
Keesokan hari Angelina sedang menyiapkan sarapan di dapur bersama beberapa pelayan. Saat pikirannya teringat kepada Wulan, ia kembali mengambil ponsel untuk menghubungi sang buah hati.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah___"
Kesal bercampur perihatin dalam hati Angelina. Sejak subuk sampai sekarang sudah pukul tujuh pagi putri semata wayangnya itu tidak ada kabar. Bahkan ratusan kali dihubungi kontaknya tidak aktif.
"Nyonya, ada yang mencari Anda. Katanya temannya nona Wulan."
Angelina terkejut. "Ulan atau Wulan?" saking gelisahnya tak mendapat kabar dari Wulan, Angelina sudah berpikir yang tidak-tidak tentang putrinya. Jantungnya berdekup kencang begitu mendengar penjelasan si pelayan.
"Kata wanita itu nona Wulan, Nyonya."
Tanpa lama-lama Viona bergegas ke ruangan yang diarahkan oleh pelayan. Dilihatnya tubuh cantik, tinggi, putih dan mulus duduk di sofa panjang ruang tamu.
"Maaf, Anda mencari saya?"
Wanita itu terkejut, berdiri dan menyapa Angelina dengan senyum lebar.
"Aku Viona, temannya Wulan."
"Wulan? Wulan atau Ulan?"
Teringat nama yang pernah disebutkan Ulan kepadanya, Viona meminta maaf dan segera meralatnya.
"Maksud aku Ulan, Tante. Aku ingat, dulu Ulan pernah menyebutkan nama panggilannya berubah karena kakaknya juga bernama Wulan."
Kegelisahan Angelina sedikit berkurang. Itu artinya wanita di depannya ini bukan seseorang yang datang untuk membawa kabar tentang Wulan. Meskipun kekhawatirannya sedikit berkurang, tetap saja hati Angelina gelisah karena belum mendapat kabar dari putri semata wayangnya.
"Oh, tidak apa-apa. Silahkan duduk. Aku akan memanggilkan Ulan. Pasti anak itu masih tidur, biasanya jam segini dia sudah bangun."
"Baik, Tante."
Angelina bergegas naik ke lantai atas. Ia mengetuk pintu kamar gadis itu, tapi tidak ada balasan.
"Ulan, bangun. Ada temanmu di bawah. Ulan."
Bosan mengetuk tanpa balasan, Angelina membuka handle pintu. Ia terkejut mendapati pintu kamar Ulan tidak terkunci dan tempat tidur yang tertata rapi.
Angelina mengingat kejadian terakhirnya bersama Ulan. "Apa mungkin anak itu tidak pulang semalaman?"
Tak mau Viona menunggu lama, Angelina bergegas turun ke bawah dan bertemu Jefry.
"Kenapa, Sayang?" tanya Jefry melihat ekspresi khawatir di wajah istrinya, "Kenapa wajahmu begitu?"
"Ulan tidak pulang semalam. Apa dia menghubungimu? Kemarin dia bilang ingin ke bioskop bersama temannya. Di depan ada temannya, katanya dia ingin bertemu Ulan."
Jefry sedikit kecewa. Ia berharap ekspresi Angelina itu disebabkan oleh Wulan, ternyata bukan. Penasaran siapa temannya Ulan, Jefry ke depan dan menyapanya.
Viona segera berdiri. "Selamat pagi, Om."
"Kamu temannya Ulan? Ayo, silahkan duduk lagi."
"Terima kasih, Om. Benar, aku temannya. Ulannya ada, Om?"
Angelina muncul. "Dia tidak ada di kamarnya. Kemarin dia bilang mau ke bioskop bersama temannya. Mungkin dia tidak pulang."
"Iya, dia menghubungiku semalam untuk minta ijin. Katanya dia tidak akan pulang, karena asik bersama temannya."
"Semalam aku bersamanya, Om. Tapi setahu aku Ulan sudah pulang. Itu sebabnya aku ke sini. Semalam dia bilang pagi ini ingin ke kantor, tapi dia mau aku yang mengantarnya."
Angelina menatap pakaian Viona yang begitu seksi dan ketat. "Kamu juga kerja kantoran?"
"Tidak, Tante. Aku pekerja freelance. Aku dan Ulan sudah bersahabat sejak lama."
"Jadi kemarin kamu bersama Ulan, siapa namamu?" tanya Jefry penasaran. Ia mengambil ponsel dan menghubungi Ulan.
"Namaku Viona, Om."
Jefry tersenyum. "Om ingat, semalam Ulan menyebutkan namamu."
Angelina tak senang. Ia merasa Viona teman yang buruk bagi Wulan. Cara berpakaian dan ketidaktanggungjawabannya sebagai teman membuat Angelina tak percaya.
"Kalau kamu bersama Ulan semalam, kenapa kamu tidak tahu Ulan di mana? Harusnya kamu tahu kan dia semalam ke mana setelah kalian bubar?"
"Aku minta maaf, Tante. Semalam aku mabuk sekali dan tidak tahu apa lagi yang terjadi selanjutnya. Aku hanya ingat Ulan sedang bicara dengan pria tampan. Kemungkinan mereka berdua juga yang mengantarku pulang."
Tepat di saat itu Ulan muncul dengan penampilan kusam. Pakaian yang ia kenakan kemarin siang masih menempel di tubuhnya.
Angelina terkejut, tapi tidak berkata apa-apa.
Viona berdiri dengan senyum licik yang hampir tak terlihat.
Jefry marah. "Kamu dari mana saja? Kata Viona semalam kamu bersama pria tampan. Siapa pria itu?"
"Aku bersama Niko, Papa. Pria tampan itu Niko."
Angelina terkejut. "Niko bersamamu? Bukankah dia kemarin bersama Wulan?"
"Iya, Ma. Setelah mengantar kak Wulan dia ke BK Kelab. Kami bertemu di sana dan kami berbincang-bincang."
Angelina sedikit kecewa. Dalam hati ia berkata, 'Niko ke kelab malam, bicara dengan dua wanita setelah mengantarkan pacarnya ... Apa Wulan tahu soal itu? Atau jangan-jangan benar yang dikatakan Ulan?'
"Syukurlah kalau pria itu Niko," kata Jefry, "Bersamanya papa akan merasa tenang."
Viona berdeham, menatap Ulan. "Siapa dia, apa dia pacarmu?"
"Bukan, dia pacar kakakku."
Jefry pun bisa menebak isi kepala putrinya. Kehadiran Viona membuatnya tahu, bahwa putrinya ingin mengerjai Angelina. Tak sabar ingin mendapat kabar, ia segera menatap istrinya dan bertanya.
"Wulan sudah menelepon, bagaimana penerbangannya?"
Ekspresi Angelina sedih. "Sejak subuh teleponnya tidak aktif. Dia belum menghubungiku sampe sekarang. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya."
Ulan menatap Jefry, mengamati dan mencaritahu maksud papanya itu lewat ekspresi wajahnya.
Dalam hati ia berkata, 'Aku tahu sekarang, pasti ada sesuatu yang papa lakukan dan ini ada hubungannya dengan kak Wulan. Tunggu, bukannya kemarin papa sempat bertanya kalau ....'
Mata Ulan terbelalak mengingat pertanyaan papanya tempo hari di taman belakang.
Tak ingin kecurigaannya diketahui Angelina, ia berpamitan ke kamar dan mengajak Viona.
"Temani aku. Kau mau kan mengantarku ke kantor?"
"Tentu saja."
Angelina menahan mereka. "Kalian tidak sarapan dulu?"
"Tidak Mama, terima kasih."
"Iya Tante, terima kasih. Aku juga masih kenyang."
Merasa bahagia dengan kabar Wulan pagi ini, Jefry menghibur Angelina dan mengajaknya sarapan bersama.
"Mungkin ponselnya mati. Kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi dia akan menelepon."
Dengan ekspresi khawatir Angelina menurut dan menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Sementara Jefry yang telah duduk di bangku kepala tampak bahagia. Ia yakin rencananya untuk melenyapkan Wulan telah berhasil.
'Niko, sekarang kau tidak punya alasan untuk menolak putriku. Bagaimana pun caranya, aku akan menikahkan kau dengan Ulan.'
Tak mau terlihat egois, Jefry mengalihkan lamunannya kemudian menatap Angelina. Ia merasa kasihan melihat ekspresi sedih di wajahnya.
"Jangan khawatir, sebentar lagi dia pasti akan menghubungimu."
"Masalahnya sekarang sudah jam berapa? Jadwal penerbangannya jam delapan malam dan sekarang sudah hampir jam sembilan pagi. Penerbangan Jakarta-Manado hanya tiga jam lebih. Seharusnya jam dua belas tengah malam dia sudah tiba. Jam satu malam sampai sekarang seharusnya dia sudah memberi kabar. Kalau pun daya batreinya habis, seharusnya batreinya sekarang sudah full dan dia sudah menelpon."
Jefry berdiri dan memeluk Angelina. "Jangan marah-marah begitu. Kita tunggu saja sebentar lagi. Mungkin saja semalam jadwalnya tertunda karena delay."
Angelina menangis. "Aku takut terjadi sesuatu padanya, Jefry. Aku takut."
"Jangan menangis lagi. Wulan pasti baik-baik saja, percayalah."
Bersambung____