Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Saling Cinta.


Keinginan Jefry menjodohkan Ulan dengan Niko memang sudah lama. Tak peduli putrinya suka atau tidak, ia tetap akan menjodohkan putrinya dengan anak temannya itu.


"Besok atau lusa papa akan mengundang mereka ke sini. Itu kesempatanmu untuk melihatnya. Papa yakin, kamu pasti akan menyukainya."


"Itu tidak mungkin, Pa."


"Kita lihat saja nanti."


Angelina menatap Ulan. Ekspresi gadis itu terlihat murung. Ia merasa kasihan.


"Kamu tidak bisa memaksanya, Jefry."


Jefry menatap Ulan. Ia tak menggubris perkataan istrinya.


"Papa beri kamu waktu berpikir, malam ini dan besok malam. Setuju atau tidak, perjodohan itu akan terlaksana. Papa harap kamu tidak mempermalukan papa, Ulan," selesai mengatakan itu Jefry berdiri meninggalkan ruangan.


Angelina merasa bersalah. Ia tidak tahu ingin membela suami keduanya atau putri sambungnya. Namun, sebagai perempuan ia bisa merasakan apa yang dialami Ulan saat ini.


Ia meraih tangan anak tirinya itu lalu berkata, "Kita turuti saja kemauan papamu. Kalau memang sudah bertemu kamu tidak memiliki rasa pada pria itu, mama akan membantumu bicara. Mama akan bicara dengan papa."


Ulan nyaris menangis. "Aku bersumpah, Ma. Aku tidak mengenal pria itu. Aku tidak tahu papa dapat dari mana ide dari mana, kalau aku telah menolongnya. Aku bahkan tidak tahu batang hidung pria itu seperti apa."


"Mama akan bicara dengan papa. Sekarang habiskan makanmu."


"Terima kasih, Ma."


Di sisi lain.


Selesai makan malam Niko mengajak Wulan ke taman kota. Di sana banyak pasangan muda yang juga duduk terpisah dari mereka.


Niko sengaja mengambil tempat di bangku panjang, agar dirinya bisa bersebelahan dengan Wulan.


"Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu."


Wulan menatapnya. Posisi mereka sangat dekat. "Soal apa?"


"Soal ucapanku tadi siang. Aku serius ingin melamarmu."


Wulan senyum dalam diam.


"Aku dengar dari Fanny kamu tidak ingin berpacaran, kamu ingin segera menikah. Aku tidak keberatan soal itu, tapi aku takut kamu akan menolak lamaranku, karena kita tidak melalui proses itu. Bukankah kamu sendiri yang bilang, sebelum membangun rumah tangga, kita harus memahami satu sama lain. Bagaimana kita bisa memahami satu sama lain, kalau tidak berpacaran?"


Wulan memberanikan menatap pria itu. Dengan senyum sayang ia berkata, "Kamu lupa apa yang kukatakan, bahwa aku harus menebalkan kesabaranku, jika ada orang yang tiba-tiba melamarku?"


"Aku menyukaimu, Wulan. Aku sangat menyukaimu."


Wulan menyentuh pipi Niko. Entah kenapa tangan lembutnya itu dengan berani terangkat dan menyentuh wajah tampan Niko. Ia bahkan tak ragu-ragu mengelus bulu halus yang tumbuh di rahang Niko.


"Jujur, aku juga menyukaimu sejak pertama melihatmu. Bahkan wajahmu tidak begitu jelas waktu itu. Entah kenapa saat melihatmu hatiku tergerak."


Niko melapisi tangan Wulan. "Benarkah?"


"Kamu tahu? Tuhan akan menggerakan hati saat kita bertemu dengan orang yang sudah ditakdirkan untuk kita. Percaya atau tidak, buktinya aku menyukaimu meski wajahmu tidak jelas," Wulan terkekeh.


Niko mengambil tangan Wulan dari pipinya. Ia mengenggam kedua tangan wanita itu dengan kedua tangannya.


"Aku punya masa lalu yang buruk. Aku seorang play boy dan banyak wanita yang mengejarku."


"Aku tak peduli masa lalumu seperti apa. Aku juga tidak mau tahu berapa banyak wanita yang masih berurusan denganmu. Jika kamu benar-benar ingin berubah, aku akan menerimamu sebagai pasanganku. Sebaliknya, kalau kamu masih ingin bersama mereka, sebaiknya kamu selesaikan saja dulu urusanmu. Begitu urusanmu sudah selesai dan ingin fokus pada satu wanita, aku siap menerimamu kapan pun itu."


Niko menggeleng. "Aku tidak pernah terikat dengan siapa-siapa, urusanku dengan mereka juga sudah selesai. Aku ingin meninggalkan dunia itu, aku ingin fokus denganmu untuk membangun masa depan bersama."


Wulan tersenyum.


"Aku mau."


Niko bahagia. Saking bahagia ia mencium kedua tangan Wulan. "Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku janji, dalam beberapa hari ini aku dan papa akan menemui orangtuamu untuk melamarmu."


"Aku tunggu."


"Kamu serius ingin menjadi istriku?"


"Kamu ragu?"


"Bukan begitu, Sayang. Aku takut kamu berubah pikiran dan meninggalkanku."


Wulan terkekeh. "Bukankah kita sudah membahas soal itu tadi siang? Kita sama-sama tahu kunci untuk menyenangkan pasangan kita."


"Kamu benar, dan aku ingin kamu mengatakan semuanya padaku. Aku ingin tahu hal apa yang kamu suka dan tidak. Aku ingin kamu jujur semuanya padaku, apa yang boleh aku lakukan dan tidak."


"Kamu juga."


"Itu pasti. Aku janji akan membahagiakanmu, Wulan. Aku janji."


Wulan tersenyum sayang. "Aku percaya."


"Aku sangat mencintaimu, Wulan," Niko memeluknya, "Aku sangat mencintaimu."


Wulan tak bisa berkata-kata. Perasaan yang sama membuatnya membalas pelukan Niko. Wulan sendiri tak menyangka kalau saat ini ia berpelukan dengan pria yang ia idamkan. Pria yang tampan, mapan dan brengsek.


Bagi Wulan pria brengsek adalah tantangan yang harus ia hadapi. Sebrengsek-brengseknya seorang pria, mereka akan tunduk pada satu wanita. Ia tak peduli Niko masih berurusan dengan wanita lain. Yang jelas saat ini adalah tantangan baginya untuk memenangkan hati Niko. Hati pria yang dicintainya.


Wulan sendiri tidak tahu apa yang membuatnya suka terhadap Niko. Perasaan yang muncul membuatnya yakin, kalau bersama pria itu adalah takdirnya. Apalagi Niko mau menikah meskipun baru beberapa hari mengenalnya. Dan ia yakin, kalau Niko adalah jodoh yang dikirim Tuhan untuk bersamanya.


***


Tak terasa dua hari pun berlalu. Perasaan mendadak yang muncul antara Niko dan Wulan membuat mereka saling merindukan satu sama lain.


Niko melampiaskan kerinduannya setiap hari dengan mengajak Wulan makan siang dan makan malam.


Wulan sangat bahagia. Rasanya waktu berjam-jam bersama Niko tak cukup melampiaskan kerinduannya.


Niko juga demikian. Beberapa jam menghabiskan waktu bersama Wulan membuatnya sengsara. Rasanya ia ingin menatap, memeluk dan mencium Wulan setiap saat.


Tak hanya hubungan Wulan dan Niko, hubungan antara Niko dan Handoko semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama ketika Niko punya waktu luang. Pria itu sering mencari Handoko setiap kali ia pulang ke rumah. Handoko senang melihat perubahan dalam diri putranya.


Awalnya Handoko khawatir Niko tidak mau memaafkannya setelah dua puluh tahun meninggalkan pria itu bersama Brian dan Magdalena. Membayangkan kejadian masa lalu itu membuat Handoko menyesal.


Untung saja ada Wulan yang bisa membuat Niko kembali bicara dengannya. Berkat hal itu, Handoko menganggap Wulan adalah wanita pembawa keberuntangan di kehidupan mereka. Wulan telah memecahkan tembok antara anak dan ayah itu.


Saat ini Handoko dan Niko sedang duduk di ruang tamu. Masih dengan pakaian eksekutifnya, Niko duduk di depan Handoko dengan senyum yang lebar. Ia membahas soal pekerjaan yang menurutnya merepotkan.


"Mereka mengangkatku menjadi pimpinan. Itu kan gila, Pa? Masa aku harus menjadi pimpinan BK Group. Aku tidak mau, aku sudah nyaman dengan posisiku sekarang."


Handoko menyesap kopinya dengan santai. Setelah meletakkan cangkirnya, ia menatap Niko dengan senyum samar.


"Kamu mau selamanya menjadi kepala pemasaran di BK Group?"


"Tidak masalah. Gajiku dan bonus yang kudapatkan sangat banyak. Lagi pula pekerjaan kantor hanya sampingan. Daripada aku frustasi di rumah tanpa berbuat apa-apa, lebih baik aku menyibukkan diri di sana."


"Bagaimana bisnis propertimu?"


Bersambung_____