Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Curahan Hati.


"Benny menjalankan perusahannya sendirian, orangtuanya meninggal jauh setelah perusahan itu dibangun. Menurut informasi yang papa tahu, orangtuanya anak tunggal, begitu juga Benny. Jadi, tidak ada siapa-siapa lagi selain istrinya setelah Benny Irawan meninggal," Handoko diam sesaat, "Seandainya waktu bisa di ulang, papa tidak akan pernah mau membawa koper itu, Niko."


"Apa Papa tahu di mana istrinya sekarang?"


"Informasi yang papa dengar, istrinya telah menjual semua aset mereka kemudian pergi ke luar negeri. Mungkin dia ingin memulai hidup baru."


"Papa dengar dari siapa?"


"Teman papa."


Niko merasa ada yang aneh. Namun, ia tidak mau mengambil pusing, karena itu bukan urusannya. Yang terpenting sekarang Handoko tidak di penjara.


Niko bisa merasakan penyesalan dan ketakutan dalam diri papanya. Semua sudah terjadi. Penyesalan pun tak akan mengembalikan waktu yang telah hilang.


Hukum karma adalah nyata. Apa yang dilakukan sang ayah dan temannya suatu saat akan terjadi kepada mereka. Niko hanya berharap apa yang dilakukan ayahnya di masa lalu tidak berdampak bagi dia dan keluarganya di masa mendatang.


"Papa ke teras belakang dulu, papa harus menghubungi pemilik Bebbi Residence. Papa akan memastikan, apa benar Wulan yang kau incar itu benar-benar anaknya. Kau juga cepat naik dan tidur."


Niko tak menjawab, ia memberikan senyum lebar untuk pertama kalinya pada Handoko dan berharap sesuatu yang baik akan terjadi.


***


Pagi ini Niko akan ke rumah sakit untuk membuka jahitan di dahinya bersama Brian.


Handoko juga akan menemui pemilik Bebbi Residence pagi ini untuk memastikan, kalau wanita yang diincar putranya itu adalah anak temannya.


Percakapan semalam membuat hubungan antara ayah dan anak itu sudah membaik. Tembok yang membatasi mereka sudah retak.


Sebagai anak Niko tetap akan membela papanya, walau pun kesalahan yang dilakukan sang ayah tidak lah kecil. Saat ini ia berharap tidak akan ada polisi atau siapa pun itu yang akan memisahkan dirinya dengan Handoko.


Saat ini mereka berdua duduk bersama di ruang makan. Suasana hangat dan cerah tampak terlihat saat masing-masing ekspresi memancarkan aura bahagia.


Meski belum mengatakan secara langsung, Niko berharap sang ayah akan tinggal lebih lama lagi bersamanya.


Seakan tahu keinginan putranya, Handoko tidak akan minggalkan Niko sampai ia berhasil menyatuhkan pria itu dengan wanita yang dicintainya.


"Kompensasi apa yang kau berikan jika papa berhasil menyatuhkan kalian?"


Niko berdecak. "Papa ingin bernegosiasi?"


"Bukan negosiasi, papa ingin menantangmu."


Niko menyudahi sarapan. Ia menatap serius. "Tantangan apa?"


"Kau suka mengoleksi wanita, bukan? Papa ingin menantangmu. Papa ingin kau menetap dengan satu wanita. Jika itu berhasil, papa akan memberikan sesuatu untukmu."


"Asalkan wanita itu Wulan aku pasti bisa."


Handoko meledek. "Papa tidak yakin, play boy sepertimu mana bisa bertahan dengan satu wanita."


"Papa meremehkanku? Kalau aku berhasil melakukannya, bagaimana?"


Handoko senang memprovokasi putranya. "Seperti yang papa bilang tadi, papa akan memberikan sesuatu padamu. Sesuatu yang bisa menjamin kehidupanmu dan istrimu di masa depan."


"Oke, deal," Niko berdiri, "Aku mau ke rumah sakit. Aku harap nanti malam Papa akan membawa kabar baik buatku."


"Itu pasti, Nak. Kau tenang saja."


Magdalena dan Brian ikut bahagia melihat interaksi antara kedua majikannya. Dua puluh tahun lebih mengurus Niko, tidak sekali pun mereka melihat suasana hangat seperti yang barusan mereka saksikan.


***


Dalam perjalan menuju rumah sakit wajah Niko tampak bahagia saat matanya menghadap jendela di bangku belakang.


Keberadaan sang ayah saat ini membuatnya bersemangat. Upaya sang ayah untuk menjodohkannya dirinya dengan Wulan benar-benar serius dan itu membuatnya bahagia.


"Kau yakin papa akan berhasil, Brian?"


Brian melirik dari kaca spion. "Saya yakin, Tuan."


"Kalau tidak, bagaimana?"


"Kita tidak boleh meremehkan kekuasaan tuan besar, Tuan. Walau pun beliau tinggal di luar negeri, kedudukan beliau di sini sangatlah berpengaruh."


"Kau benar, Brian. Aku sampai iri padanya."


Mata Niko yang cokelat menatap ke arah jendela. Ia melihat sekeliling sampai akhirnya mata itu terhenti pada sosok wanita yang sedang duduk di dekat trotoar.


'Wanita itu ... itu kan Wulan.'


"Brian, apa itu Wulan?"


Lelaki itu menatap ke arah yang ditunjukkan Niko.


"Benar, Tuan. Itu nona Wulan," Brian terkejut, "Dari mana Anda tahu itu nona Wulan, perasaan Tuan Niko belum bertemu dengannya?"


"Kau lupa kalau aku masih sadar saat dia menolongku?"


Tak mau kena marah, Brian segera mendekatkan mobil ke arah Wulan saat lampu merah berganti hijau.


Dilihatnya ekspresi kaget Wulan saat mata indahnya mengarah ke mobil mereka.


"Anda ingin menghampirinya atau saya saja, Tuan?"


"Kau di sini saja."


Sedikit malu-malu Niko keluar dan menghampiri wanita itu. Alisnya berkerut saat melihat wanita itu membawa koper.


"Hai," sapa Niko kemudian duduk di sampingnya, "Kau masih ingat aku?"


Wanita itu terkejut melihat pria tampan dan rapi itu menyapanya.


'Siapa pria tampan ini, ya? Dia mengenalku, dari mana? Wajahnya juga terasa tidak asing bagiku. Apa aku pernah bertemu dengannya?'


Niko mengulurkan tangan. "Aku Niko, pria yang kau selamatkan berapa hari lalu."


Wanita yang ternyata adalah Wulan benar-benar terkejut. Ia tersenyum lebar dan membalas uluran tangan Niko.


"Maafkan aku, aku tidak mengenali Anda."


"Itu wajar, wajahku dulu penuh darah. Sekarang wajahku sudah bersih dan terlihat tampan."


Wulan terkekeh. Ia melihat masih ada plester di dahi Niko. "Bagaimana keadaan Anda?"


"Jangan formal. Panggil aku Niko. Aku mau ke rumah sakit, hari ini jadwalku mencabut benang."


"Aku senang mendengarnya. Namaku Wulan."


"Wulandari Tanujaya, kan?"


Ia terkejut. "Kamu tahu dari mana?"


"Kamu telah membayar biaya pengobatanku. Aku tidak akan melupakan itu, Wulan."


"Itu hal biasa. Lupakan saja."


Niko melirik ke koper berwarna merah berukuran besar. "Berapa hari lalu aku dengar kau pergi keluar kota. Apa koper ini bukti, bahwa kau sudah kembali?"


Wulan tak terkejut mendengar itu. Ia tersenyum malu-malu.


"Benar. Aku sedang menunggu taksi pulang."


"Jika kamu tidak keberatan, ijinkan aku mengantarmu pulang."


"Bukannya kamu harus ke rumah sakit?"


"Tidak masalah, aku bisa ke rumah sakit setelah mengantarmu."


Wulan terharu. "Aku akan menemanimu ke rumah sakit. Setelah itu kamu boleh mengantarku pulang."


"Kau tidak keberatan menungguku?"


"Tentu saja tidak."


Tanpa berkata apa-apa Niko segera berdiri, mengambil koper Wulan dan meletakkannya di bagasi mobil. Tak hanya itu, Niko juga membuka pintu mobil lalu mempersilahkan wanita itu masuk. Mereka duduk bersama di bangku belakang, sedangkan di depan ada Brian yang akan membawa mereka ke tempat tujuan.


Bersambung___