
Handoko tak mencegahnya. Ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Halo, Bos?" sapa seseorang di balik telepon.
"Putraku baru saja pergi. Mulai sekarang aku ingin kalian mengawasinya. Aku tidak ingin dia terluka."
"Siap, Bos."
Handoko memutuskan panggilan kemudian menatap Brian. Dilihatnya lelaki itu membawa nampan berisi secangkir kopi yang masih mengepulkan asap.
"Niko sudah pergi. Kopi ini untukku saja."
Sambil menyesap Handoko berharap masalah itu akan cepat terselesaikan sebelum pernikahan Niko dan Ulan terlaksana.
Ting!
Bunyi notifikasi membuat Handoko menoleh. Ia melepaskan cangkir, meraih benda pipih itu, kemudian memeriksa pesan yang masuk.
Senyum Handoko terbentuk saat melihat nama Wulan sebagai pengirim pesan tersebut. Namun, senyum itu lenyap seketika saat matanya membaca isi pesan di layar ponsel.
'Kacap di rumah sakit. Menurut informasi beliau sekarang koma. Apa mungkin itu perbuatan papa Jefry karena keinginannya melenyapkanku tidak berhasil?'
Handoko mendapat pencerahan. Dengan cepat ia berdiri dan menghubungi seseorang. "Cari tahu di rumah sakit mana Robby Lamber di rawat. Pantau terus keadaannya dan jangan sampai mereka mencurigai kalian."
"Siap, Bos."
Handoko memutuskan panggilan. "Tuhan, sembuhkan kepala bank itu. Aku ingin dia selamat dan menjadi saksi atas kejahatan yang dilakulan Jefry."
***
"Ini belum pagi, Ulan. Bukankah papamu tidak keberatan jam pulangmu ketika matahari terbit?"
Ulan terkekeh. "Sebentar lagi aku akan menikah, aku harus membiasakan diri untuk menjauhi tempat ini. Aku ingin menjadi wanita baik-baik, agar Niko bisa mencintaiku."
"Selama Wulan masih ada di dunia ini dia tidak akan bisa mencintaimu, Ulan."
"Kata siapa, cinta akan tumbuh seiringnya waktu. Mana mungkin Niko tidak akan mencintaiku kalau aku sudah memberikan yang terbaik untuknya."
"Terbaik?" tanya Viona dengan nada meledek, "Hal terbaik apa yang akan kau berikan padanya?"
"Cinta. Niko pasti akan jatuh cinta kalau dia melihat cintaku begitu tulus padanya."
Viona terbahak.
Ulan berdiri, menarik tas, mengaitkannya di bahu kemudian pergi meninggalkan Viona. Ia kesal Viona seolah-olah meremehkannya.
"Lihat saja nanti, setelah aku dan Niko menikah, aku tidak akan mengijikan dia mendekatimu lagi. Aku juga tidak akan menjalin pertemanan dengan wanita nakal sepertimu lagi Viona."
Dengan emosi Ulan masuk ke dalam mobil dan meninggalkan club malam ini.
Darius membelokan mobilnya di club yang sama. Ia memarkirkan mobil kemudian menatap Niko dari kaca spion, seolah-olah menunggu perintah.
Sayangnya Niko tak berkata apa-apa dan langsung keluar dari mobil. Niko memasuki kelab malam dengan emosi meluap-luap.
Darius mengekor sambil menghubungi beberapa orang melalui ponsel. "Suruh yang lain ke kelab milik Petrix, akan ada kekacauan malam ini."
"Siap, Bos."
Darius masuk ke dalam. Begitu matanya menatap ke arah VIP, ia menemukan Niko sedang menjambak rambut seorang wanita. Darius khawatir dan langsung meminta pelayan untuk memanggil Petrix.
"Suruh bosmu keluar, bilang padanya Niko ada di sini."
Suara berat Darius membuat sang pelayan takut. "Baik, Pak."
Suasana begitu ramai. Orang-orang juga terlihat begitu mabuk, sehingga mereka tidak memperhatikan apa yang terjadi di bangku VIP, ditambah penerangan yang begitu minim.
"Katakan, apa yang kau dan Ulan berikan pada Wulan, hah?"
Viona menangis. "Kumohon lepaskan aku, Niko. Kepalaku sakit sekali."
"Kau pikir Wulan tidak sakit hati saat kau dan Ulan mengirimkan foto kepadanya, hah?"
"Itu bukan ideku, itu idenya Ulan."
Niko semakin mengeratkan kepalannya di rambut Viona.
Viona kesakitan. "Tolong lepaskan tanganmu, Niko. Jauhkan tangamu dari rambutku."
Bukannya menurut, Niko menarik kepala Viona semakin dalam.
"Aakh! Niko sakit! Kumohon lepaskan tanganmu, Niko. Aku akan membuatmu menyesal telah melakukan ini padaku."
Wajah Viona menghadap langit. Sakit yang ia rasakan di leher dan rambut membuat alkohol dalam tubuhnya seketika hilang.
Kali ini Viona merasa rambutnya sudah tak berada pada tempatnya. Rasa sakit semakin terasa ketika Niko melingkarkan rambut panjangnya ke tangan pria itu.
"Katakan, apa benar Jefry memberikanmu dua puluh miliar untuk menjebakku?"
"I-iya. Tapi aku belum melakukan apa-apa padamu, kan?"
"Kau memang belum melakukan apa-apa, tapi kau dan Ulan sudah menyakiti Wulan. Kau tahu apa akibatnya membuatnya sakit?"
Viona berusaha menggeleng meski rasa sakit menyelimutinya. Ia terus menangis dalam keremangan, berharap Niko akan mengasihaninya.
Sayangnya Niko sama sekali tak peduli. Niko mengumpulkan semua botol minuman di depannya kemudian menuangkan isinya ke baju Viona.
"Bawa aku minuman lebih baik lagi. Aku akan memandikan wanita ini di sini."
Darius bergegas mencari pelayan. "Bawakan minuman yang paling murah di bar ini sebanyak yang ada, tuan Niko ingin memberi pelajaran kepada wanita itu."
"Baik, Pak."
Semua pelayan mengenal Niko. Meskipun tidak tahu keterikatan Niko dan bos mereka seperti apa, mereka sangat menghormati Niko karena pria itu adalah sahabat bos mereka.
"Niko, kumohon hentikan. Hentikan, Niko," Viona terus menangis.
Baru saat itu orang-orang sekeliling menyadari apa yang terjadi. Ada yang tertawa melihat Viona yang diam saja seperti hewan yang dimandikan. Ada juga yang menatapnya ingin, karena bentuk bagian tubuhnya sangat terpampang di balik pakaiannya yang lengket.
Petrix muncul tepat di samping Darius. Ia mengenali Darius dan bertanya, "Apa yang terjadi."
Darius menceritakan yang sebenarnya. "Aku mencari Ulan, tapi tidak terlihat."
"Tadi dia di sini. Mungkin dia di toilet."
Puas melihat tubuh Viona basah, Niko berdiri kemudian menarik salah satu pria yang berdiri sana.
"Lepaskan kemejamu."
Semua orang menatap bingung. Mereka penasaran apa yang akan dilakukan Niko.
Pria yang ternyata adalah salah karyawan club itu sedikit takut dan tidak menuruti keinginan Niko.
Niko kesal dan segera menarik kemeja kerjanya hingga sobek.
"Kau mau melepaskan kemejamu atau celanamu?"
Pelayan itu terkejut dan menurut.
Petrix pun paham apa yang akan dilakukan Niko. Ia. Mendekati pria itu dan berbisik, "Aku tidak mau polisi menutup tempat itu dengan tuduhan kasus pelecehan, Niko."
"Kau tenang saja, itu tidak akan terjadi," Niko kemudian menatap pelayan itu. Tubuhnya yang atletis membuat Niko tersenyum licik, "Duduk di sebelahnya."
Viona masih menangis sambil menunduk. Ia tak menyangka nasib sial menyapanya malam ini.
"Viona?"
Wanita itu menoleh. "Karena kau sudah membuat wanitaku sakit, sekarang kau harus menerima konsekuensinya."
Viona sangat mengenal Niko. Niko pria dingin dan emosional. Selama menjadi teman tidurnya Viona pernah merasakan sakit yang luar biasa ketika ia tak memberikan kepuasan kepada pria itu. Niko mengunci Viona di kamar dan tidak mengijinkannya keluar semua satu minggu.
Sejak kejadian itu Viona selalu berhati-hati agar tidak menyakiti Niko. Walaupun hubungannya dengan pria itu tidak ada kepastian, Viona sangat mencintai Niko sampai saat ia. Yang ia tahu, Niko lebih menakutkan dari singa ketika sedang marah.
Ketika Ulan mengajaknya bekerja sama, ia sempat takut kalau Niko mengetahuinya, tapi demi uang Viona rela melakukannya.
Hal yang ia hindari sejak lama akhirnya terjadi. Apa yang dialaminya saat ini bisa dibilang belum seberapa di bandingkan kejadian tempo hari. Setidaknya Viona sedikit lega karena Niko tidak langsung membunuhnya saat ini juga.
"Viona, kau dengar aku?"
"I-iya, Niko."
"Peluk pria ini dan cium dia, aku akan mengambil gambar kalian dan kau harus memposting foto itu di sosial mediamu."
Viona terkejut. Saking takutnya jantung Viona berdetak cepat. "Itu tidak mungkin, Niko."
"Kenapa, kau takut?"
"Kau bisa menghukumku dengan apa pun, asal jangan dengan itu."
"Keputusanku tak akan berubah. Cepat cium dan peluk dia. Anggap saja kau sedang melayani tamu malam ini."
Viona gemetar. 'Tidak, aku tidak mau melakukannya, aku tidak ingin Deril melihatku. Aku tidak boleh melakukan itu.'
Bersambung___