
"Dari Ulan, Tante."
"Dari Ulan, apa Ulan sendiri yang mengatakan itu padamu?"
Fanny menceritakan apa yang ia dengar malam itu. "Ulan dan Viona menjebak Niko. Mereka akan membuat hubungan Niko dan Wulan hancur. Aku sendiri yang mendengarnya. Kalau Tante tidak percaya, aku akan mengirim rekamannya kepada Tante. Rencana aku akan mengirim rekaman itu kepada Wulan, tapi sampai sekarang ponselnya tidak aktif."
"Tante rasa memang ada yang tidak beres, tidak mungkin Niko melamar Ulan tiba-tiba."
"Terakhir aku bicara dengannya sore sebelum aku mendengar obrolan Ulan dan Viona. Wulan cemburu karena ada seseorang mengirim foto Niko sedang berpelukan dengan Ulan. Wulan juga bilang padaku, Ulan menghubunginya dan menjelaskan soal foto itu. Alasan Ulan padanya, Niko masih mencintai Viona. Jadi, dia memeluk Niko dan memintanya untuk tidak meninggalkan Wulan."
"Niko mencintai Viona?"
"Begitu yang Wulan bilang padaku, Tante. Kata Ulan, Viona adalah mantan kekasihnya Niko. Kata Ulan pada Wulan juga Niko dan Viona masih saling mencintai. Dari obrolan mereka yang kudengar benar, Viona mantan kekasihnya Niko, tapi kalau Niko masih mencintainya itu tidak benar. Bahkan, mereka sedang menyusun rencana untuk menjebak Niko."
"Sumpah, Fanny ... tante tidak menyangka Ulan sejahat itu kepada Wulan. Wulan bukan orang lain, Wulan kakaknya."
"Maaf, jika kata-kataku menyinggung Tante, tapi kan mereka saudara tiri. Apalagi kata Ulan om Jefry memberikan dua puluh miliar kepada Viona untuk menjebak Niko. Bukankah ayah dan anak sama saja?"
Angelina terdiam sangat lama.
"Tante? Tante?"
"Iya, Nak."
"Tante kenapa, Tante baik-baik saja, kan?"
"Tante baik-baik saja. Sekarang kamu kirim saja rekaman itu kepada tante, tante akan membuat perhitungan dengan mereka."
"Kalau Tante mau mendengar saranku, lebih baik jangan dulu. Ada baiknya Tante selidiki dulu apa tujuan om Jefry. Sebagai ayah sambung, tidak seharusnya om Jefry melakukan itu. Tante minta bantu om Handoko untuk mencaritahu semua ini. Aku yakin, om Handoko pasti mau membantu Tante."
"Kamu benar, Sayang. Tante hanya sendiri di sini, tante takut om Jefry akan melakukan sesuatu kepada tante."
"Niko dan om Handoko sangat menyayangi Wulan. Mereka pasti mau membantu Tante."
"Iya, tante akan menemui om Handoko setelah mendapat rekaman itu. Tante akan suruh dia menyelidiki semuanya."
"Aku akan langsung mengirim rekamannya kepada Tante. Aku juga akan menghubungi Wulan, mungkin saja nomornya sudah aktif."
"Tante minta tolong padamu, Nak. Kamu jelaskan semua ini kepada Wulan, tante tidak bisa bicara banyak dengannya lewat telepon. Kalau menenui Handoko, tante bisa alasan berbelanja dan menemuinya. Jadi, suami tante tidak akan curiga."
"Tante tenang saja kalau soal itu."
Setelah mutuskan panggilan Fanny langsung mengirim rekaman itu kepada Angelina. Kemudian ia mencoba melakukan panggilan ke kontak Wulan, tapi jawabannya masih sama.
"Wulan, kamu di mana? Kenapa ponselmu berhari-hari tidak aktif?"
Di sisi lain.
Di ruang tamu yang sepi Angelina duduk termenung. Ia tak habis pikir dengan apa yang dijelaskan Fanny melalui telepon.
'Apa maksud mereka melakukan ini, kenapa Jefry tidak ingin Wulan menikah dengan Niko? Kalau memang Niko pria yang tidak baik, lantas kenapa dia begitu ingin Niko menikahi Ulan?'
Pikiran Angelina terlalu sibuk sampai ia tidak menyadari kehadiran Jefry. Lelaki itu duduk di sebelahnya dan bertanya-tanya.
"Ada apa, apa yang sedang kau pikirkan?"
Angelina tersentak. Melihat Jefry tentu saja membuatnya marah. "Sejak kapan kau di sini?"
"Sejak kapan?" Jefry kesal, "Aku suamimu, Angelina. Kenapa nada dan pertanyaanmu seperti itu?"
Angelina segera mengubah ekspresi dan suaranya. "Maaf, aku terbawa suasana. Aku marah karena sampai sekarang ponsel Wulan tidak aktif. Sejak kemarin aku menghububginya, tapi tidak tersambung."
"Entalah. Kebiasaan buruknya tidak pernah hilang."
"Atau mungkin dia sengaja menghindar, agar Niko tidak menghubunginya. Bukankah mereka sedang ada masalah?"
Angelina menatap marah. "Dari mana kau yakin mereka ada masalah?"
"Dari keputusan Niko ingin melamar Ulan."
Angelina berdiri. "Sepertinya kau senang sekali dia menikahi Ulan. Aku curiga, jangan-jangan kau yang membuat Niko dan putriku bertengkar, agar kau bisa menyatuhkan Niko dengan putrimu."
Tak menunggu jawaban suaminya, Angelina pergi meninggalkan Jefry.
Jefry terpaku di tempat duduk. 'Tidak, Angelina tidak mungkin tahu. Kalaupun dia tahu, siapa yang mengatakan itu padanya? Tidak, dia tidak tahu, kalau dia tahu dia pasti langsung menuduhku.'
Tahu jawaban Angelina hanya dugaan, Jefry mengejar istrinya dan menggodanya. "Sayang, kenapa kau menuduhku begitu? Bukankah aku sudah bilang tempo hari, kalau berjodoh Niko dan Ulan pasti bersama. Aku tidak memaksa Niko untuk menikahi Ulan, dia sendiri yang datang padaku dan mengatakan akan melamar Ulan."
Angelina berhenti, berbalik dan menatap suaminya dengan marah. "Benarkah?"
"Te-tentu saja. Malam ini mereka akan datang, kalau tidak percaya, kau tanyakan sendiri kalau aku memaksa Niko."
Angelina tak ingin berdebat. Bunyi notifikasi yang baru saja masuk ke ponsel membuatnya penasaran. Ia yakin itu pesan dari Fanny.
"Jam berapa mereka datang? Kenapa tidak mengatakannya dari tadi, aku tidak punya persiapan?"
"Tidak usah repot-repot, Sayang. Aku sengaja tidak memberitahumu, aku sudah memesan katering untuk malam ini, aku tidak ingin kamu repot."
"Kalau begitu aku mandi dulu. Kau cek Ulan dan suruh dia bersiap-siap."
Tahu istrinya tidak marah, Jefry menurut kemudian pergi ke kamar Ulan.
***
"Kau yakin dengan keputusanmu?"
Pertanyaan Handoko mengejutkan Niko. Ia berbalik, membelakangi jendela ruang tamu dan menatap sang ayah yang sudah rapi.
"Aku yakin, Pa."
"Jangan bohong, ekspresimu mengatakan tidak."
Niko hanya menunduk. Perkataan Handoko tepat mengenai sasaran.
"Kalau kamu ragu, kita bisa membatalkan pertemuan ini."
Niko menatap ayahnya. "Aku sudah memutuskan, aku akan menikahi Ulan. Meskipun aku tidak bisa bersamanya, aku akan membantu dia dan ibunya mendapatkan keadailan."
"Papa juga demikian. Kehadiran Wulan di tengah-tengah kita membuat papa merasa bersalah. Papa sudah memikirkan hal itu sebelumnya, papa akan mengakui kesalahan papa di depan Angelina dan Wulan. Risiko masuk penjara papa rasa tidak sebanding dengan perbuatan papa."
"Aku sangat mencintai Wulan. Hanya itu caraku untuk mengungkapkan perasaanku padanya."
Handoko melirik jam tangan. "Ayo, mereka sudah menunggu. Lebih cepat lebih baik, agar kita cepat pulang. Papa tidak ingin berlama-lama di sana."
Niko menurut kemudian berjalan mengikuti Handoko.
Darius sudah menunggu di luar dan mengemudikan mobil.
Ketika hendak masuk ke bangku belakang, ponsel Niko tiba-tiba bergetar. Ia berhenti, meraih benda itu dari saku celana kemudian memeriksa panggilan itu. Alis Niko berkerut melihat nama Wulan. Bukannya menyambungkan panggilan, Niko menolak panggilan itu kemudian masuk ke dalam mobil.
Bersambung___