
Gloriana sengaja membesarkan suara ponsel, agar Wulan mendengarnya.
Niko berkata, "Apa reaksinya? Seharusnya kamu tidak ke sana, aku takut dia melukaimu."
"Dia tidak akan berani. Kamu tenang saja."
"Aku ke sana sekarang, aku takut dia menyerangmu."
Gloriana tersenyum licik. "Mungkin lebih baik begitu, biar istrimu lebih percaya."
Wulan menangis tanpa suara. Airmatanya tak bisa tertahankan lagi. Harga diri yang dipertahankan di depan Gloriana akhirnya runtuh akibat Rasa sakit dan kecewa.
Perasaan Gloriana berubah. Rasa ingin memiliki Niko tiba-tiba hilang melihat Wulan menangis. Ya Tuhan, maafkan aku, aku sudah menyakiti wanita sesabar dan sebaik Wulan. Seandainya Wulan di posisiku, mungkin aku sudah melabraknya tanpa ampun.
"Dasar pelakor!" pekik Inem yang tiba-tiba muncul dengan sapu tangan. Sejak tadi ia bersembunyi untuk mendengar pembicaraan mereka. Ia tak tahan lagi mendengar pengakuan Gloriana, "Pergi kau dari sini! Berani-beraninya kau membuat nyonyaku menangis."
Gloriana tak peduli. Ia terus duduk menatap Wulan yang masih menangis. Ia pernah merasakan hal yang sama dengan Wulan, disakiti. Namun, sikap tenang Wulan jauh di luar pikirannya. Ia menganggap Wulan akan histeris dan melabraknya. Tapi, ternyata tidak.
"Nyonya, jangan ladeni dia. Ayo, kita ke dalam saja."
Inem memberikan sapu tangan kepada Wulan.
Wulan menerimanya.
"Pergi kau dari sini! Tidak seharusnya kau berada di sini!" Inem menatap Wulan, "Nyonya, ayo bicara. Kenapa Nyonya diam saja? Dia sudah menyakiti Nyonya."
Wulan menggeleng. "Niko akan ke sini, aku ingin mendengar langsung dari Niko, Inem."
Gloriana meledek Inem.
Inem hanya bisa diam dan melihat kepedihan yang dirasakan Wulan. Meskipun tak sehisteris yang biasa terlihat dilayar kaya ketika istri mengamuk saat suaminya selingkuh, tangis dan eskpresi Wulan cukup mewakilkan kekecewaan dan luka yang mendalam.
Niko muncul dengan setelan yang sama tadi pagi. Wajahnya datar ketika memasuki ruangan. Ia sengaja memasang raut seperti itu untuk meyakinkan Wulan.
"Ayo, pergi," katanya kepada Gloriana, "Seharusnya kau tidak usah ke sini."
Niko tak berani menatap Wulan. Ia takut menyamarannya akan terbongkar, melihat tangis Wulan yang menyayat hati.
Inem panas. "Tuan, apa benar wanita itu pacarnya Tuan? Apa benar dia hamil anaknya Tuan?"
"Jangan ikut campur, Inem. Urus saja pekerjaanmu sendiri."
"Tapi nyonya Wulan____"
"Tidak, Inem," cegah Wulan, membuat Inem terdiam, "Pergilah ke dapur."
Inem menurut dengan emosi membara.
Niko berdiri duduk di sebelah Gloriana. Dengan ekspresi dan hati dibuat-buat ia menatap Wulan.
"Mungkin Gloriana sudah mengatakannya padamu soal kehamilannya."
Wulan menarik napas sesaat, menstabilkan perasaan kemudian menatap Niko. "Kenapa kau tega melakukan ini? Apa salahku, Niko? Gloriana bilang kalian sudah lama mejalin hubungan. Kalau benar begitu, untuk apa kau menikahiku, untuk apa kau memintaku untuk menjadi istrimu?"
Niko membuang muka, tak tahan melihat wajah Wulan.
"Kau tuli, ya?" Hardik Gloriana, "Bukankah tadi sudah kubilang, Niko tidak pernah puas denganmu."
Niko terkejut mendengar itu, ia tak menyangka Gloriana akan menggunakan kepuasan sebagai alasannya. Namun, karena ia sendiri yang meminta wanita itu, sebagai tersangka Niko hanya bisa menunduk dengan rasa bersalah yang tinggi. Ia tak tega melihat Wulan. Kata-kata Gloriana sangat menyakitkan.
Gloriana berdeham. "Karena aku sedang mengandung anak suamiku, mau tidak mau kau harus berbagi denganku. Kamu tidak masalah kan kalau Niko menikahiku?"
Hati Wulan kecewa. Rasa kecewa yang dirasakan membuatnya mati rasa. Air mata bahkan tak bisa mewakilkan saking kecewanya terhadap Niko.
"Kau ingin menikahinya, Niko?"
Niko menatapnya. "Bukankah kamu belum ingin punya anak?"
Wulan menyeka air matanya. "Seandainya aku ingin pun kau tidak bisa mengabaikannya, kan?"
"Itu pasti, aku sudah menghamilinya. Sudah seharusnya aku bertanggung jawab."
Wulan berdiri. "Kalau itu yang kalian inginkan, silahkan."
Niko terkejut. "Kau mengijinkan aku menikahinya?"
"Itu yang kau mau, kan?" Wulan kembali menangis.
Niko terdiam.
"Kau tahu, Niko ...," ucapnya pelan, "seandainya bisa diulang, aku tidak akan mau menikah denganmu."
Niko berdiri, menghadap Wulan. "Kamu tidak usah khawatir, aku tidak akan menceraikanmu."
Niko berdeham. "Malam ini aku akan menginap di tempat Gloriana. Tidurlah, besok pagi aku akan ke sini."
Tanpa menunggu jawaban Niko mengajak Gloriana keluar.
Wulan histeris. "Kenapa harus aku, Tuhan? Kenapa harus aku yang menimpa ini?"
Inem keluar dan ikut menangis. "Nyonya, kenapa Nyonya diam saja? Kenapa Nyonya tidak melawan dan menyerang wanita itu? Mereka sudah menyakiti Nyonya. Seharunya Nyonya tidak boleh membiarkan mereka."
"Tidak, Inem. Kamu sendiri sudah mendengarnya, kan? Mereka sudah lama menjalin hubungan. Mereka sudah melakukannya sebelum kami menikah."
Inem marah. "Kenapa Nyonya diam saja, harusnya Nyonya jujur soal kehamilan Nyonya. Harusnya tuan Niko juga mesti tahu kalau Nyonya Wulan sedang hamil."
"Tidak, Inem," Wulan berhenti menangis, "yang dicari Niko bukan anak. Dia pasti tidak akan peduli jika tahu aku hamil."
"Itu tidak mungkin, Nyonya. Tuan Niko sangat mencintai Nyonya."
Wulan menggeleng dalam tangis. "Dia tidak mencintaku, Inem. Niko tidak pernah mencintaiku."
Seketika tangis Wulan terhenti. Ia menatap jam dinding kemudian beranjak dari sana.
"Kau bisa membantuku, Inem?"
"Bisa Nyonya. Apa yang harus kulakukan?"
"Kemasi barang-barangku."
Inem terkejut. "Barang-barang apa Nyonya?"
"Pakaian dan perlengkapan, aku akan ke luar kota untuk sementara waktu."
"Kapan, Nyonya?"
"Sekarang."
"Sekarang?" Inem kaget, "Ini sudah malam, Nyonya. Nyonya sedang hamil. Kalau terjadi sesuatu, bagaimana?"
"Lakukan saja yang kuperintahkan, Inem."
"Ba-baik, Nyonya."
Di sisi lain.
Karena mereka menggunakan mobil masing-masing, Niko dan Gloriana melajukan mobil menuju restoran terdekat untuk berbincang-bincang.
Sebagai orang yang menugaskan Gloriana, Niko mentraktir wanita itu makan malam sebagai kompensasi.
"Aku tak menyangka kau akan menggunakan kepuasan untuk menyerangnya."
"Itu serangan yang ampuh."
Saat ini mereka sudah duduk di dalam restoran. Gloriana sedang asik memilih menu, sedangkan Niko terlihat gelisah karena pikiran yang dipenuhi tentang Wulan.
"Dia sangat kecewa padaku. Dia pasti tidak akan memaafkanku."
Gloriana tersenyum haru. "Dia wanita yang kuat, Niko. Beruntung kau mendapatkan istri sepertinya. Bersyukur dia tidak melabrakku dan minta cerai darimu."
"Bercerai tidak mungkin terjadi, aku tidak akan pernah melepaskannya."
Gloriana bisa melihat ekspresi Niko. "Kau terlihat sangat takut. Wajahmu pucat."
"Aku benar-benar takut, Gloriana. Aku takut dia tidak akan memaafkanku."
Gloriana terkekeh. "Bukankah besok kita akan menemui dan mengakui kebenarannya? Dia pasti akan memaafkanmu kalau kita jujur soal rekayasa ini."
"Iya. Tapi, tetap saja aku khawatir. Aku benar-benar khawatir," Niko menggigit bibir, "Apa menurutmu aku sudah kejam padanya?"
"Bukan hanya kejam lagi, tapi sangat kejam. Baru sekarang aku melihat ada suami gila sepertimu."
Niko gemetar. "Jujur aku menyesal melakukan ini. Aku benar-benar menyesal."
Gloriana selesai memilih. "Kau tidak makan?"
"Tidak, aku tidak lapar."
"Percayalah, besok semua akan kembali normal. Besok ulang tahunnya, kan?"
Niko mengangguk.
"Aku sarankan, sebelum matahari muncul sebaiknya kamu sudah pulang. Beri dia kejutan dan minta maaf padanya. Katakan yang sebenarnya. Kalau dia tulus mencintaimu, dia pasti akan percaya. Tapi, jika tidak ... telpon aku dan aku akan membantumu mengembalikan kepercayaannya."
Bersambung____