Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Menemui Jefry Tanujaya.


Seperti yang sudah dijanjikan, saat ini Handoko baru saja masuk ke gedung kantor mewah yang berada di tengah kota.


"Silahkan masuk, tuan Jefry ada di dalam," pegawai wanita mempersilahkan.


Handoko mengetuk pintu sekali lalu masuk.


"Selamat pagi, Pak Jefry Tanujaya."


Jefry yang tadinya duduk langsung berdiri. "Handoko ... apa itu kau?"


Kedua lelaki itu berpelukan. Dua puluh tahun tak bertemu membuat mereka hampir tak mengenal satu sama lain.


"Kau semakin tampan, Jeff."


"Kau juga semakin putih dan tampan, Handoko. Aku pikir kau bercanda tentang kunjungan ini, aku pikir kau masih di luar negeri. Ayo, silahkan duduk. Kau ingin minum apa?"


"Kopi saja."


Jefry menekan interkom, sedangkan Handoko duduk di depannya.


"Bawakan dua gelas kopi ke ruanganku."


"Baik, Pak."


Jefry menatap Handoko. "Kapan kau tiba, hah? Kenapa kau tidak mengabariku? Aku bisa menyuruh orang menjemputmu."


"Itu tidak perlu. Aku ke sini karena putraku, aku ingin memperbaiki hubunganku dengannya."


"Itu benar, dua puluh tahun itu bukan waktu yang singkat. Apa dia tidak menanyakan alasan kau meninggalkannya?"


Handoko menunduk. "Aku sudah jujur padanya, Jefry."


"Semua?"


"Tidak."


"Kenapa?"


Handoko menatapnya. "Aku tidak ingin Niko tahu keterlibatan kita di masa lalu."


"Itu tidak masalah, Handoko. Aku ingin Niko tahu, kalau papanya bersahabat dengan lelaki paling berpengaruh di kota ini," Jefry tertawa. Kesombongan membuat ekspresi wajahnya berubah.


"Niko tidak perlu tahu soal itu."


"Kenapa?"


"Dia menyukai putrimu."


Lelaki di depan Handoko kaget. "Niko menyukai Wulan?"


"Tidak pantas bukan, kalau dia tahu calon mertuanya adalah lelaki jahat."


Jefry terkekeh.


"Alasan aku menemuimu hari ini karena itu. Sumpah, aku sangat marah padamu, Jefry. Aku sebenarnya malas bertemu denganmu, tapi demi Niko aku harus melakukannya."


"Aku tahu. Semua sudah terjadi, Handoko. Lagi pula kita sama-sama menikmati hasilnya, kan."


Handoko menatap tajam. "Jika aku tahu koper itu berisi peledak, aku tidak akan membawanya."


"Sudahlah. Semua sudah terlambat, Handoko."


"Kau tidak akan mengerti, Jeff."


Tepat di saat itu kopi mereka datang. Setelah pegawai cantik itu keluar, mereka kembali bicara.


"Daripada kita membahas masa lalu yang tidak akan mungkin kembali lagi, mari kita bicara masa depan," kata Jefry, "Ngomong-ngomong, sejak kapan putramu menyukai putriku? Ini benar-benar kabar baik, Handoko. Sebentar lagi kita akan menjadi besan."


"Seandainya tidak ingin Niko berubah, aku tidak mau menjadi besanmu, Jeff."


"Ayolah, Handoko. Kamu itu sangat berjasa bagiku. Aku tidak akan pernah lupa apa yang kau lakukan untukku. Mungkin sekarang waktunya aku membalas. Katakan, apa yang harus kulakukan demi anak-anak kita?"


Handoko diam sesaat. Ia menceritakan kronologi saat Niko bertemu Wulan.


"Sebelum itu aku memang ingin menjodohkan Wulan dengan putramu, tapi keberadaamu di luar negeri membuatku sulit mengatakannya. Sekarang, hal itu ternyata membawamu padaku saat ini. Takdirku memang selalu baik, Handoki," Jefry tertawa.


"Kau tidak menyusun rencana lagi, kan?"


"Ayolah, Handoko. Kenapa kau selalu berpikir buruk tentangku, hah?"


"Apa alasamu ingin menjodohkan mereka?"


"Aku tidak mau orang lain mengelolah perusahanku. Aku tidak mau mereka tahu sejarah kekayaanku. Kau tahu kan, semua ini aku lakukan demi kita. Demi aku dan kau."


Handoko terkejut. "Tidak untukku, Jefry. Hanya untukmu."


"Kau sudah menikmati hasilnya, Handoko. Kau tahu itu."


"Apa maksudmu?"


Handoko penasaran dengan pernyataan Jefry. Namun, ia tahu temannya itu keras. Jadi, memaksanya berkata jujur sekarang percuma.


"Niko sangat menyukai putrimu. Aku tidak yakin putrimu akan menyukai Niko."


"Itu bisa diatur, Handoko. Kapan kita akan melakukan perjamuan untuk membicarakan hal ini, hah?"


"Kau bicarakan dulu hal ini dengan putrimu. Kalau dia setuju, kita akan makan malam bersama dan membahas pernikahan mereka. Seperti katamu, secepatnya mereka menikah akan lebih bagus, aku punya perjanjian dengan Niko setelah dia menikah."


"Perjanjian apa?"


"Aku ingin dia mengelolah semua usahaku di sini. Selama ini dia belum tahu soal itu, dia tahu perusahan itu milik temanku."


"Kau tenang saja, nanti malam aku akan bicara dengan Wulan. Besok pagi aku akan mengabarimu."


***


Setelah urusan di rumah sakit selesai, Niko mengajak Wulan ke salah satu restoran terkenal di pusat kota.


"Aku lapar. Kamu mau kan menemaniku makan siang?"


Wulan merasa senang berada di dekat Niko. Entah kenapa ia rasanya ingin berlama-lama bersama pria itu.


"Tidak, kebetulan aku sudah lapar."


Niko tersenyum. Ia senang Wulan memiliki sikap terbuka seperti itu.


Saat ini mereka sudah berada di restoran itu. Niko mengambil posisi di depan Wulan. Tahu wanita itu menyukai ayam bakar, Niko menyuruh Brian membawa mereka ke sana. Padahal Niko paling anti sekali dengan makanan seperti itu.


"Oh, iya," Niko memulai, "boleh aku tahu kenapa orang rumah tidak menjemputmu?"


"Kepulanganku mendadak. Aku tidak ingin mengabari orang rumah, mereka sangat sibuk hari ini."


"Aku dengar kamu mengambil cuti, ya?"


Wulan tersenyum. "Kamu tahu dari siapa?"


"Aku menyuruh Brian mencarimu. Aku menyuruhnya ke kantormu, bahkan ke rumahmu. Mereka bilang kamu cuti dan pergi keluar kota.


"Kepergianku tidak direncanakan, semuanya serba mendadak."


Tatapan Niko begitu dalam. "Aku ingin berterima kasih padamu, kamu sudah menyelamatkanku, Wulan. Seandainya kamu tidak muncul waktu itu, mungkin aku tidak akan duduk bersamamu seperti ini."


Wulan tersenyum sayang.


"Terima kasih juga kamu sudah membayar biaya pengobatanku. Aku akan menggantinya."


"Itu tidak perlu, aku ikhlas melakukannya."


"Ijinkan aku membalas budi baikmu."


Wulan tertawa tepat di saat pelayan datang menghampiri.


"Itu tidak perlu, Niko."


"Permisi, ada yang bisa dibantu?"


Niko membolak-balik daftar menunya. "Kamu ingin makan apa, Wulan?"


"Ayam bakar rica dan es teh manis."


"Aku juga sama," balas Niko kemudian menutup daftar menunya, "Es tehku gulanya sedikit saja, ya. Aku tidak suka manis."


"Baik, Pak. Mohon ditunggu, ya."


Setelah pelayan itu pergi Wulan mengajukan pertanyaan kepada Niko, "Kamu suka makan pedas?"


"Ini pertama kali. Kelihatannya enak. Aku ingin mencobanya."


Wulan tersenyum.


Tak mau keheningan terjadi, Niko mengajukan pertanyaan yang membuat hati Wulan tak karuan.


"Aku tidak punya pacar, Niko."


"Wanita sebaik dan secantik dirimu masa tidak ada yang memiliki."


"Aku serius."


"Syukurlah. Berarti tidak ada yang marah kalau aku mengajakmu ke mana-mana."


Wulan terkekeh.


Niko bisa menangkap respon yang sama dari ekspresi dan bahasa tubuh Wulan. Wanita itu menyukainya.


"Kalau ada yang melamarmu dan ingin menikahimu, apa kamu akan menerimanya tanpa berpacaran terlebih dahulu?"


Bersambung____