
Ekspresi Jefry berubah. Ia ingat saat Ulan bersikeras tidak mengenal Niko. Dilihatnya Niko dan Wulan sedang berinteraksi. Mereka berdua duduk di bangku besi panjang yang jaraknya tak jauh dari dia dan Handoko.
Arah pandang Jefry menuntut Handoko mengikutinya. Ia tersenyum dan berkata, "Kau lihat, kan? Mereka sangat dekat."
Handoko berharap Jefry akan mencari cara untuk memperbaiki kesalahan ini.
Namun, keinginan Jefry untuk menjodohkan putrinya dengan putra temannya sudah tersusun sejak lama. Ia pun tak mau rencananya gagal.
"Maafkan aku, Handoko."
Handoko terkejut menatap Jefry.
"Aku sudah terlanjur mengatakannya pada Ulan. Aku tidak bisa mengecewakan putriku, Handoko."
"Tidak masalah. Bukankah katamu tadi dia tidak ingin dijodohkan? Dia ingin menikah dengan pria yang dicintainya, kan?"
"Awalnya begitu, tapi setelah melihat Niko tadi ... aku rasa dia akan berubah pikiran. Dia terlihat menyukai Niko."
"Kau bisa meralatnya, Jefry. Kau tinggal bilang padanya, kalau aku salah memberi informasi. Kenyataannya memang benar, kan? Aku tidak bertanya berapa putrimu dan siapa nama mereka. Aku bahkan baru tahu sekarang, kalau kau punya istri ke dua."
Jefry diam cukup lama.
Handoko mendesak. "Bagaimana, kau bisa melakukannya, kan?"
Jefry menatap temannya. "Aku tidak bisa, Handoko."
"Kenapa?"
Lama sekali Jefry diam lalu berkata, "Aku tidak setuju Wulan bersama Niko. Maafkan aku, Handoko. Perjodohan Ulan dan Niko sudah kurencakan sejak lama. Aku tidak ingin perjodohan itu gagal."
"Apa karena Wulan bukan anak kandungmu, begitu?"
"Bukan begitu. Pokoknya Niko dan Ulan harus menikah. Perjodohan itu harus terjadi, Handoko.
Handoko mengendus. "Kau tau kan dampak pernikahan yang dilandaskan bukan karena cinta? Niko mencintai Wulan, Jefry. Dia tidak mencintai Ulan."
Jefry menggeleng. "Mereka tidak bisa bersama, Handoko."
"Kenapa?"
"Kau masih ingat Benny Irawan?"
"Tentu saja ingat. Aku tidak melupakan saat kau menyuruhku memberikan koper itu padanya, Jefry."
Jefry menyeringai. "Angelina adalah istrinya. Wulan adalah putri kandungnya, Handoko."
Tubuh Handoko terpaku. Matanya tak berkedip melihat ke arah Jefry.
"Kau pasti tau dampak pernikahan Wulan dan Niko nanti. Itu sebabnya aku tidak ingin mereka bersama, aku tidak ingin Wulan tahu mertuanya adalah pembunuh papa kandungnya."
Handoko marah. "Kau yang menyuruhku, Jefry!"
"Tapi kau yang melakukannya. Tidak ada yang tahu kejadian itu, kecuali kau."
Handoko menenangkan dirinya. Untung saja posisi mereka jauh dari orang lain. Sehingga, mereka tidak tahu kalau dirinya sedang diliputi emosi.
"Selama rahasia itu tidak terbongkar, aku yakin semuanya akan aman," kata Jefry, "Tapi seandainya rahasia itu terbongkar, apa menurutmu mereka akan percaya kalau aku yang melakukannya?"
Tak ingin emosinya meledak. Handoko segera berdiri dan beranjak dari sana.
"Niko! Ayo, kita pulang."
Sebelum Handoko beranjak Jefry berkata dengan pelan, "Pikirkan kata-kataku, Handoko. Menjodohkan Ulan dan Niko adalah keputusan yang baik."
Tak menggubris perkataan temannya, Handoko meninggalkan tempat itu tanpa berpamitan sama sekali.
Niko menyadari hal itu. Ia berdiri dan menatap Wulan. "Banyak yang ingin kuceritakan padamu. Sampai ketemu besok. Aku akan menjemputmu pagi-pagi."
Wulan tersenyum. "Kabari aku kalau sudah sampai."
"Tentu, Sayang."
Begitu Niko pergi, Jefry duduk di samping Wulan. "Di mana mama dan Ulan?"
Sejak makan malam berakhir Ulan dan Angelina tidak terlihat. Entah di mana mereka berada, saat ini Wulan pun baru menyadari ketidakberadaan ibu dan adik tirinya itu. Saking bahagianya Niko datang ke rumah untuk makan malam, Wulan tak peduli keberadaan Ulan dan Angelina.
"Ya, sudah. Ayo, kita masuk, ada yang ingin papa sampaikan kepada kalian."
Perasaan Wulan berbunga-bunga. Ia yakin Jefry akan membahas soal kedatangan Niko dan Handoko. Ia pun dengan antuasias berjalan mengikuti Jefry.
Di sisi lain.
Dalam perjalanan pulang keheningan terjadi antara Niko dan Handoko.
Niko diam dengan pikirannya sendiri. Ia penasaran dengan sikap Handoko yang tiba-tiba mengajaknya pulang. Ia bisa menyadari emosi sang ayah dari intonasi suara saat mengaknya pulang. Saking emosi, Handoko tidak berpamitan kepada Wulan dan Niko menyadari itu.
Entah topik apa yang dibicarakan Handoko dan Jefry, Niko menyadari ada konversasi yang tidak beres, sehingga memicu emosi ayahnya.
Ia semakin penasaran saat memikirkan hubungannya dengan Wulan. Apa Jefry tidak menyetujui hubungannya dengan Wulan? Niko pun memalingkan wajah melirik Handoko.
"Aku tidak tahu apa yang Papa dan om Jefry bicarakan, tapi aku yakin karena itu membuat sikap Papa berubah."
Handoko terlarut dalam pikirannya.
Niko terus bicara sampai akhirnya ia menyadari, kalau Handoko tak mendengar satu kata pun yang terlontar dari mulutnya. Ia pun menyentuh Handoko, membuat lelaki itu terkejut kemudian menatapnya.
"Niko, ada apa?"
Tepat di saat itu Brian membelokan mobil mereka ke halaman rumah.
"Papa mendengar apa yang kubicarakan tadi?"
"Pembicaraan apa?"
Niko diam sesaat kemudian keluar dari mobil. Ia kesal, sudah ribuan kata yang keluar dari mulutnya, tapi sang ayah tak mendengar satu pun dari perkataannya.
Handoko merasa bersalah. Ia pun mengajak Niko ke taman belakang dan bicara.
"Sebelumnya papa ingin minta maaf, Niko."
Niko yakin hal itu akan terjadi. "Apa alasan om Jefry menolakku?"
"Tidak, dia tidak menolakmu."
Niko terkejut. Ia menatap Handoko dengan alis berkerut.
Handoko menarik napas. "Awalnya papa yang salah, tanpa mencaritahu berapa anak Jefry papa langsung menjodohkanmu dengan putrinya. Sumpah, papa tidak tahu kalau Jefry menikah lagi."
Niko bisa menangkap maksud perkataan Handoko. "Papa menjodohkanku dengan adiknya Wulan?"
"Papa benar-benar minta maaf, Niko. Sumpah, papa tidak tahu kalau Jefry sudah menikah lagi. Setahu papa dia tidak pernah menikah dan yang memang papa kenal anaknya bernama Wulan. Papa benar-benar tidak tahu kalau dia menikah lagi dan memiliki anak sambung yang namanya sama dengan kandungannya."
"Tadi waktu bicara Wulan tidak membahas soal itu padaku. Mungkin om Jefry belum membicarakan hal itu pada mereka. Berarti, kesalahanpahaman itu masih bisa diperbaiki, kan?"
"Diperbaiki mungkin bisa, tapi masalahnya ...," Handoko diam menatap Niko.
"Masalahnya apa, Pa?"
"Masalahnya Wulan anak kandungnya Benny Irawan dengan Angelina."
Niko terpaku.
"Selama rahasia itu tidak terbongkar, Wulan dan Angelina tidak akan tahu pelakunya siapa. Papa khawatir, bagaimana pun kita menyimpan rahasia itu, suatu saat hal itu akan terbongkar. Wulan pasti akan membencimu, bahkan meninggalkanmu."
Niko tersadar dari keterkejutannya. "Bukan Papa yang melakukan itu, papa hanya menjalankan perintah. Om Jefry yang melakukannya."
"Itu benar. Tapi kau yakin Wulan akan percaya, kalau pelakunya adalah om Jefry?"
Niko berpikir sejenak. "Kalau hanya masalah itu om Jefry tak ingin aku menikahi Wulan, aku rasa semua akan baik-baik saja selama tidak ada yang membuka mulut. Apa bedanya aku menikah dengan orang lain, kalau suatu saat rahasia itu akan terbongkar? Selama rahasia itu tidak terbongkar, aku rasa Papa akan aman-aman saja, kecuali seseorang membongkarnya kepada Wulan dan mamanya."
Wajah Handoko berubah datar. "Sepertinya ada yang tidak beres."
"Apa yang tidak beres, Pa?"
"Coba kau pikir, om Jefry menyuruh papa melenyapkan om Benny. Sekarang, dia menikahi mantan istri om Benny dan merawat anaknya. Apa menurutmu itu tidak aneh?"
Bersambung___