
Perasaan Wulan bingung bercampur panas. Saking menikmatinya lembab dan gerakan bibir yang diciptakan Niko, ia sedikit kecewa saat pria itu melepaskan bibirnya tiba-tiba.
Ia tak bisa membantah saat Niko mengajaknya keluar. Mereka pun masuk dan disambut ramah oleh pegawai di sana.
Karena sudah memesan tempat terlebih dahulu, Niko langsung mengajak Wulan ke kamar yang sudah di pesannya.
Wulan sedikit takut, ia tak menyangka Niko akan membawanya ke tempat itu. Di satu sisi Wulan senang bisa berduaan dengan Niko. Namun, ada rasa takut dalam hati Wulan saat membayangkan pria yang dicintainya akan merusak harga dirinya.
'Tidak,' katanya dalam hati, 'Niko pasti tidak akan melakukannya. Tapi kalau itu benar terjadi, bagaimana?'
Wulan terhanyut dalam pikirannya. Saking teralihkan dengan pikirannya sendiri, Wulan tak sadar kalau mereka sudah berhenti di sebuah kamar besar yang berfasilitas lengkap.
Niko membiarkan, membuka pintu, membawa Wulan ke dalam kamar kemudian mengunci pintunya.
Wulan terkejut melihat dirinya sudah di dalam kamar. Suasana ruangan begitu intim membuatnya malu. Cahaya lampu yang remang serta pantulan cahaya matahari yang minim benar-benar membuat suasana kamar itu begitu sensual.
Gairah yang sempat hilang saat membayangkan Niko akan menyakitinya, kini kembali lagi saat melihat Niko membuka kemejanya. Spontan Wulan menggigit bibir bawahnya ketika bulu bagian atas tubuh Niko terlihat.
"Maaf, aku sudah tidak sopan di depanmu. Harusnya aku tidak boleh membuka kemejaku tanpa izinmu."
Wulan tersenyum nakal. Ia mendekati Niko, menatap sambil mengelus dada pria itu.
"Tidak masalah. Asalkan selama tidak ada aku, kamu tidak boleh memperlihatkan tubuhmu ini ke orang lain. Tidak ada yang boleh melihat tubuhmu selain aku."
Niko menunduk, meraih dagu Wulan dan melumatkan bibirnya. Setelah ******* itu kembali membuat diri mereka panas, Niko melepaskan bibir Wulan dengan pelan. Dilihatnya mata Wulan begitu sayu.
"Apa yang akan kita lakukan di sini, Niko?" bisiknya serak. Ia terus menatap Niko dengan pandangan provokatif, membuat Niko tak bisa menahan diri.
"Aku akan membuatmu melayang."
Tanpa menunggu balasan Wulan, Niko kembali menyerang bibir Wulan dengan ******* sedikit kasar. Ia membawa tubuh wanita itu ke atas ranjang tanpa melepaskan pakaiannya.
Bukannya protes, Wulan justru menyukai cara itu. Semakin kasar ******* Niko, gairah dalam dirinya semakin besar. Rasa panas dalam tubuhnya spontan meraih tangan Niko untuk menyentuh dadanya.
Niko sedikit terkejut tanpa melepaskan ciumannya. Ia juga tidak langsung menarik tangannya, mengikuti kemauan Wulan, memberikan pijatan lembut ke bagian subur yang keras itu.
Tak ingin semakin terhanyut oleh keadaan, Niko melepaskan bibir mereka, menyerang leher Wulan, dada yang masih tertutupi pakaian, lalu turun ke bawah.
Wulan sedikit kecewa, tapi tidak berkata apa-apa. Melihat Niko sedang asik menyerang pahanya dengan serangan bibir yang lembut, Wulan merasa Niko terlalu buru-buru. Ia tak protes, mengikuti permainan Niko, menurut ketika pria itu melepaskan kain tipis berwarna hitam, kemudian menekukkan kakinya. Wulan tiba-tiba diserang rasa malu saat Niko membuka kakinya sedikit lebar.
Melihat itu Niko tersenyum. "Siap?"
Wulan tak menjawab. Ia menutup wajahnya dengan tangan akibat malu melandanya. Ini pertama kali ia begitu pasrah kepada pria.
Waktu menjalani hubungan dengan Denni, pria itu tidak pernah membuatnya seperti ini. Apa mungkin cintanya begitu besar terhadap Niko, sampai ia rela dan pasrah apa yang dilakukan pria itu terhadapnya.
Wulan terkejut saat rasa dingin menyerang pahanya. Ia terus menutup wajahnya seakan tak ingin melihat Niko. Setiap perlakukan Niko membuat tubuhnya gemetar.
Namun, ketika tidak merasakan ada perlakukan lagi Wulan menatap Niko. Wajahnya semakin merah ketika Niko ternyata sedang tersenyum menatapnya.
"Kenapa menutup muka? Aku ingin melihat wajahmu."
Wulan menggeleng dan terus menutup wajahnya dengan tangan. "Aku malu, Niko."
"Baiklah, aku akan membuat kamu memperlihatkan wajahmu sendiri."
Wulan tak membalas. Ia tersenyum kecil di balik lengan tangannya yang putih. Namun, saat rasa dingin menyapu bagian intimnya yang lembab dan mulus, tangan Wulan spontan menjauh dari wajahnya kemudian meremas sprei di samping tubuh. ******* kecil bahkan lolos ketika Niko mempercepat gerakannya di bagian itu.
***
Dengan senyum lebar Jefry duduk di ruangannya. Melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul satu siang, ia bergegas pulang untuk makan siang.
Dalam mobil ia menghubungi seseorang dari bangku belakang. Sambil menunggu panggilan tersambung Jefry menatap keluar jendela dengan pandangan bahagia.
"Selamat siang, Pak Jefry?" sapa sosok di balik telepon.
"Bagaimana rencana kita, apa kamu sudah berhasil memberikan tiketnya?"
"Bagus. Aku akan menyuruh orang untuk membawa uang sisanya. Terima kasih Anda mau bekerja sama denganku, Pak kepala."
"Sama-sama, Pak Jefry. Senang bisa bekerja sama dengan Anda."
Setelah memutuskan panggilan, Jefry tersenyum begitu lebar. Ia membayangkan rencananya malam ini akan berhasil. Tidak ada lagi penghalang untuk menyatuhkan putrinya dengan anaknya Handoko.
Munculnya Handoko dalam pikirannya membuat Jefry memikirkan sesuatu. "Sepertinya aku harus memberikan sedikit pelajaran kepada Niko. Kalau tidak, dia tidak akan pernah mau menikahi Ulan meskipun Wulan sudah tiada."
Tak berapa lama supir pribadi Jefry membelokkan mobil ke pekarangan rumah. Dengan wajah berseri-seri Jefry turun dari mobil dan masuk.
"Angelina sayang? Kamu di mana?"
Angelina muncul sambil menangis.
Jefry terkejut. "Apa yang terjadi, kenapa kamu menangis?" ia memeluk istrinya.
"Wulan, Wulan sudah pergi ... dia pergi meninggalkan aku, Jefry."
Jefry terkejut. Rasa terkejutnya bukan karena tangis Angelina. "Bukankah jadwalnya nanti jam delapan malam?"
"Iya, tapi dia sudah pergi dari sekarang. Dia ingin menghabiskan waktu bersama Niko dan Handoko."
Jefry memeluknya erat. "Wulan pergi tidak akan lama, dia akan kembali. Dia hanya menjalankan tugasnya sebagai bawahan," dalam hati Jefry berkata, 'Nikmati saja waktu terkahirmu bersama mereka Wulan, setelah itu kamu tidak akan pernah lagi bertemu mereka.'
"Kalau dia kembali, aku tidak ingin lagi dia pergi. Aku akan menyuruhnya berhenti kerja."
"Iya, iya," Jefry tersenyum licik, 'Itu pun kalau dia masih kembali.'
***
Sesuai perkataannya kepada Angelina, Ulan hari ini menghabiskan waktunya bersama teman dekatnya waktu kuliah dulu. Saking senangnya hari ini Wulan akan berangkat dan tidak menghalanginya mendekati Niko, Ulan merayakan kebahagiannya itu di Bioskop dan tempat makan.
Karena terlalu lama berada di dalam bioskop membuat perut Ulan dan temannya kelaparan. Mereka pergi ke tempat makan di area mall terdekat.
"Habis ini kita mau ke mana lagi?" tanya Viona, teman Ulan.
"Aku tidak bingung. Ada referensi? Aku ingin membuat malam ini menjadi pagi."
Viona tertawa. "Bagaimana kalau di HW?"
"Itu kan ...."
"Kamu ini seperti anak kecil saja. Di sana banyak pria-pria tampan. Siapa tahu kamu dapat satu dari puluhan pria kaya dan tampan."
Ulan hanya terbahak. "Okey, tapi tujuanku ke sana bukan itu Viona, aku sudah punya calon suami."
"Serius?" Viona terkejut.
Beberapa tahun tidak tertemu membuat Viona tidak tahu perubahan Ulan. Begitu lulus kuliah mereka tak pernah lagi bertemu satu sama lain. Aktivitas keduanya membuat mereka sulit bertemu, padahal masih dalam satu kota.
Kemarin ketika Viona pergi ke salah satu pusat perbelanjaan, ia tidak sengaja bertemu Ulan. Di sana lah mereka kembali bertemu dan bertukar kontak.
"Kamu pasti tidak akan percaya, tapi itulah kenyataannya. Papaku menjodohkanku dengan anak temannya."
"Anak teman papamu? Tidak salah lagi, pria kaya itu pasti kaya raya. Siapa namanya?" ekspresi Viona begitu bahagia. Melihat sahabatnya senang, ia pun ikut senang.
"Namanya Niko Lais, dia pimpinan di BK Group."
Ekspresi Viona berubah drastis. "Niko Lais?"
"Iya, kau mengenalnya?"
Bersambung___