Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Dari Darius.


Wulan terkejut mendengar nama Viona. Ia melirik Deril, tapi tidak mengatakan apa-apa.


'Viona ... nama itu seperti tidak asing,' kata Wulan dalam hati, 'Oh iya, itu kan nama mantannya Niko.'


Wulan tidak memperdulikan hal itu. Ia menganggap Viona yang dikenal Deril adalah Viona yang berbeda dengan Viona milik Niko di masa lalu.


"Tidak ada siaran langsung di sini," katanya sambil memeriksa lagi.


Deril terkejut. "Ada, Wulan. Coba kamu periksa di video."


"Sudah, tapi tidak ada. Di sini hanya video lama, video yang kamu maksud tidak ada."


Tak percaya, Deril meminta ponselnya dan memeriksa kembali. "Benar, videonya tidak ada. Kemarin sebelum menyelam aku melihat video itu masih ada."


"Mungkin dia sudah menghapusnya."


"Bisa jadi," Deril meletakkan kembali ponselnya di depan indikator.


"Bisa jadi juga dia menghapusnya karena takut kamu salah paham."


Deril terkekeh. "Itu tidak mungkin, buktinya dia berani melakukan siaran langsung."


"Kalian ini lucu, sama-sama saling menjaga perasaan, tapi sama-sama saling tertutup. Menurutku kamu bukan hanya sekedar suka, tapi kamu sudah jatuh cinta padanya."


"Sudah kubilang, kan ... aku tidak mencintainya, aku hanya ingin membuatnya menjadi lebih baik."


"Kalau dia jatuh cinta padamu, bagaimana? Buktinya dia mau berubah demi kamu, kan?"


"Dia tidak berubah, dia masih sama seperti dulu."


Wulan melihat kekecewaan dari ekspresi Deril. Ia tersenyum lalu berkata, "Coba malam ini ajak dia bertemu dan bicara. Minta penjelasan darinya dan minta kepastian padanya. Dia pasti punya alasan melakukan itu."


"Itu tidak mungkin, Wulan."


"Tidak mungkin, bagaimana? Bisa jadi dia melakukan itu karena butuh validasi dari kamu. Ingat, Deril ... sedekat apa pun kamu dengan wanita, sebesar apa pun perhatianmu kepada wanita, selama tidak ada validasi darimu dia akan menganggp kalian tidak punya hubungan serius. Yang dinginkan wanita dalam hubungan gak jelas adalah pengakuan bukan ketergantungan."


"Mungkin kamu benar. Nanti malam aku akan menghubunginya dan bicara."


Wulan terkekeh. "Kamu gugup, ya? Kenapa tidak mengajaknya bertatap muka, biar lebih jelas? Dengan begitu dia akan menilai, bahwa kamu orang yang serius."


"Itu tidak mungkin, Wulan," Deril tertawa, "dia tidak di sini, dia ada di Jakarta."


Wulan pun tertawa. "Ya ampun, aku pikir dia di sini. Kalau begitu kamu harus berusaha keras untuk mendapatkannya."


Mobil Deril akhirnya tiba di depan kontrakan Wulan.


"Kita sampai."


Wulan turun kemudian mengambil bawaannya.


Deril juga turun dan membantu Wulan memasukan barang-barang bawaan lainnya.


"Terima kasih, ya," ucap Wulan. Ia tersenyum seolah memberi semangat kepada Deril, "Nanti malam hubungi dia dan minta penjelasannya."


Deril membalas senyumannya. "Aku harap setelah ini kamu tidak akan menolak setial ajakkanku."


Wulan menggeleng. "Asalkan itu tidak mempengaruhi hubunganmu dengan Viona, tidak masalah."


"Tentu saja tidak. Kalau pun berpengaruh, berarti dia bukan takdirku."


"Kamu harus memberitahu soal diriku padanya, fotoku di akun instagrammu lumayan banyak, takutnya dia salah paham dan gengsi untuk bertanya."


Deril mengangguk. "Terima kasih untuk sarannya."


Deril senang Wulan tidak bersikap formal lagi kepadanya. Ia merasa legah dan lebih nyaman dengan kondisi pertemanan mereka sekarang. Ia merasa jadi diri sendiri dan lebih percaya diri. Harapannya perteman ini bisa berlanjut untuk selamanya.


Berbeda dengan Deril, Wulan merasa seolah-oleh terbebas dari seorang play boy. Seandainya tidak bersikap santai mungkin ia tidak akan pernah tahu, kalau Deril menyimpan perasaan terhadap wanita lain. Dan Wulan bersyukur tidak memiliki rasa terhadapnya.


Drtt... Drtt...


Getaran ponsel mengejutkan mereka. Benda portable itu berasal dari saku Deril. Sambil menatap Wulan pria itu merogoh saku kemudian melihat nama si pemanggil.


"Halo?"


"Papa sudah sadar. Papa memintamu datang, ada sesuatu yang ingin papa katakan padamu."


Deril terlihat jengkel. "Akan kuusahkan."


Tanpa menunggu balasan Deril memutuskan panggilan lalu menatap Wulan yang masih berdiri di depannya.


"Adikku. Dia menyuruhku ke Jakarta untuk menjenguk papaku. Aku bilang nanti aku usahakan."


Wulan bisa menebak hubungan Deril dan keluarganya tidak baik-baik saja lewat ekspresinya yang tiba-tiba berubah. Namun, keisengan Wulan muncul seketika dan membuat Deril kembali tersenyum.


Deril terbahak. "Itu hanya kebetulan."


"Itu cara Tuhan mempertemukanmu, Deril. Ayolah, cari waktu luang dan temui papamu. Temui juga Viona dan katakan perasaanmu secara langsung. Kalau perlu ajak dia ke sini, biar tujuanmu membuatnya lebih baik akan terwujud."


Deril benar-benar terharu. Tak mau lama-lama lagi ia langsung berpamitan. "Kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu hubungi saja aku."


Wulan hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban. Senyum itu terus bertahan sampai mobil Deril menghilang dari pandangannya.


Drtt... Drtt...


Ponsel Wulan bergetar ketika ia hendak masuk. Sambil menenteng bawaan Wulan meraih ponsel dan menyapa sosok yang melakukan panggilan lewat video.


"Hei, tumben kamu video call."


Wajah Fanny terlihat jelas. "Kamu di mana? Aku ingin melihat pantainya."


Wulan tertawa sambil memasukan barang ke ruangan. "Kamu terlambat, aku baru saja tiba di kontrakan. Kita tidak bisa berlama-lama, kita punya tanggung jawab masing-masing untuk besok."


Fanny kecewa. "Harusnya aku menghubungimu kemarin. Ya ampun, aku benar-benar lupa."


Merasa sangat lelah, Wulan duduk di sofa sambil berbicara, "Aku menyesal telah mengambil cuti tempo hari."


"Menyesal kenapa?"


"Kalau aku tahu Ulan dan Niko akan menikah secepat ini, aku ingin cuti dan berlibur ke beberapa pulau yang ada di Bunaken. Aku ingin mengasingkan diri di sana selama resepsi mereka berlangsung."


"Ngomong-ngomong soal mereka, aku punya berita mengejutkan buatmu."


"Apa itu?"


"Kau ingat Viona, mantannya Niko sekaligus temannya adikmu?"


"Iya, kenapa dia?"


"Lusa kemarin Niko mendatanginya di kelab malam. Niko menyakitinya dan mempermalukannya. Dengan alasan Niko tidak terima dia dan Ulan menyakitimu."


Wulan terkekeh. "Mungkin Niko sudah mendengar voice note yang kukirim pada om Handoko."


"Kau mengirim rekaman itu padanya?"


"Ya, dan aku rasa om Handoko telah memberitahukannya kepada Niko."


"Itu lebih bagus, biar Niko tahu siapa mereka sebenarnya."


"Kamu dapat informasi dari mana soal itu?"


"Darius, supirnya Niko."


"Kenapa dia memberitahukan hal itu padamu?" Wulan terkejut mengingat Fanny sangat ingin diantar pulang oleh Darius, "Jangan bilang kalau kau dan Darius ...."


Fanny terbahak. "Kalau iya kenapa?"


Wulan lagi-lagi terkejut. "Sejak kapan?"


"Waktu Darius mengantarku tempo hari, kami bertukar kontak dan bertemu. Di situlah Darius menyatakan cintanya padaku."


"Secepat itu?" Wulan terbahak, "Aku tidak percaya, kau pasti berbohong."


"Aku tidak bohong. Lagi pula apa untungnya aku berbohong padamu."


"Ya ampun, aku tak menyangka kalian ...."


Fanny ikut tertawa. "Daripada kita bahas Darius, lebih baik kita bahas Viona."


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Fanny."


"Aku bukan mengalihkan pembicaraan, tapi apa yang ingin kusampaikan ini jauh lebih seru dibanding informasi tentang hubunganku dengan Darius."


Wulan terbahak. "Kau ini ada-ada saja. Sumpah, aku masih belum percaya kalau kau menjalin hubungan dengan orang terdekat mantan pacarku."


"Aku tidak peduli. Dengar, kau harus mendengarnya."


Wulan menahan tawa.


"Kau tahu, kata Darius malam itu Niko tidak hanya menjambak rambut Viona, dia menyiram tubuh Viona dengan minuman dan menyuruh Viona menyiarkan langsung adegan itu di akun instagram pribadinya."


Ekspresi Wulan berubah.


"Tidak hanya itu, Niko melepaskan pakaian dinas si pelayan kelab kemudian menyuruh Viona melayaninya. Ya ampun, benar-benar memalukan."


Bersambung____