, yang meledakkan mobil papanya kak Wulan tempo hari adalah om Handoko. Papanya Niko sudah membunuh papanya kak Wulan, Ma."
Bersambung____