
Niko masuk ke mobil sambil menghubungi kontak Fanny. Ketika hendak menyalakan mesin mobil dan menekan radial untuk menghubungi nomor yang sama, nama Angelina tiba-tiba muncul di layar ponsel. Dengan cepat Niko merespon dan menyapanya.
"Niko, barang-barang Wulan sudah tiba di rumah, tapi Wulan tidak ada. Supir ini taksi online langganan Fanny. Katanya Wulan bersama Fanny dan dia menyuruh supir ini membawa barang-barangnya ke sini."
"Aku baru saja dari bandara, memeriksa apa yang terjadi. Fanny memang yang menjemput Wulan, masalahnya sekarang Fanny juga tidak bisa dihubungi."
"Ya ampun, ke mana mereka pergi? Kenapa mereka kompak tidak memberi kabar?"
"Mama tenang, ya. Yang terpenting Wulan sudah tiba dengan selamat di Jakarta. Aku yakin mereka pasti ke sesuatu tempat yang tidak ingin kita tahu. Biarkan saja dulu mereka bersama, lama tak jumpa membuat mereka rindu satu sama lain."
"Kalau terjadi sesuatu kepada mereka bagaimana?"
"Semoga saja tidak, Mama. Mama tenang saja, aku akan menemui orang terdekat Fanny, siapa tahu dia tahu keberadaan mereka."
"Baiklah. Jangan lupa kabari mama, Niko."
"Pasti, Mama."
Niko memutuskan panggilan kemudian menginjak pedal gas semakin dalam. Ketika mobilnya mendekati lampu merah, panggilan dari Darius muncul di layar ponsel.
"Ada apa?"
"Pak, nona Wulan ada di Bebbi Hospital. Viona disiram dengan air keras, nona Wulan membawanya ke rumah sakit."
"Wulan bertemu Viona, kenapa bisa?"
"Saat insiden nona Wulan ada di sana."
"Terima kasih Darius, aku akan segera ke sana," Niko hendak mengakhiri panggilan, tetapi sesuatu muncul dalam benaknya, "Dari mana kamu tahu dia ke rumah sakit?"
"Fanny yang memberitahuku, Pak."
"Fanny memberitahumu? Aku menghubungi Fanny sejak tadi, tapi ponselnya tidak aktif."
"Dia sudah ganti kontak baru, Pak."
Niko tersenyum samar. "Jangan bilang kalau kau menjalin hubungan dengannya, Darius?"
Sosok di balik telepon terkekeh. "Maafkan saya, Pak. Saya bisa menjelaskannya nanti."
"Itu hal yang normal, Darius. Sekali lagi terima kasih atas informasinya. Aku akan menemui mereka."
"Siap, Pak."
Di sisi lain Angelina menyuruh para pelayan untuk membawa barang-barang Wulan ke kamar. Ketika ia hendak menaiki tangga menuju kamar, bel pintu rumah berbunyi dua kali. Angelina berbalik dan kegirangan menuju pintu depan.
"Itu pasti Wulan."
Penuh antusias Angelina membuka pintu depan dengan senyum melebar. Ia sangat bahagia, akhirnya putri semata wayangnya pulang.
"Oh, Sayang, mama sangat merindukanmu."
Angelina membuka pintu dan terkejut melihat dua pria berpakaian rapi berdiri di depannya.
"Selamat sore, Bu Angelina."
Senyum dan semangat di wajah Angelina lenyap. "Sore. Maaf, siapa kalian?"
Salah satu dari mereka menunjukkan sebuah kartu. "Kami dari anggota kepolisian. Kami ke sini ingin bertemu wanita bernama Ulan."
"Dia tidak ada. Ada apa?"
"Dia dilaporkan karena menyiram air keras ke wajah seseorang. Luka korban cukup parah. Sekarang korban dalam penanganan di Bebbi Hospital."
Angelina terkejut. "Bisa saya tahu siapa nama korbannya?"
"Nama korban adalah Viona."
"Viona," mulut Angelina ternganga. Ia menjadi khawatir dan teringat kepada Wulan, "Dia tidak ada di rumah, Pak. Tapi aku janji akan menghubungi kalian begitu dia pulang."
"Kalau begitu kami akan menunggu di luar. Jangan beritahu dia soal kedatangan kami."
"Kalian tenang saja."
Begitu polisi itu pergi Angelina segera menghubungi Niko.
"Niko, kamu di mana?"
"Aku dalam perjalanan menuju rumah sakit. Menurut informasi Wulan ada di rumah sakit bersama Fanny."
"Di rumah sakit?! Apa yang terjadi dengan mereka, Niko?!"
"Tidak terjadi apa-apa dengan mereka, Mama. Mereka di sana karena menolong Viona."
Angelina terkejut. "Baru saja polisi datang ke sini, mereka mencari Ulan. Kata mereka Ulan dilaporkan karena menyiram air keras ke wajah Viona. Apa Viona yang mereka maksud adalah Viona temannya Ulan?"
"Aku juga belum tahu, Ma. Lalu di mana Ulan?"
"Biarkan saja mereka membawanya, itu sepadan dengan perbuatannya, Mama."
"Mama juga berpikir begitu. Jujur mama senang jika dia dihukum, Niko. Apa yang dia dan Jefry lakukan terhadap kita sepadan dengan itu."
"Aku sudah tiba di rumah sakit. Aku akan mengabari Mama secepatnya."
"Baiklah. Jaga Wulan baik-baik, Niko. Bawa dia pulang dengan selamat."
"Mama tenang saja."
***
Setelah membiarkan Viona istirahat di ruangannya, Wulan baru menyadari kalau di luar langit sudah gelap.
"Jam berapa sekarang? Astaga, mamaku pasti khawatir," Wulan merogoh ponsel dari saku celana untuk menghubungi Angelina, "Ya ampun, ponselku lowbat. Fan, bisa kau hubungi mamaku, mama pasti khawatir padaku."
"Kamu tenang saja," Fanny tersenyum, "aku sudah memberitahu Darius keberadaan kita. Dia akan memberitahunya kepada Niko dan calon suamimu itu akan memberitahukan kabar itu kepada calon mertuanya."
Buk!
Wulan memukul pelan bahu Fanny. "Kamu gila, ya? Dia bukan calon suamiku dan tidak akan pernah menjadi suamiku."
"Kata siapa?"
Suara berat pria di dekat mereka mengejutkan Fanny dan Wulan. Fanny tersenyum, sedangkan Wulan terdiam tanpa kata. Wajahnya memerah. Perasaan campur aduk melandanya.
Niko mendekati Wulan. Ia meraih kedua tangan wanita itu dan menggenggamnya.
Bukannya marah, Wulan senang Niko mengelus punggung tangan putihnya dengan jempol besarnya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Niko menarik tubuh Wulan dan memeluknya. "Aku sangat merindukanmu. Aku sangat merindukanmu."
Wulan terisak. Rasa rindu yang lama terpendam kini meluap lewat tangisan.
Fanny yang paling tahu kisah mereka pun ikut menangis. Ia tak bisa menahan air mata yang jatuh berjujuran.
"Kalian jahat," ledek Fanny, "Kalian tega membuatku menangis."
Niko dan Wulan menatapnya tanpa melepaskan pelukan.
Fanny menarik cairan hidungnya. "Bukankah berarti kalian jahat, karena sudah membuatku menangis?"
Wulan dan Niko hanya tersenyum. Mereka saling bertatap dan mengabaikan Fanny.
"Banyak yang ingin kujelaskan padamu," bisik Niko di depan wajah Wulan. Ia menunduk, mendekatkan bibirnya ke bibir Wulan, tapi Fanny meneriakinya.
"Kalian lupa kalau di sini ada orang?"
Wulan terkekeh dengan wajah merah padam. Ia malu dan sadar kalau sekarang mereka masih berdiri di koridor rumah sakit.
"Aku tahu kau pasti sudah tak tahan melihat bibir Wulan yang merah itu, kan?" ledek Fanny kepada Niko, "Tahan dulu, ini rumah sakit. Kau bisa menunggu sampai kalian tiba di rumah nanti."
Niko berdeham. "Oh, iya, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu."
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Niko."
Wulan terkekeh. "Ayo, kita bicara di luar."
Niko tak melepaskan tangan Wulan. Ia berjalan sambil megenggaman tangan wanita itu seolah-olah tak ingin melepaskannya lagi.
"Aku serius, Fan," kata Niko, "ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu."
"Soal apa?"
"Sejak kapan kau menjalin hubungan dengan Darius?"
Fanny terpaku.
Wulan terkejut. "Kamu menjalin hubungan dengan Darius?"
"Dari mana kau tahu? Apa Darius memberitahumu? Dasar, padahal dia sudah berjanji akan merahasiakan hubungan kita."
"Kalian bukan anak kecil lagi, Fanny," ucap Niko.
"Benar," tambah Wulan, "aku senang kau menjalin hubungan dengannya. Tapi, kenapa kau tidak pernah cerita padaku?"
"Singkat cerita, aku dan Darius saling mencintai. Sudah, titik."
Wulan tertawa. Sedangkan Niko menggeleng kepala, melihat wajah Fanny yang merah akibat rasa malu. Wanita itu berlari keluar meninggalkan mereka.
Niko terkekeh dan merapatkan tubuh Wulan. Ia mencium dahi wanita itu begitu lama.
"Kamu pasti lapar, kan? Ayo, aku akan mentraktir kalian makan malam."
Bersambung___