Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Wulan Hilang.


Di dalam ruangan ber AC sosok Niko sedang mondar-mandir di dekat jendela sambil menelepon. Ia mendapat kabar dari Angelina, bahwa Wulan akan tiba di bandara Jakarta pukul tiga sore. Sekarang sudah pukul empat sore, tapi Wulan dikabarkan belum juga tiba.


"Mama yakin pesawatnya landing jam tiga?"


"Iya, Nak. Mama juga salah, harusnya jam tiga lebih mama hubungi dia. Sadar sudah satu jam tidak ada kabar darinya, mama menghubungi Wulan, tapi nomornya tidak aktif."


"Mama tenang, ya. Aku akan mengecek ke bandara dulu."


Angelina menangis. "Mama khawatir, Nak. Mama takut insiden kemarin akan terjadi lagi."


"Jangan berpikir begitu Mama, Jefry sudah tidak ada, tidak ada lagi yang bisa memisahkan aku dengan Wulan."


"Tetap saja mama khawatir, mama tidak akan tenang selama Ulan masih hidup."


"Mama tenang saja, itu tidak akan terjadi."


***


Dengan pakaian biasa dan terlihat sedih Ulan duduk di sebuah restoran terbuka yang berada di tengah kota. Di posisi itu Ulan duduk sendiri sambil melamun. Di hadapannya sudah tersedia makan dan minum yang belum disentuh sama sekali.


Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu, setiap orang yang melihatnya tampak bingung dan penasaran. Beberapa dari mereka bahkan hendak menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Namun, keinginan itu terhenti ketika wanita cantik berpakaian rapi muncul dan duduk di depannya.


"Sudah lama?"


Suara di depannya membuat Ulan menoleh. Matanya sayu dan bengkak. "Viona."


Melihat wanita di depannya membuat Viona perihatin. Kehilangan sosok ayah pasti sangat menyakitkan. Terlebih ibu yang sekarang menjadi harapan satu-satunya sudah tak lagi memperdulikannya, jelas hal itu membuat seorang seperti Ulan merasa sangat kehilangan.


Viona senang wanita di depannya masih hidup dan tidak mengakhiri hidupnya karena frustasi. Ia juga bersyukur Deril dan tante Angelina tidak menghukum Ulan.


Walaupun Jefry sudah membuat ia kehilangan calon ayah mertuanya, Viona menganggap apa yang terjadi itu adalah cara terbaik Tuhan untuknya.


Seandainya tidak betemu Ulan, mungkin Viona tidak akan tahu kalau pria yang dicintainya ternyata didekatkan oleh ayahnya sendiri dengan wanita lain, wanita yang ternyata orang yang paling dicintai oleh mantan kekasihnya.


Mengingat sikap Ulan yang ingin merebut Niko dari Wulan tiba-tiba membuatnya marah. Ia menatap Ulan dengan ekspresi kesal.


"Ada apa, cepat katakan, aku sibuk?"


Ulan berakting. Ia menangis dengan ekspresi menyedihkan. "Aku ingin minta maaf padamu. Aku benar-benar menyesal, Viona. Aku___"


"Bukankah sudah kubilang, aku memaafkanmu asalkan kau jangan ganggu kehidupanku lagi."


"Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Viona. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain mama dan kak Wulan. Mereka sudah tidak percaya lagi padaku. Yang tersisa sekarang adalah kamu, hanya kamu satu-satunya orang yang bisa percaya padaku, Viona. Kumohon, jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku lagi."


Viona mencegah Ulan ketika wanita itu hendak mendekatinya. "Menjauh dan duduk di tempatmu," Viona menarik napas, menstabilkan emosinya, "Kau wanita yang tidak punya hati, Ulan. Wulan itu siapa? Aku saja yang bukan siapa-siapa jelas tidak ingin pacarku direbut orang lain, apalagi dia. Sekarang kau sendiri menyesal, bukan?"


Ulan jengkel. "Kenapa sekarang kau menyalahkanku? Kenapa kau tidak bilang itu sebelum kau terima uang dari papaku? Setelah menikmati uang dari papaku kau berkata begitu? Kau yang tidak punya hati, Viona!"


Suara Ulan membuat orang sekeliling menatap mereka.


Viona tidak nyaman ditatap oleh sekeliling orang. "Pelankan suaramu, Ulan."


Ulan semakin menjadi. Ia berdiri dan berteriak di depan Viona, "Diam katamu?! Kau wanita jahat! Wanita tidak tahu terima kasih! Kau sudah menikmati dua puluh miliar dari papaku dan sekarang kau mengabaikan anaknya!"


Viona berdiri dan menantang Ulan. "Hati-hati dengan ucapanmu, ya? Niko dan mama tirimu mungkin tidak bisa mencobloskanmu ke penjara, tapi aku bisa melakukan apa saja terhadapmu, termasuk membunuhmu."


Tanpa menunggu jawaban Ulan, Viona berbalik meninggalkan wanita itu.


Ulan tak terima. Ia mengambil sesuatu dari dalam tas kemudian mengejar Viona.


"Hei, apa kalian tahu?!" teriak Ulan, membuat semua pengunjung menatap mereka, "wanita cantik itu menguras papaku dua puluh miliar! Dia berjanji akan menjagaku, tapi sekarang dia mengabaikanku."


Viona marah. Ia berbalik, tapi terkejut ketika rasa panas dan perih tiba-tiba menyerang wajahnya.


"Aaakh!"


Semua orang di sana terkejut sambil berteriak, melihat Ulan melemparkan cairan ke wajah Viona. Kejadian yang begitu tiba-tiba membuat mereka terpaku di tempat duduk.


Viona meringgis, tapi tidak berkata apa-apa. Rasa perih, panas dan sakit begitu cepat menyerang wajahnya. Ia bahkan tak bisa melihat keberadaan Ulan dan suaranya, selain suara wanita-wanita yang mendekatinya.


"Kamu tidak apa-apa? Astaga, lukamu parah. Ayo, kita ke rumah sakit. Fanny, tolong panggilkan taksi, kita harus membawanya ke rumah sakit."


"Bagaimana dengan wanita gila itu?" Fanny menatap ke arah Ulan yang sudah lari entah ke mana, "Tolong! Tolong kejar dia! Wanita itu sakit jiwa, dia baru keluar dari rumah sakit! Tolong jangan biarkan dia lolos!"


Pengunjung yang tadi hanya diam kini bergerak mendekati Viona dan Wulan yang sedang memeluknya. Mereka penasaran dan ingin tahu kondisi Viona.


Pihak restoran juga tak tinggal diam, mereka membantu Viona seperti yang diarahkan Fanny kepada mereka.


"Wanita itu lari ke sana. Kejar dia, jika kamu berhasil aku akan memberimu lima juta rupiah," kata Fanny kepada si pelayan restoran.


"Fanny, cepat panggilkan taksi!" seru Wulan, "Biarkan saja dia lari, cepat atau lambat kita akan menemukannya."


Seorang pengunjung menawarkan diri untuk mengantar mereka ke rumah sakit. Sementara di pojok restoran sosok Imenk terlihat pucat dan gemetar. Ia tak menyangka Wulan akan muncul ketika rencananya dan Ulan sudah berhasil.


"Bukannya dia di luar kota, kenapa dia tiba-tiba muncul di sini?"


***


Mendapat kabar dari bandara soal jadwal pendataran maskapai yang ditumpangi Wulan sudah sesuai jadwal dan selamat, Niko mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi menuju bandara. Ia menemui temannya yang kebetulan memiliki jabatan penting di bandara tersebut.


"Berapa pun yang kau minta akan kuberikan. Tolong, periksa penumpang yang landing jam tepat di jam tiga sore tadi."


"Kau ini bicara apa, hah? Kita sudah seperti saudara, sudah sepantasnya aku membantumu."


Saat ini Niko dan temannya berada di dalam ruangan kontrol yang terdapat hanyak CCTV bersama pihak yang bertugas.


Temannya Niko memerintahkan petugas itu untuk memperlihatkan laporan yang diminta. Ia kemudian menatap Niko dan berkata, "Kamu ingat ciri-cirinya, kan?"


Walaupun lama tidak bertemu, Niko tidak akan pernah lupa wajah dan ciri-ciri wanita yang dicintainya.


"Itu dia!" seru Niko. Ia senang melihat Wulan turun dari pesawat dengan selamat, "Kalau dia sudah tiba di sini, lantas di mana dia sekarang?"


"Apa kau sudah menghubunginya?"


"Nomornya tidak aktif sampai sekarang. Bukan hanya aku, mamanya juga tidak tahu keberadaannya sekarang."


Pria itu memerintahkan petugas untuk menunjukkan pintu keluar penumpang. "Kita lihat, apa dia dijemput seseorang atau pulang sendiri?"


Niko memperhatikan dengan seksama setiap wajah yang terpajang di layar komputer. Begitu matanya mendapatkan wajah yang diinginkan, ia sangat senang dan semakin fokus.


"Fanny ... Fanny yang menjemputnya."


"Kau mengenalnya?"


"Iya, dia temannya Wulan. Aku minta maaf sudah merepotkanmu."


"Kau ini ada-ada saja."


"Terima kasih sudah membantu. Aku sudah menyuruh Darius untuk mengirimkan uang rokok ke rekeningmu."


Mereka pun terbahak kemudian keluar dari ruangan kontrol tersebut.


Niko mengambil ponsel lalu menghubungi Fanny. Sambil berjalan ia menempelkan benda itu ke telinga, tapi tidak direspon.


"Sial."


Nomor Fanny tidak aktif.


"Ya Tuhan, ke mana mereka, ke mana Fanny membawa calon istriku Tuhan?"


Bersambung____