Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Harus Membalasnya.


Setelah memutuskan panggilan Ulan kembali menangis. Membayangkan semua kejadian membuatnya menyesal. Ulan ingin taubat dan berjanji pada dirinya untuk tidak mengulangi hal tersebut. Ia harus bersikap baik kepada Wulan. Ia juga harus mendengarkan setiap kata dan perintah Angelina, walaupun mereka bukan ibu dan suadara kandungnya.


Tok! Tok!


Bunyi ketukan pintu mengejutkan Ulan. Dengan lemas ia menyahut, menyuruh sosok di balik pintu untuk masuk.


"Ulan," sapa Imenk begitu memasuki kamar temannya, "Apa yang terjadi, kenapa bisa begini?"


Seminggu setelah Viona muncul Imenk berhenti dari pekerjaannya. Imenk dan Ulan sangat dekat. Setiap orang yang melihat, mereka sering berasumsi Ulan dan Imenk adalah saudara. Saking dekatnya hubungan mereka, Imenk merasa cemburu ketika Viona muncul dan merebut Ulan darinya. Imenk tidak terima Ulan sering mengabaikannya ketika Viona datang menjemput Ulan di kantor.


Sakit hati karena diabaikan Ulan dan memilih Viona, Imenk memutuskan berhenti dan mencari pekerjaan yang lain. Tujuan itu dilakukan untuk melihat kesetiaan Ulan kepadanya.


Apakah Ulan akan mencari Imenk ketika ia tidak ada? Tidak! Ulan sama sekali tidak memikirkan Imenk sampai akhirnya wanita itu menghubunginya hari ini.


Melihat Imenk masuk ke kamarnya, tangis Ulan langsung pecah. Ia menghambur ke pelukan Imenk lalu menangis.


Ulan ikut menangis. Meksipun belum tahu hal yang terjadi, Imenk bisa ikut merasakan kesedihan yang dialami Ulan.


"Memang tidak mudah, tapi kamu harus ikhlas dan sabar. Kamu pasti bisa melewati ini."


Perlahan Ulan melepaskan tubuh Imenk dari pelukannya. Dilihatnya mata Imenk yang juga basah akibat menangis. Ia kemudian mengajak Imenk duduk di ranjang dan menceritakan semuanya. Ulan menceritakan kronologi kematian Jefry, serta rencana pernikahan yang dikiranya akan terjadi.


"Niko ... Apa dia Niko yang bertemu dengan kita di rumah makan lesehan tempo hari bersama kak Wulan?"


"Iya," Ulan menceritakan rencana jahatnya dan keterkaitan Niko dan Viona, "Niko sudah setuju dan mau menikahiku. Namun, di hari itu ...," Ulan terisak, "Hari itu menjadi hari bersejarah bagiku, Imenk. Hari itu aku bukan hanya kehilangan Niko, aku juga kehilangan papaku untuk selamanya."


Imenk ikut perihatian mendengarnya. "Lalu bagaimana tante Angelina? Oh, iya, tadi kamu bilang mamamu membencimu, kenapa? Lalu Viona, apa dia menjauhimu karena cemburu?"


"Mama membenciku karena dia mengetahui semuanya. Entah siapa yang memberitahu, mama tahu tentang rencana papa ingin melenyapkan kak Wulan. Soal Viona, mungkin dia marah karena Niko pernah mempermalukannya karena aku. Aku membuat kak Wulan marah dan Niko melampiaskannya kepada Viona."


Alis Imenk berkerut. "Tunggu, lalu dari mana anaknya pak Robby tahu kalau papamu yang melakukannya? Bukankah katamu tadi kondisi pak Robby koma berhari-hari di rumah sakit?"


Ulan menunduk sedih. "Aku juga tidak tahu, Menk. Semua ini membuatku pusing. Aku benar-benar tidak ingin memikirkan hal ini. Untuk sekarang aku bersyukur mereka tidak menuntut dan mengirimku ke dalam jeruji besi untuk menggantikan papaku. Meskipun menyakitkan di posisi sekarang, setidaknya aku bisa menghirup udara segar dengan bebas."


"Memang, tapi kamu tidak boleh diam saja," tegas Imenk, "Benar kesalahan yang kamu dan papamu lakukan bukan perkara mudah. Tapi coba kamu pikir ... mendengar penjelasanmu, aku rasa ada pengkhianat yang memang tidak suka dengan kalian. Tidak mungkin anaknya pak Robby bisa tahu kalau papamu yang melakukannya. Mana mungkin mamamu tahu soal itu kalau bukan orang dekatmu yang memberitahukannya. Kecuali kamu menceritakannya di depan umum dan mamamu tidak sengaja mendengarnya."


Ulan tampak berpikir. "Aku tidak menceritakan hal itu pada siapa-siapa selain Viona," mata Ulan membulat menatap Imenk, "Apa jangan-jangan ...."


"Aku rasa begitu. Yang tahu semua itu hanya Viona, bukan? Siapa sangka, mungkin karena dia sakit hati padamu, dia membocorkan hal itu pada mamamu dan anaknya pak Robby."


Wajah Ulan berubah. Ia menatap dinding dengan marah. "Mungkin kamu benar, hanya dia satu-satunya orang yang tahu semuanya," Ulan menatap Imenk, "Apa yang harus kulakukan padanya?"


"Apa kamu akan membiarkan dia begitu saja, sedangkan kamu sudah kehilangan papamu dan kepercayaan dari keluargamu?"


Ulan berpikir.


"Kamu harus membalasnya, Ulan. Kamu tidak perlu membuat dia kehilangan siapa-siapa seperti apa yang dia lakukan padamu, membuat dia kehilangan muka saja itu sudah cukup membalaskan dendamu padanya."


"Aku bisa membantumu mendapatkan berbagai jenis asam dengan mudah."


Ulan terkejut. Ia pun paham apa yang dimaksud Imenk.


Imenk menambahkan, "Tanganmu terlalu bersih untuk orang licik seperti Viona, Ulan. Mari kita melakukannya dengan cantik."


"Tapi dia sudah tidak mau lagi bertemu denganku, Imenk."


"Beri dia alasan apa saja, sampai dia mau bertemu denganmu. Sekarang masih suasana duka, dia pasti tidak akan curiga apa-apa jika kamu mengajaknya bertemu. Paling dia menganggp kamu butuh teman curhat untuk didengarkan. Begitu dia setuju, kamu lihat saja apa yang akan kulakukan padanya."


Ulan tersenyum dan memeluk wanita di depannya sambil menangis. "Terima kasih banyak, Imenk. Untung ada kamu, kalau tidak ...."


"Sudah, jangan menangis lagi. Airmatamu akan habis kalau terus-terusan menangis."


***


Sejak tahu alasan penempatan Wulan tidak ada sangkutpuatnya dengan operasional mereka, Deril membantu Wulan untuk bisa kembali ke kantor yang lama.


Tidak memakan waktu lama, Deril berhasil memindahkan kembali Wulan ke Jakarta, agar bisa bertemu lagi dengan Niko dan Angelina.


"Terima kasih, Deril," ucap Wulan tulus.


Saat ini mereka berada di kantor bersama staf yang lain. Karena hari ini terakhir Wulan berada di sana, beberapa dari mereka menangis sambil memeluk Wulan.


"Ngana somo se tinggal pa torang dang? Pe tega skali ngana Wulan, eh. Tong so ta ena deng ngana di sini kong ngana somo pigi. Torang pe rencana mo ka Siladen bulum tawujud te ngana somo pigi." (Kamu mau meninggalkan kami, ya? Tega sekali kamu, Wulan. Kita semua di sini sudah nyaman bersamamu dan kamu akan meninggalkan kami. Rencana kita ke Siladen belum sempat terwujud, tapi kamu sudah mau pergi.)


"Io ona, Wulan. Sudah jo kwa ang ngana bale. Di sini jo angko, torang so ta sedap deng ngana di sini." (Iya, Wulan. Kamu tidak usah kembali. Kamu di sini saja, keberadaanmu di sini membuat kami senang.)


"Io, Nou ... tinggal di sini jo ti nunu aa? Kalo ti nunu somo pigi, so tidak mo pokus karja poli torang samua. Di sini jo ti nunu aa, tidak usah pulang ti nunu aa?" (Iya, Sayang ... tinggal di sini saja kamu, ya? Kalau kamu pergi, kami semua tidak akan fokus kerja lagi. Kamu di sini saja, ya, kamu tidak usah pulang, ya?)


Wulan tak bisa menahan tawanya. Dengan mata berair akibat menangis, ia tertawa sambil menatap mereka.


"Aku tidak paham dengan bahasa kalian. Apa yang kalian katakan? Maaf, aku tidak mengerti."


Deril tersenyum. Ia mendekati Wulan dan menjelaskan maksud para stafnya, "Mereka tidak mau kamu pergi, mereka sudah nyaman bersamamu. Mereka ingin kamu tinggal."


Wulan meneteskan air mata. Ia juga sebenarnya tidak tega meninggalkan kantor itu. Walaupun berbeda-beda suku, rasa hormat dan saling membantu begitu kental di tempat itu. Ia senang dan banyak mendapatkan ilmu dari mereka, meski belum paham sepenuhnya soal bahasa mereka.


Deril menatap ketiga bawahannya. "Tugas Wulan sudah selesai. Sudah waktunya dia kembali."


"Aku janji," Wulan menangis kemudian memeluk mereka bertiga, "Aku janji akan kembali ke sini. Aku akan kembali dan kita akan ke Siladen bersama."


Deril berdeham. "Sudah, sudah, nanti dia ketinggalan pesawat. Ayo, Wulan."


Bersambung____