Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Salah Target.


"Awalnya aku tidak senang papa menjodohkanku. Sekarang melihat Niko ternyata sangat tampan membuatku setuju," kata Ulan, "Menurut Kakak, apa aku cocok dengan Niko?"


"Kau tidak ingin menikah dengannya, kan?"


"Awalnya tidak, tapi setelah melihatnya malam ini ...."


"Sebaiknya kau pelajari karakter pria itu sebelum menikahinya. Aku dengar dia play boy terhebat di kota ini," kata Wulan asal. Ia berdiri, mendekati meja rias.


Ulan tersentak. "Kakak tahu dari mana?"


"Dia salah satu nasabah prioritas. Sudah lama aku tahu tentang dia, tapi aku baru tahu kalau dia anak temannya papa."


"Masa sih, Kak? Kakak pasti bohong, kan?"


Wulan senang melihat ekspresi kaget di wajah Ulan dari pantulan cermin. Ia telah berhasil memprovokasi adiknya.


"Kalau tidak percaya coba tanya langsung pada orangnya. Dia sering bergonta-ganti wanita."


Kesal mendengar ucapan kakaknya, Ulan segera berdiri dan beranjak dari sana.


"Kau mau ke mana?" tanya Wulan.


"Bicara dengan papa. Aku ingin tahu alasan papa mau aku menikah dengan Niko."


Wulan membiarkan Ulan pergi. Begitu pintu kamarnya kembali tertutup, senyum di wajah cantiknya langsung melebar.


"Kau pikir aku akan memberikan Niko padamu, hah? Tidak segampang itu."


Penasaran dengan topik yang ia bahas bersama Ulan, wanita itu berniat ingin menghubungi Niko. Ia merasa ada yang aneh dalam perjodohan adiknya dengan pria yang sudah berstatus menjadi pacarnya.


Wulan pun mengunci kamar kemudian menghubungi Niko.


"Halo, Sayang?" sapa Niko dari balik telepon.


"Aku merindukanmu. Pertemuan tadi rasanya tidak cukup."


Wulan berkata jujur. Rasa cemburu terhadap Ulan membuatnya ingin bersama Niko saat ini. Meski baru seumur jagung, cintanya terhadap pria itu begitu besar.


"Apa perlu aku ke rumahmu sekarang?"


Wulan terkekeh. "Itu tidak perlu. Besok kan kita akan bertemu."


"Aku akan menjemputmu besok. Kita akan berangkat kerja bersama."


"Eh, jangan," kata Wulan kemudian duduk, "Kamu tidak perlu menjemputku besok, aku akan menyetir sendiri."


"Kenapa?"


"Aku akan menceritakannya besok."


"Apa ini soal Ulan?"


"Apa benar papamu menjodohkanmu dengan Ulan?"


"Itu dia yang ingin kubahas denganmu besok. Papa juga ingin bertemu denganmu, papa ingin minta maaf padamu."


Rasa sedih Wulan lenyap. "Minta maaf ... Untuk apa? Aku sudah tahu ada kesalahpahaman saat Ulan bilang, kalau papa menuduhnya membawamu ke rumah sakit. Yang membawamu ke rumah sakit kan aku, bukan dia."


"Papaku salah target, Sayang. Papa pikir om Jefry belum menikah setelah kematian istri pertamanya. Jadi, saat aku bilang ingin melamarmu, papa pergi ke kantor papamu dan langsung membicaran perjodohan kita. Tanpa bertanya keberadaan dirimu, papa langsung memvonis ingin menjodohkan aku dengan anaknya om Jefry, karena yang papa tahu anak om Jefry hanya satu, Ulan."


Rasa bahagia pun menyelimuti Wulan. "Jujur aku takut sekali, Niko. Aku takut sekali saat Ulan bilang dia ingin menikah denganmu. Dia menyukaimu. Rasanya aku tak sanggup jika dia merebutmu dariku."


"Kamu jangan khawatir, ya? Aku tidak akan pernah menikah dengan orang lain kecuali dirimu."


"Sungguh?"


"Tentu saja, Sayang."


"Kamu tahu, papa memperhatikan interaksi kita waktu bicara. Bukannya tidak ingin jujur, aku merasa belum waktunya. Aku bersyukur tadi belum mengutarakan hal itu kepada mereka, papa membahas pernikahanmu dan Ulan kepada kami semua begitu kalian pulang. Seandainya aku mengakuinya sebelum pembahasan itu di mulai, mungkin akan terjadi salah paham antara papamu dan papaku. Tidak hanya mereka, Ulan juga pasti akan marah padaku."


"Membahas pernikahanku dan Ulan?"


"Iya, papa ingin kamu dan Ulan menikah. Mungkin karena papa belum tahu yang sebenarnya."


"Sebaiknya kamu sekarang tidur, ya. Kamu tidak usah memikirkan hal itu, aku tidak akan pernah menikah dengan wanita lain kecuali dirimu."


Wulan berbunga-bunga. "Aku pegang janjimu."


Setelah memutuskan panggilan Wulan bergegas ke kamar mandi untuk melakukan ritual sebelum tidur.


Saat ia hendak menaiki ranjang tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk. Wulan pun turun dan membuka pintu.


"Mama," Wulan terkejut, "Mama belum tidur?"


"Tentu saja."


Wulan mengajak Angelina duduk di sofa panjang. Mereka berdua terlihat mirip dengan gaun tidur tipis berwarna cokelat.


"Wulan," Angelina memulai, "sebenarnya mama tidak ingin ikut campur, tapi ...," Angelina diam, memperhatikan ekspresi Wulan sebelum akhirnya berkata, "Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dari mama?"


"Sembunyikan?" Wulan terkekeh, "Itu hanya perasaan Mama saja."


"Jangan bohong, Sayang. Kau pikir mama tidak memperhatikanmu, waktu papa membahas soal Niko dan Ulan. Kau cemburu, kan?"


"Cemburu? Mama ini ada-ada saja. Aku tidak apa-apa, Ma. Hari ini aku sangat lelah. Aku hanya ingin istirahat."


Wulan mencoba untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Meskipun sudah tahu terjadi kesalahpahaman di antara mereka, Wulan ingin Handoko lah yang memperbaikinya. Ia tidak ingin sepatah-dua katanya disalah artikan Angelina. Jadi, ia harus merahasiakan hubungannya dengan Niko sampai Handoko datang dan menjelaskan kesalahpahaman itu.


"Kalau begitu tidurlah. Besok mama akan buatkan sarapan kesukaanmu."


Wulan tak menjawab. Ia memeluk Angelina dengan perasaan bersalah dan bahagia.


'Maafkan aku, Ma. Saat ini aku belum bisa mengatakannya.'


***


Seperti biasa, keesokan hari anggota keluarga Tanujaya berkumpul untuk sarapan pagi.


Jefry dengan ekspresinya yang khas duduk di kepala meja. Angelina duduk di tempat biasa, begitu juga Wulan. Namun, masih ada satu kursi kosong yang sering ditempati Ulan.


'Ke mana anak itu?' kata Wulan dalam hati, 'Tumben jam begini dia belum turun.'


Yang ditunggu akhirnya muncul. "Selamat pagi, Semua."


Wulan menoleh dan ingin membalas, tapi terdiam karena terkejut melihat penampilan Ulan yang tidak biasanya.


Tidak hanya Ulan, Angelina dan Jefry juga sama-sama terkejut. Hari ini Ulan mengenakan riasan wajah yang tebal. Warna lipstiknya bahkan sangat mencolok, membuat Angelina dan Wulan ingin tertawa melihatnya.


"Apa kau Ulan anakku?" tanya Jefry.


"Tentu saja, Papa. Bagaimana ... cantik, kan?"


"Tidak, kau bukan Ulan anakku. Sekarang pergi ke kamarmu dan hapus lipstikmu itu. Papa tidak suka melihatnya."


"Pa, ini___"


"Jangan membatah, Ulan. Cepat naik dan cepat sarapan."


Dengan kesal Ulan akhirnya menuruti permintaan papanya.


"Apa yang terjadi padanya, kenapa penampilannya begitu?" tanya Jefry.


Wulan hanya diam. Sementara Angelina terkekeh geli, membayangkan betapa tidak sesuainya pakaian Ulan berwarna biru dengan lipstik berwarna ungu.


Ting!


Notifikasi masuk ke ponsel Wulan. Dengan segera ia melirik pesan tersebut yang ternyata dari my beloved.


'Aku sudah di depan.'


Dengan senyum lebar Wulan menyudahi sarapannya. "Pa, Ma, aku berangkat dulu."


"Hati-hati, Sayang," balas Angelina.


"Kau tidak menyetir, Nak?" tanya Jefry basa-basi.


"Tidak, Pa. Temanku di depan, dia yang menjemputku."


"Kenapa tidak suruh dia masuk dulu dan sarapan. Mungkin saja dia belum sarapan."


Wulan terkejut. 'Gawat, mereka tidak boleh tahu kalau itu Niko,' dengan cepat Wulan mencari alasan yang masuk akal, "Pagi ini ada meeting besar di kantor pusat, Pa. Jadi, Fanny sengaja menjemputku, biar kita bisa berangkat bersama dan tidak terlambat. Lain kali saja, Pa. Nanti aku sampaikan ke Fanny, kalau Papa mengundangnya sarapan bersama."


Jefry diam seolah setuju, tapi ia tahu Wulan sudah berbohong. Ia pun menunggu gadis itu pergi kemudian menatap Angelina.


"Akhir-akhir ini aku perhatikan Wulan sering dijemput. Apa kamu tahu siapa yang sering datang menjemputnya?"


Angelina menyudahi sarapannya. "Fanny. Mereka sering pergi bersama akhir-akhir ini."


"Pagi dan malam? Apa mereka tidak bosan seharian saling bertatap muka di kantor, kemudian malamnya lagi pergi bersama."


"Biarkan saja, namanya anak muda."


"Ini tidak bisa dibiarkan, Angelina. Kau harus mencaritahu soal itu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada Wulan."


Bersambung____