Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Menjelaskan.


Walaupun sakit hati melihat interaksi Niko dan wanita tadi, Wulan tetap percaya kepada suaminya.


"Dia tidak mungkin macam-macam. Kalau pun demikian, mana mungkin dia berani melakukan itu di depan umum."


Fanny berpikir. "Iya juga. Tapi, awas kalau benar wanita itu bukan kliennya, aku orang pertama yang akan menyerang Niko."


Wulan hanya terkikik kemudian mulai menikmati mie ayamnya.


Setelah selesai Fanny mengantar pulang Wulan ke rumah barunya. "Aku ingin mampir, melihat-lihat. Tapi, sekarang sudah pukul tujuh."


"Kapan-kapan saja. Bagaimana kalau hari minggu kita masak-masak di sini?"


"Ide bagus. Semoga saja hari minggu Darius tidak ada jadwal denganku."


Wulan terkekeh. "Sampai ketemu besok. Terima kasih, ya. Kabari aku kalau sudah tiba."


"Iya."


Begitu mobil Fanny meninggalkan gerbang, Wulan masuk ketika sang penjaga keamanan membuka gerbang dan menyapanya.


"Apa tuan sudah pulang?" tanya Wulan.


"Belum, Nyonya."


"Terima kasih, ya."


"Iya, Nyonya."


Wulan masuk dengan perasaan gelisah. "Sudah malam kenapa Niko belum pulang? Tidak biasanya dia bertemu klien selama ini."


Tak mau membuat beban dalam pikirannya, Wulan segera masuk ke kamar mandi dan merendam diri dengan air hangat.


Di sisi lain.


Karena Jendry tak tertarik padanya, Ulan mengenakan piyama sopan saat makan malam. Mengenakan pakaian ketat dan pendek di depan Jendry tadi adalah hal memalukan yang ia lakukan.


Jendry sahabat Jefry. Walaupun berstatus belum menikah, mana mungkin lelaki yang usianya selisih dua puluh tahun itu akan melirik anak-anak seperti Ulan.


"Ulan," kata Jendry ketika melihatnya menuruni tangga, "Baru saja aku ingin memanggilmu. Makan malam sudah siap."


Ulan tepesona melihat tubuh atletis Jendry. Hanya mengenakan celana pendek hitam dan kaus ketat armi sudah membuat jantungnya berbunga-bunga.


Jendry terkekeh melihat ekspresi Ulan. "Ehem."


Ulan terkejut kemudian menuruni tangga begitu cepat. "Oh, iya."


"Aku masak ayam goreng mentega. Kamu suka ayam goreng mentega, kan?"


"Om seharusnya tidak usah repot-repot. Bersyukur aku sudah mendapatkan tempat tinggal dan fasilitas lengkap di sini. Soal makan, biarkan aku mengurusnya sendiri."


Jendry tak menjawab. Ia terus berjalan menuju ruang makan diikuti Ulan dari belakang.


"Duduklah," titahnya sambil mengambil piring kemudian memberikannya kepada Ulan, "Makan yang banyak, aku tidak mau kamu kekurusan."


Ulan mengambil posisi di sebelah kanan Jendry. Sementara Jendry duduk di kepala meja yang posisinya sangat dekat dengan Ulan.


Setelah mengambil menu masing-masing sudah selesai, Ulan terkejut ketika Jendry menyodorkan sayuran dari sendoknya.


"Cobain, enak atau tidak?"


Ulan sengaja tidak mengambil sayuran karena campuran dari sayuran tersebut sangat tidak disukainya. Namun, karena Jendry ingin menyuapinya, mau tidak mau Ulan membuka mulut dan memakannya. Untung saja Jendry tidak menyuapi sayuran yang tidak ia sukai.


"Hmmm, ini capcay terenak yang aku coba," jujur Ulan, "Aku sering makan ini, tapi rasanya sangat berbeda. Ini benar-benar enak."


"Benarkah?"


"Iya, Om. Hanya saja beberapa campuran sayuran ini aku tidak suka. Rasa sayurnya menurutku tidak enak."


"Pantasan kamu tidak mengambilnya. Yang mana yang kamu tidak suka?"


Ulan menyebutkan beberapa jenis sayuran yang tidak ia sukai.


Jendry memilih yang tidak disebutkan Ulan kemudian menaruhnya ke piring. "Makanlah yang banyak."


Ulan terharu melihat itu. Tanpa sadar ia terdiam melihat Jendry.


Jendry berdeham.


Ulan terkejut kemudian melanjutkan makannya.


"Sejak tadi kamu menatapku seperti itu. Kenapa?"


"Kenapa Om belum menikah?" jujur Ulan. Ia masih tak percaya lelaki tampan, mapan dan seksi sepertinya belum punya pasangan.


"Mungkin belum jodoh," jawab Jendry tanpa menatap Ulan, "Kalau aku sudah menikah, lalu yang mengeluarkan kamu dari penjara siapa?"


Ulan tersenyum. "Seandainya tidak ada Om, mungkin aku sudah mati."


Jendry menatap Ulan. "Apa kamu sudah memberitahu Angelina siapa pembunuh suami pertamanya?"


Jendry menghentikan makannya kemudian menatap Ulan. "Mungkin Handoko sudah mengakui kesalahannya. Sebagai besan, jelas Angelina tidak mau ada perselisihan di antara mereka."


Ulan teringat sesuatu. "Kata Angelina rumah dan semua aset papa mengatasnamakan namanya. Aku tidak percaya, masa papa tidak mewariskan sedikit pun padaku, aku kan putri satu-satunya."


"Mungkin sudah saatnya kamu tahu."


Ulan menyimak.


"Yang dikatakan Angelina benar, semua aset itu memang miliknya. Papamu tidak punya hak atas semua itu."


"Kenapa begitu?"


"Sebelum menikahi Angelina papamu punya hutang yang banyak. Semua asetnya menjadi jaminan hutang-hutangnya. Kakek dan nenekmu marah dan mengusir papamu setelah mereka jatuh miskin. Tidak mau hidup susah selamanya, papanya menyuruh Handoko melenyapkan Benny."


Ulan terkejut lagi. "Maksud Om, papaku yang menyuruh om Handoko membunuh om Benny?"


"Benar," jawabnya pelan, "Handoko dan papamu adalah sahabat baik. Benny adalah mantan bosnya Handoko. Sedangkan istrinya Benny, dia cinta pertama papamu."


"Mama Angelina mantan kekasihnya papa?"


Jendry mengangguk. "Waktu sekolah menengah aku, papamu, Handoko dan Rudi adalah sahabat baik. Setelah kuliah persahabatan kamu masih terjalin, tapi sudah tidak seperti dulu lagi. Kami semua terpisah. Terakhir aku dengar papamu melenyapkan Benny untuk merebut kembali cinta pertamanya, Angelina."


Ulan terdiam sambil berpikir.


"Aku rasa Angelina sudah tahu yang sebenarnya. Jika tidak, mana mungkin dia akan diam saja sekalipun Handoko adalah mertua putrinya."


"Kenapa papa tidak pernah bilang padaku? Kenapa papa merahasiakannya dariku?"


Jendry meraih sebelah tangan Ulan lalu menggenggamnya. "Mungkin kita tidak bisa merebut kembali semuanya. Tapi, kita bisa membuat mereka merasakan apa yang kamu rasakan."


"Percuma, apa yang terjadi padaku sekarang adalah karmanya papa. Membalasnya pun justru akan membuatku semakin sengsara."


Jendry diam.


Ulan berdiri. "Aku sudah selesai makan. Terima kasih untuk malam ini. Aku ke kamar dulu."


Jendry tak menahannya. Ia menatap Ulan meninggalkannya.


"Mungkin ini sudah jalannya aku bersama putrimu, Jefry."


Di sisi lain.


Keasikan berendam membuat Wulan lupa waktu. Ia ketiduran di dalam bak mandi dan terkejut ketika pintu kamar mandi diketuk.


"Sayang, apa kamu di dalam?"


Wulan beranjak. "Aku hampir selesai."


Tak mau membuat suaminya menunggu, Wulan segera membilas diri kemudian keluar mengenakan jubah putih.


Niko menatap wajahnya. "Kamu ketiduran, ya? Matamu bengkak, Sayang."


"Kalau kamu tidak mengetuk pintu, aku pasti sudah tidur sampai pagi."


Niko mengajak Wulan ke tempat tidur. "Aku buatkan susu cokelat untukmu. Minumlah, kamu pasti kedinginan."


Wulan bahagia. "Dari mana kamu tahu aku kedinginan, hah?"


"Pelayan bilang kamu pulang setengah jam yang lalu. Aku baru pulang dua puluh menit yang lalu. Berendammu yang lama atau kepulanganku yang terlalu cepat?"


Spontan Wulan memeluk Niko. "Terima kasih, Sayang. Kamu begitu perhatian padaku."


"Itu sudah tugasku sebagai suami."


Wulan menelan setengah gelas susunya.


Niko meraih sebelah tangan Wulan kemudian menggenggamnya. "Kamu ingin makan apa malam ini, aku akan memasaknya untukmu?"


"Kamu sendiri ingin makan apa?"


"Aku tidak makan, aku sudah makan tadi bersama Gloriana."


Wulan terkejut. "Gloriana, siapa dia?"


"Klienku. Sebelum pulang dia memintaku menemaninya makan di restoran. Aku ingin menolaknya, tapi tidak enak."


"Oh," balas Wulan asal. Ia berdiri, meletakkan gelas di nakas kemudian mencari pakaian di lemari.


Niko mendekatinya. "Kamu ingin makan apa, katakan saja."


"Tidak, aku sudah kenyang."


"Kamu marah, ya? Aku minta maaf tidak bisa makan malam bersamamu. Tapi, aku bisa membuatkanmu makan malam yang enak."


Wulan menjauhi Niko. "Kenapa kamu tidak tanya Gloriana saja, mungkin saja dia ingin mencoba masakanmu."


Bersambung____