Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Sakit Hati.


Gloriana berbunga-bunga.


"Jangan senang dulu," tegas Niki.


Warna merah di wajah Gloriana langsung hilang seketika.


"Kau sudah membaca kontrak kerjanya, kan?"


"Sudah, Pak."


"Sesuai yang tercantum di sana, aku akan membayarmu sesuai tugasmu. Aku ingin mengerjai istriku dengan mengajakmu ke tempat-tempat tertentu. Aku ingin membuat dia emosi sebelum hari ulang tahunnya."


"Apa yang bisa aku lakukan?"


"Kau tidak perlu melakukan apa-apa, kamu hanya menemaniku di waktu-waktu tertentu, agar istriku cemburu. Kau sudah membaca konsekuensi jika melanggar, kan?"


"Sudah, Pak."


"Bagus. Besok ponselmu standbye, aku akan menghubungimu kapan pun aku mau."


Gloriana tidak menolak. Meskipun ia begitu sibuk mengurus butik-butiknya yang laku dipasarkan, ia bisa menyampingkan pekerjaan itu demi kompensasi tiga kali lipat dari penghasilan seharinya di butik.


***


Setelah membersihkan diri Ulan berniat mengatur semua barangngnya di lemari. Begitu ia membuka lemari berukuran besar itu, Ulan terkejut melihat banyak gaun dan pakaian perempuan yang tertata rapi di sana.


Ulan tersenyum kemudian mencoba hampir semua isi lemari itu. Ia senang karena semua pakaian yang disiapkan Jendry sangat pas dan sesuai seleranya.


Drtt... Drtt...


Getaran ponsel mengejutkan Ulan. Ia mendekati ranjang, meraih ponsel kemudian melihat nama Imenk sebagai pemanggil. Tak menunggu lama ia segera menyambungkan panggilan.


"Halo, Menk?"


"Kamu di mana, apa kamu baik-baik saja? Aku tadi ke dokter. Ponselku ketinggalan."


Ulan terkejut. "Kamu sakit?"


"Hanya demam biasa."


"Kenapa kamu tidak bilang padaku. Aku ke rumahmu sekarang, ya."


Sejak Imenk membantunya Ulan menjadi begitu perhatian. Seandainya tidak ada Imenk, mungkin ia sudah bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya.


"Tidak usah, keadaanku sudah membaik."


Ulan lega. "Aku ada di rumah om Jendry sekarang. Aku sudah memutuskan untuk tinggal dengannya."


"Syukurlah, kamu akan aman dengannya."


"Om Jendry baik sekali, dia sudah menyiapkan semua kebutuhanku. Kalau tahu dia membelikanku baju satu lemari, aku tidak perlu repot-repot membawa koper."


Imenk tertawa. "Aku senang kamu di sana. Oh, iya, besok aku akan kembali kerja, aku ingin mengerjai Niko lagi."


"Tidak usah buru-buru, Imenk. Kita biarkan saja dulu mereka. Aku sudah punya rencana lain untuk menghancurkan mereka semua."


Tok! Tok!


Bunyi ketukan pintu mengejutkan Ulan. Dengan tubuh yang masih mengenakan jubah mandi dan handuk terbungkus di kepala ia mendekati pintu.


"Sebentar, ada yang datang."


Clek!


"Kamu ...."


Suara Jendry terhenti ketika matanya menangkap bagian tubuh Ulan yang terpampang.


Ulan tersadar ketika tahu arah pandang Jendry. Wajahnya merah padam dan langsung membalik, mengikat kembali jubah mandi yang sempat terabaikan olehnya.


Setelah mencoba semua pakaian di dalam lemari Ulan kembali mengenakan jubah itu. Panggilan telpon membuatnya lupa mengikat jubah tebah berwarna putih itu.


Jendry berdeham. "Aku membawakanmu makanan. Kalau sudah selesai, turun dan makanlah bersamaku."


"Ba-baik, Om."


Begitu Jendry menghilang Ulan segera menutup pintu dan bernapas lega. Ia teringat panggilan ponsel.


"Imenk?!"


"Ya?"


"Ya ampun, aku malu sekali. Om Jendry baru saja melihat tubuhku. Dia ...."


Ulan tak sanggup menahan rasa malu ketika membayangkan Jendry berdiri di depan pintu, melihat bagian subur dan semaknya yang begitu lebat.


"Aku lupa mengikat jubah mandiku. Mana aku tidak memakai pakaian dalam, lagi. Ya ampun, aku begitu ceroboh. Aku malu sekali, dia pasti berpikir aku sengaja menggodanya."


"Aku dengar dia belum menikah."


"Benar."


"Tidak masalah kalau begitu."


"Kamu gila, ya? Mana mungkin dia tertarik anak ingusan sepertiku."


"Tidak ada yang muatahil di dunia ini, Ulan."


"Kamu gila," Ulan terkekeh, "Aku mau siap-siap, dia sudah menungguku di bawah."


"Manfaatkan kesempatan sebaik mungkin, Ulan. Aku rasa dia bisa membantumu membalaskan dendam kepada keluarga Wulan dan Niko."


Ulan terdiam sesaat. "Akan kupikirkan lagi."


"Ya, sudah, jangan membuatnya menunggu."


"Cepat sembuh, ya."


Setelah memutuskan ponsel Ulan segera mendekati lemari. Ia mengambil terusan bertali satu, berwarna cokelat yang panjangnya sampai di atas paha. Bagian leher yang pendek menunjukan belahan yang menggiurkan. Bahan ketatnya pun menonjolkan lekuk tubuh Ulan yang seksi.


"Maaf sudah membuat Om menunggu," kata Ulan begitu kakinya meninggalkan tangga.


Jendry tersenyum lalu berdiri. "Ayo, kamu pasti lapar, kan?"


Ulan sedikit kecewa melihat ekspresi biasa saja di wajah Jendry.


'****Apa dia tidak tertarik padaku? Aku pakaianku kurang seksi****?'


***


Ting!


Bunyi notifikasi membuat Wulan menoleh. Dilihatnya nama husband sebagai pengirim pesan itu.


'Sayang, aku ada rapat mendadak. Aku tidak bisa pulang bersamamu. Aku akan menyuruh Darius mengantarmu. Jangan marah, ya.'


Wulan tersenyum kemudian membalas, 'Tidak apa-apa. Aku bisa pulang bersama Fanny. Aku ingin mampir bersamanya makan mie ayam di warung langganan.'


Selesai mengirim itu Wulan merapikan pakaiannya, kembali ke ruangan kemudian menemui Fanny.


"Makan mie ayam, yuk!' seru Wulan.


Fanny tak menolak. "Ayo!"


"Kita berdua saja, Niko ada rapat. Dia tidak bisa menjemputku."


"Tidak masalah, aku akan mengantarmu."


Hanya memakan waktu lima menit Wulan dan Fanny tiba di lokasi mie ayam langganan mereka.


"Kita duduk di sana saja, ya."


"Oke."


Wulan sengaja mengambil posisi di dekat jendela, agar ia bisa melihat aktivitas jalan yang sangat ramai.


"Aku mie ayam komplit sama dan es jeruk nipis tanpa gula," pesan Wulan.


"Aku mie ayam komplit juga, tambah nasi ayam lalapan dan es teh manis."


Wulan terkejut. "Kamu kelaparan?"


"Tidak. Entah kenapa akhir-akhir ini nafsu makanku semakin meningkat."


"Pengaruh hormon mungkin."


Sang pelayan mengkonfirmasi pesanan Wulan dan Fanny. "Itu saja, apa ada tambahan?"


"Itu saja."


Setelah pelayan pergi Wulan menatap keluar jendela. Matanya terpaku, terfokus kepada mobil yang baru saja berhenti di depan tempat mereka makan.


"Niko," katanya pelan, "kenapa dia tidak bilang mau ke sini."


Wulan tersenyum melihat sang suami keluar dari pintu kemudi. Namun, senyum itu segera hilang ketika wanita cantik keluar dari pintu penumpang samping kemudi.


Fanny terkejut melihat Wulan. Ia mengikuti arah pandang Wulan dan melihat Niko masuk ke atap yang sama bersama wanita yang sangat cantik.


"Itu suamimu, kan? Wanita yang bersamanya itu siapa?"


Hati Wulan sakit melihat itu. Meski posisi mereka cukup jauh dari Niko dan wanita itu, Wulan bisa melihat interkasi keduanga yang cukup akrab.


"Apa ini alasan Niko tidak bisa menjemputmu?" tanya Fanny, "Aku akan menghampirinya. Aku tidak mau dia menyakiti sahabatku."


"Jangan," Wulan menahannya, "aku akan menghubunginya."


Wulan meraih ponsel kemudian menghubungi Niko.


"Apa dia tahu kita di sini?"


"Iya," jawabnya seraya menempelkan ponsel di telinga.


"Halo?" sapa Niko.


"Kamu di mana, Sayang?" Wulan melihat Niko menjauhi wanita itu.


"Aku ada di warung mie bersama klien."


"Bukankah kamu ada rapat?"


"Rapatnya setelah ini. Klien ingin makan mie ayam. Aku membawanya ke tempat mie ayam langgananmu. Kamu di mana, Sayang? Katanya tadi kamu ingin makan mie ayam?"


Wulan melihat Niko menatap sekeliling. "Aku di dalam. Kalau begitu kalian lanjutkan saja. Aku bersama Fanny di dalam."


"Kamu tidak ingin bergabung?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Aku tidak mau mengganggu waktu kerjamu."


"Kamu memang istri yang perhatian, Sayang."


Wulan hanya tersenyum. "Aku makan dulu, pesananku sudah datang."


"Iya. Kalau sudah selesai langsung pulang, ya?"


"Iya."


Wulan memutuskan panggilan dengan mata yang masih tertuju kepada mereka.


"Bagaimana, apa katanya?"


"Wanita itu kliennya. Wanita itu ingin makan mie ayam. Jadi, Niko membawanya ke sini."


Fanny dan Wulan sama-sama menatap mereka.


Zet!


Wulan dan Fanny terkejut melihat Niko berdiri, mengajak wanita itu masuk ke mobil, kemudian meninggalkan lokasi.


"Kenapa mereka pergi, bukannya mereka belum makan?"


Wulan cemburu. "Entalah. Biarkan aja. Ayo, kita makan."


"Jangan begitu. Apa kamu tidak cemburu suamimu bersama wanita lain? Kamu lihat kan interaksi mereka, mereka tertawa bersama."


"Wanita itu kliennya, Fanny."


Fanny menggeleng. "Aku tidak percaya. Buktinya mereka pergi sebelum makan. Aku rasa Niko baru sadar kalau kamu akan makan di sini. Harusnya tadi kamu tidak usah menghubunginya, biar kita bisa lihat interaksi mereka selanjutnya."


Bersambung___