
Tepat di saat itu Handoko muncul dengan baju tidur. Karena haus dan kehabisan air di dalam kamar, Handoko memutuskan untuk ke dapur. Nyatanya ia mendapati kejadian tak mengenakkan.
Handoko menatap ke arah Darius dan Brian yang berdiri tak jauh dari Niko. Kedua pria itu hanya diam dengan tubuh berdiri tegap.
"Apa yang terjadi?" tanya Handoko kepada mereka.
Kata-kata mereka kembali tertelan ketika Niko melemparkan cangkir kosong ke dinding. Pecahannya terlempar ke mana-mana, membuat Handoko mendekat dan memeluk putranya.
"Apa yang terjadi padamu, hah?"
Niko menangis. "Dia mengkhianatiku, Pa. Dia mengkhianatiku."
Mendengar kata-kata itu sponta membuat Darius dan Brian terkejut. Mereka belum tahu apa yang membuat hati atasan mereka gelap.
"Wulan tidak mengkhianatimu. Apa kau sudah bicara dengannya, apa kau sudah tanya siapa pria di foto itu?"
Handoko melepaskan pelukan kemudian duduk di depan Niko. Ia menahan tawa melihat kondisi putranya yang berantakan hanya karena wanita.
Tidak hanya Handoko, Brian dan Darius juga merasakan hal yang sama. Ini pertama kali mereka melihat pria sekuat Niko menangis hanya karena wanita.
"Nomornya tidak aktif sampai sekarang. Dia bahkan tidak mengirimku pesan atau meneleponku. Harusnya begitu acara mereka selesai, dia menghubungiku, Pa. Dia tidak menghubungiku sama sekali."
Handoko menatap ponsel Niko yang rusak. Ia menggeleng kepala melihat itu.
"Bagaimana papa menghubunginya, sedangkan ponselmu sudah begitu."
"Untuk apa menghubunginya?! Percuma menghubunginya, dia sudah punya pria lain. Dia tidak mencintaiku lagi!"
Setelah berkata begitu Niko meninggalkan mereka.
Handoko diam tanpa kata. Ia tak bisa mencegah Niko dengan emosi seperti sekarang. Ia duduk dan meminta kopi.
Magdalena yang sudah berdiri di sana sejak mendengar pecahan cangkir langsung bergegas ke dapur.
"Aku tak menyangka putraku akan menangis seperti tadi," Handoko tertawa, "Aku lupa membawa ponsel dan merekamnya. Dia pasti akan malu melihat itu."
Darius dan Brian ingin tertawa, dengan susah payah mereka menahannya agar tidak mengeluarkan suara. Mereka ikut perihatin dengan apa yang dialami Niko, tapi ekspresi pria itu membuat mereka geli.
"Darius, sepertinya hari ini kau harus mengurus kantor sendirian."
"Tidak msalah, Tuan."
Handoko menarik napas. "Sebenarnya aku ingin membicarakan soal rencanaku dan Rudi pada Niko, tapi kondisinya yang sekarang tidak memungkinkan. Apa kalian punya ide untuk itu?"
Darius dan Brian saling bertatap. Sebelumnya Handoko sudah menceritakan kepada mereka soal rencana yang dibuatnya dengan Rudi.
"Menurut saya, Tuan," kata Darius, "ada baiknya Tuan Niko tidak tahu soal ini, itu akan membuat emosi tuan Niko nyata dan bisa memanipulasi Jefry. Jefry akan berpikir, bahwa Rudi benar-benar melenyapkan Anda, Tuan."
"Bagaimana kalau Niko menyutuji permintaannya untuk menikahi Ulan?"
"Saya yang akan menjelaskan yang sebenarnya kepada tuan Niko," kata Darius, "Biarkan tuan Niko mendatangi Jefry dulu, setelah itu saya akan menjelaskan keberadaan Tuan."
Handoko setuju. "Brian, kau siapkan yang kubutuhkan hari ini. Jangan beritahu Niko soal ini."
"Siap, Tuan."
"Kalian tahu kan apa yang harus kalian jawab kalau Niko menanyakan keberadaanku?"
"Siap, Tuan."
***
Dalam ruangan yang dingin ber-AC Wulan terlihat sedang melamun. Pekerjaan yang ada di depan mata terpaka diabaikan. Tidak ada panggilan, tidak ada notifikasi dari Niko membuat suasana hati Wulan begitu hancur.
'Apa dia tidak mencintaiku lagi, apa mungkin dia menunggu kepindahanku untuk menikahi Ulan?'
Pikiran Wulan begitu kacau.
'Mungkin benar, dia sengaja menunggu aku pergi agar bisa mendekati Ulan, tidak mungkin dia akan memeluk Ulan tanpa alasan. Kalau pun ada alasan, kenapa mereka bisa bersama?'
Air mata Wulan menetes tanpa disadarinya. Pikiran dan hati yang tidak sehat membuatnya tak bisa terkontrol.
"Kalau ada masalah ceritalah, aku siap menjadi pendengarmu."
Kebetulan ruangan Deril bersebelahan dengan Wulan. Saat ia mengetuk ruangan wanita itu tidak mendengarnya. Ia memutuskan masuk dan mendapati Wulan sedang menangis.
"Maaf, saya tidak tahu kalau Anda ada di sini. Sejak kapan Anda di ruangan ini?"
Wulan mencoba menstabilkan suara dan pikirannya, tapi hatinya tidak bersahabat. Ia kembali menangis, membayangkan Niko memeluk Ulan.
"Aku mengetuk pintu berapa kali, tapi kamu tidak mendengarnya. Karena aku butuh laporannya sekarang, aku memutuskan untuk masuk. Maaf, sudah mengejutkanmu."
"Maafkan saya, Pak Deril. Saya benar-benar tidak tahu."
"Jangan minta maaf, kamu tidak salah. Lagi pula di sini hanya kita berdua, tidak usah formal padaku."
Hari ini sudah ke dua kalinya Wulan menginjakkan kaki di gedung itu. Wulan merasa ada yang aneh sejak hari pertama ia masuk ke gedung itu. Ia ingin menanyakan hal itu kepada Deril, tapi suasana hatinya lagi tidak bagus. Wulan memutuskan untuk menundanya.
"Ini sudah jam makan siang, kenapa kamu tidak pergi dan makan siang di luar?" tanya Deril.
Nafsu makan Wulan hilang. "Aku tidak lapar."
"Kalau kamu butuh teman curhat, aku siap menjadi pendengarmu," Deril berkata kemudian keluar.
"Tunggu," cegah Wulan. Deril berbalik menatapnya, "Bukankah Anda butuh laporan, laporan apa yang Anda inginkan?"
"Tidak terlalu penting, nanti saja."
Wulan menjadi bingung. Ia membiarkan pria itu keluar ruangan kemudian kembali duduk.
Drtt... Drtt...
Panggilan masuk mengejutkan Wulan. Ia mendekati meja, meraih ponsel dan melihat nama si pemanggil. Melihat nama Angelina terpajang di layar, Wulan sedikit tersenyum kemudian menyapanya.
"Mama, apa kabar?"
"Kabar mama baik. Kamu sendiri, bagaimana?"
"A-aku baik-baik saja. Oh, iya, bagaimana kabar Ulan?"
Wulan sengaja membahas topik Ulan untuk mencaritahu tentang mereka.
Terdengar Angelina mengendus. "Berapa hari ini dia pulang mabuk. Sepertinya pergaulannya tidak sehat. Untung ada Niko yang bersedia mengantarnya pulang berapa hari ini, kalau tidak, mungkin dia sudah jadi mangsa pria-pria hidung belang di luar sana."
'Niko mengantar Ulan pulang ... Mabuk ...,' kata Wulan dalam hati. Ia benar-benar terkejut, 'Kenapa Niko tidak pernah bilang padaku?'
Kecurigaan Wulan terhadap hubungan terlarang itu semakin kuat.
"Memangnya kenapa Ulan mabuk, Ma? Bukannya dia tidak pernah mabuk sebelumnya. Apa mungkin dia ada masalah?"
"Katanya sekedar menghilangkan stres. Dan untung saja, setiap kali mabuk dia bertemu Niko dan Niko mengantarnya. Berapa hari lalu dia menginap di tempart Niko. Kemarin malam Niko lagi yang mengantarnya. Untung ada Niko."
Hati Wulan sakit. Niko mengantar Ulan tanpa sepengetahuannya ... Ulan menginap di tempat Niko dalam keadaan mabuk, itu artinya mereka ....
"Di mana dia bertemu Niko, Ma?"
"Kata Niko di kelab malam. Kebetulan pemilik kelab itu temannya."
'Kelab malam?' Wulan lagi-lagi terkejut, 'Berarti Niko sering ke kelab malam dan tidak memberitahuku? Apa ini alasan dia tidak pernah mengaktifkan ponselnya setiap malam?'
Tak ingin airmatanya menetes, Wulan segera tertawa dan mengalihkan pembicaraan.
"Jangan mengekangnya, Mama. Biarkan saja, dia butuh pergaulan yang tidak sehat untuk membandingkan mana pelajaran hidup yang baik dan tidak."
"Memang, tapi itu sudah kelewatan. Apalagi dia bergaul dengan Viona. Niko memperingatkan mama, agar melarang Ulan bergaul dengannya."
"Viona, siapa dia?"
"Temannya Ulan, tapi entah teman dari mana. Pakaiannya saja tidak pernah sopan."
'Niko mengenal temannya Ulan?' batin Wulan. Rasa penasarannya pun semakin tinggi, "Mama, bisa berikan kontaknya Ulan, aku ingin bicara dengannya. Ponsel lamaku rusak, jadi aku tidak memiliki kontak Ulan di ponsel ini."
"Mama akan mengirimnya padamu."
Bersambung____