Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Selingkuh.


Ulan tersenyum puas melihat amarah di wajah ibu tirinya.


Agar Angelina semakin murka, Ulan menambahkan, "Menurut informasi yang kudapatkan, om Handoko melenyapkan om Benny agar bisa menikahi Mama. Aku sih tidak tahu tujuan jelasnya om Handoko. Tapi, dengar-dengar om Handoko melakukan itu karena ingin menguasai hartanya om Benny."


Plak!


Tamparan keras mengenai pipi kanan Ulan. Rasa perih bahkan terkalahkan dengan keterkejutan yang baru saja ia rasakan.


"Mama menamparku?"


"Kenapa, kurang?"


Plak!


Angelina menampar di pipi yang lain.


Ulan marah. "Kenapa Mama menamparku? Aku tidak salah! Aku mengatakan yang sebenarnya."


Plak!


Ulan kesakitan. Ia meneteskan air mata, tak sanggup menahan perih di pipi yang berdenyut-denyut dan panas.


"Keluar kau dari sini, kau tidak pantas tinggal di sini."


Semua pelayan berhambur, melihat apa yang terjadi.


"Keluar?" kata Ulan, "Ini rumah papaku, kenapa aku yang harus keluar?"


Angelina geram. "Ini rumahku. Semua aset di sini atas namaku, bukan papamu."


"Itu tidak mungkin."


"Bibi!" panggil Angelina, "Bibi!"


Pelayan tua itu muncul dari persembunyiannya. "Iya, Nyonya?"


"Bantu Ulan mengemasi pakaiannya, aku tidak mau melihat dia lagi."


Tanpa berkata apa-apa Angelina meninggalkan mereka.


Ulan histeris. "Ini rumahku! Ini peninggalan papaku! Aku tidak mau keluar!"


"Ayo, Non."


"Tidak Bibi, aku tidak mau keluar! Ini rumahku!"


Pelayan muda menambahkan, "Sebaiknya Non ikuti saja perintah nyonya. Nyonya begitu karena Non Ulan membuatnya marah. Siapa tahu setelah itu nyonya akan membujuk Nona Ulan."


"Tidak, aku tidak mau. Aku tidak mau keluar! Ini rumahku! Ini rumah papaku!"


Angelina kembali. "Kalau dia tidak mau pergi biarkan saja. Tapi, ingat," katanya penuh penekanan, "jangan sekali-kali kalian melayaninya. Jika aku tahu kalian melanggar, kalian akan kupecat."


Ketiga pelayan itu menjadi takut.


Ulan marah. "Kalian jangan dengar dia! Nyonya rumah di sini aku, bukan dia."


Angelina ingin membalas, tapi tidak jadi. Percuma berdebat dengannya. Tak mau membuang tenaga dan amarah, Angelina membubarkan pelayan kemudian meninggalkan mereka.


Ulan menangis. "Papa, aku merindukanmu ... Aku merindukanmu Papa."


***


Sebulan tinggal di rumah sendiri serasa seperti neraka bagi Ulan. Sesuai yang dikatakan Angelina kepada pelayan, ia sama sekali tidak dilayani di rumahnya sendiri. Ulan mencuci baju sendiri, membersihkan kamar sendiri, bahkan memasak sendiri.


Tak tahan dengan perlakukan mereka, Ulan menemui Angelina ketika wanita itu sedang sarapan.


"Aku tidak setuju dengan ini. Ini rumahku! Harusnya kalian melayaniku!"


Angelina tak peduli.


"Mama, jangan membuatku tidak menghormatimu. Aku menghormatimu, karena kamu istri papaku. Aku ini anak suamimu, anak dari pemilik rumah ini, rumah yang kamu tempati saat ini. Kenapa kamu tega melakukan ini padaku, hah? Harusnya aku yang melakukan ini kepadamu!"


Selera makan Angelina hilang. Ia menghentikan makan kemudian berdiri. "Kau yang harus melakukan ini padaku? Apa tidak salah?"


"Aku ini anakmu. Kamu menikahi papaku," Ulan menatap pelayan yang berdiri di sana, "Kalian juga ... seharusnya kalian memperlakukanku layaknya tuan rumah di sini. Kenapa kalian lebih mendengarkan dia daripada aku?! Aku bisa memecat kalian kapan saja jika kumau."


Para pelayan hanya menunduk.


Angelina mengeluarkan beberapa dokumen dari tasnya. "Lihat ini," ia membanting berkas-berkas itu di atas meja, "semua ini atas namaku. Aku yang berhak atas semua ini, bukan kamu."


Ulan mengambil, membuka, kemudian memeriksa sertifikat rumah dan dokumen-dokumen penting perusahan. Ia terkejut melihat nama Angelina tertera di mana-mana.


"Ini tidak mungkin. Aku putrinya, seharusnya aku pewaris semua kekayaan papa."


Angelina berdecak. "Sudah jelas, kan? Semua ini bukan milikmu. Sekarang terserahmu, mau tinggal di sini tanpa pelayanan atau keluar dari sini."


"Ini tidak benar, mana mungkin papa tidak mewariskan kekayaannya padaku. Aku putri kandung Jefry Tanujaya. Harusnga rumah dan dokumen-dokumen ini atas namaku, bukan Mama."


Angelina malas berdebat. "Aku sarankan kau lebih baik pergi dan cari tempat tinggal di luar sana. Di luar sana kau bisa mendapatkan pekerjaan untuk melanjutkan hidup."


"Tidak, aku tidak akan keluar dari sini."


Angelina menatap para pelayan. "Biarkan dia tinggal di sini. Tapi, mulai sekarang stok bahan makanan ditiadakan. Aku akan makan di luar dan aku akan memesan ketring untuk kalian."


"Apa dulu aku sejahat ini pada kalian?"


Ulan terdiam.


"Aku begini karena sikap kalian sendiri. Cepat pergi, aku tidak mau melihatmu lagi."


Dengan hati sakit dan mata berkaca-kaca Ulan meninggalkan ruang makan. Ia masuk ke kamar dan melampiaskan kekesalannya.


Drtt... Drtt...


Melihat nama Jendry di layar ponsel membuat Ulan semakin sedih. Dengan sisa air mata dan isak tangis yang sesak ia menyapa orang itu.


"Halo, Om? Hikss."


"Ulan, kamu kenapa, Nak?"


"Mama mengusirku. Dia mengusirku di rumahku sendiri, Om."


"Kamu di mana sekarang?"


Ulan menarik cairan hidungnya. "Aku masih di rumah. Aku juga tidak mau keluar dari sini, ini rumahku, Om, ini rumah papaku."


"Begini saja, bagaimana kalau kamu tinggal di rumah om saja?"


"Tidak Om, aku tidak mau meninggalkan rumah ini. Tidak masalah mereka memperlakukanku seperti orang asing di sini. Tapi, sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkan rumah ini. Melakukan itu sama saja aku membiarkan mereka menang."


"Kamu pasti tidak akan nyaman di sana, Nak. Ayo, lebih baik kamu tinggal bersama om saja. Om akan membantumu mendapatkan semuanya lagi."


Ulan berpikir.


"Bagaimana, om akan menjemputmu sekarang jika kamu mau? Soal makan dan biaya hidup sehari-hari om bisa memberikanya."


"Baiklah. Tapi, Om janji akan membantuku membalas mereka?"


"Tentu saja, Sayang."


"Baiklah. Aku siap-siap dulu, kalau sudah siap aku akan menghubungi Om Jendry."


"Baik."


Di sisi lain.


Niko yang begitu tampan dengan balutan jas hitam yang mahal baru saja selesai memeriksa dokumen-dokumen penting perusahan di ruangannya yang dingin. Melihat jam di depannya sudah menunjukkan pukul dua belas siang, Niko segera meraih ponsel kemudian menghubungi istrinya.


"Sayang," sapa Wulan dari balik telpon.


Niko tersenyum dengan wajah memerah. "Aku jemput makan siang, ya?"


"Hari ini aku ingin makan rujak. Kita cari rujak, ya?"


"Rujak," Niko terkejut, "Sayang, kamu tiba-tiba ingin makan rujak, apa kamu ...."


"Kamu sendiri tahu, kalau aku kemarin baru habis datang bulan."


Niko terkekeh. "Mungkin hanya pikiranku saja."


"Aku minta maaf ya belum bisa memberikanmu____"


"Jangan berkata begitu, Sayang. Aku tidak mendesakmu untuk segera hamil. Kita berdua sama-sama berusaha. Oke? Baiklah. Aku ke sana sekarang, kita akan cari rujak sesuai yang kamu inginkan."


"Terima kasih ya kamu mau mengerti. Aku juga sedang berusaha. Aku herharap Tuhan akan mendengar doaku dan memberikan kita anak sesuai yang kita harapkan."


"Itu pasti, Sayang. Tuhan pasti akan mengabulkan doa kita."


"Aku tunggu sekarang."


"Iya, aku akan segera ke sana."


Setelah memutuskan panggilan pintu ruangan Niko terbuka.


Clek!


Darius muncul. "Aku sudah mendapatkan informasi yang Anda inginkan, Pak."


"Bagaimana?"


"Ini gambar resortnya. Ini kamarnya dan ini fasilitasnya."


"Ini sangat bagus, Darius."


"Aku sudah melihat langsung ke lokasi, Pak. Tempatnya benar-benar sama persis seperti di gambar."


Niko tersenyum. "Beberapa hari ini adalah kesempatan kita untuk membuat kejutan. Jangan sampai Wulan mengetahui ini, Darius."


"Tenang saja, Pak."


"Hmmm, menurutmu ... Wulan akan marah tidak ya jika dia tahu aku selingkuh?"


Bersambung____