Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Kami Menjalin Hubungan.


Wulan tahu pertanyaan itu akan terlontar. Cepat atau lambat Ulan pasti akan mengetahui kedekatannya dengan Niko.


Selama ini ia diam bukan berarti mengalah, ia menghargai Ulan sebagai adinya dan Handoko sebagai teman papa sambungnya.


Melihat ekspresi Ulan Wulan tak suka. Apalagi intonasi Ulan yang terkesan meremahkan, membuat toleransi dalam dirinya hilang.


Dengan senyum lebar Wulan menjawab, "Apa kau tahu siapa wanita yang menolong Niko saat dia kecelakaan dan membawanya ke rumah sakit?"


"Tidak, aku tidak mengenalnya. Lagi pula aku bertanya soal kedetakan Kakak dengan Niko, bukan siapa dan di mana wanita yang menolong Niko. Sekarang jawab, kapan Kakak mengenal Niko dan kenapa Kakak tidak pernah bilang, kalau Kakak mengenalnya?"


Wulan menarik napas kemudian mengulurkan tangan. "Wanita itu aku, Ulan. Wanita yang menolong dan membawa Niko ke rumah sakit itu aku."


Ulan tercengang.


"Jika kau ingin tahu kapan aku mengenal Niko, aku mengenal Niko sejak kecelakaan itu. Sayangnya, sehari setelah kejadian aku langsung ke luar kota. Jadi, aku tidak tahu pembicaraan antara kalian dengan papa mengenai Niko."


Ulan syok. "Berarti wanita yang ingin dinikahi Niko itu Kakak, bukan aku?"


"Yep."


Ulan lagi-lagi terdiam. Rasa terkejut dalam dirinya seakan tak pernah hilang.


"Om Handoko salah paham, beliau mengira papamu belum menikah. Beliau mengira kamu anak satu-satunya. Kebetulan nama kita sama. Jadi, begitu tahu Niko menyukaiku, om Handoko tanpa bertanya lagi langsung menemui papa dan mengusulkan tentang perjodohan itu."


"Memangnya Niko tidak memberitahu Kakak soal itu?"


"Dia ingin memberiku kejutan. Waktu makan malam itu saja dia merahasiakannya dariku."


Ulan lemas. "Apa papa tahu soal ini?"


"Kemungkinan belum, tapi om Handoko akan bertemu papa dan mengklarifikasi kesalahpahaman ini."


Ulan merasa bersalah. "Aku sudah curiga waktu papa bilang dia menyukaiku, padahal aku dan dia belum pernah bertemu."


"Sebetulnya aku tidak akan mengatakan ini sebelum papa tahu yang sebenarnya. Namun, pertanyaan dan nada bicaramu tadi sangat kelewatan."


"Maafkan aku, Kakak. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Lagi pula aku tidak tahu kalau Kakak dan Niko begitu dekat. Semua ini salah papa. Coba papa tidak menjodohkanku dengan Niko, mungkin aku tidak akan sesuka ini kepadanya."


"Ini bukan salahmu. Aku juga bukan ingin menyembunyikan ini darimu, aku menunggu waktunya."


Dengan ragu-ragu Ulan bertanya, "Apa Kakak dan Niko ...."


Ulan tidak meneruskan ucapannya. Rasa sesak mengetahui Wulan adalah incaran Niko membuatnya cemburu.


"Kami menjalin hubungan."


"Oh," jawabnya pasrah, "Setidaknya aku sudah tahu."


Wulan mendekat. "Maafkan aku, Ulan. Aku tidak___"


"Semua sudah terjadi, Kak," sergah Ulan, "Sekalipun aku menuntut untuk dinikahi, Niko tidak akan mencintaiku. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melupakannya."


Wulan hanya diam.


"Baiklah, aku pergi dulu."


Dengan tatapan sedih Wulan melihat Ulan. Rasa bersalah pun menyelimuti dirinya.


"Maafkan aku, Ulan. Sekalipun kau ingin menikahinya, aku tidak akan pernah membiarkanmu merebut Niko dariku."


***


Usai makan malam Angelina dan Jefry duduk di taman belakang. Angelina sengaja mengajak suaminya ke sana untuk membahas hal yang sejak tadi membuatnya penasaran.


"Jeff, apa Handoko sudah menghubungimu?"


"Belum," Jefry meletakan cangkir kopinya di meja. Ia menatap Angelina dengan alis mencuat, menyiratkan minat, "Kenapa kamu menanyakannya?"


"Tidak apa-apa. Lalu, bagaimana pernikahan Niko dan Ulan? Kapan pestanya akan diselenggarakan? Terus, kenapa Niko tidak pernah mengajak Ulan keluar bersama? Bukankah Ulan memintamu untuk mencari kontak Niko, apa kamu sudah memberikan kontak Niko pada Ulan?"


Ucapan istrinya membuat Jefry menelan ludah. Ia harus mencari alasan tepat untuk menjawab rentenan pertanyaan yang dilontarkan Angelina.


"Aku akan menemui Handoko besok. Soal kontak Niko, aku sudah mengirimnya kepada Ulan. Aku tidak tahu kalau mereka sudah berkomunikasi atau tidak. Soal jalan bersama, itu urusan mereka. Dan soal pernikahan, aku dan Handoko akan memutuskannya besok."


Angelina tak percaya. Namun, ia memilih diam sebagai bentuk persetujuan. Ia berniat menanyakan hal itu kepada Ulan besok pagi. Ia sangat yakin Jefry telah membohonginya.


***


Pagi hari seperti biasa, Niko dan Handoko sedang sarapan berdua di taman belakang. Udara pagi dan paparan sinar matahari yang masuk dari sela-sela pohon membuat mereka sangat suka sarapan di tempat itu.


"Pagi ini papa akan menemui Angelina, papa akan bicara soal pernikahanmu dengan Wulan," kata Handoko setelah menyesap kopi hitam kentalnya, "Kalau Angelina setuju, kamu tidak keberatan kan kalau pernikahan kalian hanya sederhana?"


"Tidak masalah, Pa. Aku yakin Wulan pasti juga tidak akan keberatan. Tapi, apa Papa yakin ini akan berhasil? Tante Angelina pasti akan memberitahukan hal itu kepada om Jefry. Sudah jelas dia tidak akan tinggal diam, dia pasti akan melakukan segala cara untuk menggagalkan pernikahan itu, Pa."


"Itu sudah papa pikirkan. Papa tidak akan membahas soal pernikahan kepada Angelina. Papa hanya ingin menjelaskan yang sebenarnya dan ingin tahu respon Angelina. Kalau dia setuju, kita akan melakukan akad nikah secara sembunyi-sembunyi."


"Itu tidak mungkin, Pa. Wulan butuh wali di pernikahan."


"David dan Magdalena, mereka bisa menjadi wali Wulan kalau dia mau."


Niko kurang setuju. Walaupun keinginannya menikahi Wulan begitu besar, ia mau pernikahan itu diketahui oleh keluarga kedua belah pihak.


"Papa bicarakan saja dulu dengan tante Angelina. Aku juga akan bicara dengan Wulan. Kalau dia setuju pernikahan kita dilaksanakan secara diam-diam, kita akan menuruti saran Papa."


Di sisi lain.


Suasana sarapan pagi di rumah keluarga Tanujaya begitu hening. Ulan yang biasa begitu centil dan selalu membuat suasana makan selalu ramai, kini terlihat murung. Ia lebih banyak menatap makanan daripada wajah-wajah di sekitarnya.


Angelina yang sebelumnya sudah menemui Ulan dan menanyakan soal pernyataan Jefry semalam pun tahu alasan kesedihan Ulan. Wanita itu sudah mengakui kepada Angelina, kalau ia tidak mendapatkan kontak Niko dari siapa pun dan pria itu tidak pernah menghubunginya. Namun, ia tidak mengakui kalau sebenarnya wanita yang disukai Niko adalah Wulan.


Begitu juga dengan Wulan. Setelah memberitahukan hubungannya dengan Niko, ia tahu penyebab kesedihan Ulan pagi ini.


Berbeda dengan Wulan dan Angelina, Jefry justru tidak tahu apa-apa. Kesedihan Ulan membuatnya penasaran. Ini pertama kali ia melihat putrinya bersedih.


"Ada apa denganmu, hah?" tanya Jefry.


Ulan tak menjawab, memilih diam dan melanjutkan sarapannya.


Jefry pun paham. Ulan telah menyurugnya untuk meminta kontak Niko, tapi kontak itu tak kunjung diberikan. Ia melirik Angelina dan tidak ingin membahas soal kontak itu.


"Siang ini papa akan bertemu om Handoko. Seandainya tidak ada halangan, kamu tidak keberatan kan, kalau papa dan om Handoko yang menentukan tanggal pernikahannya?"


Ucapan Jefry membuat mereka bertiga terkejut. Angelina menatap Jefry. Wulan menghentikan kunyahan sambil menatap piring.


Ulan dengan tatapan penuh kebencian menatap papanya. Ia ingin mengungkapkan sesuatu, tapi kata-kata itu seakan tersendat di tenggorokannya. Dengan emosi dalam dirinya Ulan mendorong kursi kebelakang kemudian meninggalkan ruangan.


Angelina berkata, "Kenapa dia?"


Tahu ingin membahas soal Niko, Wulan segera menyudahi sarapannya kemudian berpamitan.


"Aku pergi dulu."


"Hati-hati, Sayang," balas Angelina.


"Siapa yang akan menjemputmu pagi ini?" Jefry tak menatapnya, tapi intonasinya cukup mewakilkan emosinya.


"Aku akan menyetir sendiri."


Tak menunggu jawaban Jefry, Wulan segera berlalu dan meninggalkan mereka.


Angelina muak. "Ini semua karenamu. Gara-gara kamu suasana jadi begini?"


"Karenaku, apa maksudmu?"


Bersambung___