
"Akhirnya kau datang juga," sapa Petrix begitu melihat Niko menghampirinya, "Ada sesuatu yang ingin kusampaikan tentang calon istrimu."
Niko terkejut, duduk dan menatap pria itu. Saat ini Niko sudah tiba di BK Club dan berada di ruangan dingin ber-AC milik Petrix.
"Wulan, ada apa dengan Wulan?!"
Ekspresi panik di wajah Niko membuat Petrix terbahak. "Wanita itu ternyata benar-benar mengubahmu. Baru kali ini aku melihatmu sepanik ini terhadap wanita."
"Katakan, apa yang terjadi padanya? Dari mana kau tau tentang dia?"
"Santai saja, tidak terjadi apa-apa dengan dia. Aku juga tidak mendapatkan informasi apa-apa tentang dia dari siapa pun."
Niko jengkel. "Kau menjengkelkan!"
Petrix hanya bergurau. Ia menuangkan anggur ke dalam dua gelas kristal di hadapannya.
"Minumlah, tadi itu aku hanya bergurau."
Niko semakin jengkel. "Kalau tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan, lebih baik aku pulang saja."
"Jangan begitu, Niko. Ada sesuatu yang penting yang memang ingin kubicarakan, tapi bukan soal Wulan, melainkan soal adiknya Wulan."
Niko terdiam.
"Tadi dua wanita itu ke sini. Aku mendengar obrolan mereka."
"Ini masih terlalu sore dan Viona mengajak Ulan ke sini ... Wanita itu benar-benar harus disingkirkan."
Melihat emosi di wajah Niko membuat Petrix penasaran. "Sebelum aku cerita tentang mereka, aku ingin tahu ... siapa Viona?"
Niko memang tidak pernah menceritakan soal Viona kepada Petrix. Status yang sebelumnya suka memainkan hati wanita membuat Niko enggan memberitahu wanita-wanitanya kepada pria itu. Ia hanya akan mendapatkan nasehat jika itu terjadi. Jadi, Niko lebih memilih merahasiakan identitas Viona maupun wanita-wanita di masalalunya dari keluarganya.
"Dia teman tidur terakhirku."
"Sudah kuduga."
Niko meraih gelas berisi anggur itu lalu menyesapnya. Emosi dalam dirinya membuat Niko berkeinginan untuk menyesap minuman itu.
"Dia yang membuatku kecelakaan, tapi karena dia aku bisa bertemu Wulan."
"Oke, tak perlu dijelaskan secara detail," kata Petrix lalu menyesap anggurnya, "Yang ingin kutanyakan, apa benar adiknya Wulan ingin kau menjadi suaminya?"
Niko terkejut. "Apa yang mereka bicarakan?"
"Waktu aku duduk di bar, mereka mendekat dan memesan minuman. Aku bersyukur mereka tidak mengenalku. Jadi, aku bisa menguping pembicaraan mereka hingga selesai."
Niko menyimak.
"Siapa nama adik pacarmu?"
"Ulan."
"Ya, dia ... dia mengatakan akan memberikan dua puluh miliar kepada Viona untuk menggodamu. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan sebelumnya, yang jelas Viona pasti akan mendekatimu demi dua puluh miliar."
Niko tampak berpikir. "Aku rasa mereka sedang merencanakan sesuatu untuk Wulan.
"Aku rasa begitu. Mereka ingin merusak hubunganmu dengan Wulan. Kau harus hati-hati dengan mereka."
Niko menghabiskan isi gelasnya. "Tidak semudah itu, Petrix. Mereka pikir aku ikan yang bisa ditangkap dengan umpan."
"Berhati-hati saja. Mereka perempuan, segalanya bisa dilakukan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan."
Tepat di saat itu pintu ruangan terbuka. Alunan musik elektro mengenai telinga Petrix dan Niko, membuat mereka menatap ke sosok berpakaian hitam yang baru saja masuk.
"Bos, di luar terjadi keributan. Dua wanita yang tadi kembali dan membuat kekacauan."
Niko dan Petrix saling bertatap. Tanpa berkata apa-apa mereka langsung berdiri dan keluar.
"Aku calon suaminya, kau tidak pantas berkata begitu!"
"Tapi yang kukatakan benar, aku pernah tidur dengannya. Tidak hanya sekali, tapi sering kali."
Plak!
Bunyi tamparan mengenai pipi Viona. Aktivitas semua pengunjung seketika terhenti dan memusatkan perhatian mereka kepada Viona dan Ulan.
Pipi Viona terasa panas. Ia ingin membalas, tapi tangan besar langsung menarik tangannya yang terangkat. Terkejut, Viona berbalik dan melihat sosok yang berani menahannya. Penglihatannya sedikit buram akibat alkohol yang dikonsumsinya sejak tadi siang.
"Siapa kau, kenapa kau menahanku?"
Niko berdiri di bawah cahaya, membuat Viona dan Ulan sama-sama terkejut.
"Niko," Viona menangis, "dia menamparku, Niko. Ulan menamparku lebih dulu. Aku hanya ingin membalasnya.
Niko segera melepaskan tangan Viona. "Apa yang kalian lakukan di sini? Memalukan sekali."
"Adik iparmu ini yang mulai. Dia yang mengangkat topik tentangmu, giliran aku bilang pernah tidur denganmu, dia marah dan melemparku dengan minuman. Kan gila!"
"Kau yang gila! Tidak seharusnya kau berkata begitu di depanku!" bentak Ulan, "Sebentar lagi kakakku akan menikah dengannya dan kau wanita ****** yang tidak tahu malu menceritakan masalalumu kepadaku. Maksudmu apa?! Agar aku menceritakan hal itu ke kakakku, hah?"
"Kau!" Ulan ingin menampar lagi, tapi Petrix langsung menariknya.
"Sudah-sudah, hentikan!" bentak Niko, "Ulan, sekarang kau pulang. Dan kau Viona, mulai sekarang kau jangan ganggu Ulan lagi. Dia calon adik iparku."
"Calon adik ipar?! Asal kau tahu Niko, wanita itu penjahat, dia ingin merebutmu dari Wulan."
"Itu tidak benar!"
"Jangan bohong. Kau sendiri yang bilang padaku, kalau kau___"
"Sudah-sudah, cukup!" suara keras Niko membuat mereka diam, "Kalian sudah mencemarkan namaku! Sekarang kalian pulang atau mau kusuruh pemilik club ini membawa kalian ke kantor polisi, hah?"
Viona dan Ulan menunduk takut.
"Ulan, kau pulang denganku. Viona, kau naik taksi dan pulang sendiri."
"Tapi aku____"
"Tidak punya uang? Lalu siapa yang membayar minumanmu kalau kau tidak punya uang?"
Viona terdiam.
Ulan tersenyum samar, merasa menang karena mendapat perlindungan.
Niko menatap Petrix. "Kau urus Viona, aku akan membawa Ulan pulang."
Petrix mengangguk kemudian mengajak Viona menjauh.
"Ayo, Ulan. Kau harus mempertanggungjawabkan apa yang kau lakukan."
Ulan mendekat dan memeluk Niko.
Niko terkejut dan ingin melepaskan tubuhnya, tapi pelukan Ulan begitu erat, sehingga ia sulit menjauhi tubuhnya.
"Kenapa kau marah padaku, Viona yang memulai. Dia yang menceritakan soal hubunganmu dengannya. Jelas itu membuatku marah."
"Sudah, tidak usah dibahas. Sekarang aku akan mengantarmu pulang."
Ulan menurut dan mengikuti Niko dari belakang. Begitu mereka tiba di parkiran mobil, Ulan berhenti tepat di pintu samping. Ia berdiri dalam diam, membuat Niko penasaran dan menatapnya.
"Ada apa?"
Bukannya menjawab, Ulan berlari ke arah Niko dan memeluknya.
"Aku tidak mau pulang ke rumah dengan keadaan begini, papa pasti akan marah."
Niko tak peduli. Ia melepaskan tubuh Ulan dengan jijik kemudian membuka pintu kemudi. Ia masuk dan membiarkan Ulan berdiri di luar.
Hati Ulan terasa sakit, tapi ia tak punya pilihan selain masuk dan duduk bangku penumpang.
Di sisi lain.
Di sebuah restoran terkenal di kota Manado, Wulan sedang bersama teman-teman kantornya yang baru. Atasannya sengaja mengadakan makan malam itu untuk membuat Wulan bisa beradaptasi dengan mereka. Mereka semua sangat baik kepada Wulan dan Wulan sangat menyukai mereka.
Rasa tidak nyaman menyerang Wulan."Maaf, aku ke toilet sebentar."
Rasa buang air tiba-tiba melandanya akibat mengkonsumsi makanan yang terlalu pedas.
Sang atasan yang melihat ekspresi Wulan pun mendadak khawatir. "Kamu baik-baik saja, Lan?"
"Iya Pak, saya baik-baik saja."
Wulan pun pamit meninggalkan mereka. Saat hendak masuk ke dalam toilet, bunyi notifikasi masuk ke ponselnya.
"Mungkin itu Niko."
Seperti janjinya, tadi Wulan mengirim foto begitu ia tiba di restoran itu kepada Niko. Mungkin itu balasan Niko, karena setelah mengirim foto Wulan tak mendapatkan balasan apa-apa.
Wulan mengabaikan pemberitahuan itu sampai perutnya terasa nyaman. Ia membersihkan diri kemudian mencuci tangan.
Ting! Ting!
Bunyi notifikasi berkali-kali membuatnya penasaran. Tak mau sang pacar marah, Wulan mengeringkan tangannya kemudian melihat pemberitahuan tersebut.
Wajah Wulan seketika berubah saat melihat pemberitahuan dari nomor yang tidak di kenal.
"Nomor siapa ini?"
Karena ponselnya rusak, Wulan hanya menyimpan nomor Angelina, Niko dan beberapa teman kantornya. Ia yakin, pasti salah satu dari mereka yang memberi kontak barunya itu kepada orang itu.
Wulan pun membuka file yang dikirimkan orang itu. Dan ... wajah Wulan berubah ketika melihat beberapa foto yang hampir sama yang baru saja dikirimkan oleh orang itu.
"Niko memeluk wanita ... Siapa wanita ini?"
Bersambung___