Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Sekongkol.


Semenjak Jefry melayangkan ancaman untuk membunuhnya, Handoko tidak pernah lagi keluar rumah. Ruang tamu, kamar dan taman belakang menjadi tempatnya untuk menghabiskan waktu. Sekarang, di taman belakang sambil menikmati kopi di depan laptop Handoko terlihat begitu santai.


"Permisi, Tuan."


Suara perempuan mengejutkannya. "Ada apa, Magdalena?"


"Seseorang bernama Rudi Hartanto mencari Anda. Beliau masih di depan bersama penjaga keamanan."


Untuk menjaga keselamatan sang ayah, Niko sudah berpesan kepada Brian, Magdalena dan semua pelayan untuk tidak mengijinkan siapa pun berkontak langsung dengan Handoko jika dia tidak ada.


Handoko terjekut dengan senyum sedikit terlihat. "Suruh dia masuk, dia temanku."


"Baik, Tuan."


Ketika Magdalena hendak berlalu, Handoko menahannya.


"Buatkan kopi hitam tanpa gula untuknya."


"Baik, Tuan."


Setelah Magdalena menghilang, Handoko kembali duduk di kursinya dan terlarut dalam pikiran. Kehadiran Rudi benar-benar membuatnya penasaran.


"Aku pikir kau tidak akan pernah kembali lagi ke sini."


Suara Rudi mengejutkan Handoko dari lamunannya. Ia tersenyum, berdiri kemudian memeluk lelaki yang usianya setara dengannya.


"Bagaimana kabarmu, hah?" tanya Handoko.


"Kabarku baik."


Handoko melepaskan pelukan, duduk di hadapan Rudi. "Apa yang membuatmu ke sini, hah?"


"Kau tidak akan menawarkanku minuman?"


Mereka tertawa.


"Kau tenang saja, aku sudah menyuruh Magdalena untuk membuatmu kopi hitam tanpa gula."


"Kau paling tahu apa yang kumau."


Tepat di saat itu Magdalena muncul dengan secangkir kopi hitam.


"Ini, Tuan."


"Terima kasih, Magdalena."


"Sama-sama, Tuan."


Begitu wanita tua itu pergi, Rudi memasang ekspresi serius, ia menatap Handoko.


"Jefry ingin aku membunuhmu."


"Sudah kuduga," Handoko terkekeh, "Tidak mungkin seorang Rudi Hartanto datang kepadaku tanpa alasan."


Rudi menyesap kopinya lalu bertanya, "Ada masalah apa?"


Handoko menceritakan detail masalahnya. Ia juga menceritakan status Niko dan Wulan dan alasan Jefry ingin Niko menikahi putrinya.


"Sumpah, aku baru tahu kalau istrinya sekarang adalah istrinya Benny. Kalau Niko menikahi Wulan, sudah jelas semua aset mereka akan dialihkan kepada Niko, dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Sebaliknya, kau dan dia tidak akan mendapatkan apa-apa jika Wulan menarik semua aset itu kalau dia tahu yang sebenarnya."


"Aku juga berpikir begitu," balas Handoko, "Mana kutahu kalau wanita yang dicintai putraku adalah anaknya Benny."


"Apa Niko sudah tahu yang sebenarnya?"


"Sudah, tapi Jefry tidak tahu soal ini. Dia tahu aku belum menceritakannya pada Niko."


"Itu lebih baik."


Handoko menatap Rudi saat lelaki itu menyesap kopinya. "Berapa yang dia tawarkan?"


"Semenjak kau keluar negeri dia membayarku lima miliar setiap kali melaksanakan tugas. Kemarin dia menawarkan dua kali lipat untuk melenyapkan nyawa seseorang di dalam pesawat. Aku menolaknya dan merekomendasikan bawahanku. Rencananya berhasil, karena saat kulihat berita tadi pagi mereka menemukan mayat perempuan di dalam pesawat."


Handoko terkejut. "Dia menyuruhmu melenyapkan Wulan?"


"Wulan? Maksudmu?" Rudi juga terkejut.


Handoko tak langsung menjawab. Ia meraih ponsel, menghubungi Niko.


Rudi penasaran. "Ada apa, maksudmu Wulan siapa?"


Handoko mengodekan tangan lalu menyapa Niko di balik telepon begitu panggilannya tersambung.


"Syukurlah, papa pikir itu Wulan. Papa rasa kau harus menyuruh orang untuk menjaganya satu kali dua puluh empat jam, nyawanya terancam, Niko."


"Papa tenang saja, aku sudah memikirkan itu."


"Bagus. Tapi kamu juga harus jaga diri, papa tidak mau Jefry menyakitimu."


"Papa tenang saja."


Melihat Handoko selesai berbicara Rudi langsung melontarkan pertanyaan yang sejak tadi membuatnya penasaran, "Ada apa? Maksudmu tadi Wulan anaknya Benny, pacarnya Niko?"


Handoko menjelaskan. "Jefry bersekongkol dengan atasannya Wulan untuk memutasikannya ke Manado. Dia juga yang menentukan jadwal dan maskapai penerbangan Wulan. Untung saja temannya Wulan mendengar pembicaraan itu dan memberitahukannya kepada Niko, kalau tidak mungkin mayat yang mereka temukan itu adalah Wulan."


"Kalau tidak salah ingat nama korbannya Mirnawati."


Handoko terkekeh. "Pantasan dia menyuruhmu melenyapkanku, rencananya untuk menyingkirkan Wulan ternyata gagal."


"Aku cukup keget waktu dia menawarkan tugas ini. Aku sampai bertanya, apa dia yakin."


Rudi menggeleng kepala. Ia tak habis pikir dengan sikap Jefry yang begitu serakah.


"Dia menawarkan dua kali lipat padaku, aku menolak dan meminta lima kali lipat."


"Berarti kau setuju?"


Rudi terkekeh mendapati Handoko menatapnya dengan tajam. Ia meraih gelas kopi di depannya dan menghabiskannya.


"Kita bertiga bersahabat sejak lama, Handoko. Aku tahu siapa kau dan siapa Jefry. Kita berdua sama, sama-sama pernah menjalankan tugasnya, tapi bukan berarti kita harus menjatuhkan satu sama lain."


"Kalau begitu, kenapa kau minta lima kali lipat padanya?"


Ekspresi Rudi berubah. "Kamu pernah menolongku di saat terburukku. Kau tidak pernah meminta kompensasi atau balasan tentang itu. Berbeda denganmu, Jefry mau membantuku asalkan aku berhasil menjalankan tugasnya. Kau tahu, Handoko?"


Handoko menatap Rudi penuh harap.


"Beberapa bulan lalu, kupikir aku akan mati. Penyakit kritis yang menyerang otak membuatku terbaring lemah di rumah sakit. Aku menyuruh orangku untuk menemui Jefry dan menyampaikan pesanku. Kau tahu yang kudapat apa?"


Handoko menggeleng. "Pasti alasannya sibuk."


"Bukan, alasannya karena dia tidak punya tugas untukku. Dia bilang aku hanya mengada-ada, agar dia mau membantuku. Aku sangat ingat kejadian itu dan aku tidak akan pernah melupakannya. Aku sudah berjanji pada Tuhan, suatu saat ketika Jefry ingin memberiku tugas, aku akan memanipulasinya. Sekarang doa itu terkabul."


Handoko akhirnya paham maksud dari kunjungan Rudi. Meskipun mereka bertiga berteman, berkumpul bersama dan membicarakan sesuatu yang tak berfaedah bukanlah karakter mereka. Mereka akan saling bertemu kecuali ada hal penting yang ingin dibahas.


"Aku senang dia menyuruhku berurusan denganmu. Aku akan memanipulasinya, Handoko."


Handoko tersenyum. "Apa rencanamu?"


"Kau tidak perlu bertanya, kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan."


"Baiklah, karena kau sudah menyelamatkan nyawaku, aku juga akan membantumu."


***


Aktivitas kantor benar-benar menguras tenaga Niko hari ini. Karena tidak ada Wulan untuk menghilangkan lelahnya, ia menghubungi wanita itu melalui video call.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, itu artinya di lokasi Wulan sudah menunjukkan pukul enam sore.


"Halo, Sayang," suara Wulan terdengar. Wajah cantiknya terpampang jelas di layar ponsel Niko, "Kamu masih di kantor?"


Senyum Niko begitu lebar. "Iya, pekerjaanku baru saja selesai. Bagaimana harimu?"


"Hariku tidak menyenangkan."


"Kenapa?" ekspresi Niko berubah.


"Kamu tidak di sini. Jadi, rasanya tidak menyenangkan sama sekali."


Senyum Niko kembali. "Aku sangat merindukanmu."


"Sama."


"Cepatlah selesaikan tugasmu dan pulang."


"Iya. Oh iya, hari ini atasan mau ajak kita semua makan malam bersama. Aku akan hadir bersama mereka."


"Jam berapa?"


"Jam tujuh."


"Boleh, asal jangan macam-macam. Ingat, tidak boleh mengenakkan pakaian seksi apalagi menatap pria lain."


Wulan terkekeh. "Siap, Pak Bos."


"Ya sudah, bersiaplah. Aku juga mau pulang dan istirahat, rasanya hari ini lelah sekali."


"Mandi, makan baru istirahat, ya."


"Iya, Sayang."


"Kalau sudah tiba di rumah kabari aku."


"Iya."


"Ya sudah, bye."


Niko hanya tersenyum sampai wajah Wulan sudah tak terlihat lagi di layar ponsel. Begitu ia bergegas untuk meninggalkan ruangan, ponsel Niko kembali bergetar. Ia melirik kemudian menyambungkan panggilan.


"Ada apa?"


"Apa kau sibuk? Kemarilah, ada sesuatu yang ingin kesampaikan."


"Aku akan segera ke sana."


Setelah memutuskan panggilan Niko menatap Darius yang berdiri di dekat pintu.


"Aku akan menemui Petrix, kau pulang ke rumah dan temani Brian menjaga papa. Aku akan menyetir sendiri."


"Baik, Pak."


"Kalau papa tanya, bilang saja aku bersamanya."


"Siap, Bos."


Bersambung___