
Setelah tiga hari menghabiskan pagi, siang, malam bersama istri tercinta, Niko kembali ke aktivitas sehari-sehari yaitu memimpin perusahan.
Saat ini Niko dalam perjalanan menuju kantor Wulan. Tak mau melewatkan tanggung jawabnya sebagai suami, Niko menyuruh Darius mengantar istrinya terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka ke kantor Bebby Group.
Niko tak mengijinkan Wulan menyetir sendiri. Mulai sekarang Niko sudah menjadwalkan untuk mengantar-jemput istri tercintanya.
Mobil Niko tiba di kantor Wulan. Sebelum turun ia menarik istrinya untuk mendekat.
"Jangan nakal-nakal, ya? Kamu sekarang milikku. Apalagi Deril di kantor yang sama denganmu. Aku tidak mau dia melirik atau mengganggumu lagi."
Wulan tertawa. "Sayang, kamu lupa ... dia sekarang milik Viona. Dia hanya menyukai Viona, bukan aku."
"Perasaan seseorang tidak ada yang tahu," kata Niko sambil menatap bibir istrinya, "wajah Viona belum tahu seperti apa. Bisa saja setelah itu dia akan meninggalkan Viona dan menggodamu."
Wulan mengusap pipi Niko. "Aku hanya milikmu dan hanya milikmu. Siapa pun mereka, aku hanya menginginkanmu dan kamu."
Niko mencium bibir Wulan. Sesaat mereka langsung merasakan gejolak yang panas.
"Aku masuk dulu," kata Wulan setelah melepaskan bibirnya dari bibir Niko.
Terlihat kecewa, tapi tidak berkata apa-apa. Ia mengerti apa yang dipikirkan istrinya.
"Nanti kita makan siang bersama, kan?"
Wulan mengangguk. "Jemput aku."
"Pasti."
Setelah kecupan penuh cinta mendarat ke dahi Wulan, Niko meninggalkan lokasi itu menuju kantornya. Hanya memakan waktu lima belas menit Niko tiba di Bebby Group.
Buk!
"Aduh!"
Saat keluar dari mobil Niko terkejut mendengar suara wanita itu. Spontan Niko menoleh, melihat wanita cantik berpakaian seksi terjatuh di samping mobil di seberangnya. Tanpa memperdulikan sekitar, Niko segera berlari dan mendekati wanita itu.
"Anda baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, hanya saja kaki saya sakit."
Niko tak berpikir macam-macam. Ia segera mengulurkan tangan untuk membantu wanita itu. Namun, ketika tangan wanita itu hendak menyentuh tangan Niko, Darius muncul tiba-tiba.
"Selamat pagi, Pak. Imenk, apa yang terjadi?"
Niko tak kalah kaget. "Kamu mengenalnya?"
"Dia asisten baruku, Pak. Maaf."
"Aku pikir customer kita. Kalau begitu kamu urus saja dia."
Tanpa menunggu jawaban Niko meninggalkan mereka.
Imenk sedikit kesal. Ia baru saja ingin menggoda Niko dengan tangan lembutnya. Tapi, Darius muncul, membuat rencananya gagal. Ia pun berdiri sendiri tanpa bantuan Darius.
"Selamat pagi, Pak Darius."
"Pagi. Kamu tidak apa-apa?"
"Tidak, Pak."
"Tadi itu pak Niko Lais, bos kita. Beliau adalah pemilik perusahan ini. Jadi, tolong jaga sikapmu di depannya."
Mereka sama-sama masuk ke dalam kantor.
"Maaf, saya tidak tahu. Beberapa hari ini saya tidak melihat beliau. Jadi, saya tidak tahu kalau beliau adalah pemilik perusahan."
Darius tak menjawab dan terus berjalan mendahului Imenk. Begitu mereka tiba di ruangan mereka, Darius segera melontarkan pertanyaan penting.
"Dokumen kemarin sudah selesai?"
"Belum, Pak."
"Kalau begitu segera selesaikan, dokumen itu butuh tanda tangan pak Niko secepat mungkin."
"Baik, Pak."
Dengan semangat Imenk mengerjakano perintah Darius.
Darius yang tadinya masuk ke ruangan Niko, kini keluar dan mendekati Imenk.
"Berapa lama estimasi penyelesaiannya, Imenk?"
"Lima menit lagi, Pak."
"Segerakan kalau begitu. Saya ke pentri dulu."
Darius meninggalkan Imenk, membuatkan kopi untuk Niko.
Dengan senyum licik Imenk kembali menatap komputer.
Clek!
Pintu ruangan Niko terbuka. "Di mana Darius?"
"Ke pentri, Pak."
"Suruh ke ruanganku begitu dia datang."
"Baik, Pak."
Setelah Niko masuk da pintu tertutup, dalam hati Imenk kegirangan. 'Pantasan Ulan jatuh cinta, Niko tampan sekali.'
Darius muncul membawa nampan berisi kopi.
Darius hanya mengangguk kemudian masuk ke dalam ruangan.
Niko yang duduk tampak berpikir. Begitu ia melihat Darius, badan yang tadinya bersandar di kursi langsung bangkit dan duduk di sofa panjang. Sambil menyesap kopinya Niko melontatkan rasa penasarannya.
"Sepertinya aku pernah melihat asistenmu itu."
Darius berdiri tak jauh darinya. "Sebelum masuk ke sini dia bekerja di distributor sabun dan makanan, Pak."
Darius tidak terlalu mempermasalahkan latar belakang calon asistennya. Selama orang itu berpengalaman dan mampu menjalankan perintahnya, itu sudah lebih dari cukup bagi Darius.
Imenk lolos karena lolos dalam tes yang Darius berikan. Dari beberapa peserta yang mendaftar, hanya Imenk yang bisa menyelesaikan pertanyaannya. Itulah alasan Imenk bisa diterima di Bebby Group.
Seandainya asisten Niko atau sekertaris umum, Darius akan selektif lagi soal siapa yang tidak dan pantas untuk mendapatkan posisi itu.
Karena hanya untuk dirinya sendiri, Darius tidak mempersulit siapa pun yang mampu menyelesaikan tugasnya.
"Aku seperti pernah melihatnya. Tapi, aku lupa di mana," balas Niko.
"Anda sangat sibuk akhir-akhir ini, Pak. Bisa jadi Anda melihat Imenk saat berpapasan atau bertemu di pusat perbelanjaan."
"Mungkin," Niko menyesap kopinya, "Oh, ya, apa dokumennya sudah selesai?"
"Saya akan mengeceknya. Tadi dia bilang lima menit lagi selesai."
"Suruh dia bawa kepadaku kalau sudah selesai. Kamu ke rumah dan temani papa belanja. Brian tidak bisa menemani papa."
"Baik, Pak."
Begitu Darius keluar Niko meraih ponsel dari sakunya. Ia menatap layar ponsel, di mana tubuh Wulan menyamping dan sedang tertidur. Niko terkikik melihat bahu Wulan yang mulus dengan wajah tanpa polesan.
Ternyata foto itu diambil waktu pagi setelah malam pengantin dan tanpa sepengetahuan Wulan.
Mengingat itu membuat Niko merindukan istrinya. Dengan cepat ia mencari kontak Wulan dan mengubunginya. Sambil menunggu panggilan tersambung Niko menatap profil Wulan yang berisi foto pernikahan mereka berdua.
"Ya, Sayang?"
Seketika wajah Niko merah padam mendengar suara lembut dan sapaan Wulan seperti itu.
"Barusan kamu bilang apa?" ulangnya.
"Ya, Sayang?"
Niko tersenyum malu. "Apa itu sapaan buat suamimu?"
"Tidak suka, ya?"
"Tidak, tidak, aku suka ... suka sekali. Aku ingin kamu memanggilku seperti itu setiap hari."
"Ada apa menghubungiku?"
Pertanyaan Wulan membuat wajah Niko cemberut. "Tidak boleh ya suami menghubungi istrinya?"
Wulan terkekeh. "Boleh, Sayang. Tapi, ini kan jam kerja ... Kamu tidak kerja?"
Tok! Tok!
"Masuk!" sery Niko lalu menjawab pertanyaan Wulan, "Dokumen yang ingin kuperiksa belum selesai."
Sosok Imenk masuk sambil membawa dokumen yang ditugaskan Darius padanya.
Melihat itu Niko segera berdiri sambil membawa cangkirnya. "Dokumennya sudah selesai?"
"Sudah, Pak."
Niko duduk di kursinya. "Sayang, setelah ini aku jemput kamu makan siang, ya? Dokumennya sudah selesai. Nanti kuhubungi lagi."
"Iya."
Tahu Wulan sudah menutup panggilannya, Niko melepaskan ponsel tanpa memeriksa. Sebelum mengambil dokumen dari tangan Imenk, Niko menghabiskan kopinya.
Imenk yang memperhatikan hal itu langsung tersenyum licik dan menawarkan diri.
"Pak, cangkirnya sudah kosong. Boleh saya bawa keluar?"
Niko menjawab dengan anggukan kemudian mengambil dokumen yang sudah diletakkan Imenk di atas meja. Ia bahkan tidak menatap wanita itu dan langsung membuka dokumen tersebut.
"Aduh!"
Brak!
Suara Imenk dan pecahan cangkir membuat Niko terkejut. Spontan ia berdiri dan mengambil bekas pecahan itu.
"Kamu tidak apa-apa? Jangan bergerak, biar aku yang membersihkannya."
Imenk tersenyum kemudian mendekat ke arah ponsel yang masih terhubung.
"Dadaku, Pak ... Dadaku panas."
Setelah mengatakan itu Imenk menekan logo merah untuk memutuskan panggilan. Dengan senyum memuaskan ia kembali ke posisi agar Niko tidak curiga.
Niko yang masih berjongkok di lantai untuk mengumpulkan bekas pecahan cangkir itu tidak menyadari apa yang terjadi.
Begitu ia selesai, Niko terkejut menatap Imenk yang pakaian depannya sudah kotor dan basah. Bukannya tergoda, Niko mengambil tisu di mejanya kemudian memberikannya kepada Imenk.
"Keluar dan bersihkan dirimu."
Imenk kecewa. "Dadaku panas, Pak. Kopinya panas sekali."
"Salah sendiri tidak hati-hati. Keluar!"
Bersambung____