
Niko dan Gloriana berada di dalam mobil. Niko sengaja mengajak Gloriana keluar untuk membicarakan rencananya.
"Kita mau ke mana?" tanya Gloriana basa-basi. Waktu nemenuinya di butik Niko tak mengatakan apa-apa selain ingin mengajaknya keluar, "Apa kita akan makan siang bersama?"
"Kamu lapar?"
"Belum. Tapi, aku belum makan siang."
Niko tak menatapnya. Tatapannya fokus ke jalan. "Kalau begitu kita bicara di mobil sambil berkeliling. Aku tidak mau istriku melihat kita, aku tidak bilang padanya akan bertemu denganmu hari ini."
"Kalau begitu untuk apa Anda mengajakku?" Gloriana sedikit jengkel. Ia mengira kedatangan Niko ke butiknya ingin mengajaknya makan siang bersama.
"Aku ingin tahu," kata Niko pelan tanpa menatapnya. Ekspresinya datar, "apa yang kau campurkan ke minumanku tadi malam?"
Gloriana menelan ludah. Ia tak menyangka Niko akan membahas soal itu.
Niko menatap tajam. "Jawab aku, Gloriana?"
"Aku pikir selama ini kamu menguji istrimu karena tidak puas dengannya. Aku menaruh cairan biru itu ke anggur untuk melihat reaksimu."
Niko berdecak. "Aku menguji dia bukan karena itu. Hanya dia wanita yang bisa membuatku bergairah."
"Alasan sebenarnya kau mengujinya untuk apa?"
"Kau tidak perlu tahu. Lagi pula apa yang kita lakukan itu ada perjanjian. Aku membayarmu dan kau menjalankan tugas dariku. Bahkan kontraknya belum berakhir, aku membayarmu sesuai kesepatakan."
"Kau sendiri yang memintanya."
"Aku tahu. Dan tujuanku sekarang ingin kau membantuku terakhir kali. Aku tidak akan membayarmu, karena semalam kau sudah menaruh obat setan itu ke minumanku."
Gloriana terkekeh. Walaupun jengkel tujuannya tak terpenuhi, ia bisa membayangkan betapa sengsaranya Niko ketika obat itu bereaksi.
"Tidak masalah, anggap saja tugas itu sebagai hukumanku."
Niko tersenyum sama.
"Katakan, apa yang harus kulakukan?"
"Aku ingin kau mendatangi Wulan dan mengakui, bahwa kau sedang mengandung anakku."
Gloriana terkejut. "Mengaku hamil?" ia tertawa, "Bru kali ini aku bertemu suami sinting sepertimu. Di dunia ini tidak ada suami seperti dirimu, Niko."
Niko tak menyangkal, ia sendiri merasa aneh dengan tindakan yang ia lakukan terhadap Wulan.
"Aku ingin tahu saja betapa tulusnya istriku itu."
Gloriana menggeleng-geleng kepala. "Kira-kira kapan aku bisa menemuinya?"
"Kamis malam kau temui Wulan di rumah. Aku akan mengirim alamatnya padamu. Di sana ada penjaga. Kalau mereka menahanmu, bilang saja ingin bertemu istriku."
"Kamis ... Kenapa tidak hari ini saja? Lebih cepat terjadi kan lebih bagus, daripada menunggu dua hari lagi."
"Jumat besok ulang tahunya."
"Kalau dia tidak memaafkanmu, bagaimana?"
"Jumat pagi kita berdua akan menemuinya, memberi selamat dan mengakui, kalau semua ini hanya rekayasa."
Gloriana setuju saja. Melihat sikap Niko yang menguji Wulan membuatnya tak perlu bekerja keras lagi untuk mendapatkan pria itu. Wulan pasti akan marah dan besar kemungkinan akan meninggalkan Niko.
"Aku akan membuat Wulan menangis," katanya dalam hati, "Aku akan membuat Wulan meninggalkan Niko."
"Aku akan mengantarmu ke butik sekarang," ucap Niko.
Gloriana terkejut. "Oke."
Drtt... Drtt...
Panggilan masuk di ponsel Niko membuatnya menoleh. Dilihatnya benda di depan indikator itu terpampang tulisan istriku.
"Jangan bicara dulu," katanya pada Gloriana, "Istriku menelpon."
Gloriana setuju saja. Dalam hati ia sudah merencanakan sesuatu jika Wulan meninggalkan Niko.
"Istrinya pasti akan marah dan meninggalkannya. Niko pasti akan datang padaku dan menyesali perbuatannya," pikirnya sambil tersenyum samar, "Itulah kesempatanku menggoda Niko. Aku akan memasukan obat seperti semalan, agar dia tidur denganku. Aku akan membuatnya menyentuhku."
"Halo, Sayang?"
Suara Niko membuyarkan pikiran Gloriana. Ia menatap keluar jendela, tapi telinga dan pikirannya fokus mendengar.
"Di jalan bersama klien," pandangan Niko lurus ke depan, "Laki-laki, Sayang."
Gloriana menahan tawa. Ia tak menyangka pria sebucin Niko bisa berbohong juga.
"Tidak masalah, uangku tidak akan habis. Lagi pula uangku uangmu juga."
"Tentu saja, Sayang. Kamu jangan khawatir, aku pasti akan menemanimu."
Lagi-lagi Gloriana menatapnya. Ekspresi datar Niko hilang semenjak pria itu menerima panggilan Wulan.
"Hati-hati, Sayang."
Setelah memutuskan panggilan Niko melirik Gloriana. "Terima kasih, ya."
Wanita itu pura-pura terkejut. "Terima kasih untuk apa?"
"Karena obatmu semalam aku menerkam istriku sampai pagi."
Gloriana tertawa. "Harusnya kamu bersyukur kalau begitu."
Niko balas tertawa.
Gloriana mendapat ide. "Bagaimana kalau malam ini kau tunjukkan tanda-tanda ke istrimu?"
"Tanda-tanda?" Niko bingung, "Tanda-tanda apa maksudmu?"
"Aku akan menghubungimu dan menyuruhmu datang ke apartemen. Kau cukup berkata jujur saja, setelah itu terserah padamu. Agar supaya besok pas aku menemuinya dia lebih yakin, kalau ternyata benar kita menjalin hubungan."
Niko berpikir. "Ide bagus. Nanti malam aku akan menghadiri pesta bersamanya. Kau boleh menghubungiku sekitar pukul delapan atau sembilan malam."
"Oke."
Di sisi lain.
"Apa katanya?" tanya Fanny tak sabar, "Apa dia marah?"
"Dia bilang, uangnya uangku juga."
Fanny tertawa. "Jelas, kan kamu istrinya."
Saat ini mereka baru saja keluar butik menuju restoran di dekat situ. Begitu masuk dan mendapatkan tempat duduk, Wulan menceritakan percakapannya kepada Fanny.
"Dia berbohong, Fan."
Suara pelan Wulan membuat Fanny terkejut. Dilihatnya ekspresi Wulan begitu sedih.
"Bohong kenapa?"
"Dia bilang kliennya laki-laki."
Fanny bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Wulan. "Aku bukan ingin memprovokasimu. Tapi, ada baiknya kamu sediliki kebenarannya."
"Aku hanya tidak mau melihat apa yang tidak ingin kulihat, Fann. Rasanya pasti sakit."
"Setidaknya kamu bisa melampiaskan emosimu kepada mereka."
Mata Wulan berair. "Dari interkasi mereka tempo hari sudah cukup bukti buatku. Tidak mungkin hanya rekan bisnis mereka bisa sedekat itu."
Fanny diam.
Air mata Wulan menetes. "Mungkin dulu aku masih bisa menahan rasa sakit melihat mereka. Sekarang ... Bertemu diam-diam dan berbohong padaku membuatku kecewa. Aku kecewa pada Niko, Fann."
Fanny ikut menangis melihat Wulan. Sebagai teman saja ia tak suka melihat interkasi Niko dengan wanita lain, apalagi Wulan yang adalah istri sendiri.
"Kamu tidak boleh banyak pikiran, ya?" katanya pelan, "Ingat saja bayimu."
"Apa salahku, Fan? Aku salah apa? Kenapa Niko tega menduakanku? Kenapa dia melakukan ini setelah ada bayi dalam perutku? Kalau memang dia tidak mencintaiku, seharusnya dia tidak usah menikahiku."
Fanny menyodorkan tisu kepada Wulan. "Kita bicarakan nanti, orang-orang melihat kita."
Rasa sakit di dada Wulan tak tertahankan. Ia terus menangis dan melampiaskan rasa kecewanya terhadap Niko.
***
Dalam perjalanan menuju rumah Niko tampak gelisah. Sejak tadi ia menghubungi kontak Wulan tapi tidak selalu ditolak. Niko bingung apa yang menyebabkan Wulan menolak panggilannya, terakhir kali mereka bicara keadaan Wulan baik-baik saja.
Dengan kecepatan tinggi Niko akhirnya tiba di rumah. Jantungnya semakin berdetak, melihat mobil sang istri tidak ada di garasi.
"Selamat malam, Tuan," sapa Inem begitu Niko memasuki rumah.
"Di mana Wulan?" ekspresinya khawatir, "Apa dia sudah pulang?"
Melihat ekspresi Niko membuat Inem ikut khawatir. "Nyonya belum pulang, Tuan. Kalau tidak salah, nyonya pergi jam dua belas siang."
"Ya, Tuhan, kamu di mana sih sayang? Kenapa panggilanku ditolak?"
Bersambung____