
Viona menjadi penengah. "Sayang, sepertinya kau harus minta maaf kepadanya."
"Minta maaf untuk apa?" Deril berdiri dengan ekspresi bingung.
Niko ikut berdiri dan menjajarkan posisinya di depan Deril dan Viona.
Viona menelan ludah. "Orang yang kalian tuduh membunuh papa adalah papanya Niko."
Deril terkejut.
Tak ingin mengundang emosi Viona langsung menambahkan. "Kamu ingat orang yang mengunjungi papa saat kalian sedang berbicara?"
"Iya. Kalau tidak salah kata mama orangnya bernama Handoko."
"Handoko itu papanya Niko, Sayang. Aku mengenal mereka, tidak mungkin om Handoko melakukan itu."
Deril marah. "Kenapa kau membelanya? Jelas orang asing itu yang terakhir kali mengunjungi papa."
"Papa meninggal malam, Sayang. Kita masih berinteraksi dengan papa jauh setelah waktu om Handoko berkunjung. Aku yakin, pasti bukan om Handoko yang melakukannya."
Niko berdeham. "Apa ada bukti CCTV yang bisa dijadikan bukti?"
"Tidak ada CCTV di ruangan papa. Selama ini tidak ada orang asing yang datang menjenguk papaku selain papamu."
"Jaga mulutmu, Kawan," ucap Niko marah, "Kau tidak bisa menuduh papaku tanpa bukti."
"Kalau bukan papamu siapa lagi? Kata mamaku kemarin itu tidak ada orang lain yang datang selain papamu."
Emosi Niko meledak. Untung Viona segera menahannya. Jadi, Niko menurunkan niatnya kemudian berkata, "Aku akan menuntut balik jika papaku tidak terbukti bersalah."
Tanpa menunggu balasan Niko pergi meninggalkan mereka.
Deril menatap Viona. "Kenapa kamu begitu membelanya?"
"Aku tidak membelanya, aku yakin kalian pasti salah orang. Aku mengenal mereka, mereka bukan orang jahat, Deril."
Deril menatap Viona dalam diam. Sesaat ia menarik napas lalu berkata, "Aku kecewa padamu, di saat seperti ini harusnya kau membelaku, bukan mereka."
Setelah mengatakan itu Deril berbalik meninggalkan Viona sendirian. Kehilangan papanya sudah membuatnya pusing, apalagi memikirkan orang lain.
Viona merasa bersalah, situasi sekarang membuatnya bingung. Deril orang yang sangat berarti baginya sekarang. Namun, bukan berarti ia sudah melupakan Niko. Sebagai orang yang tahu masalah yang menyangkutpautkan mereka semua, Viona yakin bukan Handoko pelakunya.
Di sisi lain Handoko sedang di introgasi oleh polisi. Jawaban yang dilontarkan begitu tegas dan penuh keyakinan.
"Dua pertanyaan terakhir sebelum kita istirahat," kata si penyidik, "Apa hubungan Anda dengan Robby Lamber?"
"Aku nasabah terbaik dan terlama di perusahannya."
"Bisakah Anda jelaskan, apa tujuan Anda mengunjungi korban hari itu?"
Handoko merasa ia harus jujur. "Calon menantuku adalah bawahan Robby, demi uang Robby mengirim calon menantuku ke luar kota, dengan alasan perintah perusahan. Ada seseorang yang menyuruh Robby melakukan itu. Tujuanku berkunjung untuk meminta Robby melaporkan orang itu ke pihak kepolisian."
"Anda berkata begitu, apa Anda mengenal orang itu?"
"Tentu saja. Namanya Jefry Tanujaya."
Penyidik itu mengangguk. Siapa sih yang tidak mengenal Jefry Tanujaya. Sebagai aparat tentu mereka tahu siapa Jefry, orang terkaya dan tidak pernah melakukan kejahatan. Ya, begitulah Jefry di mata polisi.
Sebagai penyidik yang bertanggungjawab ia tidak mendiskriminasikan mereka. Ia tahu apa konsekuensi jika menyinggung orang besar seperti Jefry, tapi ia juga tidak berani menyinggung orang seperti Handoko Lais. Walaupun terlihat lebih tegas, penyidik itu sangat berhati-hati melontarkan pertanyaan dan takut akan menyinggung Handoko.
"Kita istirahat sebentar," kata si penyidik, "Apa Anda ingin minum sesuatu?"
Handoko mengabaikan. "Sebaiknya Anda tanya ke pihak keluarga Robby penyebab kebedaraannya di rumah sakit. Kata Robby padaku, dia berada di rumah sakit karena Jefry Tanujaya."
Penyidik itu ingin mengabaikan pernyataan Handoko. Namun, nama-nama yang terlibat dalam masalah Robby Lamber ini sangat menggiurkan dan mungkin ini bisa menjadi ladang yang sangat bagus untuknya.
Penyidik itu menarik napas panjang. Sembari menunggu bukti yang ada, penyidik itu melakukan komunikasi dengan Handoko.
"Robby di temukan dengan mulut berbusa. Ada yang meracuninya."
"Jelas itu akan terjadi. Besok pernikahan putraku dengan putrinya Jefry. Seandainya Robby masih hidup dan menuruti perintahku untuk melaporkan kasus Jefry kepada kalian, apa menurutmu pernikahan itu akan terjadi? Aku tidak ingin menikahkan putraku dengan putrinya, tapi dia melakukan segala cara untuk membuat pernikahan itu terjadi."
Handoko terdiam.
Si penyidik ingin melanjutkan, tapi pintu ruangan diketuk dua kali kemudian sosok di balik pintu masuk.
"Ada apa?" tanya si penyidik.
Pria muda yang merupakan bawahannya langsung mengodekan kepala, seolah-oleh berita yang ingin disampaikan beesifat pribadi.
"Anda tunggu di sini," kata si penyidik kepada Handoko.
Handoko duduk sambil berpikir. Ia berharap kasus ini akan berlanjut agar besok dirinya tidak akan hadir di pesta pernikahan. Niko pasti akan mau menghadiri pesta itu tanpa dirinya.
"Pak Handoko," suara penyidik itu mengejutkannya, "Ayo, ikut saya."
Handoko berdiri dan bertanya, "Anda akan membawaku ke mana?"
"Jefry Tanujaya sedang menunggu Anda di luar."
Senyum meremehkan di wajah Handoko mencuat. "Ingat yang kukatakan tadi."
Penyidik itu tidak merespon dan membimbing Handoko. Begitu mereka keluar, Jefry sedang berdiri dengan tubuh yang gelisah.
"Apa yang terjadi?" tanya Jefry pura-pura.
"Mereka menuduhku membunuh Robby Lamber."
"Kenapa bisa?" Jefry seolah-olah tidak tahu dan ingin mencaritahu.
"Ceritanya panjang. Kamu, sedang apa kamu di sini?"
"Membebaskanmu. Ayo, kita pulang sekarang, kita harus bersiap, besok pesta pernikahan anak-anak kita, Handoko."
Handoko menatap penyidik itu. "Apa yang dia katakan benar, aku bisa pulang?"
Pria itu mengangguk tanpa suara.
Jefry dan Handoko pun meninggalkan kantor polisi tanpa ada yang menghalang.
"Apa yang terjadi, kenapa mereka menuduhmu?" tanya Jefry begitu mereka tiba di dalam mobil, "Tadi aku menghubungi Niko, dia menceritakan apa yang terjadi. Itu lah sebabnya aku ke sini. Aku juga sudah menyiapkan pengacara jika mereka berani melawan."
"Aku nasabah prioritas di kantornya. Wajar bukan kalau aku membesuknya? Aku juga tidak habis pikir kenapa mereka menuduhku. Menurut mereka, aku satu-satunya orang yang berkenjung hari itu."
Jefry bersyukur tidak pernah menceritakan alasannya untuk menyingkirkan Wulan kepada Robby. Kalau Robby sampai tahu Wulan punya hubungan dengan anak nasabah prioritasnya, pasti ... Pikiran Jefry terhenti seketika.
'Apa jangan-jangan Robby sudah tahu kalau Wulan adalah ...,' kata Jefry dalam hati, 'Apa mungkin karena Robby tahu Wulan pacarnya Niko sampai dia mengganti jadwal penerbangan Wulan waktu itu? Hmmm, aku paham sekarang.'
Pikiran seperti itu membuat Jefry marah, ia merasa Robby telah menipunya. Kematian Robby juga dianggap balasan setimpal dengan apa yang dilakukan lelaki itu terhadapnya.
Drtt... Drtt...
Ponsel Handoko bergetar.
Jefry terkejut kemudian menoleh. Ia melihat Handoko sedang berbicara dengan sosok yang tidak diketahuinya.
"Papa sudah di jalan, om Jefry telah membebaskan papa. Kamu tidak perlu khawatir, sebentar lagi papa akan tiba."
Handoko memutuskan panggilan.
"Siapa?" tanya Jefry.
"Niko. Dia baru saja tiba di kantor polisi, dia ke sana bersama pengacara dan ingin membebaskanku."
"Bilang padanya sudah terlambat."
Hahahahah
Bersambung____