Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Itu Dia Orangnya.


Tak mau mati sia-sia karena memikirkan hidupnya yang sudah hancur berantakan, Viona akhirnya keluar dan bersantai di sebuah kedai kopi yang tak jauh dari apartemennya.


Selain ingin menghirup udara segar, Viona melakukan itu untuk menghindari Ulan. Viona tidak ingin bertemu Ulan. Karena Ulan dia kehilangan segalanya.


Sebelumnya Niko masih bisa menyapa layaknya teman. Sekarang melihatnya pun Niko seperti melihat hantu jalanan. Begitu juga Deril, sebelum membantu Ulan pria itu masih sering menghubungi dan memberikan apa yang ia inginkan.


Setelah kejadian itu Deril tidak menghubunginya, bahkan tidak merespon pesannya. Membayangkan kena imbas yang bukan kesalahannya membuat Viona sakit hati.


"Sumpah, aku menyesal telah bekerja sama dengan Ulan. Aku memang berteman dengannya ... Kalau tahu ada sangkutpautnya dengan Niko, seharusnya dari awal aku tidak pernah mau membantunya."


Menyesal pun tiada guna. Marah dan benci pun percuma. Hal yang terpenting sekarang adalah menghindari masalah berikutnya.


Drtt... Drtt...


Getaran ponsel mengalihkan Viona. Dilihatnya nama Deril terpampang di layar ponsel.


"Dia menghubungiku?" Viona kaget sekaligus bahagia. Penasaran apa yang ingin diucapkan Deril, Viona langsung menekan radial kemudian menyapanya, "Halo?" suaranya begitu lembut dibuatnya.


"Apa kabar?"


Mata Viona terbelalak. Rasanya ia ingin menangis, mendengar suara lembut yang ia rindukan selama ini.


"Kabarku buruk. Kamu?"


"Buruk, apa aku tidak salah dengar?"


Viona tahu Deril menyinggungnya. Berbohong atau menyembunyikannya pun percuma.


"Itu tidak seperti yang kamu lihat, Deril."


"Benarkah?"


Viona pasrah. "Percuma, aku berkata jujur pun kamu tidak akan percaya padaku."


Mereka terdiam.


"Aku mengaku salah karena pergi ke tempat seperti itu, tapi percayalah," kata Viona lemah, "itu terjadi bukan keinginanku. Hanya wanita gila yang mau mempermalukan dirinya seperti itu. Wanita bodoh pun tidak ingin menyiarkan dirinya secara langsung seperti itu meskipun ada kompensasi."


Deril diam.


Mata Viona berkaca-kaca. "Itu semua karena temanku, dia ingin merebut pacar kakaknya yang kebetulan juga mengenalku. Tak mau menyakiti calon adik iparnya, pria itu mendatangiku dan membalasnya."


"Dan kamu setuju dia melakukannya?"


"Aku tidak punya pilihan, Deril. Seandainya temanku tidak mengirim foto kepada kakaknya ... Dia memeluk pacar kakaknya kemudian mengirim foto itu padanya. Dia juga memprovokasi namaku di depan kakaknya dan itu membuat kakaknya marah, hingga memutuskan hubungannya dengan pria itu. Pria itu tidak akan balas dendam padaku jika wanita gila itu tidak membawa-bawa namaku," Viona terdiam, "Oh, Deril, seandainya kamu tahu betapa aku menyesal bertemu lagi dengannya. Kalau bisa diulang, aku tidak mau ke sini dan menemuinya."


"Makanya jangan suka ikut campur urusan orang. Kalau pun temanmu itu menyukai pacar kakaknya, biarkan dia sendiri yang berusaha mendapatkan pria itu. Jangan pernah kau terlibat dengan hubungan orang lain, apalagi sampai membuat mereka terpisah."


Air mata Viona menetes. "Seandainya kamu ada di sini, aku ingin kamu membawaku pulang, aku tidak mau berada di sini lagi, Deril."


Viona tidak mungkin mengatakan pada Deril bahwa wanita yang mereka sakiti itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang berfoto dengannya.


"Dua atau tiga hari ke depan aku akan ke sana."


Viona terkejut. Kesedihannya lenyap berganti senang. "Kamu akan ke Jakarta?"


"Hmmmm."


Viona teringat soal foto yang di posting Deril lewat akun pribadinya. 'Apa jangan-jangan dia datang bersama Wulan.


Penasaran, Viona menarik napas kemudian berkata, "Boleh aku bertanya?"


"Silahkan."


"Wanita yang mengenakan pakaian menyelam bersamamu itu siapa? Kalian terlihat begitu mesra."


"Kamu cemburu?"


Napas Viona terasa sesak. Hatinya begitu sakit mendengar itu. Namun, sebagai wanita yang masih muda dan cantik ia harus mempertahankan harga diri.


"Cemburu?" Viona berdecak, "Aku hanya kaget saja ... begitu cepat kamu mendapatkan penggantiku."


Deril terdiam.


Deril masih diam.


Viona kesal. "Ngomong-ngomong apa tujuanmu menghubungiku? Kalau tidak ada hal penting yang ingin disampaikan, lebih baik putuskan saja panggilan ini, tidak ada gunanya kau membuang waktu dengan wanita kotor sepertiku, Deril."


Deril berdeham. "Kamu ingat wanita yang kukatakan padamu tempo hari, wanita yang papaku ingin aku mendekatinya?"


"Iya, aku ingat. Kenapa dia?"


"Itu dia orangnya."


Viona terkejut, tapi bingung. "Dia maksudnya?"


"Wanita yang bersamaku itu adalah wanita yang kumaksud. Papanya berteman dengan papaku dan papaku ingin aku mendekatinya."


Mulut Viona terbuka lebar. 'Om Jefry dan papanya Deril berteman, kenapa aku baru tahu? Jangan-jangan om Jefry sengaja tidak ingin Niko menikahi Wulan karena ingin menjodohkan Deril dengan Wulan?'


"Viona?"


Wanita itu terkejut. "Eh! Ya?"


"Kamu jangan salah paham dulu, aku tidak menyukai wanita itu. Kami juga tidak punya hubungan apa-apa. Pose di foto itu sengaja kubuat untuk membuatmu cemburu, aku sakit hati melihat kau duduk di pangkuan pria lain. Intinya aku tidak suka kau kembali ke masa lalu."


Jantung Viona berdetak cepat. "Aku tidak percaya kamu cemburu. Bukankah kamu tidak menyukaiku?"


"Kata siapa aku tidak menyukaimu? Aku menyukaimu, Viona. Jujur aku sangat membutuhkanmu."


"Membutuhkanku di ranjang, kan? Aku kan bukan siapa-siapa bagimu, aku hanya pemuas nafsumu belaka."


"Itu dulu. Semakin ke sini aku makin sadar, kalau aku sangat membutuhkanmu. Butuh bukan sekedar pelampiasan, tapi aku membutuhkanmu dalam hidupku, selamanya."


Viona meneteskan air mata. Rasa bahagia seketika menyelimuti dirinya. Namun, ia tidak ingin mengutarakan rasa bahagia kepada Deril lewat suara.


"Tadi katamu dua atau tiga hari ke depan akan ke sini?"


"Benar."


"Urusan apa?"


"Papa ingin bertemu denganku. Karena kamu di sana, sekalian saja aku ingin menemuimu."


"Oh, begitu. Aku pikir kamu akan datang dengan wanita itu."


Deril terkekeh. "Namanya Wulan, dia Officer Account di kantor kami. Aku sudah menceritakan soal keterikatan kita berdua dan dia___"


"Apa?!" sergah Viona, "kau memberitahu soal diriku padanya?"


"Iya, dan waktu aku menceritakan kekecewaanku terhadapmu, dia malah membelamu. Dia bilang aku tidak boleh menyalahkanmu, kamu melakukan itu pasti ada alasannya. Dan ternyata dugaannya benar."


"Wulan mengatakan itu padamu?"


"Karena aku bilang padanya akan menemui papa, dia menyarankanku untuk bertatap langsung denganmu dan meminta penjelasan soal siaran langsung itu. Dia juga bilang, bahwa semua wanita lebih menyukai Validasi daripada ketergantungan. Apa itu benar?"


Viona tak menyangka Wulan akan memihak padanya. Mungkin Wulan mengira Viona yang bersama Deril adalah orang berbeda dengan Viona yang diceritakan Ulan.


"Apa kau menunjukkan fotoku?"


"Tidak, tapi aku memperlihatkan akun instagrammu padanya. Mungkin dia sudah melihatmu lewat postingan-postingan berandamu."


Viona tersentak. 'Kira-kira Wulan tidak ya, kalau Viona itu sama dengan Viona yang pernah bersama Deril? Kalau dia tahu, pasti dia akan memprovokasi Deril karena sakit hati padaku.'


Viona menarik napas. "Apa dia tidak bilang sesuatu setelah melihat foto-fotoku?"


"Tidak. Kenapa?"


Viona terkekeh. Itu artinya Wulan tidak tahu kalau Viona milik Deril adalah Viona yang sama dengan teman Ulan dan mantan Niko.


"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya," tak mau membahas soal Wulan karena merasa bersalah, Viona menanyakan soal keluarga Deril, "Berarti orangtuamu tinggal di sini, kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?"


Bersambung____