
Wulan terkejut. 'Kenapa Niko tahu? Fanny ... pasti Fanny yang memberitahukannya. Awas kamu Fanny.'
Niko terus menatap, menunggu jawaban.
Ekspresi Wulan tersenyum lebar. "Tidak masalah. Asalkan orang itu seiman denganku, aku akan menerima apa pun kondisinya."
"Kamu tidak keberatan, meskipun tidak mengenalnya begitu dekat? Bukankah sebelum menikah kita harus mengenal satu sama lain?"
"Rumah tangga itu seperti pengusaha, berhasil belum tentu sukses."
Alis Niko berkerut. "Maksudnya?"
"Ketika pengusaha berhasil membuat usaha, itu bukan berarti dia sudah sukses, dia harus bertanggung jawab atas usahanya. Harus punya modal dan inisiatif, agar omsetnya naik. Kalau dia tidak bertanggung jawab dan memahami selera pasar, lama kelamaan omsetnya turun dan perusahannya akan bangkrut. Begitu juga rumah tangga, ketika kita menikah dengan orang yang kita suka, bukan berarti kita sudah menang. Banyak yang beranggapan, kalau kita sudah menjadi istri atau suami, berarti kita sudah menang dari mantan-mantannya.
"Jangan salah ... meskipun berstatus sah, kalau kita tidak bertanggung jawab terhadap pasangan, tidak memahami pasangan kita, lama kelamaan pasangan itu akan bosan dan meninggalkan kita. Jadi, sebagai perempuan aku harus menebalkan kesabaran jika tiba-tiba ada yang melamarku," Wulan tersenyum, "Setiap laki-laki punya tanggung jawab besar terhadap wanita yang dinikahinya, dan setiap perempuan juga punya tanggung jawab untuk menyenangkan pasangannya."
Niko terkesima dengan deklarasinya. Analogi yang dieksplikasikan Wulan benar-benar di luar pemikiran.
Pada dasarnya semua manusia diskriminatif. Jangankan pada orang lain, pada diri sendiri pun kita sangat diskriminasi. Semua orang tahu tentang itu, tapi tidak semua orang menyadarinya.
"Kamu wanita yang luar biasa. Beruntung sekali pria yang menjadi suamimu. Aku berharap Tuhan akan mengabulkan doaku. Menjadi suamimu adalah impianku, Wulan."
Wulan terkekeh. "Kamu ini ada-ada saja."
Walaupun ucapan Niko terkesan bercanda, Wulan senang mendengar kata-kata itu. Ia sudah menyukai Niko sejak pertama kali dirinya menolong pria itu.
Meski belum tahu sikap Niko seperti apa, Wulan merasa ia ingin sehidup semati dengan pria itu.
Sebagai wanita yang terlahir dari keluarga kaya, Wulan bisa menebak latar belakang Niko melalui penampilan, mobil dan keberadaan Brian. Ia yakin, orangtuanya pasti akan setuju jika Niko benar-benar ingin melamarnya.
Meskipun bukan karena materi ia menyukai Niko, setidaknya dari latar belakang Niko sudah masuk kualifikasi sebagai menantu ibu dan ayahnya.
"Kamu sendiri?" tanya Wulan. Baginya mustahil pria setampan Niko tidak memiliki pasangan. Pria seperti Niko pasti sangat selektif dalam hal itu, "Pacarmu di mana?"
"Aku tidak punya pacar."
"Pembohong."
Mereka berdua tertawa.
"Aku serius," Niko jujur, "Selama ini banyak wanita yang aku tiduri, tidak ada satu dari mereka yang bertahan denganku. Bagiku mereka hanya menginginkan uang dan kepuasan saja."
Wulan diam. Ia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Wulan.
Tak kau wanita di depannya salah mengartikan kata-katanya, Niko segera berkata, "Itu dulu. Kamu tahu kan pria? Satu wanita saja tidak cukup."
"Tidak semua pria. Semua itu ada alasannya."
"Kamu benar. Apalagi usiaku sekarang tidak muda lagi. Sudah saatnya aku meninggalkan masa lalu dan membangun masa depan."
"Boleh aku bertanya?"
"Tentu."
Wulan penasaran dan ingin tahu. Kalau benar ucapan Niko tadi serius, pria itu pasti akan berkata jujur soal kriteria yang ditanyakan Wulan.
"Kriteria seperti apa yang kamu inginkan?"
"Sepertimu."
Wajah Wulan merah seketika. Ekspresi serius di wajah Niko bukanlah main-main. Namun, ia terus bersikap santai, seolah-olah itu hanya percakapan biasa.
"Itu tidak penting, cocok dan nyaman sudah cukup."
Wulan tertawa. "Bagaimana kamu merasa cocok, sedangkan kamu sendiri belum berpacaran dengannya?"
"Cocok atau tidak bukan dari hal-hal yang sama."
"Kamu tahu, pacaran itu seperti pekerjaan, sifatnya sementara. Seperti yang aku jelaskan tadi, rumah tangga itu seperti pengusaha. Sebelum kita membangun usaha, kita harus mengumpulkan modal terlebih dahulu melalui pekerjaan, baru kita bisa membangun sebuah usaha. Begitu juga pernikahan. Sebelum kita membangun rumah tangga, sebaiknya kita melalui proses pacaran untuk memahami satu sama lain."
Niko tersenyum.
"Coba lihat orang bule," kata Wulan dengan senyum manisnya, "intensitas hubungan mereka jangka panjang. Mereka konsisten dalam berkomitmen. Tidak seperti pria lokal pada umumnya. Hari ini berkomitmen akan setia sampai mati, besoknya langsung beralih ke wanita lain."
"Kau menyinggungku?"
Wulan tertawa. "Itu benar, kan? Laki-laki selalu berkata, 'jalani saja dulu,' padahal sebenarnya mereka tidak tahu jalan."
"Kunci langgengnya hubungan bukan karena uang yang banyak, komunikasi yang baik, atau fantasi yang liar. Kita harus memahami terlebih dahulu sebelum menunut dipahami.
"Seperti analogimu tadi, pacaran dan pekerjaan sifatnya sementara. Itu benar. Ketika kita bekerja, berarti kita harus bertanggung jawab agar tidak kehilangan pekerjaan. Ketika kita nyaman dengan pekerjaan tersebut, tanpa kita sadari hal itu menimbulkan intergritas dan dedikasi yang menarik perhatian atasan kita. Alhasil, jabatan kita naik, gaji kita pun naik.
"Begitu juga berpacaran. Ketika kita menjalin hubungan dengan orang yang kita suka, kita harus bertanggung jawab agar pasangan kita tidak berpaling. Ketika kita keasikan memberikan kenyamanan, tanpa kita sadari pasangan itu akan timbal balik kepada kita. Alhasil, dia tidak ingin kita meninggalkannya, dia mau hidup semati bersama kita, bahkan rela mati demi kita.
"Seperti yang kamu bilang tadi, rumah tangga seperti pengusaha. Pekerja butuh modal dan inisiatif untuk menjadi pengusaha. Begitu juga dengan pacaran, butuh respek sebelum membangun rumah tangga. Jadi, tanpa berpacaran pun aku sudah tahu apa yang membuat istriku bahagia di masa mendatang. Cukup dia menyukaiku, aku akan membuatnya bahagia."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Seek to understand than to be understood."
Wulan menggigit bibir bawahnya. Ia gemas mendengar jawaban Niko. Tidak semua pria punya pikiran seperti itu. Namun, satu hal yang masih membuatnya tak percaya, kenapa Niko menginginkannya?
"Bisa aku tahu alasanmu ingin memperistri wanita itu?"
"Ketulusannya."
"Ketulusan?"
"Selama ini aku tidak menemukan wanita setulus dia. Tidak ada satu wanita yang mau mengorbankan jutaan rupiahnya pada orang yang tidak dikenalnya."
Wajah Wulan merah padam. Entah kenapa ia merasa kata-kata Niko bagaikan panah asmara yang mengenai sasaran.
"Dunia ini luas. Mungkin kamu belum menemukan, di luar sana banyak wanita yang lebih tulus darinya."
"Kata-katamu ada benarnya. Tapi seseorang akan berhasil, jika dia fokus pada satu tujuan. Percuma tujuannya banyak, kalau dia tidak menyelesaikan salah satu dari tujuannya."
"Kalau begitu kamu harus banyak berdoa. Semoga harapanmu berhasil."
"Aku sangat yakin."
***
Setelah makan siang mereka usai, Niko mengantar Wulan pulang ke rumahnya.
"Terima kasih sudah menemaniku," kata Niko saat mobilnya berhenti di depan gerbang rumah Wulan.
"Terima kasih juga sudah mengajakku makan siang dan mengantarku pulang."
"Itu tidak sebanding dengan ketulusanmu."
Bersambung____