
Ulan tertegun. Ia tak menyangka ada seseorang yang datang mengaku kerabat ayahnya dan ingin membebaskannya. Apa bisa?
Jendry tersenyum dan menjelaskan. "Tadi siang om ke BK Group untuk mencari papamu. Om benar-benar terkejut mendengar papamu meninggal, Nak."
Ulan menunduk sedih.
"Om ingin bertemu ibumu, tapi kata mereka dia sibuk."
"Itu hanya alasannya," tambah Imenk.
Jendry terkejut melihat ekspresi kesal di wajah Imenk. Ia bahkan semakin penasaran melihat kesedihan di wajah Ulan.
"Di sana om tidak mendapatkan informasi apa-apa. Ketika om bertanya penyebab kematian papamu, penjaga keamanan di sana mengarahkan om ke sini. Salah satu alasan om ke sini adalah itu, apa yang terjadi?"
"Apa Imenk belum menceritakannya?" tanya Ulan bingung.
Imenk tersenyum. "Aku bertemu om Jendry di sini. Aku sendiri terkejut mendengar om Jendry ingin bertemu denganmu."
"Aku pikir Imenk yang membawa Om ke sini."
Mereka menggeleng.
"Jadi, apa benar Om bisa mengeluarkan aku dari sini?"
"Tentu saja bisa, asalkan kamu jujur pada om apa yang sebenarnya terjadi. Jujur, om sendiri kaget kamu bisa ada di sini, Ulan."
Ulan menceritakan kronologi yang sebenarnya. Nada dan ucapan yang dilontarkan bahkan tak sedikipun menyalahkan Wulan dan ibunya. Ia juga berkata jujur soal apa yang dilakukannya kepada Viona.
"Aku benar-benar menyesal, Om. Aku tidak pantas disebut saudara. Wulan kakaku, tapi aku tega melakukan itu padanya. Seandainya papa tidak mengajakku melakukan itu, aku tidak akan berada di sini. Dan yang membuatku bingung, pihak keluarga Lamber melaporkanku atas kasus penganiayaan terhadap Viona."
"Om akan membantumu mencaritahu soal kasus yang menimpa Viona. Sekarang, kamu harus siap mental untuk menyerang mereka. Om punya informasi yang bisa kamu gunakan untuk membalas mereka."
"Maksudmu membalas Wulan dan ibunya? Aku tidak mau bermasalah dengan mereka. Yang menjahati mereka adalah papa. Tidak seharunya aku menjahati mereka."
"Om tidak bilang kamu harus membalas Wulan dan Angelina, kan?"
Imenk dan Ulan terkejut.
"Maksud om Niko dan Handoko, om punya informasi yang bisa membuat Wulan dan Angelina membenci mereka."
"Informasi apa itu, Om?" tanya Imenk.
Ulan tak kalah penasaran. "Iya, informasi tentang apa, Om?"
***
Di pinggir kolam Wulan sedang melamun. Ia memikirkan kejadian tadi pagi yang sampai sekarang masih menyelimuti dirinya.
Dengan tubuh yang hanya memakai kaos oblong panjang dan panties, Wulan terus melamuan tanpa sadar sosok Niko sudah keluar dari air.
Karena sudah menikah, Handoko memberikan rumah mewah sebagai hadiah pernikahan. Lokasinya lumayan jauh dari perkotaan.
Sama-sama menyukai alam, Wulan dan Niko justru senang mereka bisa tinggal di rumah yang sangat jauh dari polusi.
"Apa yang kamu pikirkan, hah?" Niko memeluk sambil mencium dahi Wulan.
Wulan terkejut merasakan dingin dari tubuh Niko. "Aku tidak apa-apa," katanya lalu tersenyum.
Niko tak percaya. "Kamu lupa apa yang pernah papa katakan? Bukankah kamu sendiri yang bilang, berapa pentingnya komunikasi dalam rumah tangga."
Wulan menatap Niko. Tangannya yang lembut menyentuh rahang Niko dan mengusapnya.
"Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu. Jujur, sejak tadi aku tidak nyaman dan ingin menanyakannya. Tapi, aku tidak ingin kamu marah dan merusak suasana kita."
Niko menunduk, mengecup bibir Wulan kemudian menjawab, "Aku mencintaimu, apa pun yang ingin kamu katakan itu tidak akan membuatku marah. Aku percaya padamu."
"Tadi pagi aku mendengar suara perempuan di balik ponsel. Kamu menyuruhnya untuk jangan bergerak dan dia bilang dadanya panas. Bisa aku tahu itu siapa dan apa yang kalian lakukan?"
Meski penerangan sangat minim Niko bisa melihat kecemburuan di mata Wulan. Namun, pertanyaan Wulan cukup membuatnya terkejut, sehingga mampu menghalaukan rasa bahagianya.
"Dia bilang dadanya sakit?"
"Iya. Kamu mungkin tidak sadar kalau panggilan kita belum berakhir. Hal itu terjadi setelah kamu pamit untuk memeriksa dokumen."
Niko teringat. "Oh, dia asistennya Darius. Sesuai permintaan aku menyuruh Darius menemani papa, Brian tidak bisa menyetir hari ini. Karena dokumen itu dikerjakan oleh asistennya sejak kemarin, dia bertanggung jawab mengerjakannya sampai selesai."
"Kenapa kamu menyuruhnya jangan bergerak?Dan kenapa dia bilang dadanya panas?"
"Seingatku tadi dia menawarkan diri untuk membawa cangkis kopi bekas. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan tiba-tiba cangkirnya jatuh. Spontan aku langsung kaget dan mengumpulkan bekas pecahan cangkirnya. Maka dari itu aku menyuruhnya jangan bergerak."
Wulan cemberut.
Niko mencium pipinya. "Aku tidak macam-macam dengannya, Sayang. Begitu melihat pakaiannya kotor aku langsung menyuruh dia keluar dari ruangan."
"Tapi kenapa kamu mematikan ponselnya, kamu takut aku mendengar percakapan kalian?"
"Mematikan ponsel?" Niko bingung, "Tadi aku berharap kamu sudah memutuskan panggilan. Makanya aku meletakkan ponselku begitu saja. Soal mematikannya ... Aku tidak menyentuh benda itu lagi setelah kita selesai bicara."
Wulan bingung. Namun, ia tak mau memperluas masalah. Alasannya tidak masuk akal. Entah Niko yang berbohong atau ia yang berlebihan. Wulan tidak ingin hal-hal kecil seperti ini akan membuat hubungannya tidak enak.
"Lupakan saja. Yang penting kamu tidak macam-macam padanya."
Berbeda dengan Wulan, hal itu justru menjadi beban pikiran bagi Niko. Ia tak mau melukai perasaan istrinya.
"Sumpah, aku tidak memutuskan panggilanmu tadi pagi, Sayang."
"Aku percaya," Wulan mencium leher Niko, "Ayo, kita pagikan malam ini."
Tak ingin merusak suasana Niko segera membopong tubuh Wulan ke tempat duduk. Ia menyandarkan tubuh Wulan kemudian menciumnya.
Setelah bibir mereka terlepas, ia menatap Wulan dan berkata, "Tidak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku. Tidak ada wanita yang cantik di dunia ini selain dirimu."
Wulan tersenyum. Tangannya yang lembut perlahan menyentuh dan mengusap bagian keras milik Niko.
"Tuangkan aku anggur. Aku ingin mabuk bersamamu malam ini."
Dengan mata sayu dan gairah yang melonjak Niko mengecup bibir Wulan. "Anggurnya segera datang."
Wulan tersenyum nakal melihat suaminya berjalan ke arah meja. Tubuh Niko yang basah dan seksi membuat rasa panas di tubuhnya melonjak. Sambil melihat Niko menuangkan anggur, Wulan melepaskan atasan hingga tersisa dalaman. Begitu Niko kembali ia berbaring dan meletakkan tangan di atas kepala.
Tubuh Niko semakin terbakar melihat pemandangan indah di depannya. "Kalau gayamu seperti ini, aku rasa rencana kita untuk mabuk bersama tidak akan terwujud."
Wulan terkekeh kemudian mengubah posisinya. Ia duduk bersandar dengan kedua kaki tetap lurus.
"Itu tidak boleh terjadi, kita harus mabuk bersama."
Niko menyodorkan gelas milik Wulan. "Jangan sampai mabuk, kita tidak akan menikmati malam ini kalau kita berdua sama-sama mabuk."
Wulan hanya tersenyum kemudian menenggak habis isi gelasnya. "Aku mau lagi."
Niko menuangkannya lagi.
Melihat di tangan Niko hanya ada botol anggur dan gelas miliknya, Wulan penasaran dan bertanya, "Kamu tidak minum, Sayang?"
Niko belum menjawab. Ia menunggu Wulan menenggak lagi isi gelasnya. Begitu sang istri mengangkat kepala untuk menghabiskan anggurnya, Niko menuangkan sedikit demi sedikit anggur itu ke bahu Wulan yang mulus kemudian mencicipinya.
"Aku akan minum di sini."
Bersambung____